Keana Elvaretta percaya bahwa pisau bedah di tangannya bisa mengungkap kebenaran yang disembunyikan mayat, namun ia gagal mengungkap isi hati suaminya sendiri, Ghazali Mahendra. Menikah karena sebuah wasiat dan paksaan keadaan, Keana harus menerima kenyataan pahit bahwa ranjang pengantinnya hanyalah medan perang emosional yang dingin.Bagi Ghazali, seorang Jaksa Penuntut Umum yang ambisius dan memuja kesempurnaan, Keana hanyalah wanita "berbau formalin" yang merusak citra idealnya.
Di siang hari, mereka adalah rekan profesional yang bersinergi memecahkan kasus hukum dan forensik, namun di malam hari, mereka hanyalah dua orang asing yang berbagi luka di bawah satu selimut. Saat rahasia besar mulai terkuak dari sebuah meja otopsi, Keana menyadari bahwa dirinya selama ini hanyalah 'alamat yang salah' untuk cinta yang dikirimkan Ghazali. Mampukah Keana bertahan saat luka yang ia bedah setiap hari ternyata adalah hatinya sendiri?.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22: Ketajaman Insting Keana
Dinding ruang otopsi yang dilapisi ubin porselen putih ini mendadak terasa menyusut, menghimpit sirkulasi udaraku hingga membuat dadaku sesak. Di layar ponsel milik Komisaris Herman, wajah Nyonya Ratna yang sendu dengan air mata palsunya terus diputar berulang-ulang, menggema memantul di sudut-ruangan kedap suara ini.
"Saya sangat menyesal. Saya dijebak oleh menantu saya sendiri, Dokter Keana Elvaretta. Dia adalah penyuplai racun itu dari pasar gelap. Dia yang merancang kematian mertua saya demi menguasai harta keluarga Mahendra, dan dia menggunakan profesinya untuk menutupi jejaknya."
Video siaran langsung itu berakhir. Herman menurunkan ponselnya perlahan, tangannya bergetar menahan amarah yang meledak-ledak di dadanya.
"Ibumu... wanita itu benar-benar telah menjual jiwanya kepada iblis," bisik Herman dengan parau, menatap Ghazali yang berdiri mematung di sampingku.
Napas Ghazali terdengar memburu, menderu layaknya mesin yang dipaksa bekerja melampaui batasnya. Otot di rahangnya mengetat sedemikian rupa hingga aku takut giginya akan hancur berantakan. Tangan kirinya mengepal kuat, sementara tangan kanannya yang masih terbalut perban medis tebal bergetar hebat.
"Dia bukan ibuku," desis Ghazali, suaranya sedingin cairan nitrogen. "Dia adalah monster yang kebetulan melahirkanku ke dunia ini."
Tanpa aba-aba, Ghazali berbalik secara kasar, melangkah lebar menuju pintu keluar ruang otopsi. "Aku akan ke Markas Besar Bareskrim sekarang juga. Aku akan membatalkan pengakuannya. Aku yang akan bersaksi di bawah sumpah bahwa aku melihat Maia menyeduh teh beracun itu untuk Kakek! Aku tidak akan membiarkan mereka menyentuhmu!"
"Berhenti, Mas!" Aku berlari mengejarnya dan menahan lengan kirinya dengan seluruh tenaga yang kumiliki. "Kau tidak bisa ke sana!"
"Lepaskan aku, Keana! Aku harus menghentikan kegilaan ini!"
"Gunakan akal sehatmu, Jaksa Mahendra!" bentakku tak kalah keras, suaraku menggelegar menghentikan langkahnya. "Statusmu saat ini adalah saksi yang dicurigai bersekongkol denganku! Jika kau datang ke sana dan mengubah kesaksianmu secara impulsif, mereka akan menganggapmu sedang berada di bawah manipulasi 'istri sosiopat'-mu, persis seperti narasi murahan yang dibangun Maia kemarin di televisi!"
Ghazali menatapku, matanya yang gelap memancarkan keputusasaan yang mengoyak-ngoyak hatiku. "Lalu aku harus diam saja melihat istriku difitnah sebagai pembunuh bayaran?! Mereka akan menangkapmu, Keana! Dengan pengakuan tertulis di atas materai dari ibuku, dan uang sepuluh miliar sebagai 'bukti' pembayaran palsu, penyidik memiliki lebih dari cukup mens rea (niat jahat) dan actus reus (perbuatan jahat) untuk langsung menjebloskanmu ke sel tahanan maksimum!"
Aku mencengkeram kemeja hitamnya. Kehangatan tubuhnya meresap ke telapak tanganku, memberikanku sebuah jangkar kewarasan di tengah badai kepanikan yang nyaris menenggelamkan kami.
"Dengarkan aku baik-baik, Ghazali," ucapku dengan artikulasi yang sangat lambat dan terukur, memaksa sepasang mata elangnya untuk mengunci pandanganku. "Hukum formal di negara ini mungkin bisa dibeli dengan sepuluh miliar rupiah. Saksi bisa berbohong. Dokumen bisa dipalsukan. Tapi hukum biologi forensik tidak pernah menerima suap dari siapa pun."
Aku melepaskan cengkeramanku darinya, lalu perlahan berbalik menatap jenazah Bi Inah yang masih terbujur kaku di atas meja logam stainless steel.
Bau adipocere—lilin mayat yang terbentuk dari hidrolisis lemak tubuh akibat kelembapan tanah pemakaman—menguar sangat tajam, memenuhi kapasitas udara di dalam ruangan. Bagi Ghazali dan Herman, bau busuk bercampur manis ini mungkin adalah teror visual dan olfaktori yang membuat mual. Namun bagi instingku, jenazah wanita tua ini sedang berteriak meminta untuk didengarkan.
"Mengapa Nyonya Ratna menyerahkan diri tepat pada jam ini?" gumamku, lebih kepada diriku sendiri, seraya berjalan pelan memutari meja otopsi. "Kenapa tidak kemarin saat siaran di Bundaran HI meledak? Kenapa harus pagi ini, tepat ketika mereka tahu kita sedang melakukan ekshumasi dan bersiap melakukan otopsi pada jenazah Bi Inah?"
Herman yang berdiri di dekat pintu mengerutkan dahinya. "Karena mereka ingin mendiskreditkan hasil otopsimu secara preemptive (mendahului), Dokter. Jika statusmu resmi menjadi tersangka pembunuh bayaran detik ini juga, maka semua laporan Visum et Repertum yang kau keluarkan hari ini akan dianggap cacat hukum, penuh konflik kepentingan, dan tidak objektif di mata pengadilan."
"Itu adalah alasan politis dan legalitasnya, Komisaris," aku meraih kotak sarung tangan lateks, memakaikannya ke kedua tanganku dengan bunyi snap karet yang bergema tajam di ruangan sunyi itu. "Tapi insting medisku mengatakan hal yang sama sekali berbeda. Nyonya Ratna dan Maia sedang panik luar biasa."
"Panik karena apa? Mereka memegang kendali penuh atas narasi publik sekarang," Ghazali melangkah mendekat, kembali memposisikan dirinya di seberang meja otopsi.
"Mereka panik karena ada sesuatu pada jenazah Bi Inah ini," aku menunjuk tubuh yang membengkak itu. "Sesuatu yang tertinggal tanpa sengaja saat eksekusi dilakukan dua bulan yang lalu. Sesuatu yang sangat mereka takuti jika sampai kutemukan di bawah lampu operasi ini."
Ghazali mengerjapkan mata, insting jaksanya langsung menyala dan tersinkronisasi dengan analisisku. "Maksudmu... Maia membuat kesalahan fatal saat membunuh Bi Inah?"
"Pembunuhan kakekmu menggunakan racun Digitalis secara kronis memakan waktu berbulan-bulan. Modus operandinya sangat rapi, terkontrol, dan nyaris tanpa cacat," aku mengambil sebuah kaca pembesar berlensa ganda (lup) dan menyalakan lampu senter forensik kecil dari saku dadaku. "Tapi kematian Bi Inah ini berbeda. Dia mati mendadak, hanya empat hari setelah Maia membeli dosis kedua dari Koh Bong di Glodok. Ini adalah pembunuhan yang terburu-buru. Dan pembunuhan yang terburu-buru selalu meninggalkan jejak kekacauan."
Aku menundukkan tubuhku, menahan napas saat wajahku hanya berjarak beberapa sentimeter dari wajah jenazah Bi Inah yang telah membengkak, hancur, dan tertutup lapisan lilin mayat berwarna keputihan.
"Adrian!" seruku dengan suara lantang memanggil asistenku yang sejak tadi berjaga memantau di ruang kontrol kaca.
Suara desisan speaker interkom seketika terdengar. "Ya, Dok?"
"Siapkan alat swab silikon, pinset ekstra-mikro, dan panaskan mesin Gas Chromatography-Mass Spectrometry (GC-MS) ke suhu operasional maksimum sekarang juga!" perintahku tanpa mengalihkan pandangan dari objek di depanku.
"Baik, Dok! Dilaksanakan!"
Aku kembali memfokuskan cahaya senter ke area wajah dan leher korban. Lapisan adipocere biasanya terbentuk di lingkungan pemakaman yang sangat lembap dan minim sirkulasi oksigen. Keajaiban medis dari pembentukan adipocere adalah kemampuannya yang secara tidak sengaja mengawetkan struktur jaringan dermis di bawahnya, bertindak seperti kapsul waktu biologis yang mengunci bukti-bukti trauma.
"Laporan awal dari dokter umum puskesmas menyatakan Bi Inah meninggal karena serangan jantung dalam tidurnya," jelasku sambil mengarahkan pendar cahaya senter secara miring ke area pangkal leher jenazah untuk mencari bayangan tekstur. "Jika dia memang diberi racun Digoxin dosis tinggi dalam minuman atau makanannya malam itu, dia memang akan mengalami aritmia fatal dan serangan jantung. Tapi..."
Mataku menyipit tajam di balik kacamata pelindung. Di bawah lapisan lilin mayat yang tebal di sisi kanan leher Bi Inah, tepat di bawah rahang bawah, terdapat sebuah lekukan mikro yang tidak simetris. Lekukan itu terlihat seperti cekungan tidak wajar.
Aku mengambil scalpel bedah ukuran 11. Dengan tangan yang luar biasa stabil, aku menyayat tipis lapisan adipocere di area tersebut, mengupasnya perlahan layaknya mengupas lapisan lilin rapuh.
Ghazali dan Herman menahan napas di belakangku. Suara detak jam dinding terdengar seperti hitungan mundur bom waktu.
Begitu lapisan lilin itu terkelupas sepenuhnya, jaringan otot sternocleidomastoideus yang telah berubah warna menjadi kehitaman terekspos ke udara. Dan tepat di atas fasia otot tersebut, terdapat pola memar berbentuk oval-oval kecil yang berkumpul di satu titik.
"Petechiae," bisikku, merinding melihat konfirmasi atas dugaanku.
"Apa itu, Keana?" tanya Ghazali cepat, membungkuk sedikit untuk melihat arah pandanganku.
"Pendarahan kapiler di bawah permukaan kulit," aku menggeser cahaya senterku naik ke area mata jenazah. Menggunakan pinset tumpul, aku membuka kelopak mata Bi Inah yang sudah melunak dan menyusut. Di bagian sklera (selaput putih) matanya, juga terdapat bintik-bintik merah kehitaman yang membeku secara permanen.
Aku menatap Ghazali dan Herman secara bergantian. "Petechiae yang masif di area mata dan leher ini adalah tanda klinis klasik dari asfiksia mekanik. Korban mengalami kekurangan oksigen ekstrem akibat pembekapan mulut dan hidung, atau pencekikan manual."
"Maksudmu... Bi Inah tidak mati diracun seperti Kakek?" Herman terbelalak, wajah rentanya memancarkan horor.
"Maia mungkin sudah mencoba meracuninya dengan Digoxin, tapi mungkin dosisnya kurang, atau Bi Inah terbangun, sadar, dan mencoba melawan," aku menganalisis temuan ini, memvisualisasikan adegan mengerikan itu di kepalaku dengan kecepatan berlipat ganda. "Maia panik. Dia tidak punya waktu menunggu racun itu bekerja perlahan. Jadi, dia menggunakan cara manual. Dia membekap wajah Bi Inah dengan bantal atau menekan mulut dan hidungnya menggunakan tangannya sendiri secara paksa hingga wanita tua ini kehabisan napas."
Ghazali menelan ludah dengan kasar. "Jika Maia membekapnya secara langsung dari jarak sedekat itu... Bi Inah pasti meronta. Pasti ada pergumulan fisik."
"Tepat sekali, Bapak Jaksa," aku beralih dari area kepala menuju area kedua tangan jenazah.
Kuku-kuku jari Bi Inah terlihat memanjang secara tidak wajar—sebuah ilusi optik alami pasca-kematian akibat penyusutan kulit di sekitar ujung jari. Namun kondisinya sangat kotor, dipenuhi oleh sisa-sisa tanah pemakaman yang menempel kuat.
Menggunakan pinset mikro, aku membersihkan gumpalan tanah liat tersebut dengan sangat hati-hati, memindahkannya ke atas kaca preparat.
Di bawah kuku jari telunjuk dan jari tengah tangan kanan korban, mataku menangkap sisa-sisa material asing. Material itu bukan tanah. Warnanya sedikit lebih terang, pucat, dan berserat, terperangkap kuat di dalam rongga matriks keratin kuku yang diawetkan oleh kelembapan adipocere.
"Bi Inah sempat mencakar bagian tubuh pelaku saat ia meronta dibekap," ucapku dingin, merasakan kemenangan kecil mulai berpihak pada kami. Aku mengambil alat swab silikon steril, mengorek dan mengambil sampel material berserat tersebut, lalu memasukkannya ke dalam tabung reaksi kaca. "Sel epidermis (kulit luar) pelaku mungkin sudah hancur dibusukkan oleh bakteri anaerob tanah, tapi jika pelaku menggunakan sesuatu yang bersifat kimiawi tebal malam itu..."
"Parfum," potong Ghazali tiba-tiba. Suaranya terdengar seperti bisikan hantu yang menemukan pembunuhnya. Matanya menatap lurus ke arah tabung reaksi di tanganku. "Mawar hibrida Perancis. Maia... dia selalu menggunakan parfum pesanan khusus (bespoke) itu dalam jumlah yang tidak masuk akal. Dia menyemprotkannya di leher, bahu, dan kedua pergelangan tangannya setiap malam tanpa pernah absen."
Aku menatap Ghazali. Rasa cemburu buta yang sempat menguasaiku saat mendengar cerita Koh Bong di Glodok tempo hari, kini bertransformasi menjadi senjata pembunuh yang paling mematikan bagi musuh kami.
"Parfum mewah adalah campuran dari Volatile Organic Compounds (VOCs) dan minyak esensial konsentrasi tinggi," ujarku, menjelaskan secara ilmiah. "Minyak esensial bersifat hidrofobik; ia tidak larut dalam air tanah pemakaman. Minyak dan molekul aromatik itu akan terperangkap abadi di dalam sisa-sisa kotoran lemak dan sel kulit mati di bawah kuku Bi Inah."
Tanpa membuang waktu satu detik pun lagi, aku berbalik dan berjalan setengah berlari menuju ruang laboratorium kaca yang bersebelahan dengan ruang otopsi. Ghazali dan Herman bergegas mengekor di belakangku.
Adrian sudah bersiaga tegang di depan layar monitor komputer yang terhubung ke mesin GC-MS raksasa. Aku menyerahkan tabung reaksi kaca itu ke tangannya.
"Ekstraksi menggunakan pelarut ganda heksana, Adrian. Fokuskan pembacaan kromatografi pada rentang senyawa aromatik sintetik kompleks," perintahku tanpa kompromi.
Adrian mengangguk cepat, memasukkan sampel ke dalam tabung sentrifus sebelum memindahkannya ke dalam kompartemen mesin pembaca. Mesin mutakhir itu mulai berdengung rendah, memproses sampel biologis kotor dari kuburan itu menjadi grafik data kimiawi absolut yang tidak bisa dibantah oleh pengadilan mana pun.
"Proses ini akan memakan waktu sekitar lima belas hingga dua puluh menit, Dok," lapor Adrian, matanya tak lepas dari indikator pemrosesan di layar.
Lima belas menit. Waktu tunggu yang terasa seperti simulasi penyiksaan di dasar neraka.
Ghazali bersandar lelah di dinding kaca laboratorium, menatapku tanpa henti. "Jika mesin itu benar-benar menemukan molekul parfum Maia di bawah kuku korban... itu akan menjadi proyektil perak yang menghancurkan seluruh pengakuan palsu ibuku di televisi."
"Nyonya Ratna mengaku di televisi bahwa akulah pembunuh bayaran yang mengeksekusi Bi Inah dan Kakek," aku melipat tangan di depan dada, mencoba mengusir hawa dingin yang merayap. "Tapi aku sama sekali tidak pernah memakai parfum apa pun seumur hidupku. Seluruh staf rumah sakit Bhayangkara, para mahasiswa kedokteran, bahkan kau sendiri bisa bersaksi bahwa aku alergi terhadap wewangian sintetik. Aku hanya berbau sabun antiseptik dan formalin. Sidik jari kimiawi dari parfum mawar hibrida ini bersifat sangat unik. Koh Bong di Glodok bisa menjadi saksi tambahan bahwa parfum itu diracik secara eksklusif hanya untuk Maia."
"Ini adalah alibi ilmiah yang absolut dan sempurna," Herman mengusap wajah rentanya dengan kasar, secercah harapan mulai menerangi mata tuanya yang redup. "Keterangan palsu Nyonya Ratna yang dibeli dengan uang sepuluh miliar itu akan hancur lebur berkeping-keping di meja hijau."
TIIIT. TIIIT. TIIIT. TIIIT.
Belum sempat kami merayakan harapan itu, alarm peringatan darurat dari ponsel genggam Komisaris Herman tiba-tiba berbunyi sangat melengking, memecah keheningan ruangan.
Herman merogoh sakunya, melihat layar ponselnya, dan wajahnya seketika memucat seperti mayat yang kehilangan seluruh darahnya.
"Bareskrim," ucap Herman dengan napas yang tertahan di tenggorokan. "Pasukan taktis gabungan dari Bareskrim Polri dan satuan Propam baru saja menerobos masuk melewati gerbang depan rumah sakit. Mereka dipimpin oleh Direktur Tindak Pidana Umum secara langsung. Mereka membawa surat perintah penjemputan paksa dengan status 'Tersangka Berbahaya' untukmu, Keana. Dan... surat perintah penahanan untukku atas tuduhan melakukan konspirasi dan obstruction of justice."
Darah di nadiku seolah membeku menjadi serpihan es. Aku melirik panik ke arah layar monitor GC-MS.
Processing: 78%... Estimasi waktu: 4 menit.
"Mereka bergerak terlalu cepat! Mereka tahu kita sedang berlomba dengan waktu!" geram Ghazali.
Ia memaksakan dirinya berdiri tegak, melepaskan sandarannya dari dinding kaca dan melangkah penuh determinasi ke arah pintu keluar laboratorium. "Aku yang akan menghadapi mereka di lobi utama. Aku akan menahan mereka di koridor dan mengulur waktu sampai mesin itu selesai membaca hasilnya!"
"Mas, jangan gila! Kau tidak bisa melakukan itu!" aku berlari mengejarnya dan menahan lengannya. "Tangan kananmu hancur! Kondisi jantungmu belum stabil! Jika kau melawan mereka, mereka punya alasan sah untuk menggunakan kekerasan fisik padamu!"
"Tanganku mungkin hancur terbakar, Keana. Tapi status hukumku saat ini adalah peniup peluit (whistleblower) yang didukung oleh jutaan opini publik setelah aksi kita di Bundaran HI kemarin!" potong Ghazali dengan ketegasan mutlak yang tidak menyediakan ruang untuk perdebatan. "Mereka tidak akan berani menembakku atau memukulku di depan puluhan kamera CCTV rumah sakit yang masih merekam. Biarkan aku menjalankan peranku sebagai dominus litis (pengendali perkara) yang sesungguhnya. Aku tidak akan membiarkan satu pun dari anjing-anjing suruhan ibuku itu menyentuh sehelai pun rambutmu!"
Sebelum aku sempat mengeluarkan kata penolakan lagi, Ghazali menarik tubuhku ke dalam rengkuhannya menggunakan lengan kirinya yang masih sehat. Ia merengkuhku erat, mencium keningku dengan cepat namun sangat dalam, meninggalkan sensasi hangat yang menyetrum dan menenangkan seluruh sistem sarafku yang tegang.
"Kunci pintu laboratorium kaca ini dari dalam. Jangan berani-berani keluar sampai mesin itu mengeluarkan hasil cetaknya (print-out)," perintah Ghazali, menunduk dan menatap lurus ke kedalaman mataku. "Lembaran kertas itu adalah tiket kebebasan kita, Keana."
Ghazali berbalik, melangkah dengan postur kebesaran seorang jaksa yang siap bertempur, keluar dari ruang otopsi. Komisaris Herman segera mencabut pistol revolver dari sarung kulitnya dan mengekor di belakang Ghazali—bukan untuk menembak rekan polisi sejawatnya, melainkan sebagai bentuk unjuk gigi dan siaga maksimum.
Pintu ganda sensoris itu bergeser menutup rapat, meninggalkanku dan Adrian terkurung berdua di dalam laboratorium kaca transparan.
Tanganku gemetar tak terkendali. Aku menempelkan telapak tanganku pada kaca, menatap punggung Ghazali yang menghilang di belokan koridor luar. Aku kembali menatap layar monitor yang berkedip lambat mengejekku.
Processing: 89%...
Suara keributan frontal mulai terdengar samar dari arah koridor utama. Suara derap puluhan sepatu bot militer yang berat beradu dengan lantai ubin, diikuti oleh teriakan-teriakan peringatan yang saling bersahutan.
"Berhenti di sana, Jaksa Mahendra! Angkat tangan Anda dan jangan menghalangi proses penyidikan negara!" suara bariton seorang komandan polisi terdengar menembus dinding kedap suara yang tidak tertutup sempurna.
"Kalian tidak memiliki yurisdiksi dan izin untuk menggeledah laboratorium medis tanpa perintah penetapan pengadilan yang spesifik!" suara Ghazali membalas, menggema kuat layaknya raungan singa jantan yang terluka namun menolak untuk tunduk. "Garis kuning yang kalian lewati ini adalah area medis independen!"
"Istri Anda adalah tersangka pembunuhan berencana dan penyuplai racun tingkat tinggi, Pak Jaksa! Minggir dari jalan kami, atau kami terpaksa menerapkan pasal perintangan penyidikan dan melumpuhkan Anda!"
Aku mengepalkan tanganku di dada kuat-kuat. Ketajaman instingku telah membawaku sejauh ini. Aku telah membedah kebohongan mereka hingga ke tingkat molekuler. Namun mesin ini... mesin canggih sialan ini bekerja terlalu lambat!
Processing: 96%...
Suara benturan fisik yang brutal terdengar mengerikan dari luar. Seseorang didorong dengan keras hingga menghantam dinding koridor dekat pintu ganda ruang otopsi.
"Ghazali!" jeritku tertahan, air mata kembali memaksa keluar membayangkan tubuhnya yang rapuh dipukuli oleh pasukan taktis.
"Dok! Dok! Selesai!" teriak Adrian histeris, melompat dari kursinya.
Layar monitor GC-MS mendadak memunculkan grafik puncak kromatogram yang menjulang sangat tinggi pada retensi waktu spesifik. Daftar komposisi kimiawi otomatis tercetak dengan font berwarna hijau terang di layar hitam.
1. Citronellol (45%)
Geraniol (30%)
Phenethyl alcohol (15%)
Match Found: Synthetic Rose Damascena Hybrid Extract (High Purity Quality).
Itu dia. Ekstrak minyak esensial mawar hibrida murni. Tanda tangan kematian Maia Anindita yang tak terbantahkan, tertinggal abadi di bawah kuku wanita yang ia bunuh.
"Cetak hasilnya, Adrian! Cetak tiga rangkap sekarang juga!" perintahku, dadaku naik turun memompa oksigen dengan rakus.
Mesin printer laser di sudut ruangan mulai berdengung cepat, menarik lembaran-lembaran kertas putih kosong.
Namun di detik yang sama, pintu utama ruang otopsi didobrak paksa hingga engsel hidroliknya jebol. Sekelompok pasukan taktis Bareskrim berseragam hitam dengan senjata laras panjang tersandang di dada menyerbu masuk menyebar ke seluruh ruangan.
Di antara kerumunan pasukan itu, Ghazali tampak ditahan secara paksa oleh tiga orang petugas bertubuh besar. Wajah suamiku meringis hebat menahan sakit yang luar biasa saat salah satu petugas itu secara kasar memiting dan menekan lengan kanannya yang diperban luka bakar.
"Hancurkan pintu kaca laboratoriumnya jika dia menolak membuka!" teriak komandan polisi itu, menunjuk lurus ke arah wajahku dari seberang ruangan.
"TIDAK! JANGAN SENTUH DIA!" Ghazali meronta dengan sisa tenaga terakhirnya, menendang lutut salah satu petugas hingga jatuh tersungkur.
Seorang petugas paramiliter dengan pentungan taktis baja berlari ke arah dinding kaca tempatku berdiri menempel.
Waktu di dalam ruangan itu seolah melambat hingga titik nadir. Kertas print-out pertama yang memuat grafik kemenangan kami perlahan keluar dari mulut mesin printer. Aku berlari menyambarnya tepat pada detik di mana ujung pentungan baja seberat lima kilogram itu menghantam kaca tempered glass di depanku.
PRANG!
Kaca setebal dua sentimeter itu hancur berkeping-keping dengan suara ledakan yang memekakkan telinga. Ribuan serpihan kristal tajam menghujani tubuhku dan Adrian layaknya badai berlian berdarah. Aku melindungi wajahku dengan lengan kanan, namun kurasakan beberapa goresan kecil menembus kulit pipiku, menciptakan aliran darah tipis yang hangat.
"Angkat tangan Anda ke udara! Jatuhkan kertas itu ke lantai, Dokter Keana!" teriak komandan polisi itu dengan beringas, menodongkan moncong senjata otomatisnya tepat ke arah dadaku.
Aku berdiri mematung di tengah reruntuhan kaca yang berserakan. Jas lab putihku kini berdebu kotor dan terkena bercak darahku sendiri. Namun, alih-alih melepaskan kertas itu, aku memegangnya semakin erat di depan dadaku layaknya sebuah perisai suci yang tak bisa ditembus peluru.
Aku menatap mata komandan polisi itu dengan berani, lalu mengalihkan pandanganku menatap Ghazali yang—meskipun sedang dicekik dan ditekuk lututnya oleh para petugas—tersenyum bangga padaku dari seberang ruangan.
"Kalian boleh memasang borgol di tanganku," suaraku mengudara membelah ketegangan, memancarkan ketenangan klinis yang membekukan darah setiap pria bersenjata di ruangan itu. Aku melangkah maju melewati pecahan kaca tanpa alas kaki, mengabaikan rasa perih robekan yang menjalar di telapak kakiku.
"Tapi ketahuilah, Bapak Komandan, kertas yang saya pegang ini adalah lampiran Visum et Repertum forensik resmi yang soft-file-nya telah terenkripsi secara otomatis dan terkirim ke dalam server cloud Kementerian Kesehatan Republik Indonesia detik ini juga." Aku mengangkat kertas itu tinggi-tinggi. "Ini adalah bukti empiris absolut bahwa wanita yang kalian lindungi sebagai pelapor saat ini, adalah pembunuh berdarah dingin yang sesungguhnya."
Aku mengulurkan kedua pergelangan tanganku ke depan, menyerahkan diriku sepenuhnya kepada moncong senjata dan borgol baja mereka.
"Silakan bawa saya ke ruang interogasi Bareskrim," tantangku dengan senyum miring yang sedingin bilah pisau scalpel. "Mari kita saksikan bersama, apakah jubah hukum kebanggaan kalian di gedung itu cukup tebal untuk menutupi bau kebusukan yang akan saya bedah dari dalam."
baca part ini aku merinding
nunggu update selanjutnya kak😍