Sihirnya tajam, hampir terlalu sempurna untuk usianya. Mantra yang lain pelajari selama bertahun-tahun, ia pahami hanya dalam hitungan detik. Namun, setiap kilau kekuatan yang ia tunjukkan justru menjadi bayangan yang menjauhkannya dari yang lain.
Mereka menyebutnya dingin.
Mereka menyebutnya sombong.
Padahal, yang tak pernah mereka lihat adalah badai sunyi yang ia peluk sendirian.
Evelyn tidak pernah memilih untuk menjadi berbeda. Tapi sihir di dalam dirinya… terasa seperti sesuatu yang hidup—berdenyut, berbisik, seolah menyimpan rahasia yang bahkan ia sendiri takut untuk sentuh.
Dan di balik tatapan tenangnya, tersembunyi pertanyaan yang terus mengendap:
Apakah ia mengendalikan sihir itu… atau justru sedang perlahan dikuasai olehnya?
- Believe in magic -
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bidadari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1 Api yang Tak Terlihat
Langit pagi di kota Riston menggantung pucat, seperti menahan sesuatu yang belum sempat jatuh. Kabut tipis menyelimuti menara-menara Sekolah Sihir Everton, membuat bangunannya tampak seperti ilusi yang bisa hilang jika disentuh.
Di dalam salah satu aula latihan, suara mantra bersahut-sahutan.
“Fira lumen!”
“Ardentis!”
Kilatan cahaya berpendar di udara, sebagian berhasil membentuk bola api kecil, sebagian lain hanya memercik seperti kembang api yang gagal. Para murid berdiri berbaris, tongkat sihir terangkat, wajah tegang antara fokus dan takut salah.
Di barisan paling depan, Evelyn Edison berdiri dengan tenang.
Ia tidak terlihat terburu-buru seperti yang lain. Tidak juga tampak gugup. Jemarinya menggenggam tongkat sihir dengan ringan, seolah benda itu bukan alat, melainkan perpanjangan dari dirinya sendiri.
“Sekali lagi,” suara guru menggema, tegas namun terkendali. “Sihir bukan hanya tentang kekuatan, tapi kendali. Jika kalian tidak bisa mengendalikan sihir kalian, maka sihir itulah yang akan mengendalikan kalian.”
Beberapa murid menelan ludah. Ada yang mengangguk, ada yang semakin gemetar.
“Evelyn.”
Nama itu dipanggil seperti sebuah tanda. Semua mata langsung beralih padanya.
“Perlihatkan.”
Tak ada perubahan ekspresi di wajah Evelyn. Ia melangkah maju satu langkah. Aula terasa lebih sunyi, seperti menahan napas.
Tongkatnya terangkat.
Tak ada mantra yang diucapkan.
Namun udara di sekitarnya berubah.
Cahaya tipis mulai berkumpul di ujung tongkatnya, berputar perlahan, lalu membesar—bukan sekadar bola api biasa. Api itu berwarna biru pucat, hampir transparan, seperti nyala yang lahir dari sesuatu yang lebih dalam dari sekadar panas.
Api itu melayang, stabil, tanpa getaran sedikit pun.
Beberapa murid menatap dengan mulut terbuka.
Guru yang mengajar memperhatikan dengan mata menyipit, lalu mengangguk pelan. “Kontrol yang sempurna. Tidak ada kebocoran energi, tidak ada fluktuasi. Seperti biasa… mengesankan, Evelyn.”
Satu kalimat pujian itu jatuh ke ruangan seperti batu ke permukaan air.
Dan seperti riak, bisikan pun mulai menyebar.
“Tentu saja dia bisa…”
“Anak kesayangan guru…”
“Ya iyalah, selalu dipuji…”
Suara-suara itu pelan, tapi cukup tajam untuk sampai ke telinga yang tepat.
Evelyn menurunkan tongkatnya. Api biru itu padam tanpa sisa, seolah tak pernah ada.
Ia kembali ke tempatnya tanpa berkata apa-apa.
Namun bisikan itu belum selesai.
“Lihat saja gayanya,” seseorang berbisik, kali ini sedikit lebih keras. “Sok tenang. Padahal cuma cari perhatian.”
“Dia pikir dia siapa?”
“Murahan banget.”
Kata terakhir itu seperti serpihan kaca kecil. Tidak cukup besar untuk melukai dalam-dalam, tapi cukup untuk meninggalkan goresan.
Evelyn mendengarnya.
Tentu saja ia mendengar.
Ia selalu mendengar.
Namun wajahnya tetap datar. Tidak ada perubahan, tidak ada reaksi. Seolah kata-kata itu hanya angin yang lewat, tak cukup kuat untuk menggoyahkan apa pun.
Padahal, jauh di dalam dirinya, sesuatu bergetar.
Bukan karena sakit.
Bukan karena sedih.
Tapi karena… lelah.
Guru kembali melanjutkan pelajaran, menjelaskan tentang struktur energi sihir, tentang bagaimana setiap emosi bisa memengaruhi hasil mantra. Namun bagi Evelyn, suara itu mulai terdengar jauh.
Pikirannya berjalan ke tempat lain.
Tempat yang lebih sunyi.
Murahan.
Ia mengulang kata itu dalam hati, bukan untuk merasakan, tapi untuk mengingat.
Bukan pertama kalinya ia mendengar hal seperti itu. Dan ia tahu, itu juga bukan yang terakhir.
Sejak pertama kali ia menunjukkan kemampuannya, sejak pertama kali ia melampaui batas yang dianggap “normal” oleh murid lain, jarak itu mulai terbentuk.
Awalnya hanya tatapan aneh.Lalu bisikan. Kemudian tuduhan.Dan akhirnya… pengucilan.
Lucunya, tak ada yang benar-benar tahu siapa Evelyn sebenarnya.Tak ada yang bertanya.
Tak ada yang mencoba . Mereka hanya melihat apa yang tampak—kekuatan, ketenangan, jarak—dan langsung menarik kesimpulan.
Sombong.
Dingin.
Tak tersentuh.
Evelyn menarik napas pelan.
Ia pernah mencoba.
Dulu.
Sebelum semuanya berubah menjadi seperti sekarang.
Sebelum ia menyadari bahwa mendekat pada orang lain hanya berarti memberi mereka kesempatan untuk pergi… atau lebih buruk, mengkhianati.
Tangannya sedikit mengencang pada tongkat sihir.
Sihir di dalam dirinya berdenyut pelan, seperti makhluk yang sadar akan pikirannya. Hangat, tapi juga… berat.
Ia sudah belajar satu hal penting.
Di dunia ini, kepercayaan bukanlah sesuatu yang bisa diberikan begitu saja.
Itu adalah kelemahan.
Dan kelemahan… selalu dimanfaatkan.
Pelajaran berakhir dengan dentang lonceng halus yang menggema di seluruh aula. Murid-murid mulai bergerak, sebagian mengeluh, sebagian tertawa, sebagian lagi masih membicarakan latihan tadi.
Evelyn berjalan keluar tanpa terburu-buru.
Seperti biasa, tak ada yang berjalan di sampingnya.
Lorong batu Sekolah Sihir Everton terasa panjang dan dingin. Cahaya dari jendela tinggi jatuh dalam garis-garis tipis, membelah lantai seperti potongan waktu.
Di salah satu sudut, suara tawa kecil terdengar.
“Eh, lihat. Si putri es lewat.”
“Jangan dekat-dekat, nanti kita dibekukan.”
Tawa pecah.
Evelyn tidak menoleh.
Langkahnya tetap stabil, seolah suara-suara itu tidak pernah ada.
Namun di dalam dirinya, sebuah kalimat kembali terpatri, semakin dalam, semakin kuat:
Aku tidak butuh mereka.
Ia mengulanginya seperti mantra.
Tidak butuh teman.
Tidak butuh siapa pun.
Karena teman… hanya akan menjadi pengkhianat yang menunggu waktu yang tepat.
Ia sudah melihatnya.
Ia sudah merasakannya.
Dan ia tidak akan mengulang kesalahan yang sama.
Angin dari jendela yang terbuka menyentuh wajahnya, membawa aroma hujan yang belum turun. Langit di luar mulai menggelap, seolah menyimpan sesuatu yang lebih besar dari sekadar badai biasa.
Evelyn berhenti sejenak.
Matanya terangkat ke arah langit.
Ada sesuatu di sana.
Sesuatu yang terasa… familiar.
Sihir di dalam dirinya berdenyut lebih kuat, seperti menjawab panggilan yang tak terdengar.
Untuk pertama kalinya hari itu, ekspresinya berubah.
Bukan marah.
Bukan sedih.
Tapi… waspada.
Seolah dunia yang selama ini menjauhinya, kini justru mulai mendekat dengan cara yang tidak ia inginkan.
Dan di tengah langit yang semakin gelap, satu hal terasa jelas—
Apa pun yang akan datang… bukanlah sesuatu yang bisa dihadapi sendirian.
Namun bagi Evelyn Edison, kesendirian adalah satu-satunya hal yang ia percaya.