"Jika besok pria tua itu datang lagi untuk menagih jawabanmu, katakan padanya kau lebih memilih membusuk di sel ini," suaranya rendah, nyaris seperti desisan yang berbahaya.
Aku tersentak, mencoba mencerna kalimatnya. "Apa? Kau... kau menyuruhku tetap di penjara ini?"
"Ya," sahutnya pendek. "Aku tidak ingin menikah. Terlebih lagi, aku tidak ingin menikah denganmu. Kau tidak tahu apa yang akan kau hadapi jika melangkah masuk ke mansion utama sebagai istri seorang Grisham. Di sana, kau tidak akan hanya melihat darah, tapi kau akan mandi di dalamnya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MissSHalalalal, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
22
Matahari siang menerobos masuk melalui celah gorden yang tersingkap sedikit, menciptakan garis cahaya terang di atas karpet beludru. Aku mengerjap, merasakan beban berat yang hangat melingkari perutku. Ini pertama kalinya sejak pernikahan kontrak itu dimulai, kami benar-benar tidur bersama dalam satu ranjang hingga siang hari.
Aku memutar tubuhku perlahan, mencoba tidak mengusik tidurnya. Di hadapanku, wajah Darrel terlihat begitu tenang, jauh dari kesan iblis yang kulihat semalam. Garis rahangnya yang tegas, bulu mata yang lebat, dan bibir yang biasanya mengeluarkan kata-kata tajam itu kini terkatup rapat.
"Kenapa wajahmu terasa sangat akrab?" bisikku sangat pelan, hampir tak terdengar.
Ada memori yang samar, seperti kepingan puzzle yang hilang, yang menghubungkan wajahnya dengan seseorang di masa laluku. Tapi sebelum aku bisa menggali lebih dalam, mataku tertuju pada jam dinding.
"Jam dua belas?!" pekikku tertahan.
Aku berusaha bangkit, namun pelukan Darrel mendadak mengencang. Ia menarikku kembali ke dalam dekapan dadanya yang bidang. Ia masih memejamkan mata, namun napasnya yang teratur mulai berubah menjadi lebih berat.
"Diamlah. Tetap di sini," gumamnya parau tanpa membuka mata.
Entah sihir apa yang bekerja, tapi rasa takutku sejenak menguap. Wangi tubuhnya yang maskulin dan hangatnya kulit kami yang bersentuhan tanpa sehelai benang pun membuatku merasa... terlindungi. Aku menyerah pada rasa nyaman itu, membenamkan wajahku di ceruk lehernya dan menghirup aromanya dalam-dalam.
Namun, kenyamanan itu tidak bertahan lama. Aku merasakan sesuatu yang panas dan keras mulai menegang di antara paha kami. Tubuhku menegang seketika. Aku tahu apa artinya itu.
"Darrel..." bisikku dengan suara bergetar.
Darrel membuka matanya. Tatapannya tidak lagi mengantuk; matanya tajam, gelap, dan penuh dengan gairah yang menuntut. Ia tidak memberikan jawaban verbal. Sebaliknya, ia membalikkan tubuhku dengan cepat dan kembali mengungkungku di bawah berat tubuhnya.
"Kau yang memulainya dengan mencium leherku, Lily," desisnya, suaranya serak dan dalam.
"Aku... aku tidak bermaksud..."
"Terlambat."
Aku memejamkan mata rapat-rapat saat ia mulai memposisikan dirinya. Ingatan tentang rasa perih dan ukuran tubuhnya yang luar biasa membuatku gemetar. Aku merasa sangat kecil di bawahnya. Darrel memegang kedua tanganku, menguncinya di samping kepalaku, sementara matanya terus mengunci tatapanku, memaksa aku untuk melihat apa yang akan ia lakukan.
*
Peluh membanjiri tubuh kami yang saling bertautan di bawah sinar matahari siang yang kian terik. Darrel seolah kehilangan akal sehatnya; ia tidak memberikan jeda sedikit pun sejak pertama kali ia menghujamkan miliknya ke dalam diriku. Setiap asakannya terasa begitu dalam dan bertenaga, membuat punggungku melengkung dan jemariku mencengkeram erat seprai hingga kuku-kukuku memutih.
"Darrel... ahhh... pelan... pelan sedikit," rintihku dengan suara yang sudah hampir habis.
"Tidak, Lily. Kau milikku," geramnya parau. Ia mencengkeram pinggulku dengan sangat kuat, memastikan setiap gerakannya mencapai titik terdalam yang bisa ia sentuh.
Satu jam berlalu seolah waktu berhenti berputar di dalam kamar itu. Suara kulit yang beradu dan desahan yang saling bersahutan memenuhi setiap sudut ruangan. Darrel terus memacu gerakannya dengan ambisi yang liar, seolah-olah melalui penyatuan ini ia bisa mengunci jiwaku agar tidak pernah berpaling pada siapa pun lagi.
"Lihat aku, Lily! Lihat siapa yang ada di dalammu!" perintahnya tajam saat mataku mulai sayu karena kelelahan.
Aku mendongak, menatap matanya yang gelap dan penuh obsesi. Di titik itu, aku tidak bisa lagi menahan gelombang yang menghantam dari dasar perutku. Tubuhku bergetar hebat, kakiku melilit pinggangnya semakin erat seiring dengan rasa panas yang menjalar ke seluruh saraf.
"Darrel... sekarang... ah!"
Darrel mengerang panjang, suaranya terdengar seperti raungan rendah yang penuh kepuasan. Dengan beberapa hentakan terakhir yang sangat cepat dan kuat, ia mencapai puncaknya bersamaan denganku. Ia menumpahkan segalanya ke dalam diriku, sementara aku hanya bisa terengah-engah dengan kesadaran yang hampir hilang.
Kami berdua ambruk di atas ranjang yang kini sudah berantakan. Napas kami memburu, bersahutan di tengah keheningan yang mendadak kembali mencekam. Darrel masih menindihku, membenamkan wajahnya di ceruk leherku sementara jantungnya berdegup keras di dadaku.
"Jangan pernah berpikir untuk pergi," bisiknya pelan namun penuh ancaman di tengah sisa-sisa napasnya.
"Aku tidak akan pergi, Darrel," bisikku parau, lebih kepada diriku sendiri daripada kepadanya. Kalimat itu terasa seperti janji sekaligus vonis mati.
Setelah napas kami mulai teratur, aku mencoba menggeser lengannya yang masih melingkar protektif di perutku. "Lepaskan... aku ingin mandi. Tubuhku lengket," ucapku pelan.
Darrel tidak menjawab dengan kata-kata. Sebaliknya, ia bangkit dengan gerakan atletis yang seolah mengabaikan rasa lelahnya. Tanpa peringatan, ia menyusupkan lengannya di bawah lutut dan punggungku, mengangkat tubuhku dalam satu gendongan mantap. Aku terpekik kecil, refleks mengalungkan lenganku di leher betonnya.
Ia membawaku masuk ke kamar mandi luas yang berlantai marmer itu. Aroma sabun mewah dan uap air mulai memenuhi ruangan saat ia menyalakan keran bathtub. Darrel menurunkanku dengan hati-hati ke dalam air hangat yang mulai mengalir.
Ia tidak keluar. Pria itu justru berlutut di sisi bathtub, mengambil spons, dan mulai membasuh bahuku dengan gerakan yang sangat lembut—kontras dengan kebrutalannya beberapa menit lalu. Saat itulah, mataku terpaku pada luka baru di lengannya. Sebuah sayatan lurus, dalam, dan rapi. Bukan luka tembak yang kemarin kujahit, tapi luka yang sengaja dibuat dengan benda tajam.
"Apa yang terjadi dengan lenganmu, Darrel?" tanyaku, jemariku gemetar ingin menyentuh perban yang sudah basah itu. "Siapa yang melakukannya?"
Darrel hanya diam, fokus membersihkan sisa-sisa bercak merah di jemariku.
"Apakah tidak sakit? Luka itu masih terbuka," desakku lagi.
Hening. Darrel tetap bungkam, wajahnya sedingin patung es. Setelah memastikan tubuhku bersih, ia bangkit dan berdiri di bawah kucuran shower, membiarkan air mengguyur tubuh polosnya yang penuh otot.
Aku keluar dari bathtub, mengambil handuk, dan tanpa sadar melangkah mendekat. Aku mengambil sabun cair dan mulai membantunya menggosok punggungnya yang lebar. Gerakanku terhenti seketika saat aku melihat apa yang ada di sana.
Punggung itu bukan sekadar punggung pria biasa. Di balik kulitnya yang kecokelatan, bertebaran bekas luka sayatan—lama dan baru—yang bersilangan seperti peta kekerasan. Ada yang tampak seperti bekas cambukan, ada yang seperti tusukan pisau.
"Banyak sekali..." bisikku ngeri, jemariku meraba satu bekas luka yang menonjol. "Bagaimana kau bisa bertahan dengan semua ini?"
Darrel menoleh sedikit, melirikku melalui bahunya dengan tatapan yang datar namun tajam.
"Jangan menatapnya seolah itu hal yang menyedihkan, Lily," suaranya parau, bergema di antara suara kucuran air. "Anggap saja itu hanya ukiran kecil. Tanda bahwa aku masih hidup di dunia yang ingin aku mati setiap detiknya."
Ia kembali berbalik, membiarkan air menghapus sisa busa di tubuhnya. "Dunia Grisham tidak memberikan mahkota tanpa bekas luka. Dan luka-luka ini adalah harganya."
**
Setelah dari kamar mandi, suasana terasa jauh lebih tenang namun tetap canggung. Darrel mengenakan celana kain hitam dan kemeja bersih, meski kancing atasnya dibiarkan terbuka. Aku hanya bisa duduk diam di depan meja rias dengan jubah mandi tebal, menatap pantulan diriku yang terlihat pucat.
Darrel menekan tombol pada interkom di dinding. "Leo, bawa Martha ke sini."
Tak butuh waktu lama, pintu kamar diketuk. Martha masuk dengan langkah terburu-buru, membawa nampan berisi teh hangat dan peralatan pengering rambut. Di belakangnya, Leo berdiri tegak dengan wajah tanpa ekspresi seperti biasanya.
Martha segera menghampiriku, mulai mengeringkan rambutku dengan handuk lembut. Sementara itu, Leo melangkah mendekat ke arah Darrel yang sedang berdiri di dekat jendela, membelakangi kami.
"Tuan Muda," lapor Leo dengan suara rendah namun tegas. "Tuan Besar Erlan datang pagi tadi, sekitar pukul delapan."
Aku tersentak kecil saat mendengar nama itu. Martha yang sedang mengeringkan rambutku sempat terhenti sejenak sebelum melanjutkan tugasnya dengan kepala tertunduk.
"Lalu?" tanya Darrel dingin, tanpa menoleh.
"Beliau memaksa masuk ke sayap barat. Penjaga tidak berani menahannya," lanjut Leo. "Beliau sempat membuka pintu kamar ini. Saat melihat Anda dan Nyonya masih beristirahat, beliau hanya tersenyum. Beliau meminta saya menyampaikan pesan bahwa beliau menunggu Anda berdua nanti malam di mansion utama untuk makan malam keluarga."
Jantungku serasa berhenti berdetak. Aku menatap cermin, mataku membulat menatap pantulan Leo. "Tunggu... apa maksudmu, Leo? Tuan Erlan... membuka pintu kamar ini? Saat kami masih..."
Aku tidak sanggup melanjutkan kalimatku. Wajahku terasa panas membara karena malu. Artinya, ayah mertuaku melihat kami tidur dalam keadaan polos di balik selimut yang berantakan setelah kegilaan semalam.
"Bagaimana bisa dia seenaknya begitu?" tanyaku dengan suara bergetar, menoleh pada Darrel. "Ini privasi kita, Darrel! Dia masuk tanpa izin!"
Darrel berbalik perlahan. Tidak ada raut terkejut di wajahnya, hanya kemuakan yang mendalam. "Di rumah ini, Lily, tidak ada yang namanya privasi jika menyangkut Erlan Grisham. Dia pemilik segalanya di sini, termasuk setiap helai napas kita."
"Tapi itu tidak sopan!" tegasku lagi, merasa sangat terhina. "Dia melihat kita... dia melihatku..."
"Dia tidak hanya sekadar ingin melihat," potong Darrel, suaranya merendah dan tajam. Ia melangkah mendekat padaku, membuat Martha mundur beberapa langkah untuk memberi ruang. "Dia ingin memastikan bahwa piala yang dia berikan padaku benar-benar sedang 'digunakan'. Erlan tidak suka jika investasinya tidak memberikan hasil."
Aku terpaku mendengarnya. Investasi? Hasil? Apa mereka mengharapkan aku segera hamil agar garis keturunan mereka berlanjut?
"Siapkan dirimu," ucap Darrel pada akhirnya, mengabaikan protesku. "Makan malam di mansion utama bukan sekadar makan malam biasa. Itu adalah pengadilan. Dan Erlan tidak suka menunggu."
Darrel menatap Leo kembali. "Siapkan mobil pukul tujuh. Pastikan protokol keamanan ditingkatkan dua kali lipat. Aku tidak ingin ada insiden seperti di pesta semalam."
"Dimengerti, Tuan Muda," jawab Leo sebelum berpamitan keluar.
***
Bersambung...
makin seruu dan bikin penasaran🥰
double up dong biar makin puas 😂
apakah Lily juga anak dari klan mafia juga? jadi penasaran 🤨🤨🤨
Lily ikuti kata Darren, cukup kamu tersiksa 30 hari + 9 bulan. setelahnya kamu bisa bebas ( mungkin 🤔)
seru banget ceritanya