Selama 25 tahun, Rashaka Nareswara setia menjaga cintanya. Ia tetap bertahan, dan berharap pada satu nama yang tak pernah berubah di hatinya. Hingga akhirnya, penantian panjang itu berbuah manis.
Ia berhasil mempersunting wanita yang ia cintai sejak dulu, memulai kehidupan rumah tangga yang tampak sempurna.
Namun, kebahagiaan itu tak pernah benar-benar utuh. Di balik senyum sang istri, tersimpan bayang-bayang masa lalu yang belum selesai. Masalah demi masalah yang perlahan meretakkan kehangatan yang mereka bangun.
Akankah cinta yang bertahan selama seperempat abad itu mampu melawan luka yang belum sembuh?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hernn Khrnsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
GAYATRI S2 — BAB 22
Keenan langsung mengangkat tubuh Shakira dengan wajah panik. Tangannya bergetar saat memeluk istrinya yang tampak lemas di pelukannya.
“Shakira? Shakira, lihat aku. Sayang?” Keenan memanggil-manggil namanya dengan panik dan gemetar.
Namun Shakira hanya memejamkan mata sambil bernapas pelan. Wajahnya terlihat pucat pasi, membuat kepanikan Keenan semakin menjadi.
“I-Ibu … ba-bagaimana ini? Shakira … Shakira tak sadarkan diri. Apa yang harus kita lakukan?”
“Tunggu apalagi? Cepat bawa putriku ke rumah sakit! Kau ini bagaimana?!” seru Nayana dengan suara gemetar.
Gayatri segera mengambil tas dan ponsel Shakira dari meja samping tempat tidur, sementara Keenan tanpa membuang waktu langsung melangkah keluar kamar membawa istrinya.
Sepanjang perjalanan menuju parkiran apartemen, suasana terasa kacau. Nayana terus mengikuti dari belakang dengan wajah panik, sementara Gayatri berusaha tetap tenang meski hatinya ikut berdebar tidak karuan.
Keenan membuka pintu mobil dengan tergesa lalu merebahkan Shakira perlahan di kursi belakang. Setelah memastikan posisi istrinya nyaman, ia langsung masuk ke kursi pengemudi.
“Aku yang menyetir,” katanya cepat.
Gayatri mengangguk tanpa membantah, ia langsung duduk di depan sementara Nayana langsung mengambil posisi memangku kepala putrinya. Kemudian mobil melaju membelah jalanan kota yang mulai ramai.
Keenan menggenggam setir begitu erat sampai buku-buku jarinya memutih. Pandangannya fokus lurus ke depan, namun pikirannya penuh kekacauan. Sesekali ia melirik ke kaca tengah. Melihat Shakira yang bersandar lemah di pangkuan Nayana dengan mata tertutup membuat dadanya terasa diremas.
“Shakira, putri ibu tersayang. Ibu mohon bertahan sebentar lagi, ya?” bisik Nayana sambil mengusap rambut putrinya pelan.
Gayatri duduk di depannya sambil terus memegangi tangan Shakira yang terasa dingin. Sementara itu, Keenan mulai merasa napasnya sendiri tidak teratur.
Bayangan pertengkaran mereka beberapa menit lalu terus terulang di kepalanya tanpa ampun. Tangisan Shakira, wajah kekecewaan sang istri dan bagaimana dirinya justru ikut membentaknya. Rasa bersalah perlahan menghantamnya semakin keras.
Mobil akhirnya berhenti di depan rumah sakit. Keenan langsung turun dan kembali mengangkat Shakira dengan panik.
“Permisi! Tolong!” serunya pada petugas medis yang berjaga. “Tolong! Ada pasien di sini! Ini darurat!”
Beberapa perawat segera datang membawa kursi roda. Namun Keenan terlihat terlalu panik untuk melepaskan istrinya.
“Pak, biar kami bantu,” ujar salah satu perawat hati-hati.
Keenan akhirnya menurunkan Shakira perlahan ke kursi roda, meski tangannya masih terus menggenggam jemari istrinya erat.
Shakira tampak setengah sadar. Wajahnya pucat dan tubuhnya lemah akibat muntah terus-menerus sejak pagi.
“Suaminya dik mana? Apakah kalian adalah keluarganya?” tanya salah satu perawat cepat.
Gayatri dan Nayana yang masih diliputi kecemasan itu sontak menoleh ke arah Keenan.
“Sa-saya adalah suaminya,” jawab Keenan tanpa ragu.
“Silakan ikut kami ke dalam.”
Keenan langsung berjalan mengikuti para perawat menuju ruang pemeriksaan, sementara Gayatri dan Nayana menyusul dari belakang dengan wajah penuh kecemasan.
Beberapa menit kemudian, Shakira mulai diperiksa oleh dokter. Sementara di luar ruang pemeriksaan, Keenan mondar-mandir tanpa bisa diam. Rambutnya sudah berantakan akibat berkali-kali ia acak sendiri karena gelisah.
Gayatri memperhatikannya beberapa saat. Untuk pertama kalinya sejak semua masalah ini terjadi, ia melihat Keenan benar-benar ketakutan.
“Keenan,” panggil Gayatri pelan.
Putranya langsung menoleh cepat. “Bu … Shakira akan baik-baik saja, kan? Istriku akan baik-baik saja, bukan?” Nada suaranya terdengar lemah.
Gayatri menghela napas perlahan sebelum mendekat. “Kau tenang dulu. Kita doakan yang terbaik untuk Shakira, semoga dia baik-baik saja,” ujarnya lembut.
Namun Keenan justru menunduk frustrasi sambil mengusap wajahnya kasar. “Aku salah. Ini semua adalah salahku. Ini semua salahku. Seandainya … seandainya saja aku lebih memperhatikannya,” gumamnya lirih penuh sesal.
Gayatri terdiam. Begitu juga dengan Nayana yang menatapnya penuh kebencian namun tak bisa memaki.
“Aku tidak bermaksud membuatnya seperti ini,” lanjut Keenan dengan suara serak. “Aku hanya … aku benar-benar tidak tahu harus bagaimana.”
Dan saat itu, Gayatri akhirnya melihat sesuatu yang selama ini disembunyikan putranya. Keenan bukan tidak peduli. Ia hanya terlalu takut dan terlalu tidak siap menghadapi semuanya sampai akhirnya melukai orang-orang di sekitarnya.
“Tapi ketakutanmu tidak boleh membuat Shakira menanggung semuanya sendirian,” ujar Gayatri pelan.
Keenan memejamkan mata. Dadanya terasa sesak mendengar nama istrinya disebut.
Beberapa saat kemudian, pintu ruang pemeriksaan akhirnya terbuka. Dokter keluar sambil melepas masker medisnya.
Semua orang langsung berdiri bersamaan.
“Dokter, bagaimana kondisi istri saya?” tanya Keenan cepat dengan wajah tegang.
Dokter menatap mereka sejenak sebelum akhirnya menjawab dengan tatapan iba, “Kondisinya tidak baik. Nyonya Shakira mengalami pendarahan hebat dan kami harus segera melakukan operasi.”
“Operasi?!” seru Nayana dan Gayatri bersamaan, terkejut dan juga tak percaya.
Nayana langsung menghampiri sang dokter dengan cemas. “Ke-kenapa putriku harus dioperasi, Dok? Apa yang terjadi padanya? Dia baik-baik saja, kan?” tanyanya dengan suara gemetar diiringi Isak tangis.
Gayatri memalingkan wajahnya seketika, tak kuasa mendengar apa pun yang hendak dokter itu katakan.