"Hanya karena arloji murah ini, kau membuang tiga tahun hubungan kita?"
Vandiko Elhaz hanyalah pemuda miskin yang bekerja keras demi masa depan kekasihnya, Clarissa. Namun, di hari ulang tahun Clarissa, Vandiko justru dipermalukan di depan kaum elit dan dicampakkan demi seorang pewaris kaya.
Di titik terendah hidupnya, di bawah guyuran hujan dan hinaan yang membakar dada, sebuah suara mekanis menggema di kepalanya
Sejak malam itu, hidup Vandiko berubah total.
Orang-orang yang dulu meludahi kakinya, kini mengemis di depan kantornya.
Wanita yang dulu mencampakkannya, kini menangis memohon kesempatan kedua.
Dengan kekayaan tak terbatas dan sistem yang terus memberinya misi rahasia, Vandiko akan menunjukkan pada dunia: Siapa yang sebenarnya berkuasa?
"Dulu kau bilang aku sampah? Sekarang, bahkan seluruh hartamu tidak cukup untuk membeli satu jam
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ginian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21: Takdir yang Terpilih
Jet hypersonic itu membelah badai salju di atas Pegunungan Himalaya, menuju titik koordinat di mana peradaban tersembunyi The Black Ledger berada. Di dalam kokpit, pandangan Vandiko mulai memburam. Angka digital di retina matanya berkedip merah dengan peringatan yang menyakitkan.
[Ting! Sinkronisasi Legacy: 99%...]
[Peringatan: Protokol 'Final Reset' akan segera dimulai dalam 180 detik.]
Benteng Himalaya bukan hanya sekadar gedung, melainkan kota bawah tanah yang sangat megah. Namun, Vandiko tidak lagi peduli dengan kemewahan itu. Dengan sisa tenaga energinya, ia menjebol gerbang utama. Penjaga otomatis dan teknologi pertahanan paling canggih di dunia runtuh hanya dengan sekali lambaian tangannya.
Di ruang singgasana yang dingin, duduklah The Prime. Seorang pria tua yang tampak abadi, sedang menatap layar yang menunjukkan kehancuran sistemnya sendiri.
"Kau akhirnya datang, Vandiko," ucap The Prime tanpa rasa takut. "Kau ingin kunci untuk menghentikan 'Final Reset' itu, bukan? Serahkan Legacy padaku, dan kau bisa hidup sebagai manusia biasa."
Vandiko terbatuk darah, ia berlutut di tengah ruangan sementara kepalanya terasa seperti meledak. "Ayahku bilang... Legacy diciptakan untuk memberi. Dan hari ini, aku akan memberikan apa yang seharusnya dunia terima."
"Apa maksudmu?" The Prime berdiri dengan cemas.
Vandiko tersenyum tipis. "Aku tidak akan menyerahkan sistem ini padamu. Aku akan menggunakannya untuk menghapus... kita semua."
[Ting! Perintah Diterima: 'Universal Compensation'.]
[Target: Seluruh jejak digital The Black Ledger, Kekayaan Tersembunyi, dan Sistem Legacy itu sendiri.]
[Biaya: Eksistensi Pengguna.]
Vandiko menutup matanya. Ia tidak lagi memikirkan dendam, tidak lagi memikirkan triliunan rupiah. Ia membayangkan wajah ibunya yang sedang tersenyum dan ayahnya yang sedang mengajarinya membaca.
"Selamat tinggal, sistem," bisik Vandiko.
Cahaya putih murni meledak dari tubuh Vandiko. Ledakan itu tidak menghancurkan fisik gunung, melainkan menghapus setiap bit data, setiap sen uang haram, dan setiap ingatan tentang kekuasaan global di seluruh dunia. Seluruh sistem digital dunia berkedip, lalu kembali ke titik nol yang murni.
Kesadaran Vandiko perlahan lenyap ke dalam keheningan yang damai.
Epilog: Kembali ke Awal
Suara kicauan burung di pagi hari membangunkan seorang pemuda. Sinar matahari menerobos masuk dari celah jendela kamar yang sederhana di sebuah pinggiran kota yang asri.
Vandiko terbangun dengan napas tersengal, seolah baru saja terbangun dari mimpi buruk yang berlangsung selama seribu tahun. Ia melihat tangannya—tidak ada zirah, tidak ada luka bakar, hanya tangan seorang pemuda biasa.
"Vandiko! Ayo bangun, sarapannya sudah siap!" suara seorang wanita terdengar dari arah dapur.
Vandiko tertegun. Ia berlari keluar kamar. Di meja makan kayu yang sederhana, ibunya sedang menyiapkan nasi goreng hangat. Wajahnya segar dan sehat, tidak ada lagi jejak penyakit yang dulu menyiksanya.
"Ibu...?" suara Vandiko bergetar.
"Kenapa kau menatap Ibu seperti itu? Cepat duduk, nanti kopinya dingin," sahut ibunya sambil tersenyum manis.
Lalu, pintu depan terbuka. Seorang pria paruh baya masuk sambil membawa koran pagi, mengenakan kemeja rapi yang siap untuk pergi bekerja. "Pagi, jagoan. Sudah siap untuk wawancara kerja pertamamu hari ini?"
Itu adalah Adipati Elhaz. Ayahnya yang sehat, hidup, dan ada di depannya.
Vandiko tidak bisa menahan air matanya. Ia memeluk ayahnya dengan sangat erat, lalu memeluk ibunya. Ia tidak lagi memiliki saldo triliunan rupiah. Ia tidak memiliki pelayan atau pasukan Black Sentinel. Di saku celananya, ia hanya menemukan dompet berisi beberapa lembar uang kecil untuk ongkos bus.
Namun, saat ia menatap ke arah cermin di ruang tamu, pupil mata Vandiko tidak lagi berwarna emas.
Matanya hitam jernih, penuh dengan kedamaian yang tidak bisa dibeli oleh seluruh emas di Pegunungan Alpen.
Ia tidak butuh sistem untuk menjadi bahagia. Ia sudah mendapatkan kompensasi terbesar dalam hidupnya: Waktu dan Keluarga.
Di luar sana, dunia berjalan dengan adil. Clarissa mungkin hanya seorang rekan kerja biasa, dan Isabella hanyalah nama asing yang tak pernah ia kenal. Vandiko Elhaz menarik napas panjang, tersenyum pada kehidupan barunya yang sederhana, dan melangkah keluar rumah untuk menjemput takdir yang benar-benar miliknya