Kecelakaan pesawat mengakhiri hidup Aruna Maheswari— perempuan independent yang menolak akan adanya cinta dan pernikahan di hidupnya. Namun, saat membuka mata, ia justru terbangun di tubuh Sekar Calista Pranawijaya, seorang istri yang dibenci… dan memiliki dua suami.
Sekar dikenal sebagai perempuan temperamental yang membuat rumah tangganya berubah menjadi neraka. Dua pria yang seharusnya menjadi pelindungnya justru menunggu saat ia pergi dari hidup mereka.
Namun kini, wanita yang sama memilih diam.
Tidak marah. Tidak menuntut. Tidak meminta cinta.
Perubahan itu membuat segalanya terasa salah.
Karena di rumah penuh kebencian itu, bukan cinta yang paling berbahaya— melainkan rahasia di balik kematian Sekar, dan fakta bahwa istri yang mereka benci… telah berganti jiwa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sandri Ratuloly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
22
******
Langit malam turun tanpa terasa. Setelah membersihkan diri, penghuni kediaman Mansion Pranawijaya kini sudah duduk rapi di kursi masing-masing di meja makan.
“Istriku, biar aku saja yang mengambilkan makanan untukmu.” Arkana mengambil alih sendok yang dipegang Calista untuk menyendokkan nasi dan lauk lainnya.
“Mesra sekali. Kamu terlihat seperti seorang suami yang sangat mencintai istrinya,” ujar Tuan Hendra.
“Aku memang sangat mencintai istriku, Ayah mertua. Ya kan, sayang?” Arkana melirik Calista yang hanya membalasnya dengan delikan mata.
“Kalau begitu kapan kalian akan memberikanku cucu? Rasanya pasti menyenangkan bila mansion besar ini terdengar suara tangis dan teriakan bayi. Iya kan, putriku?”
Uhuk...
Uhuk...
“Hati-hati, Calista.” Damar yang berada di sisi kanan Calista dengan cepat menyerahkan segelas air ketika Calista tiba-tiba terbatuk karena ucapan blak-blakan ayahnya.
“Ayah...” tegur Calista halus.
“Ayah salah? Memangnya ayah tidak boleh meminta cucu?” tanya Tuan Hendra dengan tatapan dibuat sepolos mungkin.
“Anda tidak salah, Ayah mertua. Calista memang selalu malu-malu bila membahas soal anak. Tapi Ayah mertua tidak perlu khawatir, permintaan Anda yang satu ini sebisa mungkin akan kami kabulkan,” ujar Arkana dengan penuh percaya diri.
“Tapi Anda harus bersabar. Walau kami terus berusaha menghadirkan seorang anak di mansion ini, belum tentu semesta juga ikut berusaha.”
“Ah, kamu benar, menantuku. Baiklah, Ayah tidak akan banyak berkata lagi. Tapi Ayah akan selalu menunggu kabar baik yang datang membawa cahaya kebahagiaan di mansion suram ini.”
“Ayah mertua, melihat Anda begitu gigih membuat saya semakin semangat untuk membuatkan cucu untuk Anda. Mohon doanya, Ayah mertua.”
Calista ingin sekali mengelem mulut Arkana yang terus berbicara. Apa dia tidak melihat wajahnya sudah memerah karena malu?
“Oh iya, putriku. Ayah ingin menyampaikan bahwa perusahaan keluarga Arkana kini tengah berada di ambang kebangkrutan karena ulah Atharva yang tidak pernah becus mengurus perusahaan. Ayah mengatakan ini karena ingin memperingatkanmu agar tidak membantu laki-laki brengsek itu. Ayah menduga dia pasti akan datang kemari untuk meminta pertolongan darimu,” ujar Tuan Hendra tiba-tiba dengan nada serius.
‘Perusahaan keluarga Arkana bangkrut?’ batin Calista bertanya-tanya.
Ia melirik Arkana yang tengah menatapnya santai dengan senyum miring, seolah memamerkan bahwa ia telah menyelesaikan tugas yang diperintahkan Calista.
‘Cepat juga dia melakukannya.’
“Ayah tidak perlu khawatir. Aku tidak akan membantu sepersen pun Atharva untuk perusahaannya,” ujar Calista dengan yakin.
Di bawah meja makan, ia mengelus sebentar punggung tangan Arkana sebagai tanda bahwa ia puas dengan apa yang sudah dilakukan laki-laki itu.
Tuan Hendra menyipitkan matanya, menatap putri kesayangannya itu dengan penuh selidik.
“Bagus. Ayah pegang ucapanmu.”
“Baiklah, Ayah sudah selesai makan malam. Ayah ke kamar dulu.” Tuan Hendra pun bangkit dan memanggil pelayan pribadinya untuk membawakan segelas kopi ke kamar guna menemaninya mengerjakan laporan perusahaan.
“Bagaimana pekerjaan yang sudah kulakukan? Kamu senang?” tanya Arkana ketika ayah mertuanya sudah menghilang dari pandangan.
“Bagus. Tapi kamu tahu kan, ini bukan satu-satunya tugas yang akan kamu lakukan.” Calista mengelus pipi Arkana dengan lembut sambil menampilkan senyum miring. Ia tidak sabar menunggu kehancuran satu per satu dari orang-orang yang dulu telah mencelakai dan mengkhianati Sekar.
“Lalu bagaimana reaksi orang tuamu saat kamu sudah lepas tangan dalam mengurus perusahaan mereka secara diam-diam?” tanya Calista.
“Yang pasti mereka marah besar. Aku belum menemui kedua orang tuaku atau bahkan Atharva. Mereka pasti sedang memakiku karena aku tidak membalas pesan dan tidak mengangkat telepon mereka,” ujar Arkana dengan senyum miring.
Dalam benaknya ia membayangkan kemarahan besar yang pasti tengah dirasakan oleh tiga orang yang masih memiliki hubungan darah dengannya itu.
Beberapa hari terakhir, atas perintah Calista, Arkana memang telah melepaskan seluruh urusan perusahaan keluarganya. Ia benar-benar berhenti membantu dari dalam dan menutup diri dari segala urusan perusahaan.
Selama ini ia bekerja dalam diam. Orang-orang di luar sana terus memuji Atharva karena dianggap berhasil membangun perusahaan hingga sukses, tanpa mengetahui bahwa semua itu sebenarnya karena campur tangan Arkana.
Atharva, saudara kembarnya itu, bisa apa?
Sejak sekolah hingga kuliah, nilainya selalu anjlok dan ia jarang masuk kelas. Kerjanya hanya bersenang-senang dengan teman-temannya, minum minuman keras, dan bermain dengan banyak wanita di luar sana.
“Benar kata Ayah mertua. Atharva pasti akan datang menemuimu untuk meminta bantuan demi menyelamatkan perusahaannya. Kamu tahu, sekarang banyak perusahaan lain yang memutuskan kontrak kerja sama dengan perusahaan keluargaku.”
“Biarkan dia datang ke sini. Aku ingin melihat bagaimana dia memohon sambil bersujud di bawah kakiku.” Calista tersenyum miring. Ia sudah memikirkan rencana apa yang akan ia lakukan untuk menghadapi Atharva nanti.
******
Benar saja.
Atharva benar-benar datang ke kediaman Mansion Pranawijaya keesokan harinya, bahkan saat pagi masih sangat dini.
Calista dan kedua suaminya masih bergelut nyaman di bawah selimut ketika mereka terpaksa bangun karena suara gedoran di pintu kamar.
“Nona muda! Nona Calista! Mohon bangun sebentar. Di bawah ada Tuan Atharva yang datang ingin menemui Anda!”
“Arghh, sialan! Siapa yang sudah mengganggu tidurku ini? Akan kuhancurkan mulut dan tangannya!” geram Arkana kesal karena waktu tidurnya terganggu begitu saja.
Padahal ia sedang bermimpi indah tadi.
Sementara itu Calista sudah terbangun. Ia melamun sejenak untuk mengumpulkan kesadaran. Setelah kembali sadar, ia melirik pintu kamar yang masih diketuk oleh kepala pelayan.
“Aku sudah bangun. Aku akan mencuci muka terlebih dahulu, lalu turun ke bawah,” teriak Calista dengan suara serak khas orang yang baru bangun tidur.
“Baik, Nona muda.”
Calista meregangkan tubuhnya yang terasa lemas karena baru bangun tidur, lalu melangkah menuju kamar mandi untuk mencuci muka, menggosok gigi sebentar, dan menyisir rambutnya yang berantakan seperti singa.
“Aku turun ke bawah dulu. Kalian setelah cuci muka langsung saja menyusul ikut ke bawah,” ujar Calista kepada Arkana dan Damar yang masih mengumpulkan nyawa sebelum pergi ke kamar mandi.
Mereka tidak sabar melihat apa yang akan dilakukan Calista kepada Atharva—mantan tersayangnya itu.
“SEKAR! LIHAT ORANG-ORANG BAWAHANMU INI! MEREKA KURANG AJAR SEKALI, TIDAK MENGIZINKANKU MASUK! MEREKA TIDAK TAHU SIAPA AKU, HAH?!”
Calista tiba di lantai bawah, tepat di depan pintu utama mansion. Ia melihat Atharva di teras sedang mengamuk dengan kedua tangannya ditahan para bodyguard berbadan kekar.
“Memangnya kau siapa di mansion ini? Wajar para bodyguard-ku menghalangimu karena dengan kurang ajarnya berteriak di rumah orang pagi-pagi begini,” ujar Calista menghentikan amukan Atharva.
Laki-laki itu menatap Calista penuh harap, seperti seekor anjing yang meminta makanan kepada majikannya.
“Sekar, kumohon tolong perusahaan milikku yang sedang berada di ambang kebangkrutan ini. Kumohon berikan suntikan dana dan tarik kembali perusahaan-perusahaan yang sudah memutuskan kerja sama agar kembali ke perusahaanku.”
“Hahahaha…” Calista tertawa sarkastis.
“Atharva, Atharva… memangnya siapa kau sampai seenaknya meminta aku melakukan semua itu? Perusahaanmu yang mau bangkrut, kenapa juga aku harus memikirkannya?”
Atharva membelalakkan mata, tidak menyangka akan mendapat respon seperti ini.
“K-kau...”
Beberapa saat kemudian Damar dan Arkana datang dan berdiri tepat di belakang Calista.
Ketika melihat Arkana, Atharva kembali memberontak sambil menunjuknya dengan tajam.
“Gara-gara si brengsek ini! Perusahaanku bangkrut karena dia tidak becus! Sini kau, brengsek! Akan kupukul wajah songongmu itu!”
“Apa hubungannya Arkana, suamiku, dengan perusahaanmu yang bangkrut?” ujar Calista dengan nada mengejek.
“Itu perusahaan atas namamu, bukan Arkana. Dia bahkan tidak mendapatkan keuntungan selama membantu orang bodoh dan payah sepertimu mengurus perusahaan. Jadi untuk apa Arkana harus selalu membantumu?” Calista menatap Atharva yang wajahnya sudah memerah karena marah.
Ah, rasanya begitu menyenangkan melawan laki-laki bodoh ini. Kerjanya hanya berteriak sampai telinga terasa sakit.
“Kalian, seret dia dari sini. Aku tidak ingin pagiku terganggu oleh suara teriakannya yang menyebalkan. Kalau dia memberontak, pukul saja sampai dia pingsan lalu buang dia di pinggir jalan,” perintah Calista kepada para bodyguard.
Ucapan sadis Calista itu sontak membuat para pelayan yang menonton terkejut bukan main. Bahkan kedua suaminya pun terdiam.
Di kejauhan, Tuan Hendra yang sedari tadi menyaksikan semuanya hanya bisa menatap tidak percaya.
“Putriku yang dulu manja… kini menjadi sesadis ini,” gumamnya pelan.
Namun di balik kesedihan itu, terselip juga rasa bangga.
******
😒😒😒😒
lanjuut kak ,,
sad tu bukan berarti calista meninggal ,, buat dy menghilang aj ,,
Aruna di tubuh calista
apa kah arkana juga terlibat???
krn waktu damar kerjaa di kmr mereka arkana pun melihat apa yg di kerjakan damar ,,
ad sesuatu niih ,,
aaaaa kak author jgn di gantung dooonk ,, 🤭🤭🤭🤭🤭🤭
makin seruuu niiih ,,
ad rahasia yg Blum terungkap niii ,, ap yg lgi di kerjakan damar😁😁😁🤭🤭🤭🤭
terkadang kesalahan org tua justru ank yg jd pelampiasan ,,
semangat trus arkana ,,
bukti ny skrang km sukses ,,
jgn yg aneh2 yx damar ,, 👍👍👍
next kak
waaaah Atharva km slah org ,,
dy buukan. sekar yg cengeng dn manjaaa ,,
dy arunaaa si ratu bisnis ,,
jgn maen maen ,, jgn maen maen ,, 🤭🤭🤭
gx lanjuut 21 ,, 🤭