NovelToon NovelToon
Darah Naga Dan Cahaya Bulan

Darah Naga Dan Cahaya Bulan

Status: sedang berlangsung
Genre:Perperangan / Kutukan / Fantasi Timur / Fantasi Wanita / Demon Slayer / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:54
Nilai: 5
Nama Author: tanty rahayu bahari

Novel ini menceritakan kisah Putri Mahkota Lyra ael Alar dari Kerajaan Elara, seorang penyihir Moon Magic (Sihir Bulan) yang kuat namun terikat oleh sebuah misteri kuno. Di tengah ancaman perang dari Kerajaan Utara Drakonia, Lyra dipaksa menjadi alat politik melalui pernikahan damai. Ironisnya, ia menemukan bahwa kutukan keluarga kuno menyatakan ia ditakdirkan untuk menghancurkan kerajaannya sendiri pada ulang tahun ke-25, kecuali ia menikah dengan "Darah Naga" yang murni.
​Calon suaminya adalah Pangeran Kaelen Varrus, Pangeran Perang Drakonia, seorang Shadow Wyrm (Naga Bayangan) yang dingin, sinis, dan tertutup, yang percaya bahwa emosi adalah kelemahan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tanty rahayu bahari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22: Hangat di Bawah Bintang

​Dunia telah menyusut menjadi satu sensasi tunggal: dingin.

​Bukan dingin yang biasa Aethela rasakan di musim dingin Solaria, di mana ia bisa berlindung di balik selimut bulu angsa dan minum cokelat panas. Ini adalah dingin yang predator, dingin yang memiliki gigi dan cakar. Angin The Forbidden Wilds menderu seperti jeritan roh-roh penasaran, menembus jubah bulu Valerius yang membungkus tubuhnya seolah kain itu hanyalah jaring laba-laba tipis.

​Kaki Aethela sudah lama kehilangan rasa. Awalnya sakit—seperti ditusuk ribuan jarum saat ia menginjak es—tapi sekarang hanya ada kebas yang menakutkan. Ia tahu ini tanda bahaya. Hipotermia sedang merayap naik, membujuknya untuk menutup mata dan tidur selamanya.

​"Aethela! Jangan tidur!" Suara Valerius terdengar jauh, seolah datang dari ujung terowongan panjang.

​Aethela merasakan tubuhnya diangkat. Valerius tidak lagi menuntunnya; pria itu menggendongnya. Ia menyandarkan kepalanya di dada Valerius, merasakan detak jantung pria itu yang memburu di balik lapisan pakaian basah.

​Ia merasa bersalah dan tidak berdaya. Ia ingin menjadi kuat, ingin berlari di samping Valerius, tapi tubuh manusianya tidak dirancang untuk neraka es ini. "Tinggalkan aku..." gumamnya, bibirnya kaku dan sulit digerakkan. "Kau bisa bergerak lebih cepat tanpa beban..."

​"Diam," geram Valerius, suaranya kasar karena panik. "Jika kau bicara omong kosong tentang meninggalkanmu lagi, aku akan melemparmu ke tumpukan salju... lalu memungutmu lagi. Kita hidup bersama, atau mati bersama. Tidak ada opsi ketiga."

​Ketegasan dalam suara itu membuat air mata Aethela menetes, yang seketika membeku di pipinya. Ia mengeratkan cengkeramannya pada tunik Valerius, membiarkan kegelapan perlahan mengambil alih kesadarannya.nk

​Valerius tidak bisa merasakan jari-jarinya sendiri, tapi ia tidak peduli. Fokusnya hanya satu: mencari celah, gua, lubang, apa pun yang bisa melindungi mereka dari angin pembunuh ini.

​Insting naganya bekerja lembur, memindai medan di tengah badai putih (whiteout). Ia bisa mencium aroma mineral yang berbeda—bau tanah kering yang tidak tertutup salju. Di sana. Sekitar lima puluh meter ke arah tebing batu kapur yang menjorok.

​Ia memaksakan kakinya yang terbenam salju setinggi lutut untuk melangkah. Otot-ototnya menjerit protes, kelelahan akibat pertarungan di terowongan dan pelarian tanpa henti. Tapi beban di lengannya—tubuh Aethela yang semakin ringan dan dingin—memberinya kekuatan putus asa.

​Mereka mencapai celah itu. Itu adalah gua kecil, lebih mirip retakan di gunung, tapi cukup dalam untuk menghalangi angin. Valerius masuk, jatuh berlutut di lantai batu yang keras, dan membaringkan Aethela dengan hati-hati.

​Gua itu gelap gulita dan membeku. Tidak ada kayu bakar. Tidak ada apa-apa selain batu dingin.

​"Aethela?" Valerius menepuk pipi Aethela. Kulit wanita itu sedingin es, dan bibirnya membiru. Napasnya dangkal dan putus-putus.

Ketakutan murni mencengkeram jantungnya. Ia pernah menghadapi ribuan musuh, naga liar, dan penyihir gila. Tapi musuh ini—kematian yang diam dan dingin—adalah sesuatu yang tidak bisa ia kalahkan dengan pedang.

​Ia mencoba memanggil sihir apinya. "Ayolah..." bisiknya, memusatkan sisa tenaganya di telapak tangan. Namun, di wilayah Forbidden Wilds, sihir naga teredam oleh medan anti-sihir alami tempat ini. Hanya percikan kecil yang keluar, lalu mati tertiup angin yang masuk dari celah gua.

​"Sialan!" Valerius memukul tanah dengan frustrasi.

​Ia menyadari hanya ada satu cara. Panas tubuh.

​Dengan gerakan cepat dan efisien, Valerius melepas jubah bulunya yang basah dan membeku di bagian luar. Ia kemudian melucuti zirah kulitnya yang dingin, menyisakan tunik dalam yang kering di bagian dada. Ia beralih ke Aethela.

​"Maafkan aku, Putri," bisiknya, tangannya gemetar saat melepas gaun tidur Aethela yang basah dan lengket oleh salju yang mencair. Kain basah adalah pembunuh nomor satu. Ia harus membuat kulit mereka bersentuhan langsung untuk mentransfer panas.

​Aethela mengerang pelan, menggigil hebat saat udara dingin menyentuh kulitnya, tapi Valerius segera menariknya ke dalam pelukannya. Ia menyandarkan punggungnya ke dinding gua, menarik Aethela duduk di pangkuannya, kaki wanita itu melingkari pinggangnya, dan membungkus mereka berdua dengan sisa jubah kering yang ia miliki.

​Perspektif: Aethela Vespera

​Perlahan, kesadaran Aethela kembali. Hal pertama yang ia rasakan adalah panas yang menyengat di dadanya. Bukan api, tapi kulit manusia. Ia membuka matanya yang terasa berat.

​Dunia masih gelap, tapi ia bisa melihat kontur wajah Valerius yang diterangi oleh cahaya bintang samar dari luar gua. Wajah mereka begitu dekat hingga hidung mereka bersentuhan.

​Kebingungan sesaat berganti menjadi rasa malu yang intens, lalu kenyamanan yang mendalam. Ia menyadari posisi mereka. Ia hampir telanjang, menempel pada tubuh Valerius yang keras dan hangat.

​"Kau sudah sadar," bisik Valerius. Suaranya terdengar lega, getaran di dadanya merambat langsung ke tubuh Aethela. Pria itu menggosok punggung Aethela dengan gerakan konstan untuk memacu aliran darah.

​"Di mana kita?" tanya Aethela lemah.

​"Di sebuah lubang di ujung dunia," jawab Valerius dengan nada humor yang kering. "Badai sudah berhenti di luar. Tapi suhu turun drastis. Jangan bergerak menjauh. Tubuhmu belum bisa memproduksi panas sendiri."

​Aethela tidak berniat menjauh. Ia justru membenamkan wajahnya di leher Valerius, menghirup aroma keringat, musk, dan sisa bau hujan dari kulit pria itu. "Terima kasih," bisiknya. "Kau menyelamatkanku lagi."

​"Aku hanya melakukan apa yang harus dilakukan," jawab Valerius kaku, meski tangannya di punggung Aethela menjadi lebih lembut, lebih membelai daripada menggosok.

​Dalam kesunyian gua itu, batas antara mereka benar-benar runtuh. Tidak ada lagi Pangeran dan Putri. Tidak ada lagi manusia dan naga. Hanya ada seorang pria dan wanita yang saling bergantung untuk tetap hidup. Aethela bisa merasakan reaksi fisik tubuh Valerius terhadap kedekatan mereka, dan anehnya, itu tidak membuatnya takut. Itu membuatnya merasa diinginkan.

​"Valerius," Aethela mendongak. "Ceritakan sesuatu. Apa saja. Aku butuh suaramu untuk tetap terjaga."

​Valerius terdiam sejenak, matanya menatap ke luar gua di mana langit mulai bersih. "Dulu, saat aku kecil... ibuku sering membawaku ke perbatasan ini. Dia bilang, bintang-bintang di Wilds berbeda dengan bintang di Obsidiana atau Solaria."

​"Benarkah?"

​"Ya. Lihat ke sana." Valerius menggeser sedikit posisi duduknya agar Aethela bisa melihat langit melalui celah gua.

​Ribuan bintang berkelap-kelip dengan kecerahan yang menyakitkan mata. Mereka tampak lebih besar, lebih dekat, dan memiliki warna-warna yang tidak biasa—biru, ungu, bahkan hijau zamrud.

​"Itu Rasi The Sleeper," tunjuk Valerius pada sekelompok bintang yang membentuk pola naga melingkar. "Legenda mengatakan itu adalah naga pertama yang tertidur dan menjadi pegunungan ini. Dan di sana, yang bercahaya perak... itu Rasi The Lost Crown."

​Aethela menatap langit, lalu menatap Valerius. Cahaya bintang memantul di mata emas pria itu, membuatnya tampak seperti galaksi tersendiri.

​"Kau tidak pernah menceritakan tentang ibumu sebelumnya," kata Aethela pelan.

​Ekspresi Valerius meredup. "Dia meninggal saat aku berusia sepuluh tahun. Sakit karena Shadow Rot—penyakit yang sama yang hampir memakan jiwaku sebelum kau datang. Ayahku... dia menjadi keras setelah itu. Dia menutup hati gunung ini, dan hatinya sendiri."

​Valerius menunduk, menatap Aethela dengan intensitas yang meluluhkan. "Aku pikir aku akan berakhir sama seperti dia. Mati rasa. Dingin. Sampai kau datang dengan gaun perakmu yang konyol dan keberanianmu yang bodoh di aula istana."

​Aethela tersenyum lemah. "Gaun itu sangat mahal, tahu."

​Valerius tertawa kecil, suara yang jarang terdengar tapi sangat indah. "Sekarang gaun itu mungkin sedang dipakai oleh tikus di selokan benteng."

​Tawa mereka mati perlahan, digantikan oleh ketegangan yang lebih berat. Wajah Valerius mendekat. Tangannya yang kasar menyentuh rahang Aethela, ibu jarinya mengusap bibir bawah wanita itu dengan lembut.

​"Aethela," bisiknya, suaranya serak. "Aku bukan lagi Pangeran malam ini. Aku tidak punya apa-apa untuk ditawarkan padamu. Tidak ada istana, tidak ada pasukan, tidak ada jaminan kita akan selamat besok pagi."

​"Aku tidak butuh jaminan," Aethela mengangkat tangannya, menyentuh bekas luka di dada Valerius, tepat di atas jantungnya. "Aku hanya butuh ini. Jantung ini."

​Valerius tidak menahan diri lagi. Ia menunduk dan mencium Aethela. Ciuman itu tidak seperti ciuman pertama mereka di bawah air terjun yang penuh dengan keputusasaan. Ciuman ini lambat, dalam, dan penuh dengan rasa syukur. Ciuman yang mengatakan 'aku di sini' dan 'kau milikku'.

​Di tengah dingin yang mematikan, bibir mereka adalah satu-satunya sumber api. Aethela membalas ciuman itu dengan segenap rasa cintanya yang baru mekar, melupakan rasa sakit di kakinya, melupakan pengkhianatan saudaranya.

​Ketika mereka melepaskan ciuman itu, napas mereka bersatu menjadi uap putih di udara dingin.

​"Tidurlah," kata Valerius lembut, menarik kepala Aethela kembali ke dadanya. "Aku akan menjagamu. Aku akan menjadi apimu malam ini."

​Aethela memejamkan mata, merasa lebih hangat daripada saat ia berada di depan perapian terbesar di Solaria. Di pelukan buronan naga ini, di bawah atap batu yang kasar, ia akhirnya menemukan rumah yang sesungguhnya.

​Valerius tetap terjaga, mengawasi pintu gua. Ia mempererat pelukannya pada Aethela yang kini tertidur pulas dengan napas teratur.

​Malam ini, ia membiarkan dirinya menjadi lemah, menjadi manusia yang membutuhkan kehangatan. Tapi besok, saat matahari terbit, ia akan kembali menjadi monster.

​Bukan untuk ayahnya. Bukan untuk Obsidiana. Tapi untuk wanita yang tidur di pelukannya.

​Ia menatap bintang-bintang asing di langit Wilds. Biarkan Alaric dan Krow menikmati kemenangan mereka, pikir Valerius. Mereka hanya membangunkan sesuatu yang jauh lebih berbahaya daripada pasukan naga. Mereka membangunkan seorang pria yang tidak punya apa-apa lagi untuk dipertaruhkan selain cinta sejatinya.

​Dan Valerius bersumpah pada Rasi The Sleeper, ia akan merebut kembali semuanya. Atau ia akan membakar dunia ini sampai habis dalam usahanya.

...****************...

...Bersambung.......

...Terima kasih telah membaca📖...

...Jangan lupa bantu like komen dan share❣️...

...****************...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!