Kisah cinta pandangan pertama seorang pria dewasa kepada gadis muda, yang merupakan anak dari teman baiknya, dan berakhir menjadi obsesi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zhahra Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22. Melampiaskan
Keisya baru mengetahui tentang kepergian Haikal dari Sisi. Temannya itu pun diberitahu oleh Vincent lewat pesan singkat.
Kepindahannya yang mendadak itu membuat mereka bertanya tanya, apa yang sebenarnya terjadi?
Alasan yang mereka tahu memang cukup masuk akal, tapi rentang waktunya yang cukup janggal.
Karena Keisya sangat kepo, jadilah dia memberanikan diri bertanya pada Bastian lewat pesan.
Namun itu membuatnya menyesal.
Karena alih-alih mendapatkan jawaban, pria itu justru menemuinya secara langsung tanpa pemberitahuan terlebih dahulu.
Mana ia masih ada dikampus saat dosen memintanya datang ke ruangannya.
Keisya pikir ada masalah dengan tugasnya, tapi ternyata Bastian yang ingin menemuinya.
Benar-benar seenaknya. Memerintah dosen yang lebih tua darinya, untuk kepentingan pribadinya sendiri.
"Akan semakin merepotkan jika saya sendiri yang mencari kamu kan?"
Itu jawaban Bastian atas gerutuannya. Mana santai sekali dia menjawab, sekalipun itu memang benar. Membayangkan Bastian berkeliaran di area kampus, dan mencarinya, membuatnya merinding.
"Terus Om mau apa cari aku?"
"Menjawab pertanyaan kamu"
"Soal Haikal?" Tebak Keisya yang mendapatkan decihan sinis dari Bastian.
"Suka kamu sama anak saya?"
Keisya menyerit bingung "Maksudnya?"
"Kenapa kamu tanya-tanya anak saya?"
"Ya karena Haikal anak Om. Dia pergi mendadak. Kita penasaran, makanya aku tanya"
"Itu kemauannya sendiri. Dia mau mengelola salah satu perusahaan di luar kota. Saya izinkan, toh itu untuk kebaikannya sendiri" alibinya begitu natural. Padahal bukan itu alasan terbesarnya.
Keisya mengerti. "Ternyata Om baik juga yah"
"Kamu salah" Bastian terkekeh pelan, "Saya bukan orang baik"
Iya, dia setuju. Bastian bukan orang baik. "Setidaknya Om Ayah yang baik"
Bastian semakin tertawa geli, "Tidak, saya bukan Ayah yang baik. Tapi saya bisa jadi suami yang baik buat kamu"
Keisya berkedip pelan.
Apa katanya? Suami?
Bulu kuduknya langsung berdiri. Membayangkan memiliki suami seperti Bastian, tanpa bisa ia kendalikan otaknya memikirkan hal-hal liar.
Perbedaan mereka yang sangat jauh dari segala hal, pasti akan sangat melelahkan.
Keisya bergidik, "Jangan aneh-aneh deh Om. Siapa juga yang mau nikah sama Om"
Bastian menyeringai, "Yakin?"
"Yakin lah" Keisya membuang muka. Namun kembali menoleh saat merasakan pergerakan dari sampingnya. Dia melotot begitu Bastian bergerak dan berhasil mengurungnya antara sandaran sofa dan kedua tangan besarnya.
"Om mau apa? Jangan macem-macem yah!" peringatnya. Dia meringsek mundur, sekalipun sia-sia. "A-aku aduin sama Papa!"
"Silahkan, saya justru senang. Menurut kamu bagaimana reaksinya setelah tahu hubungan kita?"
Bastian semakin mendekatkan wajahnya.
"Hubungan apa? Kita ga punya hubungan apa-apa" Dia mendorong dada Bastian, "Minggir Om"
Tapi tidak berhasil. Merasa jarak mereka semakin dekat, Keisya menutup matanya. Sebenarnya dia tidak mengharapkan kejadian di mobil kembali terulang, namun refleksnya yang membuatnya melakukan itu, seolah sedang menantikan Bastian menciumnya.
Padahal, Tidak Sama Sekali!
"Mau saya cium lagi, hm?"
Keisya langsung membuka matanya, "Enak aja, aku,,,," kata-katanya tertelan kembali begitu mendapatkan serangan tak terduga.
Bastian kembali menciumnya.
Yah, Keisya memang masih tercengang dengan apa yang terjadi, tapi kali ini dia menunjukan reaksi lain. Dengan sekuat tenaga dia mendorong Bastian, lalu beranjak dan melayangkan tamparan tepat pada pipi kirinya.
Suaranya nyaring, membuat suasana mencekam di ruangan tersebut. Keheningan di antara mereka berdua setelahnya tak terelakan.
Bastian tidak menunjukan reaksi berarti, hanya sedikit keterkejutan dalam diamnya atas apa yang Keisya lakukan. Tamparan ini, adalah kali pertama dia menerimanya. Dalam ingatannya, kedua orangtuanya bahkan mantan istrinya, tidak ada yang berani melakukan ini padanya.
Tapi sekarang?
"Om kurang ajar!" Keisya membentak, kedua matanya berkaca-kaca. Dia semakin berani dan mulai memukuli tubuh Bastian. "Om keterlaluan. Aku ga suka! Aku aduin sama Papa!"
Bastian bukan hanya tidak menghindar, dia justru membiarkan. Melihat gadisnya meraung dan menangis seperti ini, hatinya ikut sakit. Dia mencoba membelai kepala Keisya, mengusap rambutnya naik turun dengan sangat lembut.
"Saya minta maaf" suaranya sangat pelan, tersirat penyesalan dari caranya berbicara. "Jangan berhenti sebelum kamu puas. Tapi jangan di teruskan kalau tangan kamu sakit. Lakukan cara lain, jangan menyakiti diri sendiri"
Bastian menangkap kedua lengan Keisya, "Gigit tangan saya kalau kamu mau" sambil menyodorkan lengannya ke dekat mulut.
Tanpa menunggu lama, Keisya benar-benar melakukannya. Sambil sesekali terisak, dia menggigit kuat tangan Bastian hingga rasanya kedua bagian giginya hampir bertemu.
Namun sekuat apapun dia menggigit, Bastian sama sekali tidak meringis. Dia tetap pada pergerakannya, mengusap rambut gadisnya.
Puas dengan aksinya, Keisya melepaskan gigitannya, meninggalkan jejak serta darah di sekitarnya yang bercampur dengan air liur.
Mulutnya mengecap, dia bisa merasakan asin yang tertinggal pada giginya.
"Sudah puas?" tanya Bastian begitu lembut.
"Belum" seraknya. Dia menyeka matanya, lalu kembali berujar, "Aku ga mau Om cium cium begitu lagi"
Bastian mengangguk cepat, "Saya janji, tanpa persetujuan kamu, tidak akan melakukannya lagi" Seolah suatu hari nanti Keisya akan sepenuhnya pasrah dengan tindakannya. Kalaupun tidak, dia masih bisa melakukannya. Sama seperti sebelumnya.
Masih banyak cara untuk merealisasikannya. Sekalipun butuh lebih banyak usaha, tapi tidak masalah.
"Aku ga mau ketemu sama Om lagi"
"Kalau itu saya tidak bisa" tolaknya "Perasaan saya sungguh-sungguh, Keisya"
"Tapi aku ga mau. Om ga mikir kalau itu mustahil?"
"Tidak ada yang mustahil. Selama lawan jenis, semuanya mungkin terjadi. Atau karena usia saya?"
Keisya mengangguk jujur, "Selain itu Om temennya Papa, dan aku anaknya Papa Gunawan. Om ga mikir kalau Papa bakal setuju, kan? Sekalipun kalian temenan, tapi ini persoalan berbeda. Papa punya kriteria sendiri buat aku, begitu juga aku."
Ini bukan hanya tentang fisik dan umur, karena Bastian dengan usianya yang sudah kepala empat masih sangat bisa bersaing dengan anak muda diluaran sana. Ini tidak sesederhana itu. Ada sebuah kepercayaan besar dari Papanya pada Bastian yang sudah mempercayai Bastian untuk melindungi Keisya sebagai anaknya sendiri.
Namun sekarang, Bastian justru menaruh hati padanya, dan melakukan hal-hal diluar batas kewajaran. Yang tentunya akan membuat Papanya murka jika mengetahuinya. Bahkan yang lebih parah, besar kemungkinan hubungan Papanya dan Bastian akan pecah. Kedekatan mereka bertahun tahun akan hancur begitu saja hanya karena satu kekhilafan.
"Kriteria seperti apa yang kamu inginkan?"
"Yang pasti bukan Om. Aku ga mau Papa kecewa sama aku. Aku juga ga mau kalau hubungan persahabatan kalian hancur gara-gara ini"
Bastian diam, begitupun dengan Keisya.
Dalam waktu beberapa saat, ruangan itu hanya diisi oleh keheningan. Mereka saling bertatapan dalam, seolah waktu di sekitar mereka berhenti berputar.
Kesunyian pecah saat Bastian mengajukan pertanyaan sederhana, namun begitu sulit untuk dijawab.
"Bagaimana perasaan kamu? Apa benar-benar tidak ada rasa suka sedikit pun?"
Harusnya Keisya bisa menjawab 'tidak' dengan mudah. Tapi yang terjadi justru sebaliknya. Lidahnya kelu, hatinya seolah tidak membiarkannya menyangkal apa yang sebenarnya terjadi, jika dia sudah mulai menaruh hati pada Bastian.
Bahkan sejak dari awal.
Diamnya Keisya sudah cukup untuk Bastian. Semuanya berjalan sesuai rencananya. Jalannya saat menghadapi Gunawan di masa mendatang tidak akan terlalu berat.
Sekarang tugasnya hanya memastikan Keisya bergantung sepenuhnya kepadanya. Setelahnya biarkan mengalir seperti air.