NovelToon NovelToon
Melodi Yang Tidak Tersentuh

Melodi Yang Tidak Tersentuh

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen School/College / Diam-Diam Cinta / Kisah cinta masa kecil / Cinta pada Pandangan Pertama / Cintapertama / Cinta Murni
Popularitas:507
Nilai: 5
Nama Author: Yumine Yupina

Airi tidak pernah benar-benar percaya pada cinta. Bukan karena ia tak ingin, tapi karena cinta pertamanya justru meninggalkan luka yang tak pernah sembuh. Kini, di bangku kuliah, hidupnya hanya berputar pada musik, rutinitas, dan tembok yang ia bangun sendiri agar tak ada lagi yang bisa menyentuh hatinya.

Namun segalanya berubah ketika musik mempertemukannya dengan dunia yang berisik, penuh nada, dan tiga laki-laki dengan caranya masing-masing memasuki hidup Airi. Bersama band, tawa, konflik, dan malam-malam panjang di balik panggung, Airi mulai mempertanyakan satu hal: apakah melodi yang ia ciptakan mampu menyembuhkan luka yang selama ini ia sembunyikan?

Di antara cinta yang datang perlahan, masa lalu yang terus menghantui, dan perasaan yang tak pernah ia pahami sepenuhnya, Airi harus memilih—bertahan dalam sunyi yang aman, atau berani menyentuh nada yang bisa saja kembali melukainya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yumine Yupina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 21 – ketika kejujuran tidak lagi sunyi

Pengakuan Yukito.

Tatapan Ren yang mengeras.

Atau suara Haruto yang masih terus mengomel tanpa benar-benar menyadari bahwa Airi bahkan belum sempat bernapas dengan benar.

“Lo tuh bisa pilih waktu nggak sih,” kata Haruto, tangannya terangkat setengah frustrasi. “Ini hari H, Yuki Otak gue masih di mode panggung, bukan—”

“Haruto,” potong Ren pendek.

Nada suaranya tidak keras, tapi cukup untuk membuat Haruto berhenti.

Ren sudah berdiri di dekat Airi sekarang. Tidak terlalu dekat. Tapi cukup untuk membuat keberadaannya terasa. Ia berjongkok sedikit agar sejajar dengan pandangan Airi.

“Kau baik-baik saja?” tanyanya pelan.

Airi ingin menjawab. Sungguh. Ia ingin bilang iya, atau tidak, atau entah apa. Tapi yang keluar hanya napas pendek yang terputus di tengah.

Ren langsung tahu.

Tangannya terangkat sedikit, ragu, lalu ia menurunkannya lagi. Ia tidak menyentuh Airi. Ia hanya mencondongkan tubuh sedikit, memperkecil jarak emosional tanpa melanggar batas fisik.

“Tarik napas pelan,” katanya. “Ikutin aku.”

Ren menarik napas perlahan. Dalam. Terukur.

Airi mencoba menirunya. Sekali. Gagal. Kedua kali, napasnya masih tersendat. Baru pada tarikan ketiga, dadanya terasa sedikit lebih longgar.

Yukito berdiri kaku di seberang ruangan.

Wajahnya pucat. Bukan karena takut dimarahi Haruto, tapi karena ia baru saja melakukan sesuatu yang selama ini ia pendam sendirian. Mengatakannya keras-keras ternyata jauh lebih menakutkan daripada membayangkannya.

“Airi…” panggilnya pelan. “Aku nggak bermaksud bikin kamu tertekan.”

Airi mengangkat wajahnya sedikit. Matanya masih basah, tapi fokusnya mulai kembali.

“Aku cuma nggak mau kamu sendirian mikir yang aneh-aneh,” lanjut Yukito. “Kalau kamu butuh waktu, aku ngerti. Kalau kamu mau marah, juga nggak apa-apa.”

Haruto menghela napas kasar, lalu mengusap wajahnya sendiri.

“Gue ngomel bukan karena lo jujur,” katanya akhirnya, nada suaranya lebih turun. “Tapi karena… timing-nya kacau.”

Ia melirik Airi, lalu menunduk sedikit. “Maaf.”

Studio kembali sunyi.

Sunyi yang tidak nyaman, tapi jujur.

Airi menelan ludah. Kepalanya masih penuh, tapi ada satu hal yang perlahan muncul ke permukaan, seperti suara yang akhirnya berani bicara di tengah keributan.

“Aku…” suaranya kecil. “Aku nggak nyangka.”

Semua mata tertuju padanya.

“Aku nggak nyangka kamu…,” Airi berhenti, lalu menatap Yukito langsung. “Aku nggak pernah mikir ke arah situ.”

Yukito mengangguk pelan. “Aku tahu.”

“Tapi…” Airi menarik napas lagi. “Aku juga nggak bisa bilang perasaanku sekarang jelas.”

Ren menegang sedikit, tapi tidak menyela.

“Aku lagi bingung,” lanjut Airi jujur. “Bukan cuma soal kamu. Tapi soal semua hal. Soal apa yang aku rasain, mana yang bener, mana yang cuma sisa ketakutan.”

Kata-kata Takahashi kembali terlintas, seperti bayangan yang tidak diundang.

Aku bisa jadi tempat tenang itu.

Airi menggenggam tangannya lebih erat.

“Dan aku takut,” katanya lirih, “kalau aku salah percaya lagi.”

Yukito menatapnya lama. Lalu ia melangkah satu langkah maju, berhenti sebelum terlalu dekat.

“Makanya aku bilang sekarang,” katanya. “Bukan buat minta apa-apa. Tapi biar kamu tahu… ada orang yang suka kamu tanpa mau mengatur hidupmu.”

Kalimat itu menggantung di udara.

Ren menutup matanya sebentar, lalu membukanya lagi. Ia menoleh ke Haruto.

“Kita keluar sebentar,” katanya singkat. “Biar Airi bisa napas.”

Haruto ragu, lalu mengangguk. “Iya.”

Mereka berdua melangkah ke luar studio, meninggalkan Airi dan Yukito di dalam. Pintu tertutup pelan, bukan dibanting.

Airi menghela napas panjang.

“Maaf,” katanya pada Yukito. “Aku bikin semuanya ribet.”

Yukito menggeleng cepat. “Kamu nggak bikin apa-apa ribet. Kejujuran memang nggak pernah rapi.”

Airi tersenyum kecil, tapi cepat menghilang.

“Aku butuh waktu,” katanya jujur.

Yukito mengangguk. “Aku tahu.”

Di luar, suara festival kembali terdengar samar. Tawa, musik, teriakan kecil. Dunia tetap berjalan.

Ren dan Haruto berdiri beberapa meter dari pintu studio.

“Lo oke?” tanya Haruto pelan.

Ren menatap ke depan. “Gue khawatir.”

“Cemburu?” goda Haruto setengah serius.

Ren menggeleng. “Takut dia makin bingung.”

Haruto terdiam. “Gue juga.”

Mereka berdiri tanpa bicara lagi.

Di dalam studio, Airi menyandarkan punggung ke kursi. Dadanya masih berdebar, tapi tidak seliar tadi. Ia menatap lantai, lalu langit-langit, lalu menutup mata.

Ia tidak tahu harus memilih apa. Atau siapa.

Yang ia tahu, perasaannya tidak lagi sesederhana yang ia kira.

Dan di antara riuh festival, bisikan-bisikan itu terus berputar, menunggu saatnya menjadi keputusan.

Halloween belum dimulai sepenuhnya.

Tapi malam itu, sesuatu di dalam diri Airi sudah berubah arah.

Yukito menatap Airi beberapa detik lebih lama sebelum akhirnya mengangguk.

“Aku di luar,” katanya pelan. “Kalau kamu butuh apa-apa, tinggal panggil.”

Airi membalas dengan anggukan kecil. Ia duduk kembali di kursi, memeluk tasnya, pandangannya jatuh ke lantai studio yang penuh bekas geseran kabel. Yukito melangkah keluar tanpa menoleh lagi. Pintu tertutup pelan.

Begitu Yukito muncul di lorong, Ren dan Haruto sudah berdiri di sana.

Tidak ada yang bicara selama satu detik.

Lalu Haruto menarik pergelangan tangan Yukito dengan cepat. “Sini dulu.”

“Hah?” Yukito nyaris terseret sebelum sempat bereaksi.

Mereka masuk ke ruangan kosong di sebelah studio. Ren menutup pintu dan bersandar di sana, menyilangkan tangan. Haruto langsung berbalik menghadap Yukito dengan wajah yang sudah tidak bisa menahan kekesalan.

“Anjir lah, lu tuh gimana sih?!” Haruto mengomel tanpa aba-aba. “Timing-nya bener-bener—”

“Haruto,” potong Ren datar. “Tenang dulu.”

Yukito masih terlihat bingung. “Gue salah ngomong, ya?”

Ren menghela napas pendek. “Bukan soal salah atau bener.”

Ia melirik Haruto sebentar, lalu kembali menatap Yukito. “Jadi… kita bertiga ternyata menyukai satu cewek yang sama.”

Kalimat itu jatuh begitu saja.

Hening.

Yukito berkedip dua kali. “HAH?!”

Haruto mendengus. “Yakin apa gimana sih? Kita nggak bercanda.”

Yukito menatap mereka bergantian, seolah berharap ada yang tertawa dan bilang ini cuma lelucon festival.

Ren mengangkat bahu sedikit. “Aku teman masa kecilnya,” katanya pelan tapi tegas. “Dan… aku sudah menyukainya dari dulu.”

Yukito terdiam.

Haruto menyusul, suaranya sedikit lebih kaku. “Gue kakak kelasnya waktu SMA. Dia sering nyanyi sendirian di atap sekolah. Dari situ.”

Ren menoleh cepat ke Haruto. “Lah, lu sering ketemu Airi waktu SMA?”

Haruto mengangguk. “Iya. Waktu dia nunggu lu latihan basket. Katanya gabut, jadi naik ke rooftop. Nyanyi.”

Ren terdiam. Ada sesuatu yang bergerak di dadanya, campuran antara kaget dan kesal pada dirinya sendiri karena tidak pernah tahu bagian hidup Airi itu.

Yukito mengusap tengkuknya, napasnya terasa berat. “Waduh…”

Ia tertawa kecil, tapi tidak ada lucunya sama sekali. “Berarti aku paling telat, ya. Gue baru suka dia pas di perpus. Itupun awal-awal masuk kuliah.”

Tidak ada yang menertawakan itu.

Justru kejujurannya membuat ruangan terasa semakin sempit.

“Masalahnya bukan siapa paling dulu,” kata Ren akhirnya. “Masalahnya… Airi lagi nggak stabil.”

Haruto mengangguk. “Dia baru lepas dari satu manipulasi. Kita nggak bisa jadi tekanan berikutnya.”

Yukito menunduk. “Makanya gue bilang ke dia bukan buat minta apa-apa.”

Ren menatapnya lama. “Gue tahu.”

Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan lebih pelan. “Dan jujur aja… gue nggak marah sama lu.”

Haruto mendengus pelan. “Gue juga. Kesel iya. Tapi bukan sama lu.”

Yukito mengangkat kepala. “Terus kita gimana?”

Ren mendorong punggungnya dari pintu, berdiri tegak. “Kita sepakat satu hal dulu.”

“Apa?” tanya Haruto.

“Kita taruh Airi di atas ego kita.”

Haruto terdiam, lalu mengangguk. “Setuju.”

Yukito mengangguk juga, meski matanya masih penuh konflik. “Setuju.”

Ren melanjutkan, “Nggak ada tarik-menarik. Nggak ada drama depan dia. Kalau ada perasaan, simpan dulu.”

“Dan fokus festival,” tambah Haruto. “Setelah itu… biarin Airi yang mutusin hidupnya sendiri.”

Yukito menarik napas panjang. “Kalau nanti dia milih salah satu dari kalian?”

Ren menatap lantai sejenak, lalu berkata, “Ya berarti bukan gue.”

Haruto mengangkat bahu. “Sakit, tapi bukan akhir dunia.”

Yukito menelan ludah. “Dan kalau dia nggak milih siapa pun?”

Ren membuka pintu sedikit, melirik ke arah studio tempat Airi sendirian di dalam.

“Yang penting,” katanya pelan, “dia selamat. Itu aja.”

Mereka keluar ruangan satu per satu.

Di dalam studio, Airi masih duduk sendiri. Ia tidak tahu apa yang sedang dibicarakan di luar. Tapi entah kenapa, dadanya terasa sedikit lebih ringan. Seperti ada sesuatu yang dijaga tanpa harus ia minta.

Ia menutup mata.

Festival masih riuh di luar.

Dan di antara kebisingan itu, tiga hati sedang belajar menahan diri demi satu yang rapuh.

1
Esti 523
suemangad nulis ka
mentari anggita
iihh hati aku ikut panas dan sesak. Amarah Ren kerasa nyata, tapi lebih sakit lagi waktu dia harus berhenti demi Airi dan orang tuanya. 😭
Huang Haing
Semangat kak, penulisan nya bagus banget! 👍💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!