NovelToon NovelToon
Gerbang Tanah Basah: Garwo Padmi Dan Bisikan Malam Terlarang

Gerbang Tanah Basah: Garwo Padmi Dan Bisikan Malam Terlarang

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Poligami / Janda / Harem / Ibu Mertua Kejam / Tumbal
Popularitas:11.4k
Nilai: 5
Nama Author: Hayisa Aaroon

Di Era Kolonial, keinginan memiliki keturunan bagi keluarga ningrat bukan lagi sekadar harapan—melainkan tuntutan yang mencekik.
~
Ketika doa-doa tak kunjung dijawab dan pandangan sekitar berubah jadi tekanan tak kasat mata, Raden Ayu Sumi Prawiratama mengambil jalan yang tak seharusnya dibuka: sebuah perjanjian gelap yang menuntut lebih dari sekadar kesuburan.
~

Sementara itu, Martin Van der Spoel, kembali ke sendang setelah bertahun-tahun dibayangi mimpi-mimpi mengerikan, mencoba menggali rahasia keluarga dan dosa-dosa masa lalu yang menunggu untuk dipertanggungjawabkan.

~

Takdir mempertemukan Sumi dan Martin di tengah pergolakan batin masing-masing. Dua jiwa dari dunia berbeda yang tanpa sadar terikat oleh kutukan kuno yang sama.

~

Visual tokoh dan tempat bisa dilihat di ig/fb @hayisaaaroon. Dilarang menjiplak, mengambil sebagian scene ataupun membuatnya dalam bentuk tulisan lain ataupun video tanpa izin penulis. Jika melihat novel ini di

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hayisa Aaroon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Martin yang Keras Kepala

"Pernikahan bukan hanya tentang cinta atau kesetiaan, Tuan," ucap Sumi akhirnya. "Terutama bagi kami, bangsawan Jawa. Ini tentang kewajiban, tentang tanggung jawab, tentang menjaga nama dan kehormatan keluarga."

"Dan apa yang kau dapatkan sebagai balasannya?" tanya Martin, suaranya melembut. "Suami yang berbagi kasih dengan dua perempuan lain? Mertua yang ingin menyingkirkanmu hanya karena kau belum memberikan keturunan?"

Sumi termangu, wajahnya sedikit menunduk, tampak malu. Urusan rumah tangganya, masalah pribadinya yang seharusnya tetap berada di dalam dinding Dalem Prawirataman, kini menjadi bahan pembicaraan di luar sana—bahkan sampai ke telinga orang Belanda. 

Rasanya seperti ditelanjangi di tengah keramaian, semua rahasia dan aib terpampang untuk dilihat siapa saja.

"Saya berterima kasih atas kepedulian Tuan Martin," ucapnya akhirnya, berusaha menjaga nada suaranya tetap tenang meski dirundung malu. "Dan jika memang Tuan peduli kepada saya, bagaimana jika Tuan bersimpati dengan menjaga apa yang terjadi semalam sebagai rahasia?"

Sumi berhenti sejenak, melihat tanggapan Martin, namun pemuda itu hanya diam, alisnya berkerut dalam.

"Lagipula …,” lanjut Sumi dengan hati-hati. “Tuan perjaka atau tidak, tidak akan ada yang tahu dan tidak akan tampak tandanya, berbeda jika Tuan perempuan. Jadi Tuan tidak mungkin hamil, jadi permintaan pertanggungjawaban itu saya rasa ... berlebihan."

Martin terdiam, agak salut dengan permainan kata-kata Sumi yang kini membalik keadaan. Perempuan itu dengan cerdik memanfaatkan kepedulian yang ia tunjukkan tadi, padahal sebenarnya ia peduli untuk meyakinkan Sumi bersamanya, bukan sekadar melepaskannya begitu saja. Sumi ternyata lebih cerdas dan tangguh dari yang ia kira.

"Kau keliru," ucap Martin dengan nada yang dibuat terluka. "Dalam agamaku—keperjakaan adalah hal yang penting sebelum menikah. Sama pentingnya dengan keperawanan bagi perempuan."

Sumi mengangkat alisnya, tampak tidak sepenuhnya percaya. "Benarkah? Tapi setahu saya, justru laki-laki Eropa sangat bebas dalam urusan ... semacam ini. Tidak sedikit tuan-tuan Eropa yang memelihara gundik."

"Tidak semua laki-laki Eropa sama," tegas Martin. "Keluarga van der Spoel sangat menjunjung tinggi nilai-nilai moral dan agama. Apa yang terjadi semalam telah mencoreng kesucian saya dalam pandangan Tuhan."

"Dan Tuan pikir saya tidak?" Suara Sumi sedikit sinis, namun ia segera mengendalikan diri. "Saya seorang istri, Tuan. Apa yang terjadi semalam adalah pengkhianatan terhadap sumpah pernikahan saya."

"Kau mengira itu suamimu," sanggah Martin. "Dalam pikiranmu, kau tidak berkhianat."

"Tapi nyatanya bukan suami saya" balas Sumi cepat. "Kenyataannya tetap sama."

Keduanya terdiam, saling menatap dengan ekspresi keras kepala. Ada ketegangan aneh yang tumbuh di antara mereka—campuran antara kemarahan, ketertarikan, dan sesuatu yang lebih dalam yang belum bisa mereka definisikan.

"Bagaimana jika kau hamil anakku?" tanya Martin tiba-tiba, melontarkan pertanyaan yang justru paling ditakuti Sumi.

Sumi terdiam sebentar, sesuatu yang dingin seolah merambat di tulang belakangnya. Ia belum benar-benar memikirkan kemungkinan itu secara serius. 

Meski ia telah minum jamu pagi ini, keyakinannya akan keampuhan jamu tersebut tidak sepenuhnya kuat.

"Lima belas tahun rahim saya kosong, Tuan," jawabnya akhirnya. "Satu malam saja tidak akan mungkin membuat saya hamil."

"Bukannya semalam kau sedang mandi di kedung itu untuk ritual kesuburan?" balas Martin, membuat Sumi kembali gugup. "Aku telah membaca banyak cerita tentang Kedung Wulan yang dianggap sebagai tempat untuk kesuburan. Jujurlah padaku, kau semalam sedang melakukan ritual, bukan?"

Sumi menatap Martin, agak heran. Bagaimana pemuda ini bisa tahu begitu banyak? Apakah itu sebabnya ia berada di sekitar sendang semalam?

"Ya," Sumi mengangguk akhirnya. "Saya memang malam itu mandi untuk ... meminta kesuburan." Ia menghela napas berat. "Dan setelah keluar dari air, entah bagaimana pandangan saya bisa tidak benar. Mungkin tempat itu membolak-balikkan pandangan seseorang. Pantas tempat itu ditutup dan memang seharusnya tidak dibuka kembali. Sekarang saya mengerti mengapa ayah saya menutup tempat itu dan betapa bodohnya saya mendatangi tempat itu."

"Jadi kau mengakui bahwa kau melakukan ritual khusus untuk kesuburan," Martin mengangguk. "Dan kau masih yakin tidak akan hamil?"

"Tentu saja tidak," tegas Sumi, meski ada keraguan dalam suaranya. "Satu malam saja tidak akan—"

"Bagaimana jika tempat itu manjur?" potong Martin. "Jelas tempat itu bukan hanya sekedar sendang biasa, bahkan bisa membuatmu begitu bergairah dan liar setelah keluar dari air. Bagaimana jika ritual itu berhasil dan kau hamil? Anakmu pasti tidak akan mirip dengan suamimu."

Wajah Sumi memucat. Bayangan seorang anak berambut Eropa dan bermata biru dalam gendongannya tiba-tiba muncul dalam benaknya. 

Bagaimana ia akan menjelaskan itu pada Soedarsono? Pada keluarga besar Prawiratama? Pada seluruh masyarakat?

"Saya akan meminum jamu yang bisa melancarkan datang bulan," ucapnya pelan. "Sebenarnya tadi pagi saya sudah–"

"Kau akan membunuh anakku?"Wajah Martin mengeras. "Kau akan membunuh kehidupan yang mungkin sedang tumbuh di rahimmu? Apa yang kita lakukan semalam memang dosa, tapi kau akan menambahnya dengan dosa membunuh?"

"Itu belum tentu Tuan!" Sumi mulai tidak sabar. "Kenapa Tuan terus memaksa dengan kemungkinan yang belum pasti?"

"Karena aku tidak mau anakku dibunuh," tegas Martin, matanya menatap langsung ke perut Sumi. "Aku tidak akan membiarkannya."

Sumi mulai pening dengan Martin yang tak berhenti berargumen. Ia menyandarkan punggung ke sandaran kursi, merasakan kepala yang berdenyut-denyut. Ada apa dengan pemuda ini? Mengapa ia begitu bersikeras?

"Tuan Martin," ucapnya, mencoba mengendalikan suara dan emosinya. "Kita bahkan tidak tahu apakah saya hamil atau tidak. Ini baru sehari setelah ... kejadian itu. Mungkin sebaiknya kita tunggu dulu, setidaknya sampai waktunya saya datang bulan. Jika saya tidak datang bulan ..."

"Berapa lama?" tanya Martin cepat.

"Sekitar dua minggu lagi," jawab Sumi, sedikit terkejut dengan tanggapan Martin.

"Baiklah," Martin mengangguk. "Dua minggu. Tapi aku ingin kau berjanji satu hal. Jangan minum jamu apa pun yang bisa membahayakan kemungkinan kehidupan di dalam rahimmu. Janji?"

Sumi menatap wajah Martin yang menatap tajam. Ada kesungguhan di mata biru itu, juga sesuatu yang lain ... semacam kepanikan? Ketakutan? Apakah ia benar-benar sepeduli itu pada kemungkinan anak mereka?

"Saya ... tidak bisa berjanji," ucap Sumi akhirnya. "Tapi saya akan memikirkannya."

Martin menatap kecewa, rahangnya mengeras. "Itu tidak cukup." Suaranya rendah namun penuh penekanan. "Aku ingin kepastian atas benih yang mungkin mulai tumbuh di rahimmu."

Sumi memijat pelipisnya yang berdenyut semakin keras. Ia tidak menyangka situasi akan menjadi serumit ini. Pemuda Belanda ini jauh lebih keras kepala dari yang ia duga. 

Dengan tatapan lelah, Sumi mengamati wajah Martin, memperkirakan usianya mungkin masih sekitar 25 tahun—jauh lebih muda darinya yang mulai menginjak 30 tahun.

"Tuan Martin," ucapnya setelah menghela napas panjang. "Anda masih sangat muda. Apa Anda tidak memikirkan masa depan Anda jika skandal ini diketahui orang lain? Anda putra satu-satunya keluarga van der Spoel yang masih hidup."

Martin tampak terkejut dengan arah pembicaraan ini, tapi tidak menjawab.

"Anda bisa mendapatkan gadis Eropa yang masih perawan, yang akan membuat hidup Anda sempurna," lanjut Sumi, suaranya melembut. "Bukankah lebih baik menutup saja apa yang terjadi semalam sebagai rahasia? Anda bisa melanjutkan hidup, menikah dengan gadis dari kalangan Anda sendiri, tanpa terbebani masalah keperjakaan yang terdengar ... aneh, dan bayi yang belum tentu ada."

Alih-alih terpengaruh, Martin justru tampak tersinggung dengan kata-kata Sumi. Wajahnya memerah, matanya berkilat marah.

"Kau benar-benar mencampakkanku setelah memakaiku sesuka hatimu," ucapnya dengan suara bergetar menahan marah. "Kau pikir aku hanya sekadar mainan semalam yang bisa kau buang begitu saja?"

1
ian
kereeen sumi😍
ian
loh mungkin iya,istri selain sumi juga gak hamil,mbok yo dipikir mak
Tati st🍒🍒🍒
tekadkan hati dan niatmu dulu,biar g salah langkah,..bertahan sakit,pergi sulit😄
🍵𝒚𝒂𝒚𝒖𝒌 𝒋ᷟ𝒖ⷽ𝒐ᷟ𝒔ⷽ𝒔๎🦈
lahh trus piye yooo
Eniik
nanti bulusnya minta tumbal gak? kalo iya saya request ibu mertua sumi yang jadi tumbal pertama 😂
Hayisa Aaroon: dihh ... ngeri Ndoro /Joyful/
total 1 replies
nn.maria
untuk perubahan semoga sumi mau keluar zona nyaman yg udah ngga bikin nyaman
mariant
gara² Pariyem ..kurung aja si Pariyem di kamar jangan di kasih makan/Facepalm/
mariant
aku. menunggu Up mu ndoro author siang dan malam/Drool/
Teh Qurrotha
apa aku bantu aja Ndoro Sumi pakein concealer
Teh Qurrotha
duh Ndoro kok aku ikut tegang, n degdegan. apa kangmas kasi obat tidur aja ya hehe
Amaryn
Waaah ramee ini….kalo ketauan
neng Ai💗
Sumi..harus belajar dari 'sang dalang' dalam bersikap,knp gak putarbalikan fakta dngn sedikit drama,katakan siapa yg akan tenang dan bersikap biasa saja saat perceraian paksa didepan mata,berfikir masa depan dan memutuskan menerima perceraian tentu saja menguras emosi dan sikap yg berani tanpa Martin sekalipun
Hayisa Aaroon: beda karakternya 😄 kalau sang dalang ya sudah wassalam itu ibu mertuanya, apalagi Pariyem
total 1 replies
neng Ai💗
💗💗💗
neng Ai💗
Pariyem ini padahal yg sedikit lebih 'toleransi' keberadaannya dibanding Lestari,tapi....ya,persaingan tetaplah persaingan..
neng Ai💗
Egois sekaligus serakah,mau nambah tapi gak mau melepaskan yg sudah digenggam,/Speechless/
Lilih Malihatun
duuhh ketauan dong 🤔🤔
🍭ͪ ͩ💜⃞⃟𝓛 S҇ᗩᑎGGITᗩ🍒⃞⃟🦅
kang mas mu cemburu Diajeng sumi
🍭ͪ ͩ💜⃞⃟𝓛 S҇ᗩᑎGGITᗩ🍒⃞⃟🦅
mertua mu galak ndoro ayu sumi
wong anake cinta mati kog di gawe ribut
🍭ͪ ͩ💜⃞⃟𝓛 S҇ᗩᑎGGITᗩ🍒⃞⃟🦅
Pariyem pake dukun ya ,
pelett pengasihan ke kanjeng Raden ayu
mariant
smg jejaknya g kelihatan tlg disetting biar amaa buat Sumi ndoro author
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!