NovelToon NovelToon
Terbelenggu Takdir

Terbelenggu Takdir

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Dokter / Mengubah Takdir
Popularitas:892
Nilai: 5
Nama Author: Cut Asmaul Husna

Kalea tidak sengaja memecahkan kaca mobil mewah milik Raditya di area parkir. Raditya yang marah besar meminta ganti rugi yang sangat mahal. Karena Kalea tidak bisa membayar uang sebanyak itu dalam waktu cepat, Raditya mengancam akan membawanya ke kantor polisi. Namun, Raditya yang sedang pusing karena dipaksa ibunya menikahi Natasha melihat sebuah celah. Raditya akhirnya menawarkan kesepakatan: Kalea bebas dari tuntutan polisi jika mau menjadi pacar pura-puranya.


Hubungan yang awalnya penuh adu mulut dan kebencian ini berubah rumit saat keadaan memaksa mereka terikat dalam pernikahan resmi. Konflik berat pun dimulai. Orang tua Raditya menolak keras menantu yang tidak jelas asal-usulnya. Di sisi lain, keluarga kandung Kalea terus datang mengusik dan membongkar status "anak haram" Kalea demi menjatuhkannya di depan keluarga Raditya.

SALAM DARI AUTHOR 🙏

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cut Asmaul Husna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

EPISODE 31 : KETUKAN PALU DAN AKHIR DARI SEBUAH KEPALSUAN

Pagi itu, langit di atas Jakarta tampak abu-abu tertutup polusi, menciptakan atmosfer kaku yang seakan mendukung hawa dingin di dalam mobil Fitri Amelia Wijaya. Tepat pukul sembilan pagi, mobil sedan putih miliknya membelah jalanan menuju Pengadilan Agama Jakarta Selatan. Fitri duduk di balik kemudi dengan postur tubuh yang sangat tegap, dibalut blazer formal abu-abu gelap. Sepasang kacamata hitam besar bertengger di atas pangkal hidungnya, sengaja dia pakai untuk menutupi sepasang mata sembap yang dipenuhi sisa-sisa air mata kepedihan batin akibat hantaman kata "mandul" dari mulut Fandi beberapa hari lalu.

Di belakangnya, sebuah mobil sedan mewah lain melaju mengekor. Mobil itu membawa Hermawan Wijaya dan Sarah Wijaya yang sengaja datang untuk mendampingi proses persidangan perdana putri sulung mereka. Hari ini, suasana di rumah mewah keluarga Wijaya bener-bener sunyi senyap. Dua putri mereka yang lain, Kalea dan Shinta, kompak tidak ikut melangkah ke pengadilan.

Kalea memilih tetap berangkat pagi-pagi sekali ke kantor Hotel Grand Luminance untuk bekerja. Dia sadar diri dari dulu posisinya di rumah itu nggak pernah dianggap sebagai adik atau anak yang sah, melainkan cuma darah kotor pembawa sial, jadi dia menolak untuk ikut campur terlalu dalam. Sementara Shinta, dia masih mengunci diri di kamarnya, merengut kaku dan murka setengah mati kepada Fitri karena punggungnya masih perih bekas cambukan kulit Papa kemarin, serta egonya hancur setelah Fitri memaki dan melabelinya pelacur kelab malam di depan umum. Semburan kebencian membuat mereka terpecah laksana orang asing.

Langkah kaki Fitri berdentang tegas di atas lantai selasar Pengadilan Agama begitu dia turun dari mobil. Dari arah samping, Hermawan dan Sarah melangkah lebar menyusul di sampingnya. Sarah tampak terus meremas saputangannya cemas, sementara wajah paruh baya Hermawan terkunci kaku, memancarkan rahang tegas yang menegang menahan malu akibat bom skandal internet yang dirilis Fandi tadi malam.

Begitu mereka melangkah mendekati area lobi tunggu persidangan, langkah kaki Fitri mendadak mandek. Di sudut koridor dekat pilar besar, rupanya sudah berdiri Fandi Achmad Mahendra bersama seorang pria paruh baya berkoper yang merupakan pengacara vaskular hukum pribadinya.

Fandi tampil sangat rapi dengan setelan jas kerja kasualnya, dan dia juga nggak lupa memakai kacamata hitamnya yang bertengger angkuh di wajah lebamnya sisa pukulan kemarin. Begitu melihat kedatangan Fitri dan mertuanya, Fandi langsung menarik sudut bibirnya ke samping, mengulas sebuah senyuman mengejek yang sangat sinis dan menjijikkan, seolah menertawakan ketidakberdayaan dinasti keluarga Wijaya setelah dia berhasil menyebarkan berita anak haram Kalea dan video skandal liar Shinta tadi subuh.

"Wah, selamat pagi, mantan keluarga terhormatku," sapa Fandi dengan nada suara bariton yang sengaja dikeras-keraskan, penuh intimidasi kepalsuan yang mematikan. Dia menurunkan kacamata hitamnya sedikit ke pangkal hidung, melirik Fitri meremehkan. "Pagi, Dokter Fitri yang cantik. Datang juga kamu akhirnya buat menyerahkan status jandamu pagi ini."

Fitri tidak membalas sapaan itu dengan kata-kata sepeser pun. Dia menatap lurus wajah Fandi dari balik kacamata hitamnya dengan pandangan mata yang sangat dingin, kaku, dan sedingin es di kutub utara. Antara Fandi dan Fitri bener-bener sudah seperti dua manusia asing yang tidak pernah saling mengenal sepanjang hidup mereka.

Hermawan yang melihat kelicikan mantan menantunya langsung melangkah maju satu langkah, menatap Fandi dengan urat dahi menegang kuat. "Jangan banyak bicara kamu di sini, Fandi! Pengacaraku udah menyiapkan semua berkas gugatannya, jadi segeralah masuk dan selesaikan urusan najis ini!"

"Tenang aja, Papa Hermawan yang terhormat. Aku juga udah nggak sabar kok bebas dari anakmu yang mandul ini," cemooh Fandi dengan tawa sinis yang pelan, sukses bikin Sarah langsung memekik tertahan menahan dongkol di belakang suaminya.

"Fandi! Kamu bener-bener bajingan kotor nggak tahu diuntung ya!" maki Sarah menunjuk wajah Fandi dengan jari gemetaran.

"Sudah, Ma, nggak usah diladenin polusi udara kayak dia," potong Fitri ketus, lalu melangkah lebar mendahului Fandi menerobos pintu masuk ruang sidang nomor dua, diikuti langkah tegap ayahnya.

Suasana di dalam ruang sidang utama Pengadilan Agama terasa sangat sunyi, kaku, dan menegangkan. Di depan meja hijau, duduk jajaran tiga orang Hakim Ketua bersama panitera. Di sisi kanan ruang sidang, Fitri duduk didampingi oleh pengacara hukum keluarganya, sementara di sisi kiri, Fandi duduk bersandar santai bersama pengacaranya. Hermawan dan Sarah terpaksa duduk di kursi tunggu bagian belakang sebagai saksi.

Rentetan hukum penuh emosi batin dan perdebatan kaku di antara Hakim dan kedua belah pihak pengacara langsung pecah memenuhi ruangan ber-AC dingin tersebut.

"Bagaimana Saudara Penggugat, Dokter Fitri Amelia? Apakah Saudara tetap pada pendirian Saudara untuk melanjutkan gugatan perceraian ini tanpa ada jalur mediasi damai kembali?" tanya Hakim Ketua sambil membetulkan letak kacamatanya, menatap Fitri lekat.

Fitri membuka kacamata hitamnya perlahan, memperlihatkan sepasang matanya yang tajam menatap lurus ke arah Hakim tanpa ada keraguan seujung kuku pun. "Iya, Yang Mulia Hakim yang terhormat. Keputusan saya sudah bulat seratus persen mutlak. Saya menolak mediasi apa pun karena Saudara Tergugat, Fandi Achmad, sudah melakukan pelanggaran berat syariat pernikahan, yaitu berselingkuh dan melakukan perzinaan di luar rumah selama tiga tahun berturut-turut."

Pengacara Fitri langsung berdiri, menyerahkan seberkas dokumen tebal ke meja Hakim. "Benar, Yang Mulia. Kami membawa bukti tertulis berupa rekaman transaksi hotel, serta pernyataan pengakuan lisan dari saksi kunci di rumah yang membuktikan kebusukan moral dari Tergugat. Kami meminta putusan verstek kilat hari ini juga."

Hakim Ketua memeriksa berkas tersebut, lalu memalingkan wajahnya menatap tajam ke arah Fandi. "Bagaimana Saudara Tergugat, Fandi Achmad? Apakah Saudara membantah atau menyetujui seluruh dalil gugatan dari pihak Penggugat?"

Pengacara Fandi buru-buru berdiri, memberikan kode mata rahasia kepada kliennya agar proses ini cepat selesai sesuai rencana taktik apartemen Fandi malam kemarin. "Yang Mulia Hakim, klien kami tidak ingin memperpanjang masalah ini. Klien kami menyetujui seluruh dalil gugatan perceraian tersebut tanpa ada bantahan sepeser pun. Klien kami juga menginginkan putusan resmi dijatuhkan hari ini karena hubungan pernikahan mereka memang sudah tidak bisa dipertahankan lagi akibat keharmonisan yang sudah lama punah."

Fandi mengendikkan kedua bahunya santai, menatap Hakim penuh kemenangan egoisnya yang busuk. "Benar kata pengacaraku, Yang Mulia. Aku setuju cerai hari ini juga. Lagian buat apa aku mempertahankan rumah tangga sama perempuan yang nggak bisa kasih aku keturunan alias mandul? Itu cuma buang-buang waktu hidupku aja."

"JAGA MULUTMU, FANDI BRENGSEK?!" Hermawan Wijaya mendadak berteriak murka dari kursi tunggu belakang, wajah tuanya memerah padam menahan amarah yang luar biasa meledak mendengarkan penghinaan terhadap putrinya di dalam ruang sidang.

"Saksi harap tenang atau saya keluarkan dari ruangan?!" tegur Hakim Ketua mengetuk palu sekali. TOK!

Hakim kembali menatap berkas di tangannya, menimbang seluruh kesepakatan tertulis kedua belah pihak yang menolak damai. Setelah menarik napas panjang, Hakim Ketua akhirnya mengangkat palu kayu besarnya tinggi-tinggi di udara, lalu mengetuknya tiga kali dengan ketukan lantang yang menggema keras memecah keheningan ruangan.

TOK! TOK! TOK!

"Dengan ini, menyatakan bahwa perkawinan antara Fitri Amelia Wijaya dan Fandi Achmad Mahendra RESMI BERCERAI secara hukum dan agama per hari ini, dan seluruh hak asuh serta tuntutan materiil dikabulkan seutuhnya. Sidang ditutup!" vonis Hakim Ketua lantang.

Suara ketukan palu itu menandakan runtuhnya status pernikahan Fitri yang selama dua tahun ini dia bangga-banggakan di depan dunia luar.

Setelah sidang ditutup, seluruh orang melangkah keluar menuju selasar koridor luar pengadilan yang berangin. Fitri merapikan blazernya, mengunci kembali ekspresi wajah cantiknya menjadi sangat dingin, kaku, dan melemparkan tatapan mata yang penuh rasa sinis yang teramat sangat mendalam ke arah wajah Fandi yang sedang bersiap melangkah pergi membawa tas dokumennya.

"Selamat ya, mantan istriku yang mandul," ejek Fandi dengan senyuman setannya yang sangat menyebalkan, melangkah mendekati Fitri dari jarak dekat. Dia menurunkan kacamata hitamnya kembali, berbisik genit yang memprovokasi berahi tepat di depan wajah kaku Fitri. "Sekarang status kita udah resmi bebas, kan? Jadi aku udah nggak punya beban moral lagi buat mulai bergerak mendekati dan merenggut kecantikan Kalea seutuhnya!"

Fitri menarik sudut bibirnya, membentuk sebuah senyuman sinis yang sangat mengerikan, menatap Fandi dengan pandangan mata elang seorang dokter yang memancarkan kilatan dendam dan kebencian mutlak seutuhnya. "Silakan pamer kelicikanmu sekarang, Fandi bajingan," desis Fitri dengan nada suara yang sangat rendah namun terdengar begitu menusuk relung hati.

Hermawan Wijaya melangkah maju menemani putrinya, menepis kasar bahu Fandi menjauh. "Pergi kamu dari sini, sampah! Jangan berani tunjukin mukamu di depan anak saya lagi!"

Sarah ikut membuang ludah hambar ke arah aspal samping kaki Fandi. "Cuih! Dasar laki-laki biadab pembawa sial!"

Fandi yang merasa posisinya mulai tersudut akibat gertakan hukum Fitri, langsung mencengkeram erat tas koper dokumennya dengan tangan gemetaran menahan geram. Dia membetulkan letak kacamata hitamnya dengan sentakan kaku, lalu membalikkan tubuh tegapnya melangkah lebar terburu-buru meninggalkan pelataran selasar pengadilan menuju mobilnya, kabur membelah jalanan dengan rasa cemas gila yang mulai membakar otaknya dalam hati.

Fitri memandangi kepergian mantan suaminya dengan helauan napas panjang yang sangat kasar dari lubuk dadanya, air mata penyesalan yang sejak tadi dia tahan akhirnya lolos deras membasahi pipinya di dalam pelukan hangat Sarah yang langsung mendekapnya penuh rasa bersalah. Dini hari kepalsuan pernikahan dinasti keluarga Wijaya resmi berakhir dengan kepedihan batin yang luar biasa besar.

...****************...

Sementara Fitri meratapi nasibnya di pelataran Pengadilan Agama, Kalea Azzahra Putri sedang berdiri di dekat meja resepsionis Hotel Grand Luminance. Dia mencoba menenggelamkan diri dalam tumpukan berkas reservasi demi melupakan kekacauannya di mal kemarin. Namun, ketenangan itu mendadak hancur berantakan saat pintu kaca lobi bergeser terbuka dan sosok yang paling dia benci melangkah masuk dengan angkuh.

Fandi Achmad Mahendra berjalan mendekati meja kerja Kalea dengan setelan jas kasualnya, menyunggingkan senyuman setannya yang sangat menjijikkan. Begitu sepasang mata birunya menangkap kehadiran mantan kakak iparnya itu, Kalea langsung memutar kedua bola mata birunya dengan sangat malas, menunjukkan rasa jengkel yang luar biasa dalam.

"Mau ngapain lagi kamu ke sini, hah?!" ketus Kalea, langsung berkacak pinggang menatap Fandi penuh kebencian. "Nggak kapok ya kamu abis dihajar Papa waktu itu?! Keluar dari hotelku sekarang juga sebelum aku panggil sekuriti?!"

Fandi tidak lantas pergi. Dia justru melangkah satu maju, menopang kedua tangannya di atas meja resepsionis, menatap lekat wajah cantik Kalea dengan pandangan mesumnya yang kian liar. "Aduh, Kalea sayang... Jangan galak-galak dong sama Mas. Mas ke sini mau bawa kabar gembira yang bener-bener luar biasa buat hubungan kita ke depan, tahu."

Kalea mendengus sinis, melipat kedua tangannya di depan dada dengan gestur meremehkan. "Kabar gembira apa, bajingan?! Nggak ada kabar dari mulut kotormu yang berharga buat kupingku!"

Fandi terkekeh pelan, sebuah kekehan penuh kepalsuan egois yang menertawakan penderitaan Fitri. Dia menepuk-nepuk tas dokumen hukumnya dengan bangga. "Mas baru aja pulang dari Pengadilan Agama, Kalea! Hari ini, detik ini juga, Mas udah RESMI BERCERAI sama Mbakmu yang mandul itu! Mas udah bebas, Mas udah jadi duda keren yang nggak punya ikatan apa-apa lagi di rumah Wijaya! Jadi sekarang, nggak ada lagi rintangan hukum yang bisa ngehalangin Mas buat milikin kamu seutuhnya!"

Mendengar pengakuan menjijikkan itu, Kalea langsung mendengus sangat sinis tepat di depan wajah Fandi. Di dalam lubuk hatinya yang terdalam, Kalea bener-bener merasa ngeri dan bergidik ngeri.

"Gila... Ini laki-laki bener-bener udah gila tingkat akut! Otaknya udah geser gara-gara kesetanan nafsu kotor!" batin Kalea penuh rasa muak.

"Bercerai atau enggak, itu sama sekali NGGAK ADA HUBUNGANNYA SAMA AKU, FANDI!!! Mau kamu jadi duda atau bujang sekalipun, aku tetep ngerasa sangat jijik liat mukamu?!"

Fandi bukannya marah didepak ketus begitu, dia justru malah kembali meledakkan kekeh setannya yang sayu akibat pengaruh obsesi gila tingkat dewa di otaknya. "Hahaha! Kamu makin galak begini malah kelihatan makin seksi di mata Mas, Kalea! Mas makin nggak bisa nahan diri!"

Tanpa memberikan aba-aba, Fandi mendadak melompat maju, merentangkan kedua lengan kekarnya bersiap untuk memeluk paksa tubuh mungil Kalea dari balik meja konter. Kalea terkejut setengah mati, refleks mundur ke belakang dengan mata melotot panik.

Namun, belum sempat seujung kuku jari Fandi menyentuh blazer hitam Kalea, sebuah tubuh jangkung besar setinggi 185 sentimeter mendadak merangsek maju menembus pembatas lobi laksana angin badai. Sebuah dorongan tangan kanan yang luar biasa kuat dan kasar langsung menghantam telak dada bidang Fandi hingga pria brengsek itu terhuyung mundur tiga langkah ke belakang dan hampir saja jatuh tersungkur di atas lantai marmer lobi.

"JANGAN BERANI-BERANI MENYENTUH WANITA SAYA DENGAN TANGAN KOTORMU, BAJINGAN?!"

Suara bentakan bariton yang sangat menggelegar, kaku, dan dipenuhi wibawa intimidasi mutlak memecah keheningan lobi hotel. Pria itu tidak lain adalah Raditya Evan Baskara. Radit berdiri tegap membusungkan dadanya tepat di depan Kalea, bertindak sebagai perisai hidup pelindung seutuhnya. Sepasang mata elangnya berkilat memancarkan aura pembunuh yang luar biasa dingin menatap Fandi.

Fandi yang berhasil menyeimbangkan tubuhnya langsung memegangi dadanya yang sesak akibat dorongan Radit. Dia menarik sudut birunya sinis, menatap tajam Radit tanpa ada rasa takut. "Wah, lihat siapa yang dateng... Dokter Sombong rupanya!" Nggak usah sok jadi pahlawan kesiangan di hotel orang deh!"

Radit melangkah satu maju, mempersempit jarak hingga wajah mereka nyaris bersentuhan dengan napas memburu kesetanan. "Urusanku sama Kalea itu urusan rahasia kami yang nggak butuh persetujuan dari sampah kantor kayak kamu, Fandi! Satu langkah lagi kamu berani maju deketin dia, aku pastikan seluruh karir pialang sahammu hancur lebur dalam waktu lima menit lewat tim hukumku!"

"CUKUP!!! KALIAN BERDUA BISA DIAM NGGAK, HAH?!"

Kalea yang sudah berada di puncak kegilaan emosi batinnya mendadak berteriak lantang dengan suara melengking yang memotong seluruh perdebatan panas kedua pria tegap di hadapannya. Kalea melangkah keluar dari balik meja, berdiri di tengah lorong sambil memandangi Radit dan Fandi bergantian dengan sepasang pandangan mata biru jernih yang dipenuhi kobaran amarah yang luar biasa meledak-ledak. Sifat bar-bar dan ketegasannya menyala total siang ini.

Kalea menunjuk tepat ke arah pintu keluar dengan jari mungilnya yang gemetaran menahan sesak. "Mas Fandi! Mas Radit! Aku bener-bener udah muak dan enek banget liat muka kalian berdua hari ini?! Kalian berdua bener-bener egois yang cuma mikirin ambisi kotor masing-masing! Sekarang KALIAN BERDUA PERGI DAN ENYAH DARI KEHIDUPAN AKU UNTUK SELAMANYA?! Jangan pernah lagi berani tunjukin muka kalian di depan mataku?!"

Mendengar pengusiran lantang dari mulut Kalea, Radit dan Fandi mendadak menghentikan tatapan permusuhan mereka. Kedua pria keras kepala itu secara kompak memutar kepala mereka, menatap lurus ke dalam mata biru Kalea, lalu menjawab secara bersamaan dengan nada suara yang kaku penuh penolakan mutlak.

"NGGAK!!! AKU NGGAK BAKAL PERNAH PERGI DARI HIDUPMU, KALEA?!" jawab Radit dan Fandi serempak laksana paduan suara yang solid.

Kalea langsung terperanjat kaku, napasnya memburu naik-turun menahan dongkol karena bener-bener merasa diabaikan kata-katanya. Kalea menarik sudut birunya sinis, menatap mereka penuh tantangan kepalsuan. "Oh... Jadi kalian berdua kompak menolak buat pergi dari sini, hah?! Oke! Kalau kalian berdua nggak mau pergi dari hotel ini... MAKA AKU SENDIRI YANG BAKAL PERGI JAUH DARI HADAPAN KALIAN SEKARANG JUGA?!"

Kalea membalikkan tubuh mungilnya dengan sentakan kasar, bersiap melangkah lebar setengah berlari menuju pintu gerbang samping untuk kabur meninggalkan mereka berdua dalam kesunyian lobi.

Radit dan Fandi yang melihat Kalea nekat mau kabur lagi langsung panik kesetanan. Insting berahi gila Fandi dan rasa takut kehilangan dari Radit membuat kedua pria tegap itu langsung melompat lebar mengejar pergerakan Kalea secara bersamaan. Hanya dalam dua detakan jantung, mereka berhasil menyusul posisi Kalea dari arah belakang.

Sret! Sret!

Tangan kanan Fandi langsung bergerak cepat mencengkeram erat pergelangan tangan kiri Kalea, sementara di saat yang bersamaan, tangan kanan Radit yang jauh lebih besar juga menyusup mencengkeram sangat kuat pergelangan tangan kanan Kalea, membuat langkah kaki Kalea seketika terhenti kaku terjepit di tengah-tengah tubuh jangkung mereka. Mereka berdua kompak menarik lembut namun kuat tubuh mungil Kalea ke arah posisi dada mereka masing-masing, memperebutkan hak takdir wanita kontrak tersebut.

"LEPASIN!!! MAS RADIT! MAS FANDI! SAKIT, SIALAN!!! LEPASIN TANGANKU SEKARANG JUGA, HIKSS?!" jerit Kalea histeris dengan suara parau yang menyayat hati, matanya yang biru jernih melotot sempurna dipenuhi getaran kepedihan batin bercampur rasa takut karena tangannya ditarik kasar laksana barang pajangan di tengah keramaian lobi hotel yang kini mulai ditonton oleh puluhan staf karyawan resepsionis.

Radit yang melihat wajah ketakutan Kalea dan ngerasa cengkeraman tangan Fandi di tangan kiri Kalea terlalu kasar, langsung meledakkan kemurkaan besarnya siang itu. Radit memutar tubuh jangkungnya, menatap tajam ke arah pos sekuriti utama di depan pintu lobi, lalu berteriak menggelegar penuh wibawa mutlak seorang Direktur Utama. "SEKURITI!!! SEKURITI!!! CEPAT KE SINI, AMBIL TINDAKAN DAN USIR LAKI-LAKI BAJINGAN INI SEKARANG JUGA KELUAR DARI GEDUNG HOTEL?!"

Fandi langsung meradang murka, menatap Radit kesetanan sambil memperkuat tarikan tangannya. "Heh! Kurang ajar kamu, Dokter Sombong! Kamu nggak punya hak buat ngusir aku dari hotel ini ya! Lepasin nggak tanganmu?!"

Tidak butuh waktu lama, empat orang petugas sekuriti berbadan tegap dengan seragam dinas lengkap langsung berlari terburu-buru menerobos lorong lobi, mengurung posisi Fandi dari berbagai sudut dengan wajah kaku.

Radit menunjuk tepat ke arah wajah Fandi dengan jari telunjuk kirinya yang menegang kaku, mengeluarkan kalimat mutlak yang bener-bener meremukkan ego Fandi di depan seluruh karyawan hotel. "Sekuriti! Seret dan tendang laki-laki brengsek ini keluar dari area kompleks hotel sekarang juga! Laporkan dia ke polisi atas pasal pelecehan di tempat umum karena DIA UDAH BERANI MENGGANGGU DAN MENYENTUH ISTRI SAYA SECARA PAKSA?!" bentak Radit dengan suara bariton menggelegar.

DEG!!!

Mendengar kata 'istri saya' keluar begitu lancar dan lantang dari mulut pria sedingin Radit di depan seluruh staf resepsionis hotelnya sendiri, Kalea seketika terperanjat kaku laksana patung lilin. Sepasang mata birunya membelalak membulat sempurna dengan wajah yang mendadak langsung merona merah merona sangat tebal persis seperti kepiting rebus akibat salah tingkah tingkat dewa. Kalea melotot tajam menatap wajah samping Radit, menuntut penjelasan atas bualan gilanya tersebut.

Radit yang menyadari lirikan mata biru Kalea, perlahan-lahan menurunkan pandangan matanya. Pria berusia 29 tahun itu mendadak mengerlingkan sebelah mata elangnya, memberikan sebuah kedipan mata menggoda yang sangat manis dan sensual ke arah wajah merah Kalea, memperlihatkan lesung pipinya yang dalam seolah memberikan kode rahasia kalau ini semua bagian dari taktik perlindungannya, sukses bikin jantung Kalea kembali berdegup sangat kencang dan manis di dalam rongga dadanya.

"Nggak bisa!!! Lepasin aku sekuriti bodoh!!! Radit bajingan, urusan kita belum selesai!!! Kalea... kamu cuma boleh jadi milikku, Kaleaaa!!!" teriak Fandi kesetanan meraung-raung marah dengan suara serak yang berat saat tubuh kekarnya langsung dicengkeram erat dan diseret paksa oleh empat petugas sekuriti menerobos pintu kaca lobi, ditendang keluar menuju area parkiran luar laksana anjing kurap.

Suara teriakan Fandi perlahan memudar seiring tertutupnya pintu kaca lobi, menyisakan Radit dan Kalea yang masih berdiri berdekatan di tengah kesunyian lobi hotel yang luas.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!