Alesha rela mengorbankan impian dan kebahagiannya demi rumah tangga yang ia perjuangkan sepenuh hati dan menerima hinaan dan cacian oleh keluarga suaminya.
Namun semua pengorbanannya berakhir sia-sia ketika ia mengetahui suaminya berselingkuh dan mengaku belum menikah.
Memilih pergi adalah langkah paling menyakitkan yang pernah ia ambil. Tetapi tanpa disadari, keputusan itu justru membawanya pada kehidupan baru yang lebih baik.
Alesha mulai bangkit. Ia ingin membuktikan bahwa keputusannya meninggalkan masa lalu adalah pilihan yang tepat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Jmn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kamu lolos
"Selesai."
Alesha langsung menoleh ke arah Leon.
Leon melirik ke layar di hadapannya. Mata tajamnya fokus menatap angka-angka yang terpampang di sana.
Alis Leon terangkat tipis.
Waktu yang diberikan bahkan belum habis, tetapi Alesha sudah selesai lebih dulu.
Leon mengangguk pelan, lalu menggeser sebuah layar.
"Kerjakan."
Alesha menatap layar itu.
Di hadapannya terpampang deretan kode-kode angka yang memenuhi monitor.
"Satu menit dimulai dari... sekarang!"
Mata Alesha melebar.
Apa? Satu menit?
Leon menyipitkan mata.
Tugas pertama memang berhasil diselesaikan olehnya.
Namun tugas kedua ini berbeda.
Bahkan beberapa petinggi perusahaan pernah kesulitan menyelesaikan tugas yang sama.
Sementara itu, Alesha kembali fokus mengerjakan tugasnya.
Diam-diam, sudut bibirnya terangkat tipis.
Ini adalah salah satu bagian favoritnya.
"Selesai."
Leon langsung menatap layar, seolah tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.
"Bagaimana, Tuan?" tanya Alesha hati-hati.
Leon tidak langsung menjawab.
Pria itu justru menatap Alesha lurus-lurus.
Tatapan tajamnya membuat Alesha refleks menegakkan punggung.
"Kamu pernah mengerjakan soal seperti ini sebelumnya?"
Alesha menggeleng.
"Tidak pernah."
Leon menyipitkan mata.
"Yakin?"
Alesha mengangguk.
"Iya, Tuan. Kebetulan, sistem seperti ini memang bidang yang paling aku sukai."
Leon terdiam sejenak. Kini ia mengerti alasannya.
Hasil yang ditunjukkan Alesha jauh melampaui ekspektasinya.
Bahkan almarhum Reno membutuhkan waktu berjam-jam untuk menyelesaikan ujian yang sama saat pertama kali diuji oleh Leon.
Sementara wanita ini...
Menyelesaikannya tanpa banyak kesalahan.
Leon menyandarkan tubuhnya ke kursi.
Leon kembali menatap wanita itu.
Kali ini lebih lama dari sebelumnya.
Leon mengangguk pelan.
Anggukan itu memang singkat, tetapi cukup membuat Alesha mengembuskan napas lega.
Leon menutup layar di depannya.
"Tidak buruk."
Alesha menahan napas.
"Kamu lolos."
Mata Alesha langsung berbinar.
Tanpa sadar, ia meloncat kecil.
"Yeay."
"Hmm..."
Alesha langsung terkekeh pelan, lalu tersenyum pada Leon.
"Maaf, Tuan. Saya hanya bahagia," ucap Alesha.
Deg.
Leon mendadak mengalihkan pandangan.
Entah kenapa, senyum itu membuatnya tidak nyaman untuk menatap lebih lama.
Leon langsung mengalihkan pandangannya.
"Kamu bisa mulai bekerja hari ini," ucap Leon.
"Tuan, serius?" tanya Alesha dengan mata berbinar.
"Hmm."
Raut wajah Alesha sulit menyembunyikan rasa bahagianya.
Ia datang tanpa banyak harapan, tetapi pulang membawa kesempatan baru.
"Terima kasih, Ya Allah," ucapnya penuh syukur.
Setelah mengatakan itu, Leon keluar dari ruangan.
Saat pintu terbuka otomatis, Kevin dan Lea sudah berdiri di depan menunggu.
Lea langsung masuk menghampiri Alesha tanpa memedulikan kakaknya.
"Sha, bagaimana hasilnya?"
"Aku diterima kerja, Lea," jawab Alesha dengan antusias.
Lea ikut bahagia lalu memeluk Alesha.
"Selamat ya, Sha. Aku ikut senang."
Alesha mengangguk pelan.
"Ini semua juga berkat kamu, Lea. Makasih ya."
Lea melonggarkan pelukannya.
"Kamu hebat banget lho, Sha. Bisa menyelesaikan pengujian dari Kak Leon hanya dalam beberapa menit saja. Sedangkan, Kak Reno saat diuji butuh waktu berjam-jam. Sementara kamu hanya beberapa menit. Hebat banget lho kamu," puji Lea.
Alesha hanya bisa tersenyum malu sambil mengangguk pelan.
"Oh ya, Reno itu siapa?" tanya Alesha penasaran.
"Dia sahabat Kak Leon dan Kak Kevin, tapi dia sudah di surga," jawab Lea.
Alesha langsung tersenyum canggung.
"Maaf, Lea. Aku nggak bermaksud."
"Nggak apa-apa, kamu kan hanya bertanya."
Sementara itu, Kevin menatap Leon dengan senyum tipis.
"Apa yang gue katakan? Jangan cepat mengambil kesimpulan sebelum lo uji," ucap Kevin. "Lihat kan kemampuan Alesha? Dia hampir sebanding dengan Reno, kan?"
Kali ini Leon setuju dengan ucapan Kevin.
"Hmm," balasnya singkat. "Antar dia ke ruangannya."
Setelah mengatakan itu, Leon meninggalkan ruangan.
"Alesha," panggil Kevin.
Alesha segera menoleh, lalu menghampiri Kevin.
"Iya, Tuan."
"Aku antar kamu ke ruanganmu," ucap Kevin lalu mulai melangkah.
Alesha dan Lea mengikutinya dari belakang.
Kevin menghentikan langkahnya di sebuah ruangan yang berada tepat di sebelah ruangan Leon.
"Alesha, ini ruanganmu," ucap Kevin lalu memberikan kartu akses kepada Alesha. "Ini kartu akses ruanganmu. Kamu tidak boleh membawa orang lain ke ruangan ini. Tanpa aku memberitahumu pun, pasti sudah terlintas di pikiranmu bagaimana isi ruangan ini," jelas Kevin.
Alesha mengangguk paham.
Alesha langsung mengerti alasan Kevin memberi peringatan itu.
Kemungkinan besar ruangan tersebut menyimpan banyak data penting perusahaan.
"Iya, Tuan."
—
"Sayang..."
Suara Risa terdengar begitu manja saat memanggil Aldo.
Aldo yang sedang fokus menatap layar laptopnya langsung menoleh. Senyum manis pun terukir di wajahnya begitu melihat kekasihnya.
"Sayang," balasnya lembut, lalu merentangkan kedua tangannya seolah meminta pelukan.
Dengan senang hati, Risa membalas pelukan itu. Ia melingkarkan kedua tangannya di leher Aldo, lalu duduk di pangkuan pria tersebut.
"Aku kangen," ucapnya manja sambil menyandarkan kepala di bahu Aldo.
Aldo terkekeh pelan.
"Aku juga kangen. Maaf ya, Sayang. Aku banyak kerjaan sampai mengabaikanmu," ucapnya sembari mengusap lembut rambut Risa.
Tatapan Risa langsung melembut mendengar ucapan itu.
"Nggak apa-apa kok, yang penting sekarang aku sudah ketemu kamu," balasnya sambil tersenyum manis.
Aldo mengangguk pelan. Tangannya masih merangkul pinggang Risa dengan nyaman, seolah tidak ingin melepaskannya.
Suasana di antara mereka terasa hangat dan akrab, jauh berbeda dari sikap Aldo saat bersama Alesha dulu.
Aldo mencium puncak kepala wanita itu.
Beberapa saat kemudian, pandangan Risa beralih ke laptop yang masih menyala di atas meja.
"Kamu lagi kerja?"
Aldo mengangguk.
"Iya. Ada beberapa laporan yang harus aku selesaikan."
"Capek nggak?"
"Capek sih, tapi mau bagaimana lagi."
Cup!
Risa mengecup bibir Aldo dengan singkat.
"Agar kamu lebih semangat."
Aldo tersenyum tipis.
"Kamu ini bisa-bisa saja, selalu membuatku bahagia, Sayang."
"Tentu."
Risa menatap Aldo dalam-dalam.
Tatapan itu membuat Aldo mengernyit heran.
"Kenapa kamu tatap aku seperti itu?"
"Aku ada hadiah untukmu, Sayang," ucap Risa.
"Hadiah?"
Risa mengangguk pelan. Ia turun dari pangkuan Aldo, lalu membuka tas yang dibawanya. Dari dalam tas itu, ia mengeluarkan sebuah kotak kecil dan memberikannya kepada Aldo.
"Apa ini, Sayang?"
"Buka saja. Aku yakin kamu pasti suka."
Aldo menerima kotak itu, lalu membukanya perlahan.
Tangannya mengambil benda yang ada di dalam kotak tersebut.
Seketika matanya melebar.
"Risa..."
Risa tersenyum manis.
"Bagaimana? Suka, kan?"
Aldo tidak langsung menjawab.
Ia menelan ludahnya dengan susah payah.
Tatapannya tidak lepas dari test pack yang ada di tangannya.
"K-kamu hamil?"
ayoookkkk semangat
semangat
💪💪💪💪💪
😤😤😤😤😤😤😤😤😤kuweseeellleee rekkk...
yg Suai siapa tapi yg dituntut nafkahi siapa. kan gendeng yaaa.. ga DA kewajibannya mantu atau istri menafkahi keluarga nya apa lagi menafkahi kluarga suami.😄😄😄
ibu ini lupa minum obat inii pastii makanya rada kumat 🤭
mending sekalian beneran kerja jadi babu luar negri makan gratis tinggal gratis digaji besar. sama aja kan kayak kau tinggal dirumah kluarga suami mu, macam babu. bedanya babu luar negri digaji🤣🤣🤣🤣
lahhh ini sudah lah dihina dijelekkan dibabuin ga dihargai, dinafkahi ala kadarnya saja. boro boro mau beli berlian segunung🤣🤣🤣🤣
lanjut lahhhhhh
Thor kira kira kalau buat cerita, LG anteng2 baca sudah dibuat darah tinggi thorrrrrrr teganya dikau pada daku. 🤣🤣🤣🤣
coba Thor masukin aku kedalam novel mau aku geprek itu mertua dan ipar laknatnyaaa... sudah ga dinafkahi kok masih mau aja punya suami modelan gitu....
astaghfirullah
astaghfirullah
astaghfirullah
sabarrrr sabarrr... orang sabar rejekinya lebaaarrrrrrrrrrrr😁