NovelToon NovelToon
Holong Di Balik Adat

Holong Di Balik Adat

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / Cintapertama
Popularitas:192
Nilai: 5
Nama Author: Pasaribu

Perjuangan cinta yang juga harus membutuhkan restu.
"kamu itu terlahir dalam adat apa? sadar gak sih kamu????"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pasaribu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bertemu Teman Lama

Laki-laki itu mundur selangkah. Namun bukannya langsung pergi, ia malah menatap Asido cukup lama.

Asido yang merasa diperhatikan menjadi sedikit heran.

"Sekali lagi saya minta maaf," kata Asido lagi.

Tetapi laki-laki itu masih menatapnya, seolah sedang memastikan sesuatu.

"....... Asido?"

Asido mengernyit.

"Hah??" seru Asido bingung.

"Serius kau nggak ingat?"

Kini giliran Asido yang memperhatikan wajah di depannya dengan seksama.

Namun ia belum sempat menyimpulkan, laki-laki itu tertawa kecil melihat ekspresinya.

"Parah kali. Baru beberapa tahun nggak ketemu, langsung lupa."

"Lupa?" Asido mencoba mengingat.

"Ini aku, Ryan."

"Ryan?" ulangnya.

Lalu mata Asido membesar.

"Ryan...." ucap Asido setelah mengingat kembali.

"Astaga..... Baru sadar dia,"

Mereka langsung tertawa bersamaan. Asido menepuk bahu sahabat lamanya itu dengan tidak percaya.

"Kau berubah kali ya!!! Kumis sudah ada, badan makin tinggi juga,"

Ryan memperhatikan penampilan Asido dari atas sampai bawah. Tatapannya berhenti pada jas putih yang dikenakan sahabat lamanya itu.

"Tunggu dulu......" katanya sampai menunjuk pakaian Asido.

Asido menunduk melihat dirinya sendiri.

"Kenapa?"

"Kau sudah jadi dokter?" Ryan membelalakkan mata pura-pura terkejut.

Asido tertawa kecil.

Ryan menepuk lengan Asido.

"Terakhir kali aku lihat kau waktu SMA. Yang ku ingat cuma anak yang suka telat masuk kelas dan selalu pinjam pulpen." ujarnya sambil tertawa kecil.

"Itu fitnah." bantah Asido.

"Itu fakta."

Mereka tertawa bersama.

"Jangan bilang juga ini klinik kamu?" tanya Ryan penuh penasaran.

"Iya...." jawab Asido santai.

"HAH??" seru Ryan, kali ini Reno benar-benar terkejut.

"Serius. Punyamu sendiri?" tanya Ryan memastikan.

Asido mengangguk santai.

Ryan memandang sahabat lamanya beberapa detik sebelum menggeleng tak percaya.

"Gila..... Terbukti ya, waktu SMA kamu orang yang paling pintar di angkatan kita....."

Asido tertawa kecil sambil menggeleng pelan.

"Hebat juga ya. Kita semua sibuk dengan hidup masing-masing. Tahu-tahu ketemu lagi, kau sudah jadi dokter dan punya klinik sebesar ini."

"Ya begitulah...... Bersyukur juga... "

"Kalau anak-anak satu angkatan tahu, pasti mereka kaget."

Asido hanya tersenyum tipis.

"Yang penting pasienku jangan kaget waktu lihat tagihan."

Mendengar itu, Ryan langsung tertawa keras hingga beberapa perawat yang lewat menoleh ke arah mereka.

"Permisi, Dok." ucap seorang perawat menghampiri dengan langkah cepat.

Asido menoleh, "Iya?"

"Pasien yang untuk tindakan tadi sudah menunggu di ruangan, Dok."

"Oh iya, iya...."

Perawat itu mengangguk sopan lalu kembali ke ruang perawatan.

Asido langsung melirik jam tangannya.

"Nah, ketahuan sibuknya," goda Reno.

Asido menepuk bahu sahabat lamanya itu.

"Saya duluan dulu. Nanti kalau belum pulang, kita lanjut cerita."

Asido merapikan jas putihnya sekali lagi sebelum melangkah menuju ruang perawatan.

Baru beberapa langkah ia berjalan, suara Ryan terdengar dari belakang.

"Oi, Asido!"

Asido menoleh, "apa lagi?"

Ryan menyeringai lebar.

"Kalau sudah jadi dokter sukses begini, pasti sudah ada calon istri kan?"

Asido mendecakkan lidah sambil menggeleng.

"Kerjamu memang mengganggu hidup orang."

Ryan tertawa puas melihat ekspresi teman lamanya itu.

Sementara Asido hanya mengangkat tangan sebagai salam perpisahan sebelum masuk ke ruang perawatan, meninggalkan Ryan yang masih tersenyum-senyum penasaran di Koridor klinik.

Asido mengetuk pintu ruang perawatan pelan sebelum membukanya.

"Selamat siang," sapanya ramah sambil melangkah masuk.

Di kursi pasien sudah duduk seorang perempuan yang usianya sekitar lima puluhan. Rambutnya sudah ada yang terlihat memutih dan wajahnya memancarkan hangat seorang ibu.

"Selamat siang, Dok." jawabnya dengan senyum sopan.

Asido membalas senyumnya lalu duduk di kursi dokter.

"Bagaimana kabarnya hari ini, Bu?"

"Baik, Dok. Cuma gigi saya ini yang dari kemarin ngilu kalau lagi makan." jelasnya memulai.

"Sebelah mana yang terasa ngilu?"

Perempuan itu menunjuk bagian kanan mulutnya.

"Di sini, Dok. Kalau minum dingin juga kadang sakit."

"Baik..... Nanti kita periksa ya."

Asido membuka berkas pasiennya terlebih dahulu.

"Nama ibu?"

"Rinawati" jawabnya.

"Baik, Bu Rinawati."

Setelah memastikan data pasien, Asido mulai melakukan pemeriksaan. Lampu perawatan dinyalakan dan kursi pasien direbahkan sedikit.

"Coba dibuka mulutnya, Bu."

Pemeriksaan itu berlangsung tenang. Sesekali Asido menjelaskan apa yang sedang dilihatnya agar pasiennya tidak merasa cemas.

"Tidak perlu khawatir, Bu." Katanya setelah selesai memeriksa. "Sepertinya ada gigi yang mulai berlubang di bagian belakang. Belum terlalu parah, jadi masih bisa ditangani."

Wajah pasiennya itu tampak lega.

"Syukurlah. Saya takut harus dicabut."

Asido tersenyum kecil.

"Belum sampai ke situ. Justru bagus ibu datang sekarang sebelum keluhannya bertambah berat."

"Anak saya juga bilang begitu, Dok. Katanya jangan ditunda-tunda."

"Nah, anak ibu benar."

Suasana ruang perawatan menjadi lebih santai.

Asido menutup berkas pemeriksaan setelah selesai menjelaskan kondisi gigi pasiennya.

"Untuk sementara saya berikan obat pereda nyeri dulu, Bu. Nanti diminum sesuai petunjuk yang tertulis. Setelah itu kita jadwalkan perawatan berikutnya supaya sumber masalahnya ditangani."

"Baik, Dok."

Ibu Rinawati menerima lembar resep itu. Dan tanpa sengaja matanya tertuju pada name tag yang terpasang di dadanya.

Ia membaca pelan, "drg.Asido Pardosi."

Perempuan itu tampak berpikir sesaat.

"Pardosi?" ulangnya.

Asido yang sedang merapikan berkas mengangkat kepala.

"Iya, Bu."

Perempuan itu tersenyum kecil. "Orang Batak ya, Dok?"

Asido ikut tersenyum. "Iya, Bu."

"Pantas. Dari tadi saya lihat wajah Dokter agak familiar."

Asido tersenyum tipis.

"Kalau ibu sendiri?"

"Saya orang batak juga."

"Wah, dari marga apa, Bu?"

"Marga Pane,"

Perempuan itu menyebutkan marganya dengan bangga lalu tertawa kecil.

"Saya baru memperhatikan waktu lihat name tag dokter."

Asido mengangguk paham. Hal seperti itu memang cukup sering terjadi. Banyak pasien Batak yang spontan menanyakan marga ketika melihat nama belakangnya.

"Sekarang jarang ketemu orang yang masih pakai marga lengkap di name tagnya. Apalagi di kota besar gini....." kata perempuan itu.

"Biar keluarga bangga, Bu." jawab Asido bercanda.

Perempuan itu tertawa.

"Baguslah, Dok. Jangan dilupakan marganya."

Asido membalas dengan senyum sopan.

Asido kembali menunduk memperhatikan berkas pasien di depannya. Ia memastikan jadwal kontrol berikutnya telah dicatat.

"Dokter....." panggil perempuan itu ragu-ragu.

"Iya, Bu?"

Perempuan itu tersenyum hangat, seperti seorang ibu yang sedang berbincang santai dengan anaknya sendiri.

"Sudah menikah?"

Pertanyaan itu tak membuat Asido terkejut. Karna itu bukan hal yang baru. Banyak pasien sering kali menanyakannya dengan santai.

"Belum, Bu." jawabnya sambil tersenyum kecil.

"Belum?" wajah perempuan itu tampak sedikit terkejut. "Dokter sudah sukses begini, masih belum menikah?"

Asido tertawa, "Belum ketemu yang cocok, Bu."

"Nah, itu jawaban aman...." kata perempuan itu sambil ikut tertawa.

Asido hanya menggeleng.

"Memang begitu kenyataannya, Bu."

Ibu itu mengangguk-angguk.

"Tapi kalau sudah ketemu orang yang tepat, jangan ditunda-tunda."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!