NovelToon NovelToon
KEBAYA PUTIH YANG TERNODA

KEBAYA PUTIH YANG TERNODA

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / CEO / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:74.7k
Nilai: 5
Nama Author: Mommy Ghina

"Sejak awal aku memang tidak pernah mencintaimu, Alin! Hatiku sepenuhnya masih milik Cindy!"

Kalimat kejam dari Elang menjadi penutup malam pertama yang dingin bagi Alin. Hanya karena rasa hormat pada Nenek Aisyah, sang CEO angkuh itu sudi mengikat Alin dalam pernikahan sepihak. Bagi Elang, menyelamatkan Cindy dan bocah kecil bernama Ega dari jalanan adalah segalanya, meskipun ia harus menginjak-injak martabat Alin sebagai istri sah.

Namun, Elang melupakan satu hal: Alin bukanlah wanita lemah yang akan mengemis cinta. Saat Alin benar-benar melepaskan cincin pernikahan mereka dan menghilang untuk menata hidupnya sendiri, dunia Elang justru runtuh seketika. Terlebih saat sebuah rahasia medis terbongkar dan membuktikan bahwa anak yang ia agungkan selama ini adalah sebuah kebohongan besar yang dirancang oleh mantannya.

Penyesalan itu datang terlambat. Elang yang dulu arogan kini harus melepaskan seluruh harga dirinya, merangkak di tengah badai, hanya untuk mendapatkan secuil maaf Alin.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mommy Ghina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12. Maafin Alin, Nek

Langkah kaki Alin terasa jauh lebih ringan saat taksi yang membawanya berhenti tepat di depan gerbang kayu jati setinggi dua meter. Rumah bergaya kolonial yang megah itu berdiri kokoh di salah satu kawasan elite Jakarta, memancarkan aura wibawa yang kental. Ini adalah kediaman Nenek Aisyah, tempat yang satu bulan lalu sering Alin kunjungi bersama ibunya untuk membicarakan rencana perjodohan konyol itu. Alin menarik napas dalam-dalam, meremas sejenak handle koper kain hitam di tangan kanannya, lalu melangkah masuk melintasi halaman rumput yang tertata rapi.

Sebelum Alin sempat mengetuk pintu utama yang terbuat dari kayu jati solid, pintu tersebut sudah terbuka lebih dulu. Mbok Darmi, salah satu Asisten Rumah Tangga senior yang sudah bekerja puluhan tahun di sana, muncul dengan senyum hangat yang langsung merekah di wajah sepuhnya. Namun, senyuman itu tidak bertahan lama. Begitu sepasang mata Mbok Darmi turun dan menangkap sosok koper besar yang berdiri tegak di samping kaki Alin, wanita paruh baya itu tersentak kaku.

"E-eh, Non Alin? Sendirian saja? Mas Elang ke mana, Non?" tanya Mbok Darmi, suaranya sarat akan nada kecemasan yang tertahan. Matanya mengedar ke arah halaman, mencari keberadaan mobil mewah sang majikan muda yang biasanya terparkir gagah di sana.

Alin hanya melempar senyum tipis yang tampak begitu tenang. Ia menyisipkan beberapa helai rambut panjangnya yang terurai ke belakang pundak dengan gerakan yang teratur. "Mas Elang sedang sibuk di rumah baru, Mbok. Nenek ada di dalam?"

"Ada, Non ... ada. Silakan masuk dulu, Non," jawab Mbok Darmi tergagap, buru-buru membukakan pintu lebar-lebar dan berniat meraih gagang koper Alin, tetapi Alin menolak dengan halus. Ia memilih membawa barang-barangnya sendiri, melangkah masuk menuju ruang utama yang berplafon tinggi.

Di sudut ruangan, Nenek Aisyah dengan wajahnya yang pucat sedang duduk di atas kursi goyang kayunya, mengenakan setelan kebaya harian yang bersahaja namun tetap memancarkan garis keanggunan seorang ningrat. Begitu mendengar suara roda koper yang bergesekan dengan lantai marmer, wanita sepuh berusia tujuh puluh lima tahun itu mendongak. Detik itu juga, gerakan kursi goyangnya berhenti total.

Sepasang mata senja Nenek Aisyah melebar sempurna, menatap nanar ke arah cucu menantu pilihan hatinya yang kini berdiri mandiri dengan koper di tangan, tanpa didampingi oleh Elang. Gurat kejut dan ketakutan yang nyata tercetak di wajahnya yang mulai berkeriput.

Sebelum wanita sepuh itu sempat melontarkan rentetan pertanyaan yang sudah memenuhi rongga dadanya, Alin melangkah maju dengan anggun. Ia meletakkan kopernya perlahan, lalu berlutut di depan Nenek Aisyah, meraih tangan kanan yang mulai keriput itu dengan kedua tangannya, lalu mengecupnya dengan takzim dan penuh rasa hormat.

"Kamu diusir sama Elang, Lin?!" tuding Nenek Aisyah seketika, suaranya meninggi dengan nada gemetar hebat akibat amarah yang mendadak meletup. Kedua tangannya berganti mencengkeram bahu Alin dengan erat, memaksa gadis berambut panjang itu untuk menatapnya. "Katakan pada Nenek, Nduk! Apa si bodoh Elang itu berani mengusirmu dari rumah baru kalian?!"

Alin menggelengkan kepalanya perlahan, tetap mempertahankan ekspresi wajahnya yang datar dan tenang. "Tidak, Nek. Mas Elang tidak mengusir Alin."

Nenek Aisyah tidak langsung mempercayai ucapan itu. Ia menarik napasnya dengan pendek dan berat, dadanya kembang kempis menahan sesak. "Lalu kenapa kamu membawa koper siang-siang begini? Apa ... apa wanita ular itu masih ada di rumah baru kalian? Apa perempuan bernama Cindy itu belum juga angkat kaki?!"

Alin perlahan menegakkan tubuhnya, lalu mendudukkan diri di atas sofa beludru hijau tua yang berada tepat di samping kursi goyang Nenek Aisyah. Ia menatap wanita tua yang sudah sangat banyak berjasa bagi kehidupan ibunya yang selama ini berjuang sendirian sebagai 'single parent'. Hati Alin berdenyut perih karena harus membawa berita buruk ini, namun ia menolak untuk terus hidup dalam kepalsuan yang menyiksa batinnya.

Alin melemparkan senyum kecut, menatap lurus ke dalam manik mata Nenek Aisyah yang mulai berkaca-kaca. "Alin tidak diusir oleh Mas Elang, Nek. Lebih tepatnya ... Alin sendiri yang memilih untuk melangkah keluar dari rumah itu. Alin ... ingin membatalkan pernikahan ini, Nek. Alin mau mengurus pembatalannya secepat mungkin di KUA mumpung lembaran negaranya belum diproses terlalu jauh."

'Deg.'

Nenek Aisyah terdiam membisu, tubuhnya mendadak kaku seolah baru saja disengat aliran listrik yang melumpuhkan syarafnya. Ia menatap cucu menantunya dengan pandangan tidak percaya.

"Maafin Alin ya, Nenek," sambung Alin lirih, suaranya bergetar kecil namun sarat akan ketegasan yang mutlak dari seorang perempuan merdeka yang memegang teguh harga dirinya. "Mau bagaimanapun, Alin ini perempuan normal, Nek. Alin tidak suka, dan tidak akan pernah sudi jika ada wanita lain yang berbagi atap dan perhatian di dalam rumah tangga Alin. Alin lebih memilih untuk mundur sekarang, detik ini juga, ketimbang ke depannya pun hubungan pernikahan ini tetap akan berjalan hancur berantakan."

Nenek Aisyah menatap Alin dengan pandangan mata yang sarat akan duka dan penolakan yang teramat besar. Ia meremas jemari Alin yang terasa dingin, menggelengkan kepalanya dengan kuat. "Nenek tidak menyetujuinya, Alin! Nenek tidak akan pernah mengizinkan pernikahan ini batal atau berakhir begitu saja!"

"Tapi, Nek—"

"Kali ini saja, Nenek meminta tolong padamu, Nduk. Tolong dengarkan permintaan wanita tua yang rapuh ini," potong Nenek Aisyah dengan suara yang parau, air matanya akhirnya luruh membasahi pipinya yang keriput. Ia menatap Alin dengan binar mata memohon yang teramat sangat, sesuatu yang belum pernah Alin lihat dari sosok wanita sekuat Nenek Aisyah. "Bertahanlah dulu di samping Elang ... setidaknya selama tiga bulan ke depan, Alin. Berjuanglah untuk merebut hati Elang kembali. Jangan sampai Elang kembali jatuh ke dalam pelukan wanita itu!"

Nenek Aisyah mengeraskan rahangnya, gurat kebencian yang mendalam terpancar jelas di wajahnya saat mengingat sosok Cindy. "Nenek tidak rela, dunia akhirat Nenek tidak akan pernah rela kalau Elang kembali menjalin hubungan dengan mantannya itu! Sejak dulu, sejak enam tahun lalu saat ia pertama kali dibawa ke rumah ini, Nenek sudah tidak menyetujuinya! Perempuan itu tidak tulus, ia hanya menginginkan harta Elang!"

Alin menghela napas panjang, mendesah pelan merasakan beban berat yang mendadak diletakkan di atas kedua bahunya yang rapuh. Rambut panjangnya yang terikat ekor kuda bergoyang mengikuti gerakan kepalanya yang tertunduk lesu.

"Nek, kenapa Nenek tidak mencoba untuk merestui mereka saja sekarang?" desak Alin lembut, mencoba memberikan sudut pandang logis yang selama ini diabaikan oleh sang nenek karena kabut kebencian masa lalu. "Apalagi sekarang sudah ada Ega di antara mereka. Sudah ada anak kecil berusia empat tahun yang tidak berdosa. Kasihan anak itu, Nek ... dia pasti sangat membutuhkan kehadiran sosok ayahnya secara utuh untuk tumbuh dewasa."

Bersambung ...

1
Lisna Wati
lajut
Kimmy Doankz
mudahan cinta itu berawal dari makanan 🤭
Ayudya
bagus Lin kamu harus tunjukan sikap badas dan bar bar kamu ke elang yg bego🤣🤣🤣🤣🤣
Ayudya
hadeh Cindy sadar diri itu perlu Uda syukur Alin ga mampir kamu dan kamu di biarkan tinggal di rumahnya🤣🤣🤣🤣
Kar Genjreng
astagaa ya Lang loe si yang mulai duluan,,, kalau di pikir Lang sakitnya Lin banget nget,,,coba di bayangke. coba loe bisa membedakan yang stri sah dan mantan mana malam pertama,,,belum lagi pelaminan nya geger dan memalukan s x,,
siapa npun akan marah sekarang di nikmati saja sikap Alin terhadap mu loe tidak boleh TREMOSI ya 🤣 coba sekarang buktinya mantan loe pakaian beli di departemen store saja protes,,,coba loe baik sama Alin pasti akan membalas seribu lebih baik tidak tamak dan bukan sandiwara ,,,angel wis Lang Leh darani kadung mungkal Alin,,, padahal Alin cantik muda sarjana,, mandiri. lemah lembut asal Ojo di centok wadine tapi neh di srempet ,, jangan tanya bar bar yang muncul 😇
Teti Hayati
Diiih... ada yg kepengen Lin... gak usah dikasih Lin. kekepin aja... 🤣🤣🤣
Puput Assyfa
ngarep yg ketinggian km Cindy,liat kebawah statusmu itu apa,gak capek apa dangak trs berharap yg lebih tp ujung2nya nyesek tanpa nenek Elang itu kere Cindy
Rarik Srihastuty
elang pengen sama yg di makan istrinya, menggiurkan ya aromanya. suruh aja masakin mbak pacar yg lg uring2an di rumah gegara merek baju 😂😂😂
Dcy Sukma
Hmmm... jatuh cinta duluan lewat masakan..🫣
Dcy Sukma
Untung Denis dah tau sifat matre si Cindil../Chuckle/..
Setyowati Setyowati
lanjut lagi yuk mom
Teh Euis Tea
si elang sebenarnya minta di layani am alin tuh tp malu
Mutaharotin Rotin
dasar g tau diri,g punya terima kasih,mau nuntut,emang kamu bininya elang sombong amat sok kaya🤦
Sugiharti Rusli
bagi Alin prinsipnya sekarang dia hanya fokus membuat nenek Aisyah pulih, dan urusan rumah tangganya ga terlalu dia pikirkan dengan serius dan Elang dianggap kasat mata saja sekarang😷😷😷
Sugiharti Rusli
dan sekarang si Elang seperti tertantang dengan sikap Alin yang tidak terintimidasi lagi berhadapan dengan dirinya yah,,,
Sugiharti Rusli
susah sih yah kalo orang sudah merasa jatuh cinta, yang dia lihat hanya kebaikan yang sejatinya hanya topeng saja,,,
yuni ati
Terlalu PD Cindy🤣
Sugiharti Rusli
entah pemikiran bodoh mana yang si Elang punya yah sampai bisanya jatuh cinta sama modelan spek kek si Cindy😏😏😏
Sugiharti Rusli
yah kali mau dianggap siapa kamu Cindy di sisi Elang sekarang dengan berharap dapat apa yang sesuai keinginan kamu,,,
Halimatus Syadiah
bagus alin, terus bersikap cuek sama elang, agar dia tidak seenaknya sendiri
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!