Usai memutuskan hubungan dua setengah tahun dengan Reza, Tari merasa lelah dengan drama cinta dan tekanan keluarga. Belum sembuh sepenuhnya, ia dipaksa ibunya mengikuti kencan buta—dan takdir malah mempertemukannya dengan Aldo, adik kandung mantan pacarnya sendiri.
Wajahnya mirip, tapi sikapnya sangat berbeda: lebih dingin, lebih tajam, dan seolah menyimpan rahasia serta dendam tersembunyi. Pertemuan yang dipaksa keluarga perlahan membangkitkan perasaan yang tak seharusnya ada. Di tengah gosip lingkungan dan luka lama yang mulai terbuka kembali, Tari dihadapkan pada satu pertanyaan berat:
Apakah ia berhak merasakan bahagia di samping orang yang masih terikat erat dengan masa lalunya yang menyakitkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HebiKage, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Selamat Tinggal Jakarta
Jam dinding di kamarku baru saja menunjukkan pukul tiga lewat tiga puluh menit saat mataku terbuka lebar. Aku terbangun bukan karena suara alarm—bahkan sejak malam sebelumnya aku sudah mematikannya, tak ingin suara keras itu memecah keheningan terakhir di sini. Melainkan karena tubuhku sendiri seolah menolak untuk diam berbaring lagi. Ada getaran halus namun kencang yang terasa menjalar di sekujur tubuhku, persis seperti ada ribuan kupu‑kupu yang beterbangan gelisah di dalam perut, membawa campuran rasa cemas dan harapan yang sulit kujelaskan.
Aku duduk di tepi kasur, membiarkan mataku menelusuri setiap sudut kamar ini untuk waktu yang terakhir—setidaknya untuk beberapa tahun ke depan. Dinding‑dindingnya yang mulai terlihat kusam dengan cat yang mengelupas di beberapa sudut bawah. Rak buku kecil kayu yang penuh sesak dengan novel‑novel bekas yang sudah kubaca berulang kali. Meja belajar di dekat jendela yang permukaannya penuh goresan bekas tinta pulpen biru—jejak dari malam‑malam panjang saat aku mengerjakan tugas kuliah hingga matahari mulai terbit.
Benda‑benda ini sama persis seperti yang kulihat setiap hari. Namun mulai hari ini, kamar ini takkan lagi menjadi tempatku beristirahat. Ia hanya akan tinggal sebagai bagian indah yang tersimpan rapi di dalam ingatan.
Aku berjalan perlahan menuju kamar mandi, membasuh seluruh wajah dengan air dingin agar kesadaran penuh kembali. Saat menatap pantulan diri di cermin, kulihat seorang perempuan dengan mata yang agak bengkak—bekas dari tangisan panjang yang tak tertahankan semalam. Aku tersenyum tipis pada bayanganku sendiri, lalu berbisik pelan seolah memberi kekuatan, “Kamu pasti bisa, Tari. Kamu perempuan yang kuat.”
Setelah merasa cukup tenang, aku melangkah keluar kamar menuju bagian depan rumah.
***
Pukul empat pagi, aroma masakan yang lezat sudah menyapa indra penciumanku begitu aku melangkah masuk ke ruang tengah. Ternyata Mama sudah sibuk bergerak di dapur, menyiapkan sarapan kesukaanku. Aroma nasi goreng yang gurih dan telur mata sapi yang baru saja matang tercium begitu kuat dan hangat. Di ujung meja makan kayu tua itu, Papa sudah duduk diam dengan segelas kopi hitam pekat yang masih mengepulkan asap tipis di hadapannya.
“Tari, apakah segala perlengkapanmu sudah siap semua?” tanya Papa dengan suara yang terdengar serak—entah karena baru bangun tidur, atau karena ia pun sama sepertiku, tak bisa memejamkan mata sepanjang malam.
“Belum sepenuhnya, Pa. Tapi aku harus segera bersiap,” jawabku pelan.
Papa mengangguk perlahan. “Makanlah dulu dengan kenyang. Nanti kamu bisa merasa lapar dan lelah di perjalanan jauh itu.”
Aku pun duduk di kursi makan. Dinda dan Rangga belum terlihat turun—mungkin mereka masih tertidur pulas, atau justru sengaja menunda bangun agar tak harus menghadapi momen berat perpisahan ini.
Mama datang membawa sepiring penuh nasi goreng ke hadapanku. Di atasnya terhampar telur mata sapi yang masih hangat, dengan bagian kuning telur yang masih setengah matang dan lumer—persis seperti cara masakan yang paling aku sukai sejak kecil.
“Makanlah yang banyak, Nak,” kata Mama lembut sambil duduk di sebelahku, menatapku dengan pandangan yang penuh kasih.
Aku mengambil sendok, lalu mulai menyuap makanan itu perlahan. Rasanya tetap sama enaknya seperti biasa. Namun pagi ini, ada rasa getir yang menyelinap di lidah—seolah pahitnya rasa berat hati ikut bercampur di sana.
***
Pukul empat lewat tiga puluh menit, terdengar langkah kaki turun dari lantai atas. Dinda muncul lebih dulu, masih mengenakan pakaian tidur bermotif kelinci berwarna merah muda yang sudah agak lusuh di bagian kerahnya. Matanya tampak sembab dan merah, sepertinya ia baru saja selesai menangis. Di belakangnya berjalan Rangga, dengan wajah yang tertunduk diam—sangat berbeda dari kebiasaannya yang selalu ceria dan banyak bicara.
“Kak…” panggil Dinda lirih, lalu duduk mendekatiku.
“Iya, Din? Ada apa?” jawabku sambil menatap wajah adikku itu.
“Aku… aku sama sekali tidak bisa tidur nyenyak semalam,” ceritanya dengan suara bergetar.
“Lho, kenapa begitu?”
“Karena aku takut… kalau aku tertidur lama, saat bangun nanti Kak Tari sudah pergi meninggalkan rumah,” jawabnya dengan mata yang mulai berkaca‑kaca.
Aku segera mengusap kepalanya lembut, lalu mencium keningnya. “Tenanglah, Din. Kakak belum pergi ke mana‑mana. Kakak masih ada di sini bersamamu sekarang.”
Tanpa bicara banyak, Dinda langsung memelukku dengan erat—persis seperti saat ia masih kecil dan aku selalu menjadi kakak yang melindunginya dari segala ketakutan.
“Kak… aku sangat menyayangi Kak Tari,” bisiknya di sela‑sela pelukan itu.
“Dan Kakak pun sangat menyayangimu, Din,” jawabku membalas pelukannya.
Sementara itu, Rangga hanya berdiri diam di samping kursiku. Aku meraih tangannya yang kecil dan hangat.
“Rangga… kamu mau makan sedikit bersama Kakak?” bujukku lembut.
Ia menggeleng pelan. “Aku tidak merasa lapar, Kak.”
“Kamu harus tetap makan, Rangga. Kalau tidak, nanti kamu bisa jatuh sakit,” kataku lagi.
“Aku tidak akan sakit… aku hanya… sedih sekali,” jawabnya dengan suara yang nyaris tak terdengar.
Aku menarik tubuhnya agar ikut masuk ke dalam pelukanku, memeluknya sekuat hati meski tubuhnya kini sudah hampir setinggi bahuku.
“Ingatlah selalu, Kakak pasti akan kembali ke sini. Dua tahun itu bukan waktu yang lama,” janjiku padanya.
“Kapan tepatnya Kakak pulang?” tanyanya menatapku lekat.
“Dua tahun lagi. Sebentar saja akan berlalu,” jawabku meyakinkan.
Rangga tak menjawab sepatah kata pun. Ia hanya membalas pelukanku dengan erat, diam tanpa suara namun penuh makna.
***
Tepat pukul lima pagi, kendaraan Aldo sudah terlihat berhenti rapi di depan pagar rumahku.
Ia turun dari mobil, berjalan mendekati pintu rumah, lalu mengetuk perlahan. Mama segera membukakan pintu dan menyambutnya dengan senyum hangat.
“Selamat pagi, Nak Aldo. Apakah kamu sudah sempat sarapan sebelumnya?” tanya Mama.
“Belum, Bu,” jawabnya sopan.
“Kalau begitu masuklah dan makanlah dulu bersama kami. Nanti di jalan kamu takkan sempat berhenti makan,” ajak Mama.
Aldo masuk ke ruang makan, duduk di kursi kosong di sebelahku, lalu mengambil piring berisi nasi goreng yang sudah disiapkan. Ia makan dengan tenang dan tertib, tak tampak sedikit pun rasa terburu‑buru meski waktu terus berjalan.
Di sela‑sela ia mengunyah, Aldo menoleh ke arahku. “Tari… apakah segala keperluanmu sudah lengkap dan siap dibawa?”
Aku menghela napas panjang sambil menatap piringku. “Sebenarnya belum siap sepenuh hati… tapi rasanya aku tak punya pilihan lain selain bersiap berangkat.”
Aldo tersenyum tipis, senyum yang sama beratnya dengan perasaanku. “Begitu pula denganku. Kita sama‑sama belum siap, tapi harus melangkah.”
***
Pukul enam pagi, segala persiapan akhirnya rampung.
Koper‑koper besar milikku sudah tersusun rapi di dalam bagasi mobil Aldo. Saatnya berpisah dengan keluarga. Mama memelukku begitu lama dan erat, seolah tak ingin melepaskan tubuhku sedikit pun.
“Tari… jagalah dirimu dengan sangat baik di sana ya, Nak,” bisiknya dengan suara yang basah oleh air mata yang tak sanggup lagi ditahan.
“Aku berjanji akan menjaga diri, Ma,” jawabku sambil menahan tangis.
“Dan jangan lupa telepon Mama setiap hari, apa pun yang terjadi,” pintanya lembut.
“Setiap hari, Ma. Aku janji takkan lupa.”
Selanjutnya Papa menjabat tanganku—genggamannya begitu kuat dan hangat, penuh ketegasan namun sarat kasih sayang, seolah ia ingin menyalurkan seluruh kekuatannya kepadaku.
“Papa sangat menyayangimu, Tari. Di mana pun kamu berada, ingatlah bahwa Papa selalu bangga padamu,” katanya tegas namun bergetar.
“Aku pun sangat menyayangi Papa,” jawabku sambil mencium punggung tangannya.
Dinda kembali memelukku dengan wajah yang masih basah air mata. “Kak… jangan lupa belikan aku oleh‑oleh yang lucu ya dari sana.”
“Aku takkan pernah lupa, Din. Tenanglah,” jawabku sambil mengelus pipinya.
Rangga berdiri diam di sampingku. Aku berlutut agar wajahku sejajar dengannya.
“Rangga… selama Kakak pergi, tolong jaga Mama, Papa, dan Dinda dengan baik ya,” pesanku sungguh‑sungguh.
Rangga mengangguk mantap. “Aku akan menjaga mereka, Kak. Aku janji.”
“Kamu benar‑benar berjanji?” tanyaku memastikan.
“Berjanji,” jawabnya pendek namun tegas.
Aku mencium keningnya dengan penuh kasih, lalu perlahan berdiri.
Aldo membukakan pintu mobil untukku. Aku masuk ke kursi penumpang depan, memasang sabuk pengaman, dan menatap keluargaku untuk waktu yang terakhir sebelum berangkat. Di luar sana, Mama terlihat menangis tersedu‑sedih di bahu Papa. Dinda menggenggam tangan Rangga erat‑erat. Sedangkan Papa berusaha tersenyum tegar meski matanya jelas berkaca‑kaca menahan rindu.
Aldo menyalakan mesin kendaraan, lalu mobil mulai bergerak perlahan meninggalkan halaman rumah. Aku terus menoleh ke belakang, menatap mereka yang kian lama kian tampak kecil dan menjauh, hingga akhirnya bayangan rumah dan orang‑orang tersayang itu hilang tertutup tikungan jalan.
Air mataku jatuh membasahi pipi tanpa sanggup kutahan lagi.
“Aku pasti akan kembali… aku janji,” bisikku pelan di dalam hati.
***
Pukul enam lewat empat puluh lima menit, kami tiba di kawasan bandara. Aldo memarkirkan mobilnya di tempat parkiran yang masih cukup sepi.
Kami berjalan beriringan menuju pintu keberangkatan. Aldo mendorong koper milikku, sementara aku mendorong koper kecilku sendiri. Suara hentakan sepatu kami terdengar berirama, bergema panjang di lorong‑lorong luas bandara yang pagi itu masih sepi pengunjung.
“Apakah Maya belum datang juga?” tanyaku sambil melirik jam tangan.
“Ia masih dalam perjalanan katanya. Tadi bilang terjebak kemacetan di jalan,” jawab Aldo tenang.
“Dasar Maya… dia selalu saja terlambat karena macet,” gumamku sambil tersenyum kecil mengingat kebiasaan sahabatku itu.
Aldo ikut tersenyum. “Memang begitulah dia. Selalu saja punya alasan yang pas untuk keterlambatannya.”
***
Pukul tujuh lewat lima belas menit, akhirnya Maya muncul dari kejauhan.
Ia berlari kecil menghampiri kami dari arah parkiran. Rambut panjangnya tampak berantakan tertiup angin, wajahnya memerah—entah karena kelelahan berlari terburu‑buru, atau karena ia juga sudah menangis sebelumnya.
“TARIII!” serunya lantang begitu melihatku, lalu langsung memelukku sekuat tenaga.
“Ya ampun… Maya, kamu hampir saja mencekikku,” keluhku sambil tertawa di sela‑sela pelukannya yang erat.
“Aku tidak peduli soal itu. Kamu mau pergi jauh, kan? Aku harus memelukmu seerat ini selagi aku masih bisa,” jawabnya tanpa melepaskan rangkulannya.
Aku tertawa sambil menangis bahagia. “Dasar kamu memang gila, Maya.”
“Aku tahu aku gila. Tapi kamu tetap sayang padaku, kan?” tanyanya sambil melepaskan pelukan, menatapku dengan mata yang merah dan berkaca‑kaca.
“Tentu saja aku tetap sayang padamu. Selamanya,” jawabku mantap.
“Jadi… kamu janji akan meneleponku setiap hari, ya?” tanyanya sekali lagi untuk memastikan.
“Setiap hari, Ya. Aku janji takkan lupa,” ucapku tegas.
“Kalau sampai kamu ingkar dan tidak menelepon, ingat baik‑baik: aku akan langsung terbang ke Melbourne dan memukulmu sampai kamu ingat janjimu,” ancamnya setengah bercanda namun penuh kesungguhan.
Aku tersenyum lebar. “Aku tahu betul kamu sanggup melakukan hal itu. Aku akan selalu ingat janjiku.”
“Aku bicara serius, Tari,” tegasnya sekali lagi.
“Aku pun serius. Aku pasti akan menghubungimu setiap hari.”
Maya kembali memelukku erat untuk kali yang kedua. “Tari… aku sangat menyayangimu.”
“Dan aku pun sangat menyayangimu, Maya. Sampai kapan pun takkan berubah.”
***
Pukul tujuh lewat tiga puluh menit, suara pengumuman bergema jelas dari pengeras suara di seluruh ruangan keberangkatan.
“Penerbangan nomor Qantas QF42 menuju Melbourne, Australia, kini telah siap untuk proses naik ke pesawat. Silakan penumpang segera menuju pintu keberangkatan nomor tujuh.”
Aku menatap Aldo yang berdiri tepat di sebelahku. Ia pun menatapku lekat‑lekat, seolah ingin mengabadikan rupa ini selamanya di dalam hatinya.
“Inilah saatnya berangkat,” kataku pelan, hampir berbisik.
“Iya… inilah saatnya,” jawabnya lembut.
Aldo segera meraih tanganku, menggenggamnya erat seolah tak ingin melepaskan.
“Ada satu hal yang harus kamu tahu, Tari… aku takkan mengucapkan kata ‘selamat tinggal’ padamu hari ini.”
Aku menatapnya bingung namun penuh harap. “Kenapa begitu, Aldo?”
“Karena kata selamat tinggal itu terasa terlalu berat dan menyedihkan. Aku lebih suka mengucapkan… sampai jumpa lagi.”
Air mataku jatuh tak tertahankan mendengar kata‑katanya itu. “Sampai jumpa lagi, Aldo.”
Aldo menarikku ke dalam pelukannya yang hangat dan kokoh—pelukan yang begitu erat, seolah ia ingin menyimpan seluruh diriku di dalam ingatannya, seolah ia ingin merasakan setiap detik kebersamaan ini agar takkan pernah pudar.
“Aku akan selalu menunggumu pulang, Tari. Menunggumu di sini, di Jakarta. Di kedai Kopi & Kenangan, di kafe Senjakala tempat kita pertama kali mengobrol serius, bahkan di apartemenku yang sederhana itu.”
“Kamu berjanji akan menunggu?” tanyaku memastikan.
“Aku berjanji dengan segenap hatiku,” jawabnya tegas.
Aldo perlahan melepaskan pelukannya, lalu mencium keningku dengan lembut dan penuh makna—sebuah janji bisu yang tak perlu diucapkan lagi dengan kata‑kata.
“Pergilah, Tari… kejarlah segala mimpimu setinggi langit. Ingatlah, aku akan selalu ada di sini menanti kepulanganmu.”
Aku pun mulai berjalan menuju pintu keberangkatan. Setiap langkah terasa begitu berat, seolah ada sebagian hatiku yang tertinggal di tanah kelahiran ini, bersama orang‑orang yang kucintai. Di belakangku, Aldo dan Maya berdiri berdampingan, melambaikan tangan sambil tetap tersenyum meski air mata terus mengalir membasahi pipi mereka.
Maya berteriak lantang agar terdengar hingga ke telingaku, “TARIII! JANGAN PERNAH LUPA AKU!”
Aku membalas lambaian tangan sekuat hati, lalu membalikkan badan dan terus melangkah masuk tanpa menoleh ke belakang lagi.
Bukan karena aku tega meninggalkan mereka.
Melainkan karena aku tahu… jika aku menoleh sekali saja, aku takkan punya kekuatan untuk melanjutkan langkah ini.
***
Di dalam kabin pesawat, sekitar tiga puluh menit sebelum pesawat lepas landas.
Aku duduk di kursi dekat jendela, menatap keluar kaca melihat pesawat‑pesawat lain yang bersiap mengudara. Di tangan, di leher, dan di hati… semuanya terasa penuh oleh kenangan.
Tiba‑tiba ponselku bergetar pelan. Sebuah pesan masuk muncul di layar: pengirimnya Aldo.
“Tari, aku sudah kembali masuk ke mobil. Aku takkan bilang ‘hati‑hati dalam perjalanan’, karena aku sungguh yakin kamu mampu menjaga dirimu sendiri dengan baik. Aku hanya ingin bilang satu hal: jadilah bintang yang bersinar terang di sana. Biar aku bisa selalu melihat cahayamu dari sini, dari Jakarta.”
Aku tersenyum haru, lalu mulai mengetik balasan dengan jari yang sedikit gemetar karena rasa emosi yang meluap.
“Aldo… terima kasih untuk segalanya. Terima kasih untuk cintamu yang tulus, dukunganmu yang tak pernah goyah, kesabaranmu yang tak bertepi, dan terima kasih karena kamu telah menjadi rumah bagiku saat aku jauh dari rumahku sendiri. Aku berjanji pasti akan pulang kembali ke sisimu.”
Balasan darinya datang tak lama kemudian: “Aku akan selalu menunggu, sampai kapan pun.”
Aku meletakkan kembali ponselku, lalu memejamkan mata sejenak, membayangkan masa depan yang sedang menantiku di negeri seberang.
Dua tahun ke depan di Melbourne.
Jauh dari Aldo. Jauh dari keluarga. Jauh dari segala hal yang sudah kukenal dan kucintai selama ini.
Namun saat tanganku menyentuh kalung di leher—kalung dengan liontin berbentuk buku kecil pemberian Aldo—rasa sepi itu hilang seketika. Benda kecil ini terus mengingatkanku bahwa aku takkan pernah benar‑benar sendirian.
Aku tersenyum mantap.
Sampai jumpa, Aldo.
Sampai jumpa, Jakarta tercinta.
Selamat datang, Melbourne.
Selamat datang, masa depan dan segala mimpiku.