NovelToon NovelToon
Cegil Rusuh Dari Dunia Lain

Cegil Rusuh Dari Dunia Lain

Status: sedang berlangsung
Genre:Idola sekolah / Horor / Teen
Popularitas:37.4k
Nilai: 5
Nama Author: Mommy_Ar

​"Ayo mengaku, Mas Sholeh! Kamu bisa lihat aku, kan?! Jangan bohong, bohong itu dosa, nanti masuk neraka loh!"
​Bagi Arash, menjadi cowok indigo itu melelahkan. Makanya, dia pakai trik keramat: Pura-pura buta huruf soal hal gaib. Mau ada pocong kayang pun, Arash bakal tetap lempeng.
​Strategi itu sukses bertahun-tahun, sampai dia ketempelan sesosok roh cewek misterius yang punya jiwa "cegil" (cewek gila) akut. Bukannya nakutin, roh genit ini malah rusuh mengintil kemana-mana, bahkan nekat narik kerah jaket Arash demi minta perhatian.
​Arash mati-matian bertahan demi menjaga iman dan aktingnya. Tapi saat teror mistis yang mengancam nyawanya datang, si hantu cegil justru pasang badan paling depan dengan cara yang paling bar-bar.
​Gimana jadinya kalau cowok sholeh berkharisma harus menghadapi musuh gaib bersama hantu cegil yang ternyata... belum sepenuhnya mati?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mommy_Ar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21

*Brakkkk!*

Tepat pada momen genting tersebut, pintu kayu yang menghubungkan kamar utama dengan balkon jemuran dibuka secara paksa dari luar dengan satu sentakan kasar hingga menghantam dinding pembatas.

"Dewi! Ngapain kamu di sini?!"

Sebuah suara bariton yang berat dan sarat akan otoritas menggelegar memutus kepanikan di balkon.

Itu adalah suara Pak Bakti, sang Kepala Sekolah yang juga merupakan paman dari Fira.

Sepasang mata tegas di balik garis wajahnya yang kaku langsung melotot tajam, menatap lurus ke arah adik iparnya, Dewi, sebelum akhirnya pandangannya beralih ke bawah menatap sosok seorang siswa laki-laki mengenakan seragam putih abu-abu yang kini tergeletak tak berdaya di lantai dengan sisa darah di sudut bibirnya.

Dan tepat di depan tubuh siswa itu, sebuah api kecil masih tampak berkobar ghaib, menyelesaikan tugasnya membakar habis kotak silver yang selama ini menjadi rahasia terbesar kejayaan Pak Bakti.

Tante Dewi mendongak, menatap tajam ke arah Pak Bakti dengan pandangan mata yang dipenuhi oleh kilatan amarah yang tidak lagi bisa dibendung.

Dia menghapus air mata di pipinya dengan kasar, lalu berdiri tegak menghadapi pria paruh baya yang paling disegani di lingkungan sekolah tersebut.

"Mas Bakti... aku sudah tahu semuanya. Aku udah tahu seluruh kebusukan yang kamu sembunyikan di dalam kamar ini!" seru Tante Dewi dengan suara gemetar menahan amarah yang meluap-luap.

"Aku gak nyangka... aku bener-bener gak nyangka kalau kamu bisa sekejam dan sebiadab ini sama keluarga sendiri!"

Perlu diketahui, dalam silsilah keluarga inti mereka, Pak Bakti adalah adik kandung dari Tante Nina (ibu Fira).

Sementara Tante Dewi adalah adik kandung dari almarhum Kak Bagus (ayah Fira).

Selama satu tahun terakhir, setelah kematian mendadak Kak Bagus dalam kecelakaan tragis, posisi kepala keluarga dan seluruh kendali aset memang dipegang penuh oleh Pak Bakti, yang ternyata menggunakan kedok perlindungan keluarga untuk mempraktikkan ritual pesugihan hitam.

Tak lama setelah ketegangan itu terkunci, langkah kaki terburu-buru kembali terdengar dari dalam kamar.

Tante Nina muncul di ambang pintu balkon dengan napas yang memburu. Alih-alih terkejut melihat Arash yang pingsan atau kotak yang terbakar, wanita paruh baya itu justru menatap Tante Dewi dengan pandangan mata yang sarat akan kemarahan dan kebencian yang mendalam.

"Jangan ikut campur kamu, Wi! Keluar dari rumah ini sekarang juga!" seru Tante Nina dengan suara melengking, menunjuk wajah Tante Dewi dengan jari telunjuknya yang gemetaran.

"Mbak Nina... Mbak keterlaluan tahu gak?! Sadar, Mbak! Istighfar!" Tangis Tante Dewi akhirnya pecah seketika, dadanya sesak melihat kepasrahan buta dari kakak iparnya sendiri.

"Apa salahnya Mas Bagus? Apa salahnya Fira sampai Mbak tega membiarkan Mas Bakti menumbalkan mereka berdua?! Fira itu anak kandung Mbak sendiri! Darah daging Mbak!"

"Dia memang anak kandungku, tapi dia sama sekali tidak berguna!" ucap Nina tajam, suaranya melengking tinggi menembus keheningan balkon lantai dua.

Tidak ada lagi binar kesedihan seorang ibu yang baru saja kehilangan putri kandungnya. Yang tersisa di bola mata wanita paruh baya itu hanyalah kegelapan dan ambisi buta.

"Sejak kecil, dia hanya tahu cara menghabiskan uang dan membaca buku tak berguna! Dia hanya akan menghalangi jalanku.’’

Tante Dewi mundur satu langkah, menutup mulutnya dengan telapak tangan yang gemetaran. Dadanya naik-turun menahan rasa syok yang luar biasa hebat.

Dia memandang kakak iparnya itu seolah-olah wanita di depannya adalah monster asing yang mengerikan.

"Mbak! Sadar, Mbak! Istighfar!" seru Dewi dengan sisa-sisa tenaganya, air matanya kian menderas membasahi pipi.

"Fira itu anak yang penurut, Mbak! Dia selalu juara kelas, dia selalu sayang sama Mbak! Bagaimana bisa seorang ibu kandung tega mengorbankan darah dagingnya sendiri demi harta duniawi? Mas Bagus di alam kubur pasti menangis melihat kelakuan Mbak sekarang!"

"Diam, Wi! Jangan pernah kamu sebut-sebut nama Bagus di depan mukaku!" bentak Nina, wajahnya memerah padam karena amarah yang meledak-ledak.

Jari telunjuknya yang dipenuhi perhiasan emas menunjuk tepat ke arah hidung Dewi.

"Jangan sok suci dan ikut campur urusan rumah tanggaku! Mulai sekarang, detik ini juga, kamu sudah bukan bagian dari keluarga ini lagi! Pergi kamu dari sini,’’

drama pertengkaran keluarga yang penuh kabut hitam itu tidak berlangsung lebih lama lagi.

Dari arah tangga dalam rumah, terdengar suara langkah kaki yang sangat tegap dan terburu-buru, memecah ketegangan di area balkon.

Belum sempat Pak Bakti atau Tante Nina bereaksi untuk menutup pintu kamar, serombongan pria berseragam cokelat lengkap dengan atribut lencana penyidik mendadak merangsek masuk ke dalam ruangan.

Tiba-tiba polisi datang, membuat mereka semua yang ada di balkon terkejut setengah mati.

Jumlah personel yang naik ke lantai dua tidak sedikit, bahkan beberapa di antaranya langsung mengunci pergerakan di sekitar pintu keluar balkon.

Seorang perwira polisi berpangkat Ajun Komisaris yang memimpin barisan depan melangkah maju dengan memegang selembar kertas dokumen resmi.

Tatapan matanya sangat dingin dan profesional, langsung tertuju pada pria paruh baya yang masih termangu di pojok ruangan.

"Saudara Bhakti Harja, anda ditahan atas dugaan tindak pidana penggelapan dana bantuan operasional sekolah dan yayasan, serta pemalsuan dokumen aset daerah," ucap polisi itu dengan suara bariton yang tegas dan lantang.

Mata Bakti membola sempurna seketika. Seluruh persendian tubuhnya mendadak lemas, seolah baru saja dihantam gada ghaib yang tak kasat mata.

Surat perintah penangkapan yang disodorkan tepat di depan wajahnya membuat dunianya runtuh dalam satu detik.

Begitu pula dengan Nina; wanita itu langsung terkesiap, langkah kakinya mundur teratur dengan wajah yang seketika berubah pucat pasi bak kertas koran.

"G—gak mungkin! Ini pasti ada salah paham! Siapa yang berani melaporkan saya?!"

Bakti berusaha memberontak, suaranya meninggi penuh penolakan. Dia mencoba menepis tangan dua anggota polisi yang mulai bergerak maju untuk mencengkeram kedua lengannya.

Dia menolak keras untuk dibawa oleh pihak berwajib, memikirkan reputasi besarnya sebagai Kepala Sekolah yang akan hancur berantakan di media massa.

Tapi pihak kepolisian tentu saja tidak tinggal diam menerima perlawanan tersebut.

Dengan keahlian taktis yang terukur, kedua polisi bertubuh tegap itu langsung memaksa mengunci pergelangan tangan Bakti ke belakang, bersiap memasangkan borgol besi yang dingin.

"Tolong kerjasamanya, Pak. Jangan sampai ada tindakan kekerasan di rumah duka ini. Semua bukti transfer fiktif dan laporan dari kejaksaan sudah lengkap di tangan kami," kata perwira polisi itu memperingatkan dengan nada yang tidak menerima bantahan sedikit pun.

Mendengar kata 'bukti lengkap' dan merasakan cengkeraman besi borgol yang mengunci pergelangan tangannya, runtuh sudah seluruh sisa keangkuhan Bhakti Harja.

Akhirnya, pria paruh baya yang selama ini menjadi otak di balik penderitaan ghaib Fira dan ayahnya itu hanya bisa pasrah, menundukkan kepalanya dalam-dalam saat tubuhnya dituntun paksa keluar dari kamar lantai dua melewati Tante Dewi.

Melihat adik kandung sekaligus tiang penyangga kekayaannya diseret pergi oleh aparat hukum,

kewarasan Tante Nina tampaknya benar-benar hilang. Dia berteriak histeris, melupakan jasad anaknya yang sedang dimandikan di lantai bawah.

"Bakti! Jangan bawa adik saya! Kalian polisi gadungan ya?! Lepaskan adik saya!" teriak Nina histeris.

Dengan gerakan kalap, Nina berusaha mengejar rombongan polisi yang sedang menuntun Bakti menuruni anak tangga rumah yang berlantai keramik licin itu.

Dia berlari tanpa memedulikan keselamatan dirinya sendiri, tangannya menggapai-gapai ke udara mencoba meraih baju safari milik adiknya.

Namun, karma instan tampaknya bekerja jauh lebih cepat dari yang diduga. Tepat di anak tangga teratas yang permukaannya agak basah karena sisa air pembersihan, kaki Nina yang mengenakan sandal rumah tipis mendadak kehilangan pijakan.

Dia terpeleset di tangga dengan posisi yang sangat fatal. Tubuhnya tergelincir, berguling beberapa kali ke bawah sebelum akhirnya kepalanya membentur pegangan tangga kayu jati dengan cukup keras.

*Brakkk!*

Suara benturan itu membuat beberapa pelayat di lantai bawah berteriak histeris.

Tubuh Nina langsung terhenti di tengah undakan tangga, tergeletak kaku dengan mata terpejam rapat.

Dia langsung pingsan di tempat akibat hantaman tersebut, menghentikan seluruh jeritan keserakahannya dalam sekejap mata.

1
Rosy
gemblengannya di mulai besok saja kyai.. sekarang Arash lagi di tungguin sama hantu cegil yg lagi mau curhat 🤭🤭
Rosy
kenapa pake di perjelas segala sih mom...ngeri banget bayanginnya 😭😭😭😭
Rosy
astaghfirullah ternyata Lala lagi ngobrol sama pocong 😭😭🤣🤣
𝆯⃟ ଓε_Asti_ᵉᶜ✿🌱🐛•§͜¢•🦢🍒
yah Arash mau belajar lagi, Lala pasti merasa dibohongi 🤭
𝆯⃟ ଓε_Asti_ᵉᶜ✿🌱🐛•§͜¢•🦢🍒
eh pocongnya kenapa gak bisa bebas ya 🤔
𝆯⃟ ଓε_Asti_ᵉᶜ✿🌱🐛•§͜¢•🦢🍒
Wah Lala nangkring sama mas pocong 🤭
𝆯⃟ ଓε_Asti_ᵉᶜ✿🌱🐛•§͜¢•🦢🍒
La diajak jadian tuh 🤣
𝆯⃟ ଓε_Asti_ᵉᶜ✿🌱🐛•§͜¢•🦢🍒
kau sedang cemburu kah La 🤔🤣
Halimah
Siapa lg nih pocong...Kyk y perlu disekametin jg.
🌷🌷 Mmh_Ara 🌷🌷
walaupun sama² hantu,,,
si Cegil ini ternyata pilih² pasangan ya,,
😅😅
Vike Kusumaningrum 💜
Siap² Rash, Lala ngambek nanti. pasti katanya kamu menghindar dan ingkar janji 🤭
Vike Kusumaningrum 💜
🤣🤣🤣 siapa nih dulunya 🤣🤔🤭🤭
Vike Kusumaningrum 💜
pocong 🤣🤣🤣🤣🤣😭
Vike Kusumaningrum 💜
Cemburu la ? 🤣🤣🤣🤣
🌷🌷 Mmh_Ara 🌷🌷
🤣🤣🤣🤣🤣🤣
🌷🌷 Mmh_Ara 🌷🌷
heh Lala,,knp kamu ngagetin Arash🫵🫵🫵

bisa kan,,,sapa,,

Assalamualaikum dlu😅😅😅
🌷🌷 Mmh_Ara 🌷🌷
ayooohh Arash,,,banguuunnnn
suci nurfarida
cerita yang menarik dan unik dengan latar belakang spritual, menegangkan, lucu
HR_junior
eee alah JD PD di jadiin tumbal ya..Fira juga ya
HR_junior
knp LG Lo..apa si Fira juga korban ibunya..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!