Emma Taylor terpaksa harus melunasi hutang pamannya kepada seorang pria asing kaya raya yang tinggal di rumah besar Anggrek Residen.
Jatuh tempo pembayaran sudah sangat dekat bagi paman Broeri untuk membayar hutang tersebut namun dia tidak mempunyai uang sepeser pun saat dia ditagih oleh pria asing kaya raya itu yang bernama Noah Jones.
Terpaksa Emma yang harus menanggung hutang tersebut kepada Noah Jones pemilik rumah Anggrek Residen.
Karena Emma Taylor juga tidak mempunyai uang buat melunasi hutang paman Broeri maka dia dipaksa membayar dengan rahimnya.
Bagaimana nasib Emma Taylor selanjutnya, sanggupkah dia melunasi hutang milik paman Broeri Goldman atau dia memilih melarikan diri.
Mari kita simak kelanjutan kisah ini dalam novel berjudul Rahim Bayaran Milik Emma.
Salam buat semua pemirsa 🎂
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reny Rizky Aryati, SE., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21 Siapa Nenek Tua Itu
Ketiga perempuan muda terbelalak lebar ketika mereka memandangi kalung mutiara milik wanita tua renta yang jatuh dari tasnya, baru kali ini mereka melihat barang seindah itu.
Hermione menoleh kepada dua sahabatnya yang bersamanya, tertegun sesaat bahkan tak bersuara, bibirnya terbuka sedikit seperti melongo.
"Wow, dia memiliki kalung seindah itu." bisik Hermione tak percaya.
"Kalung mutiara seri Rose des Vents Necklace... bahkan orang kaya akan berpikir dua kali lipat untuk membelinya..." kata Anita yang sibuk melihat ke arah ponsel seluler nya untuk mencari informasi tentang kalung mutiara seri Rose des Vents Necklace keluaran Dior.
"Apa dia mencuri lagi selain kalung emas dan gelang Dior itu?" tanya Jade penasaran.
"Hanya segelintir orang yang punya kalung mutiara seri Rose des Vents bahkan gelang Dior yang dia kenakan tidak main-main harganya." sahut Anita yang masih sibuk mengawasi ponsel seluler nya.
"Nenek tua ini ternyata kaya raya juga, aku tidak percaya dia bisa membawa semua perhiasan mewah itu." kata Jade.
"Pasti dia mencuri semua barang-barang itu dari Butik Dior ini. Mana mungkin nenek-nenek tua bau tanah punya perhiasan semewah itu kalau tidak mencurinya." kata Hermione asal tuduh.
"Apa yang kita lakukan padanya, aku sudah tidak tahan mendengar rengekan nya, rasanya mau muntah saja." sahut Jade sambil melotot ke arah wanita tua renta yang duduk di lantai memunguti barang-barang nya.
"Aku akan menghentikannya. Kita rebut paksa semua perhiasan darinya." kata Hermione tegas.
"Tapi... kalau benar perhiasan itu miliknya, kita bisa-bisa terkena masalah besar bahkan dituntut oleh hukum jika yang dia katakan itu benar..." sambung Jade.
"Jangan percaya kata-kata nenek tua itu, Jade. Kau ini bisa saja ditipu mentah-mentah olehnya. Apa kau mulai kasihan padanya?" tegur Hermione.
"Bukan aku kasihan padanya, tapi kita perlu juga berhati-hati bertindak. Aku tidak mau berurusan dengan hukum yang ada, ayahku bisa-bisa membunuhku kalau aku mempermalukan nya." sahut Jade enggan.
"Ah, kau ini. Bisanya mengeluh saja. Jangan pedulikan apapun, bukannya kita ini kebal hukum. Sebagai bagian keluarga terpandang maka kita kebal hukum dari kasus apapun." kata Hermione.
"Tapi... Aku takut, Hermione..." kata Jade ragu-ragu.
"Ah, kau ini. Masih saja berkomentar, bukannya bertindak cepat tapi malah berkeluh-kesah." kata Hermione mulai tak sabaran.
"Iya, kau ini, Jade. Bisanya omong besar. Buktikan saja ucapanmu itu, kita rebut paksa perhiasan nenek tua itu." tegur Anita masih sibuk dengan ponselnya.
"Kau juga sama saja, Anita. Sibuk seharian dengan ponsel pintar mu. Bukannya membantuku malah sibuk bermain ponsel." tegur balik Hermione pada Anita.
"Tapi... aku kan sibuk mencari informasi terkait perhiasan-perhiasan itu... Bukan bermain ponsel..." sahut Anita tak terima.
"Sudahlah... Biar aku saja yang bertindak menangani nenek tua itu. Kalian lihat, ya. Aku akan merebut semua perhiasan-perhiasan itu darinya." kata Hermione.
Anita dan Jade tidak menjawab ucapan Hermione, mereka tertunduk tanpa berucap sepatah kata pun.
Hermione berjalan maju, ia akan melakukan rencananya yaitu merebut paksa perhiasan milik wanita tua renta lusuh itu. Dilihatnya wanita tua sedang memasukkan semua barang-barang nya yang tercecer ke lantai Butik Dior.
"Tap!" Hermione menghentakkan kaki kanannya ke depan tangan wanita tua renta hingga wanita itu terkejut kaget.
Keduanya saling berpandangan, Hermione merengut sembari menatap sinis sedangkan wanita tua renta hanya membalasnya dengan tatapan sayu.
"Serahkan semua perhiasan yang kau ambil dari Butik Dior ini. Kau tidak berhak memiliki nya karena perhiasan-perhiasan itu bukan hakmu!" kata Hermione asal menuduh.
"Tapi semua perhiasan ini adalah barang-barang punyaku. Aku tidak pernah mencurinya dari butik ini, nak." sahut wanita tua renta.
"Kau ini masih saja berbohong. Serahkan, ya, serahkan. Ambil, ya, ambil. Kenapa masih berpikir?" tegur Hermione dengan tangan dilipat ke depan dada, tapi pandangannya tertuju tajam kepada wanita tua renta yang mengiba itu.
"Sudah kubilang padamu kalau aku tidak membohongimu, aku juga tidak pernah mencuri. Kedatangan ku kemari karena aku ingin memperbaiki kalung mutiara ku yang tergores." kata wanita tua membela diri.
Hermione melirik tajam ke arah kalung mutiara seri Rose des Vents Necklace di dekat tas. Ia terlihat sangat marah karena wanita tua itu masih keras kepala.
Sedetik kemudian, Hermione mengangkat salah satu kakinya ke arah kalung mutiara seri Rose des Vents Necklace ketika tangan wanita tua renta hendak mengambilnya.
"Duak!" Hermione menginjak tangan wanita tua hingga wanita itu menjerit kesakitan.
"Aaargh.... Tidak... Tanganku...!!!" teriakannya memenuhi ruangan butik Dior ini hingga Emma Taylor mendengar suara wanita tua itu dari arah lainnya.
Wanita tua menangis saat tangannya tertusuk hak sepatu Hermione.
"Aaargh... Sakit... Tidak. Tanganku. Kau menginjak nya...!!!"
Wanita tua menjerit kesakitan sembari memegangi tangannya yang terinjak oleh sepatu hak tinggi Hermione. Disisi lain, Emma yang mendengar pertengkaran itu mulai ambil tindakan. Ia terketuk hatinya untuk menolong wanita tua itu.
Tergesa-gesa Emma segera berlari cepat ke arah wanita tua, karena sedari tadi dia cuma mendengarkan pembicaraan mereka.
"Sreeet... !"
"Hentikan tindakanmu itu, Hermione." tegur Emma keras lalu mendorong Hermione hingga kakinya menjauh dari tangan wanita tua.
Tampak tubuh Hermione terdorong mundur, langkahnya tertatih-tatih. Tap... Tap... Tap... Terdengar suara langkah Hermione saat menjauh ke belakang.
Anita dan Jade segera membantunya, mereka sigap memegangi Hermione agar dia tidak terjatuh. Merasa diperlakukan kurang enak oleh Emma Taylor membuat Hermione marah.
Emma menatap ketiga perempuan itu dengan tatapan kesal, dan berdiri tepat di depan wanita tua, mencoba jadi tamengnya, dan melindunginya dari serangan susulan Hermione.
"Kau benar-benar keterlaluan, Hermione. Dia hanya wanita tua, kenapa kau bisa setega itu padanya." tegur Emma yang berdiri tegak di hadapan Hermione dan dua sahabatnya.
Sorot mata Emma menyorot tajam kepada ketiga perempuan itu.
"Apa salah nenek itu padamu, dia cuma datang kemari untuk memperbaiki kalungnya, tapi kalian malah menuduhnya mencuri." bentak Emma.
Hermione tertawa kecut, ia membuang muka lalu balas membentak sembari menepis pegangan tangan Anita dan Jade padanya.
"Memangnya dia apamu, Hah! Nenekmu apa???" ucapnya marah.
"Dia memang bukan nenekku, tapi aku tidak bisa membenarkan tindakan kasarmu padanya, Itu tidak terhormat, Hermione." tegur Emma berkata lantang.
"Wow... Wow... Wow...! Keren sekali, rupanya ada pahlawan kesiangan disini. Dia bertindak seperti super women pembela kebenaran, teman-teman." sahut Hermione.
Hermione bertepuk tangan sembari menatap ke arah Emma Taylor.
"Keren... Keren sekali... Aku jadi kagum padamu, putri Wilhelmina... kupikir Noah akan keliru memilih perempuan lemah dari luar negeri, tapi aku salah menilainya..." kata Hermione.
Hermione menatap sinis kepada Emma, dan senyumnya dingin.
"Calon pasangan Noah Jones ternyata kuat juga, tapi sayangnya sikapmu itu sedikit kampungan." sindir Hermione ketus.
Lirikan mata Hermione tertuju ke ujung kaki sampai ke atas kepala Emma Taylor, sinis dan tajam.
"Kurasa kau juga sama seperti nenek itu, pencuri ulung. Mengambil barang mewah di rumah Noah Jones." sindir nya tajam.
"Apa?!" sahut Emma ganti kebingungan. Ia menatap terheran-heran ke arah Hermione.
"Yah, kau sama saja dengan nenek bau itu, sama-sama pencuri." kata Hermione bersikukuh keras.
"Bagaimana kau bisa ganti menuduh ku, apa alasanmu itu hingga kau menyebutku seorang pencuri ulung, Hermione." kata Emma sembari memiringkan kepalanya ke kanan.
"Coba kau lihat dirimu sendiri, atau sebaiknya kau mengaca sekarang. Barang-barang yang kau pakai itu merupakan edisi terbatas Dior yang tidak semua orang kalangan elite bisa memilikinya." kata Hermione.
Giliran Emma Taylor tersenyum lalu tertawa pendek.
"Kupikir kalau kau ini cemburu padaku, Hermione karena Noah Jones memanjakanku dengan menghadiahkan semua barang mewah ini padaku." sahutnya paham.
"Apa? Cemburu? Berani betul kau tuduh aku seperti itu!" bentak Hermione mulai murka. Ia mengulurkan tangannya lurus ke depan, menunjuk ke arah Emma Taylor sambil menatap tajam. "Tarik ucapan mu itu atau aku akan melaporkan mu atas tuduhan pencemaran nama baik."
"Aku tidak takut padamu, Hermione." sahut Emma, ganti tersenyum mengejek.