Judul:
Dijual 500 Juta: Istri Kontrak CEO Dingin
Deskripsi/Sinopsis:
Liana dijual bapak tirinya seharga 500 juta untuk jadi istri kontrak Arka Wijaya, CEO dingin yang lumpuh dan membenci semua orang.
Di rumah mewah itu, dia dipermalukan setiap hari. Disiram comberan, diusir ke gudang, dianggap sampah oleh Keluarga Wijaya.
Tapi yang tidak mereka tahu, di dalam tas lusuh Liana ada surat wasiat Ibu yang bisa mengguncang seluruh Keluarga Wijaya.
Surat yang menyebut nama Arka sebagai kunci atas kematian ayahnya 5 tahun lalu.
Dari gadis desa yang dihina, Liana akan berubah menjadi wanita yang ditakuti.
Dia datang bukan untuk tunduk. Dia datang untuk membalas dendam.
Pertanyaannya:
Apakah balas dendam itu akan membuat Arka jatuh cinta padanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon TheDee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 22
Liana keluar dari Lapas Salemba jam 4 sore.
Di tangan Rara ada surat pengunduran dirinya yang tadi dia dorong ke meja Hendra.
Tapi Hendra ambil, simpen di saku, dan bilang: “15 menit habis. Waktu kita habis.”
Di taksi, notifikasi grup [Tim Darurat] nggak berhenti.
Bram: Gue dapet. Perusahaan cangkang itu PT. Menteng Kapital. Milik Hendra.
Arka: Gue simpen semua bukti. Siap kirim ke donor.
Maya: Yuli aman. Dia mau bikin video klarifikasi malam ini.
Liana belum balas. Otaknya masih nyangkut di satu hal:
Kenapa Hendra bisa ketemu dia hari ini? Bukannya dia di penjara?
Malam itu Arka video call. Mukanya pucat.
“Liana, gue baru cek sistem pengadilan. Hendra nggak di dalam. Dia keluar 3 minggu lalu.”
“Apa?” Liana hampir jatuhin HP.
“Bukankah dia ditahan kasus korupsi?”
“Iya. Tapi pengacaranya ajukan penangguhan penahanan. Alasannya… istrinya hamil 7 bulan, risiko keguguran kalau stres. Hakim kasih.” Arka nunjuk layar. “Statusnya: tahanan kota. Wajib lapor 2x seminggu. Makanya dia bisa ketemu lo kemarin.”
Rara yang duduk di sebelah Liana langsung mengerti.
“Jadi kemarin itu bukan kunjungan tahanan. Itu pertemuan bebas. Dia sengaja bikin lo ngerasa dia masih di dalam, biar lo panik.”
Liana diem.
Pantes senyum Hendra kemarin beda. Lebih tenang. Lebih yakin.
Jam 9 malam, email baru masuk.
Dari donor Jepang.
_“Setelah investigasi awal, kami menahan dana Phase 1 sementara.
Namun kami mendapat informasi baru: Tuan Hendra Wijaya saat ini tidak dalam tahanan.
Mohon penjelasan, apakah Tuan Hendra masih memiliki akses ke program Global Child Foundation?”_
Liana baca email itu 3 kali.
Hendra main dua lapis.
Di luar dia kasih kesan ‘masih dipenjara, nggak bisa apa-apa’.
Di dalam dia pakai status ‘tahanan kota’ buat gerakin orang, kirim uang, bikin email.
Maya chat di grup: “Yuli baru kirim video. Tapi kalau Hendra masih bebas, dia bisa ancam Yuli langsung.”
Bram: “Gue cek alamat istrinya. Dia tinggal di Menteng. Istri Hendra… Nadine. Hamil 7 bulan.”
Liana menutup mata.
Hendra nyentuh titik paling lemah dia: anak, keluarga, ibu hamil.
Dia berdiri.
“Besok pagi kita ke rumah Nadine.”
Rara: “Lo mau apa?”
Liana: “Kalau Hendra pakai istrinya yang hamil buat tameng, aku akan ngomong langsung sama Nadine. Sebagai sesama perempuan.”
Arka: “Itu berbahaya, Liana.”
Liana: “Lebih berbahaya kalau kita diem.
Pukul 9 pagi, rumah Nadine di Menteng sepi.
Pagar hitam, taman kecil, mobil Alphard parkir di depan.
Rara narik napas panjang.
“Kau yakin mau masuk, Lia?”
Liana ngangguk. Di tangannya cuma ada satu map coklat. Isinya video klarifikasi Yuli dan bukti transfer dari Bram.
“Kalau aku nggak jelasin langsung, Nadine bakal denger versi Hendra doang. Dan dia lagi hamil 7 bulan.”
Arka nunggu di mobil. Maya video call dari Chad, siap denger kalau ada apa-apa.
Penjaga buka gerbang setelah Liana sebut nama.
“Nona Nadine lagi di ruang keluarga, Nona. Tapi Pak Hendra nggak ada di rumah.”
Nadine duduk di sofa, pakai daster longgar. Perutnya besar, wajahnya pucat.
Dia kaget lihat Liana.
“Kak Liana?”
“Nadine. Maaf datang tanpa janji. Aku nggak mau ganggu kehamilanmu.”
Nadine menatap map di tangan Liana.
“Jadi bener… suamiku kirim uang ke Yuli?”
Liana duduk pelan di seberang.
“Bener. Tapi bukan buat bantu Yuli. Itu buat jebak aku.”
Dia putar video Yuli di HP.
Yuli nangis di layar: “Uang itu masuk otomatis. Aku kira dari kantor pusat. Aku pakai buat beli obat ibu hamil. Kalau ini salah, aku minta maaf…”
Nadine menutup mulutnya.
“Dia bilang… dia kirim uang itu biar Yuli bisa kerja tenang. Katanya dana donor telat.”
“Bukan,” kata Liana pelan.
“Dia kirim uang itu biar donor curiga. Biar program Afrika aku dibekukan. 2.000 ibu di Chad, Nigeria, Ethiopia kehilangan obat kalau itu terjadi.”
Nadine diem lama. Tangan dia megang perut.
“Kak… kalau aku percaya Kakak, apa yang harus aku lakukan?”
Di luar, suara mesin mobil masuk halaman.
Pintu kebuka. Hendra masuk, basah keringat, wajahnya berubah pas lihat Liana.
“Kau ngapain di sini?” suaranya rendah.
Liana berdiri.
“Aku ngomong sama istrimu, Hendra. Sebagai ibu. Sebagai manusia.”
Hendra jalan cepat ke arah Nadine.
“Nad, masuk kamar. Sekarang.”
Nadine nggak gerak.
“Hendra, kenapa kau bohong padaku? Kau bilang uang itu buat bantu.”
Hendra berhenti. Tatapannya dingin.
“Kau nggak ngerti apa-apa. Ini perang. Dan perang itu kotor.”
Liana maju selangkah.
“Perang sama aku, bukan sama istrimu yang hamil. Kalau kau mau aku hancur, ambil aku. Tapi jangan pakai Nadine dan anakmu buat tameng.”
Hendra ketawa kecil.
“Terlambat, Liana. Donor udah ragu. Dan 48 jam hampir habis.”
Dia ambil map dari tangan Liana, buka sebentar, terus robek.
“Terima kasih ya. Surat pengunduran dirimu jadi bukti kuat kalau kau merasa bersalah.”
Rara langsung tarik Liana keluar sebelum keadaan makin panas.
Di mobil, Liana diem. Tangannya gemetar.
Arka: “Map cadangan masih ada di gue. Yang dia robek cuma copy.”
Maya: “Yuli udah upload video ke YouTube. 50 ribu views dalam 1 jam.”
Bram: “Donor Jepang baru bales. Mereka mau meeting jam 3 sore.”
Liana menatap ke luar jendela.
Hendra menang di babak ini. Dia robek bukti, dia bikin Nadine bingung, dia bikin waktu makin mepet.
Tapi satu hal yang dia nggak bisa robek:
Yuli yang ngomong langsung ke dunia.
Liana buka HP. Ketik pesan ke grup:
“Jam 3 sore kita serang balik. Kali ini pakai suara Yuli.”
Bersambung
🙏🙏🙏