NovelToon NovelToon
Darah Di Bukit Manoreh

Darah Di Bukit Manoreh

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Istana/Kuno / Anak Genius
Popularitas:2.9k
Nilai: 5
Nama Author: Maya Melinda Damayanty

Mereka menyebutnya perempuan api dari Bukit Menoreh.
Putri seorang punggawa sakti yang tumbuh bersama pedang dan dendam.
Saat kematian ayahnya menyeretnya ke dalam pusaran perang dan kesalahpahaman, Srikandi percaya kerajaan telah mengkhianati darah ayahnya.
Namun semakin jauh ia melangkah… semakin ia sadar bahwa luka manusia tak pernah sesederhana hitam dan putih.
Terlebih ketika hatinya justru jatuh pada lelaki yang tak mungkin ia miliki.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maya Melinda Damayanty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

SEBUAH RASA

Sakta kembali ke rumahnya dengan pakaian basah karena air kencingnya sendiri. Ia tak berani melarikan diri, karena ada Ki Pondohan, salah satu abdi keraton yang sakti.

Ki Pondohan hanya duduk diam tak banyak bicara. Sesekali Sakta menelan ludah perlahan. Ia benar-benar tak bisa berkutik, terlebih untuk melarikan diri.

Prabu Laksa tadi memberinya sepuluh keping emas dan dua puluh keping perak untuk pembayaran kainnya.

"Ki Pondohan," panggilnya, ia menebalkan keberanian untuk bernegosiasi dengan pria berbaju batik dan berwajah datar itu.

Tapi, Ki Pondohan tetap diam, duduk tegak tanpa banyak bergerak. Sakta menarik nafas dan mengembuskannya perlahan.

"Padahal dua keping perak ini bisa buat minum tuak sampai pagi bersama Nyimas Sidan Laran," ujarnya sepelan mungkin tapi masih terdengar.

Siapa yang tak tergiur dengan uang, pikir Sakta. Dua keping perak bisa untuk minum tuak sampai mabuk dan ditemani wanita-wanita cantik milik Nyimas Sidan Laran.

Namun, Ki Pondohan tak bergeming sama sekali. Sakta tak lagi bicara, ia sangat takut. Ia lebih baik berhadapan dengan para ibu-ibu yang menawar harga kainnya di pasar.

Kereta itu akhirnya sampai di halaman rumah istrinya. Ia turun begitu juga Ki Pondohan.

"Sampurasun. Diajeng!" serunya ketika masuk rumah.

Tak ada sahutan, Ki Pondohan hanya berdiri menatapnya. Sakta salah tingkah.

"Ki, sepertinya istriku tidak ada. Kemungkinan ia ke pasar. Apa lebih baik, Ki Pondohan pulang dulu. Baru nanti kita pergi ...."

Srek! Keris di pinggang Ki Pondohan tiba-tiba bergerak naik. Sakta langsung berlari menuju kamar dan membersihkan dirinya. Tadinya, masih berpikir untuk berlama-lama ... Tetapi ...

"Sakta ... Aku hitung sampai tiga!" suara Ki Pondohan terdengar di telinga Sakta sampai berdenging.

Sakta menutup telinganya untuk menahan sakit akibat denging suara sakti Ki Pondohan.

Selesai berganti baju, ia menyelipkan uang di atas nakas. Ia pun keluar kamar, lalu berjalan lunglai menuju pintu, Ki Pondohan mengikutinya.

Sampai luar pintu, sekali lagi ia menoleh menatap isi rumah. Ki Pondohan tak sabaran lalu menarik kerah baju Sakta dan membawanya naik ke kereta andong.

Kendaraan itu pun berangkat bertepatan dengan Rukmi yang datang.

"Mas Sakta!" teriaknya.

Sakta menatap Ki Pondohan, pria itu mengangguk pelan. Sakta turun dan langsung memeluk istrinya. Rukmi cukup terkejut.

"Diajeng, Mas pergi agak lama. Di pelabuhan selatan. Ada perniagaan besar yang berlangsung cukup lama. Aku akan ke sana," ujar Sakta lirih.

Sungguh, ia ingin mengatakan kebenaran. Tetapi, entah kenapa lidahnya tak bisa berkompromi. Seperti diatur, perkataan tadi keluar begitu saja.

"Jadi Mas nggak pulang cepat?" tanya Rukmi sedih.

"Iya Diajeng. Mas akan pulang lima tahun. Tapi jangan khawatir. Aku akan kirimkan uang setiap bulan untuk kebutuhanmu dan Doko!" jawaban yang keluar dari mulut Sakta, membuat dirinya sendiri terkejut bukan main.

"Berapa lama Mas di pelabuhan selatan?" tanya Rukmi sedih.

"Cukup lama Diajeng. Lima tahun," jawab Sakta.

"Mas!" Rukmi memeluk suaminya. Ia tentu keberatan ditinggal begitu lama.

"Baiklah, aku harus segera berangkat agar tak keduluan pedagang lain," ujar Sakta pamit.

Keringat dingin keluar dari pelipisnya. Ia sangat yakin lidahnya telah diatur sedemikian rupa oleh seseorang.

"Iya Mas. Tapi jika sempat. Beri kabar ya," pinta Rukmi.

"Iya Diajeng," sahut Sakta lalu mengecup lembut kening istrinya.

Rukmi cukup terkejut terlebih Sakta. Hal yang tak pernah ia lakukan selama mereka menikah, bermesraan dengan pasangannya.

Lalu Sakta naik andongnya. Rukmi sama sekali tak melihat ada orang lain di sana. Itulah kehebatan ilmu yang dimiliki Ki Pondohan. Ia yang mengatur lidah Sakta dan perkataan pria itu. Bahkan kecupan di kening terakhir adalah tekanan ilmu pengendali raga yang dikerahkan oleh Ki Pondohan.

Kereta itu bergerak menuju selatan. Pelabuhan terbesar yang jaraknya bisa ditempuh selama sepuluh hari perjalanan tanpa henti.

Rukmi akhirnya masuk ke rumahnya. Ke dalam kamar dan menemukan satu kantung kain berisi koin emas dan perak.

"Wah ... Aku bisa kaya ini!" serunya semringah.

Tak lama, Doko datang dengan berteriak.

"Ibu ... Ibu!"

"Doko ... Ada apa kamu teriak-teriak?" tanya Rukmi gusar.

"Ibu ... Aku butuh uang Bu. Masa semua orang sudah punya kuda, aku belum!" rengek Doko manja.

"Hah ... kuda?"

"Iya Ibu. Tadi aku diledek teman-temanku. Katanya aku miskin karena nggak memiliki kuda!" jawab Doko manja.

"Tapi kamu bisa naik kuda?" tanya Rukmi hati-hati.

Doko terdiam, ia memang belum bisa naik kuda.

"Naik kuda itu harus hati-hati loh. Salah sedikit saja, kamu bisa jatuh!" ujar Rukmi lagi.

Doko lagi-lagi diam, ia berpikir.

"Jatuh dari kuda?" Rukmi mengangguk.

"Pasti sakit dan kotor tentunya ...," ujar sang ibu lagi.

"Ih aku nggak mau!" rengek Doko takut.

"Makanya, lebih baik kau tingkatkan saja ilmu bela dirimu. Kalau kamu sakti, maka tak ada yang berani meledekmu!" sahut Rukmi.

Doko mengangguk, ia membernarkan perkataan ibunya.

"Bu ... minta uang!' Doko menengadahkan tangan pada ibunya.

Rukmi merogoh saku dan memberikan putranya dua keping perak. Mata Doko melebar melihat keping perak itu.

"Ibu ... Ibu sudah kaya?" tanyanya.

"Sudah ... Sana!" sahut Rukmi menyuruh putranya pergi.

"Ibu mau kemana sekarang?" tanya Doko.

"Biasa ... Aku mau ambil telur di lereng ...."

"Bukankah telur di kandang kita juga ada?" tanya Doko.

"Ah ... sudah ... Itu telur aku juga berhak. Ayam-ayam itu dipelihara oleh pamanmu!" ujar Rukmi kesal.

Doko tak peduli, ia pun pergi sambil bersenandung. Rukmi menghela nafas panjang. Kekakuan sang putra jauh dari kebanyakan pria dewasa. Doko lebih kemayu dan tak bisa bekerja terlalu berat. Bukan karena ia tak mampu. Tapi Rukmi yang tak membolehkan nya.

Rukmi pun bersiap pergi ke lereng tempat Srikandi berada. Ia membawa wadah telur dan berjalan dengan menggunakan ilmu meringankan tubuh dasar.

Cukup butuh waktu lama, sesekali ia berhenti karena kelelahan. Akhirnya, ia menaiki undakan dari tanah. Dari bayangannya ada di sebelah kiri sampah bayangannya di sebelah kanan. Ia baru sampai atas lereng.

Dengan langkah tergesa ia hendak mendamprat keponakannya. Berlaga paling berkuasa hanya untuk menggangu Srikandi dan mengambil telur ayam milik gadis itu.

"Sri ...."

Suara Rukmi terhenti, ia mendengar suara isakan lirih dari dalam rumah. Keningnya berkerut. Perlahan ia mendekati pintu yang sedikit terbuka. Ia mengintip dan mencoba melihat apa yang terjadi di dalam

Di sana ... Rukmi melihat Srikandi menangis berlutut sambil memeluk kain lusuh.

"Ayah ... Huuuu ....ayah ... Aku rindu ... Ayah ... kapan pulang ... Huuu ... Hiks ... Hiks!"

Nyes! Satu cubitan kecil dirasakan Rukmi di hatinya. Ia merasa kesakitan sampai-sampai dirinya mencengkram kain kebaya di dadanya.

"Ayah ... Aku sendirian ayah. Aku nggak punya siapa-siapa ... Ayah ... pulang ayah ... pulang ... huuuu ... Uuuu ... Hiks ... Hiks!" jerit kecil Srikandi terdengar memilukan.

Airmata Rukmi ikut menetes, bibirnya bergetar menahan isak. Ia mengenali kain yang dipeluk oleh Srikandi. Itu adalah baju Abda, kakaknya.

Lalu teringat bagaimana dulu Abda yang selalu mengalah padanya. Bahkan teringat bagaimana ia mengusir pria itu dan ibu yang melahirkannya.

"Aku nggak mau lihat orang penyakitan di rumah ini!" serunya keras waktu itu.

Padahal hari sudah larut malam, Abda pun bahkan meminta untuk menunggu hari terang baru ia membawa ibunya pergi.

"Tidak ... Aku nggak mau ikut sakit. Pokoknya Ibu harus pergi dari sini!" usirmya bersikeras.

Abda pun tak banyak kata, melangkah ke lantai di mana sang ibu dibiarkan tidur di lantai beralaskan tikar tipis.

Ia menggendong wanita kurus itu begitu tak kesulitan. Lalu membawa sang ibu ke lereng bukit di mana harta peninggalannya berada.

Selang satu bulan, ia mendengar kabar jika sang ibu meninggal dunia. Tapi waktu itu Rukmi baru saja merayakan kehamilannya. Jadi ia tak datang melihat ibu untuk terakhir kalinya.

"Ayah ... Huuuu ... uuuu ... Hiks ... Hiks!"

Tangisan Srikandi membuyarkan lamunan Rukmi. Entah karena malu atau takut, ia perlahan mundur. Urung mengambil telur.

Lalu dengan langkah pelan, Rukmi menuruni lereng dengan pikiran menerawang.

"Bu ... makam ibu di mana?" tanyanya dalam hati.

bersambung.

Rukmi anak durhaka ... Tinggal menunggu hukuman langit saja!

Next?

1
Deyuni12
lanjut
Deyuni12
galak banget nh si Rukmi,sleper juga nh
Deyuni12
nyari kesempatan Mulu nh Rukmi
Anita Barus
penasaran lanjut
Anita Barus
serem juga KLO sampai sda acara menjulatin darah gitu gitu
vania larasati
lanjut
Anita Barus
maki seru lanjut Thor
Anita Barus
Srikandi punya bibi yg unik serakah kepo cerewet .juga rada cengeng .
Anita Barus
bibi Rukmi yg serakah seperti kera ternyata🙏 masih bisa menangis juga ya
Anita Barus
nah Lo sakta rakus di usir kan Lo 5thn di pengasingan jauh dr istri anak dan gundik kapok mu sampai kapan 🤣🤣🤣🤣🤣pake ngusik hak Srikandi
Anita Barus
ternyata bibi Rukmi dan suaminya sama serakah nya ingin menguasai upeti.ki abda tapi kocak juga ya waktu bi Rukmi. dan putra semata wayang nya yg gemulai merajah kebun milik Srikandi .sampai.jatuh dan putra gemulai nya Doko menangis pulang kerumah nya 🤣🤣🤣🤣🤣
Anita Barus
walau windu benci dgn bayi Ki sabda TDK masalah Ki sabda dan paman sengko pasti melindungi sang anak
Benny Badaruddin
kasihan sekali tapi untung nya dia dari kecil sudah ditempa menjadi gadis yg kuat oleh ayahandanya
Benny Badaruddin
apakah Srikandi tau kalo ayahnya FFR
vania larasati
lanjut
Eni Istiarsi
pas episode sebelumnya disebutkan kalo Nyi Padan Laran beraroma bunga kantil udah feeling kalo sosoknya memang sepertinya tidak biasa
vania larasati
lanjut
Benny Badaruddin
keren
Deyuni12
hiiii
nyi padan serem akh
lanjut
Anita Barus
windu...windu. berharalmemanasi Ki abda Ter nyata kiabda malah senang dan memberi selamat PD mempelai 🤣🤣🤣🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!