Clara Rubiana, 25 tahun, putri bungsu pemilik Darmawan Group, mulai bekerja di perusahaan ayahnya demi mencari pengalaman. Di sana, ia jatuh hati pada Tony Bagaskara, direktur operasional yang kharismatik dan selalu terlihat sempurna. Sebaliknya, Clara membenci Doni Permana, direktur pemasaran yang sering berselisih dengan Tony dan dianggap arogan. Namun seiring waktu, Clara mulai melihat sisi asli Tony yang manipulatif dan penuh ambisi gelap. Kekecewaan itu menghancurkan perasaannya. Di tengah keterpurukan, Doni justru hadir dengan ketulusan, keberanian, dan kepedulian yang tak pernah Clara sadari sebelumnya. Perlahan, kebencian berubah menjadi rasa nyaman, lalu tumbuh menjadi cinta yang tak terduga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhammad Robby Ido Wardanny, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 21
Clara Kembali Menjadi Pegawai Biasa
Pagi itu langit masih gelap ketika Clara terbangun dari tidurnya. Suara ayam dari rumah belakang kontrakan bahkan masih terdengar samar bercampur dengan bunyi kendaraan yang sesekali lewat di jalan utama. Clara membuka matanya perlahan lalu menatap langit-langit kamar kontrakan yang sempit dan sederhana.
Tidak ada pendingin ruangan.
Tidak ada aroma kopi buatan pembantu.
Tidak ada suara ibunya yang biasa menyuruh asisten rumah tangga membangunkannya.
Semua terasa berbeda.
Clara duduk perlahan di tepi kasur tipisnya sambil menarik napas panjang. Untuk beberapa detik dia hanya diam memandangi koper kecil di sudut kamar dan pakaian yang tergantung seadanya di dinding.
Hari itu adalah hari pertamanya kembali bekerja di perusahaan ayahnya.
Namun kali ini bukan sebagai putri pemilik perusahaan.
Dia datang sebagai pegawai biasa.
Clara segera berdiri lalu mengambil handuk dan masuk ke kamar mandi kecil di belakang kamar kontrakan. Air dingin langsung menyentuh tubuhnya membuat dia menggigil.
"Dingin sekali..."
Biasanya dia mandi dengan air hangat di kamar mandi marmer yang luas. Sekarang bahkan keran di kontrakannya sedikit bocor.
Selesai mandi Clara mengenakan kemeja putih sederhana dan rok hitam selutut. Dia berdiri di depan cermin kecil yang tergantung miring di dinding.
Dia merapikan rambutnya pelan.
Wajahnya masih cantik seperti biasa, tetapi ada sesuatu yang berubah dari tatapannya.
Tidak lagi manja.
Tidak lagi penuh kesombongan.
Ada rasa lelah di sana.
Dan juga rasa takut.
Clara mengambil tasnya lalu mengecek uang di dompet.
Dia harus benar-benar menghitung pengeluaran sekarang.
Hal yang dulu tidak pernah dia pikirkan.
Sebelum keluar kamar Clara sempat menatap dirinya sendiri sekali lagi.
"Aku pasti bisa..."
Meskipun sebenarnya dia sendiri tidak terlalu yakin.
Clara kemudian berjalan keluar dari gang kontrakan. Pagi itu jalanan sudah ramai oleh orang-orang yang berangkat kerja. Pedagang nasi kuning mulai membuka lapak. Beberapa ibu rumah tangga sibuk menyapu halaman.
Clara berjalan sambil memegang tasnya erat.
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya dia akan pergi bekerja menggunakan angkutan umum.
Biasanya sopir pribadi selalu mengantarnya ke mana saja.
Tidak pernah sekali pun dia berdiri di pinggir jalan seperti itu.
Sebuah bus berhenti tidak jauh dari tempatnya berdiri.
Orang-orang langsung naik dengan cepat.
Clara ikut melangkah masuk meski sedikit ragu.
Begitu masuk dia langsung terkejut.
Bus itu penuh sesak.
Orang-orang berdiri berhimpitan sambil memegang pegangan besi di atas kepala mereka.
Clara hampir kehilangan keseimbangan ketika bus kembali berjalan.
"Mbak maju sedikit! Jangan di pintu terus!" teriak kernet.
Clara buru-buru bergerak masuk sambil meminta maaf kecil.
"Maaf... maaf..."
Beberapa orang menatapnya sebentar lalu kembali sibuk dengan ponsel masing-masing.
Clara mencoba berdiri dengan hati-hati sambil memegang pegangan.
Tubuhnya beberapa kali terdorong karena bus berhenti mendadak.
Seorang ibu di sampingnya tiba-tiba bicara.
"Baru pertama naik bus ya?"
Clara menoleh lalu tersenyum kecil canggung.
"Kelihatan sekali ya, Bu?"
Ibu itu tertawa pelan.
"Kelihatan dari wajah paniknya. Santai saja nanti juga terbiasa. Semua orang kerja memang beginilah tiap pagi."
Clara hanya mengangguk pelan.
Kalimat sederhana itu justru membuat dadanya terasa aneh.
Selama ini dia hidup terlalu nyaman sampai tidak pernah tahu bagaimana kerasnya orang lain menjalani pagi mereka.
Bus akhirnya berhenti di dekat gedung perusahaan ayahnya.
Clara turun lalu memandangi gedung besar itu beberapa detik.
Biasanya dia datang dengan mobil mewah lalu langsung masuk tanpa hambatan.
Hari itu berbeda.
Dia berjalan pelan menuju pintu masuk karyawan.
Seorang satpam yang berjaga langsung menghentikannya.
"Selamat pagi, Mbak. Absen dulu."
Clara sempat diam beberapa detik.
Dulu tidak pernah ada yang berani menyuruhnya absen.
Bahkan semua orang selalu membungkuk hormat ketika dia datang.
Satpam itu tampak bingung karena Clara hanya berdiri diam.
"Mbak?"
Clara akhirnya tersadar lalu mengangguk.
"Iya... maaf."
Dia berjalan menuju mesin absensi.
Tangannya sedikit canggung ketika menempelkan kartu pegawai baru yang diberikan bagian HRD kemarin.
Bip.
Absensi berhasil.
Entah kenapa suara kecil itu terasa seperti penanda bahwa hidupnya benar-benar berubah.
Satpam tadi kembali bicara dengan sopan.
"Silakan masuk, Mbak Clara."
Clara hanya tersenyum tipis lalu berjalan masuk ke dalam gedung.
Begitu dia memasuki ruangan kantor suasana langsung terasa berbeda.
Beberapa pegawai yang mengenalnya tampak melirik.
Ada yang berbisik kecil.
Ada juga yang pura-pura sibuk.
Namun tidak ada satu pun yang menghampiri Clara dengan ramah seperti dulu.
Tidak ada sapaan berlebihan.
Tidak ada senyum menjilat.
Semua memperlakukannya seperti pegawai biasa.
Clara menelan ludah pelan.
Ternyata ayahnya benar-benar serius.
Dia berjalan menuju meja kerjanya yang berada di antara beberapa staf lain.
Meja itu sederhana.
Tidak besar.
Tidak istimewa.
Bahkan letaknya dekat mesin fotokopi.
Begitu Clara duduk seorang wanita berkacamata di meja sebelah langsung menoleh.
"Clara?"
Clara menatap wanita itu lalu tersenyum kecil.
"Amanda."
Amanda tampak terkejut.
"Astaga, aku kira kamu tidak akan balik kerja di sini lagi. Kemana saja selama ini?"
Clara menarik kursinya pelan.
"Belajar hidup mandiri."
Amanda mengangkat alis.
"Serius?"
"Memangnya aku kelihatan bercanda?"
Amanda tertawa kecil.
"Sedikit. Dulu kamu bahkan pernah marah cuma karena kopi di pantry tidak dingin."
Clara langsung memalingkan wajah malu.
"Aku memang menyebalkan waktu itu."
"Bukan menyebalkan. Lebih tepatnya menyeramkan."
Clara menghela napas panjang.
"Aku baru sadar sekarang ternyata banyak orang menahanku untuk tidak bicara kasar cuma karena aku anak pemilik perusahaan."
Amanda menatap Clara beberapa detik lalu tersenyum tipis.
"Setidaknya sekarang kamu sadar. Banyak orang kaya tidak pernah sadar sampai tua."
Clara terkekeh pelan.
Percakapan mereka terhenti ketika seorang staf pria datang membawa setumpuk dokumen.
Tanpa banyak bicara pria itu langsung meletakkan dokumen tebal di meja Clara.
Bruk.
"Ini data laporan penjualan bulan lalu. Tolong dicek dan direkap ulang sebelum jam makan siang. Ada beberapa data yang salah."
Clara menatap tumpukan dokumen itu cukup lama.
Biasanya pekerjaan seperti itu dikerjakan asisten.
Namun sekarang tidak ada yang peduli dia anak siapa.
Clara akhirnya mengangguk.
"Baik."
Pria itu langsung pergi begitu saja.
Amanda melirik Clara.
"Kaget?"
"Lumayan."
"Biasakan saja. Di divisi ini semua orang sibuk. Kalau salah ya ditegur. Kalau lambat ya dimarahi."
Clara menatap dokumen di depannya.
"Aku akan coba."
Dia mulai membuka berkas satu per satu.
Awalnya Clara terlihat percaya diri.
Namun semakin lama wajahnya mulai tegang.
Angka-angka di laporan itu jauh lebih rumit dari yang dia kira.
Beberapa istilah bahkan tidak dia pahami.
Tangannya mulai bergerak lebih lambat.
Amanda yang melihat itu akhirnya membantu sedikit.
"Yang ini harus disesuaikan dengan data gudang. Kalau tidak nanti laporan akhirnya salah semua."
"Oh..."
Clara segera mencatat.
Beberapa menit kemudian seorang supervisor wanita datang menghampiri meja Clara.
Namanya Bu Rina.
Wanita itu terkenal tegas di kantor.
"Clara, laporan minggu lalu yang kamu input ada kesalahan di bagian total distribusi."
Clara langsung berdiri refleks.
"Maaf, Bu. Saya masih belajar."
Bu Rina tidak terlihat marah, tetapi nada bicaranya tetap serius.
"Belajar boleh. Tapi tetap harus teliti. Kalau angka salah perusahaan bisa rugi."
"Iya, Bu. Saya akan perbaiki."
Bu Rina mengangguk.
"Kerjakan ulang sebelum sore."
Setelah wanita itu pergi Clara langsung duduk lemas.
Amanda menahan tawa.
"Selamat datang di dunia pegawai biasa."
Clara menatap Amanda pasrah.
"Aku baru beberapa jam kerja tapi rasanya seperti seminggu."
Amanda tertawa kecil.
"Dulu kamu datang ke kantor cuma untuk jalan-jalan sambil marah-marah ke orang. Sekarang baru tahu rasanya dikejar deadline."
Clara menutupi wajahnya dengan tangan.
"Tolong jangan ingatkan aku soal masa lalu."
"Sulit. Kamu dulu cukup terkenal."
Clara menghela napas panjang lagi.
Hari itu berjalan lambat.
Clara terus bekerja sambil memperbaiki kesalahan demi kesalahan.
Beberapa kali dia ditegur.
Beberapa kali dia harus bertanya.
Tangannya bahkan mulai pegal karena terlalu lama mengetik.
Menjelang jam makan siang Amanda mengajak Clara ke kantin.
Keduanya berjalan bersama di tengah keramaian pegawai.
Clara kembali merasakan tatapan orang-orang.
Namun kali ini dia mencoba mengabaikannya.