"Orang lama menang karena sejarah, tapi orang baru menang karena masa depan."
Azeant Apolo-valerio kehilangan cintanya, namun menemukan kembali harga dirinya. Kata "Putus" dari Claudia Astor seharusnya menjadi akhir, namun bagi pewaris tunggal keluarga Valerio ini, itu hanyalah sebuah awal dari pembebasan.
Apolo adalah pria yang hidup dalam presisi rumus teknik, namun ia gagal menghitung variabel ego seorang wanita yang hanya haus akan validasi.
Segalanya berubah saat sebuah notifikasi dari aplikasi kencan masuk, membawa nama Veronica Brooklyn.
Gadis itu adalah anomali; dia tidak memuja ketampanan Apolo, malah menantangnya dengan kejujuran yang Brutal.
Veronica hadir bukan untuk mengisi kekosongan yang ditinggalkan Claudia, melainkan untuk menciptakan standar baru yang tak pernah Azeant Apolo-valerio bayangkan sebelumnya.
Apolo belajar bahwa terkadang, orang yang datang paling akhir adalah satu-satunya yang layak menjadi yang pertama.
🦋
Selamat Membaca 🌷
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#34
Matahari musim panas yang lembut menyelinap melalui jendela-jendela besar mansion bergaya Victoria yang terletak di pinggiran elit New York.
Meskipun keluarga Valerio memiliki aset properti di mana-mana, mansion ini adalah impian Veronica yang menjadi nyata: mewah, namun hangat dengan sentuhan kayu dan taman bunga yang luas.
Suasana pagi itu masih sama tenangnya dengan empat belas tahun yang lalu, namun penghuni kecil di dalamnya kini telah bertransformasi menjadi sosok yang jauh berbeda.
"Mommy... aku tidak akan sarapan di meja. Aku hari ini sarapan di kantin saja bersama teman-temanku," suara itu terdengar berat namun santun.
Matthew Apolo-Valerio berdiri di ambang pintu ruang makan. Di usianya yang menginjak enam belas tahun, ia telah tumbuh melampaui tinggi badan ibunya. Tubuhnya tegap, mewarisi rahang tegas sang ayah, namun matanya memancarkan keteduhan yang berasal dari Veronica.
Veronica, yang kini tampak semakin anggun di usia matangnya, meletakkan cangkir tehnya. Ia menghampiri putranya dengan binar bangga yang tak pernah pudar.
"Matthew, ingat pesan Mommy. Pokoknya kamu harus bisa menjawab kuis pertamamu nanti, ya? Mommy menunggu ceritamu saat pulang nanti," ucap Veronica sambil merapikan kerah seragam putranya.
"Baik, Mom," ucap Matthew lembut. Tangannya bergerak memperbaiki letak kacamata berbingkai hitam yang bertengger di hidung mancungnya.
Veronica tersenyum puas memperhatikan penampilan anaknya. Matthew tampak seperti definisi "putra idaman" bagi setiap ibu di dunia.
Seragam putihnya yang kaku tampak sangat rapi, celana kainnya disetrika dua kali hingga lipatannya terlihat tajam, dan di tangannya tergenggam sebuah buku tebal tentang sejarah peradaban dunia. Jangan lupakan tas selempang kulitnya yang tertutup rapat. Sempurna. Benar-benar sempurna.
Ternyata, kekhawatiran Azeant empat belas tahun yang lalu justru berbalik arah. Veronica-lah yang menjadi sosok paling protektif sekaligus pengatur gaya hidup Matthew. Veronica-lah yang mengatur apa yang boleh dipakai Matthew, buku apa yang harus ia bawa, bahkan model kacamata yang harus ia kenakan.
Bagi Veronica, kacamata itu adalah perisai. Matthew tidak memiliki masalah penglihatan, namun Veronica menyukai gaya "pintar" tersebut.
Ia ingin putranya dikenal sebagai pria yang lembut, pintar, dan berkelas. Ia percaya bahwa para gadis di masa kini akan lebih jatuh hati pada sosok "kutu buku" yang misterius dan cerdas daripada atlet sekolah yang ugal-ugalan.
Dan Matthew? Ia tampak menikmati perannya. Ia selalu patuh, selalu tersenyum, dan menjadi anak baik yang menjadi kebanggaan keluarga Valerio.
Azeant Apolo-Valerio muncul dari balik koridor, mengenakan setelan jas kantornya yang mahal. Ia menatap putranya, lalu melirik istrinya dengan senyum penuh arti.
"Ayo kita berangkat, Son. Daddy tidak mau kau telat di hari pertama masuk High School," ajak Azeant.
Mereka pun berjalan menuju pintu depan diiringi oleh Veronica. Di depan mobil SUV hitam yang mengilat, Veronica memberikan pelukan hangat. "Semangat hari pertama di sekolah barumu, Sayang. Jadilah yang terbaik."
"Tentu, Mom," jawab Matthew sebelum masuk ke kursi penumpang di samping ayahnya.
Begitu gerbang otomatis mansion tertutup dan mobil sudah melaju beberapa ratus meter menjauhi rumah, suasana di dalam mobil berubah total.
Sret!
Matthew melepas kacamatanya dengan gerakan kasar, lalu melemparkannya ke arah dashboard. Tangannya segera menarik kemeja rapi yang tadi dimasukkan dengan sangat teliti ke dalam celana, membiarkannya keluar berantakan. Ia mengacak-acak rambutnya yang tadi disisir rapi dengan pomade hingga kini terlihat acak-acakkan namun justru memberikan kesan maskulin yang liar.
"Menyebalkan, Dad. Aku benci memakai pakaian seperti ini di hari pertamaku di kelas sepuluh," gerutu Matthew, suaranya tidak lagi selembut tadi.
Azeant meledak dalam tawa. Ia melirik putranya yang kini tampak seperti versi muda dari dirinya sendiri—Tampang liar tapi terkendali.
"Hahaha! Jaga baik-baik kacamatamu, Son. Kalau kau menghilangkannya, Mommy-mu akan membelikanmu model yang lebih besar dan berbentuk persegi empat seperti kakek-kakek," goda Azeant sambil tetap fokus pada kemudi.
Matthew mendengus kesal. Ia benar-benar tidak mengerti obsesi ibunya terhadap gaya siswa kutu buku.
Entah pesona apa yang dilihat Veronica dari sosok pria yang membawa buku tebal dan berkacamata. Matthew melakukan semua sandiwara ini hanya demi satu alasan: ia tidak ingin melihat ibunya sedih atau khawatir. Ia tahu betapa traumatisnya masa lalu ibunya, dan ia ingin menjadi "ketenangan" bagi Veronica, meskipun itu berarti ia harus mengenakan topeng setiap pagi.
"Aku hanya akan memakainya saat masuk gerbang dan saat pulang, Dad. Selebihnya? Aku ingin bernapas," keluh Matthew.
Mobil berhenti di depan gerbang Saint Jude High School. Matthew segera turun setelah berpamitan pada ayahnya.
Begitu kaki jenjangnya menapak di parkiran, ia langsung disambut oleh kerumunan siswa. Di sudut parkiran, tiga sahabatnya sejak SMP sudah menunggu.
Martin, Luther, dan King. Tiga remaja yang sudah tahu persis "dua wajah" seorang Matthew Valerio.
"Weh, Brother! Kau akhirnya menjauhkan kacamata itu di hari pertama?" seru King sambil melakukan fist bump dengan Matthew.
Luther tertawa sambil menunjuk tas Matthew. "Di mana buku tebal yang selalu kau bawa itu, Matt? Jangan bilang kau menggunakannya sebagai bantal di mobil?"
"Sialan kalian," maki Matthew dengan seringai nakal.
Ia kemudian merogoh tasnya, mengeluarkan kacamata baca itu lagi karena ia ingat instruksi ibunya untuk "tampil pintar" di depan guru wali kelas. Ia baru saja hendak menyampirkan kacamata itu ke hidungnya ketika seorang siswa lain yang sedang terburu-buru menabrak bahunya dengan keras.
BRAK!
Kacamata itu terlepas dari tangan Matthew, terjatuh ke aspal parkiran.
KRAK!!!!
Suara retakan kaca terdengar menyayat. Sebuah sepatu boots hitam dengan hak tinggi menginjak tepat di atas kacamata malang itu hingga hancur berkeping-keping.
Matthew terpaku. Pandangannya perlahan naik dari aspal menuju sosok yang berdiri di depannya.
Seorang gadis dengan jaket kulit yang kebesaran, celana jeans robek di lutut, dan rambut panjang yang dicat warna ungu mencolok di bagian ujungnya. Gadis itu tidak tampak merasa bersalah. Ia justru menatap Matthew dengan pandangan menghina.
"Hey, culun. Jangan menghalangi jalan dengan barang-barang sampahmu," ucap gadis itu dengan nada bicara yang kasar dan dingin.
Deg.
Martin, Luther, dan King ternganga. Mereka saling lirik dengan wajah pucat. Mereka tahu siapa Matthew Valerio, dan mereka tahu apa yang terjadi jika seseorang mengusik ketenangannya—terutama jika orang itu baru saja menghancurkan barang "titipan" Veronica.
Gadis itu, Wynonna Martin, memutar bola matanya malas. Tanpa meminta maaf, ia melangkah melewati Matthew begitu saja, bahunya sengaja menabrak bahu Matthew sekali lagi.
Matthew tetap diam di posisinya. Ia menatap serpihan kacamata kesayangan ibunya yang kini sudah tidak berbentuk di bawah terik matahari.
Tangannya mengepal di samping tubuh, namun ia menarik napas panjang. Ada sesuatu dari cara bicara gadis itu yang mengingatkannya pada cerita-cerita ayahnya tentang orang-orang kejam.
"Matt... kau tidak apa-apa?" tanya Martin hati-hati.
Matthew tidak menjawab. Ia berjongkok, memungut bingkai kacamata yang sudah patah itu dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Gadis itu... siapa dia?" tanya Matthew pelan.
"Itu Wynonna. Wynonna Martin. Anak baru juga, kabarnya dia suka Berkelahi di sekolah Sebelumnya," bisik Luther.
Matthew berdiri, memasukkan bangkai kacamatanya ke dalam saku celana. Ia menatap punggung Wynonna yang menjauh di antara kerumunan siswa.
"Dia memanggilku culun?" gumam Matthew dengan senyum sinis yang tipis—senyum yang sangat mirip dengan Azeant saat sedang merencanakan sesuatu yang besar.
Hari pertama di High School yang dibayangkan Veronica akan penuh dengan jawaban kuis dan kepintaran, sepertinya akan berubah menjadi medan perang yang jauh lebih menarik.
Matthew tidak tahu bahwa injakan sepatu Wynonna pagi itu adalah awal dari sebuah takdir yang akan menyeretnya ke dalam dunia yang selama ini berusaha dijauhkan oleh orang tuanya: dunia di mana cinta tidak selalu datang dengan kelembutan, melainkan dengan benturan keras yang tak terduga.
jd teh celup ka dia disana.... 😂