NovelToon NovelToon
Eifel Dalam Genggaman Cinta Yang Lain

Eifel Dalam Genggaman Cinta Yang Lain

Status: sedang berlangsung
Genre:One Night Stand
Popularitas:511
Nilai: 5
Nama Author: de banyantree

Semakin hari Alan terus melukai Xarena dengan semua keangkuhannya. Namun Xarena memilih diam. Karena sakit yang sangat begitu dalam, lima tahun Alan meninggalkannya tanpa kabar. Kini dia kembali membawa Luka.
Bagi Alan, Xarena telah bahagia dengan pilihan orang tuanya. Bagi Xarena, Alan masih memiliki utang penjelasan untuknya.
Bagaimana dia tega meninggalkan Xarena sendirian, hingga Ciara Hadir di dunia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon de banyantree, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rencana jahat

Di belahan bumi yang lain, ribuan kilometer dari kedamaian desa Bruno yang sunyi, atmosfer yang kontras sedang mendidih di dalam sebuah mansion mewah di kawasan elit Jakarta.

​Prang!

​Sebuah vas bunga porselen peninggalan dinasti Ming hancur berkeping-keping setelah dihantamkan ke dinding marmer. Belum cukup, Monique menyapu bersih semua pajangan kristal di atas meja konsol dengan sekali sentak. Suara pecahan kaca yang memekakkan telinga bergema di ruang keluarga yang kini sudah mirip seperti medan perang.

​"Sialan! Berani-beraninya kamu, Alan!" teriak Monique histeris. Napasnya memburu, rambutnya yang biasa tertata rapi kini acak-acakan.

​Beberapa pelayan dan pengawal pribadi yang berdiri di sudut ruangan hanya bisa menunduk ketakutan. Tidak ada satu pun yang berani mendekat atau sekadar membersihkan pecahan kaca yang berserakan di atas karpet beludru mahal tersebut. Monique dalam mode murka adalah definisi dari bencana.

​"Nyonya... mohon tenang dulu," ucap sebuah suara pria yang baru saja melangkah masuk dengan hati-hati. Itu adalah Riko, tangan kanan sekaligus orang kepercayaan Monique.

​"Tenang kamu bilang?!" Monique berbalik, menatap Riko dengan mata yang merah karena amarah dan air mata. "Gimana bisa aku tenang, Riko?! Alan menceraikan aku! Dia mengirimkan surat cerai itu lewat pengacaranya! Sepihak!"

​Monique tertawa histeris, tawa yang terdengar mengerikan. "Dan yang paling bikin aku gila... dia mengembalikan semuanya! Kunci apartemen, kartu kredit, black card, kunci Porsche, bahkan jabatan CEO yang selama ini dia rintis setengah mati! Dia lempar semuanya ke muka aku seolah-olah semua itu sampah!"

​Monique mencengkeram dadanya yang terasa sesak. Ego dan harga dirinya sebagai seorang putri konglomerat hancur lebur.

​"Dia pikir dia siapa? Hah?! Tanpa uang aku, tanpa koneksi aku, Alan itu bukan siapa-siapa! Dia cuma anak miskin yang beruntung aku lirik!" maki Monique lagi, lalu menendang sofa kulit di dekatnya.

​Riko berdehem pelan, mencoba membaca situasi. "Tuan Alan sepertinya sudah mengetahui semuanya, Nyonya. Termasuk soal manipulasi lima tahun lalu dan... soal keberadaan Xarena."

​Mendengar nama Xarena, ekspresi Monique langsung berubah menjadi sangat dingin dan penuh kebencian. "Perempuan jalang itu lagi. Sudah kuduga! Pasti karena dia!" Monique mondar-mandir di antara puing-puing barang mewahnya. "Alan nggak boleh meninggalkan aku. Nggak akan pernah boleh! Dia harus mencintai aku! Aku punya segalanya yang dia butuhkan. Cantik, kaya, terhormat. Apa yang kurang dari aku dibanding perempuan udik itu?!"

​"Tapi Nyonya, Tuan Alan sudah bulat dengan keputusannya. Dia bahkan pergi dari Jakarta hanya dengan pakaian di badannya dan mobil sewaan," lapor Riko.

​Monique menghentikan langkahnya, matanya menyipit tajam. "Pergi? Ke mana dia?"

​"Detektif kita baru saja memberi laporan. Tuan Alan menuju ke Jawa Tengah. Tepatnya ke sebuah desa terpencil di daerah Purworejo. Tempat di mana Xarena dan anaknya bersembunyi selama ini."

​"Bagus. Bagus sekali!" Monique mengepalkan tangannya kuat-kuat hingga kukunya yang di-manikur rapi memutih. "Jadi dia mau jadi pahlawan kesiangan? Mau meminta maaf dan hidup bahagia selamanya sebagai keluarga kecil yang harmonis? Jangan harap!"

​Monique menatap Riko dengan pandangan penuh kelicikan yang beralih menjadi senyuman sinis. "Riko, suruh orang-orang kita di lapangan untuk bergerak. Tapi ingat, kali ini jangan sentuh Alan. Jangan buat Alan terluka sedikit pun."

​Riko agak terkejut mendengarnya. "Lalu, apa yang harus kami lakukan, Nyonya?"

​"Mainkan psikologis perempuan itu," jawab Monique santai, berjalan menuju mini bar yang selamat dari amukannya, lalu menuangkan wine merah ke dalam gelas. "Xarena itu tipe perempuan yang sok suci dan penuh harga diri. Dia pasti sedang sangat membenci Alan sekarang karena merasa dikhianati. Nah, tugas kita adalah membuat kebencian itu berlipat ganda."

​Monique menyesap wine-nya perlahan, menikmati rasa manis dan pahit yang membakar tenggorokannya. "Kirim orang untuk meneror rumah tempat Xarena tinggal. Tapi, buat seolah-olah teror itu datang karena ulah Alan yang membawa masalah ke sana. Atau lebih baik lagi... buat skenario seolah-olah Alan datang ke sana hanya untuk merebut anak itu secara paksa demi mendapatkan kembali simpati dari keluarga aku."

​"Maksud Nyonya, kita memfitnah Tuan Alan?" tanya Riko memastikan.

​"Persis!" Monique menjentikkan jarinya. "Buat Xarena berpikir kalau Alan itu serigala berbulu domba. Biarkan perempuan itu mengusir Alan dengan tangannya sendiri. Kalau Xarena menolaknya mentah-mentah, Alan pasti lambat laun akan menyerah dan sadar kalau tempat terbaiknya adalah di sini, di samping aku."

​Monique meletakkan gelas wine-nya di atas meja dengan ketukan pelan yang tegas. "Aku mau Alan hancur sehancur-hancurnya di mata Xarena. Aku mau perempuan itu memandang Alan sebagai monster yang paling menjijikkan dalam hidupnya."

​"Baik, Nyonya. Saya mengerti. Instruksi akan segera saya teruskan ke tim di Purworejo," ujar Riko sambil membungkuk hormat.

​"Oh, satu lagi, Riko," panggil Monique sebelum pria itu berbalik. "Pastikan semua ini rapi. Jangan sampai Alan mencium keterlibatan kita. Biarkan mantan suamiku itu menikmati usahanya yang sia-sia di desa terpencil itu."

​"Dimengerti, Nyonya. Permisi." Riko melangkah mundur dan segera keluar dari ruangan, meninggalkan Monique sendirian.

​Monique kembali menatap sekeliling ruang tamunya yang berantakan. Perlahan, senyum kemenangan terukir di wajahnya yang cantik namun berhati culas. Dia berjalan mendekati jendela kaca besar yang menampilkan pemandangan kerlap-kerlip lampu kota Jakarta dari lantai atas mansion-nya.

​"Kamu boleh lari sejauh mungkin, Alan," gumam Monique sambil menyentuh kaca jendela dengan ujung jarinya. "Tapi pada akhirnya, kamu akan merangkak kembali ke kaki aku. Karena di dunia ini, apa pun yang Monique inginkan... nggak akan pernah bisa lolos."

1
mama
alan ny goblok bin tololl.. mau2 nikah sm mak Lampir cm demi kekuasaan🤣..
mama
CEO terbodoh🤣,..org kaya gk mampu nyari detektif buat nyari kebenarannya nih cerita ny, gitu aj bingung😄..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!