Tiba-tiba jadi keluarga mafia?!!!
Itulah yang dirasakan oleh seorang gadis cantik bernama Lily. Takdirnya secara mendadak membawanya pada dunia gelap yang tak pernah ia tahu sebelumnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nanastar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Obsessed Austin
Happy Reading ❤️
• • •
Lily terdiam dengan wajah yang dipenuh tanda tanya. Ia berusaha mencerna atas apa yang terjadi saat ini. Diruangan tak terduga yang selama ini tidak ia sadari, tersimpan seorang laki-laki paruh baya tengah dipasung. Gilanya lagi, ternyata ia adalah ayah dari AUSTIN!
"K-kak, kak Austin mendingan buru-buru pulang aja! Biar aku bantu mengalihkan para penjaga-penjaga dirumah!" Ucapnya memecahkan keheningan diantara mereka. Austin yang kala itu tengah duduk didepan ayahnya dengan tenang pun menoleh heran. Ia kemudian menatap Lily aneh.
"Lo! Bukannya seharusnya lo ngerasa aneh sama semua ini? Atau seenggaknya lo kabur?" Katanya dengan bimbang.
Mendengar itu, lantas Lily terdiam. Ia sungguh merasa kesal karena tak bisa menjelaskan hal yang tak masuk akal untuknya. Tapi, apa yang menurutnya tak masuk akal itu? Melihat Austin dan ayahnya di ruangan ini?
"Lily, tadinya gue pikir lo sama aja kayak mereka"
Lagi-lagi ia dibuat tidak bisa berkata apapun.
"Mungkin perasaan gue sama lo emang beneran. Tapi, gue gak seharusnya nyakitin hati orang lain...."
Lily semakin bingung tak mampu menjawabnya karena sungguh, ia tak mengerti apa yang Austin maksudkan.
"Lo pikir, gue kesini tanpa persiapan? Lo tau gak ada sesuatu yang janggal dari gue?" Austin ingin memastikan dengan benar-benar bahwa Lily memang sepolos seperti yang ia lihat saat ini.
"Austin, bunuh saja dia! Dia adalah anak dari penjahat itu!"
Lily melotot menoleh pada sang empu dengan tidak percaya. Penjahat? Siapa yang ia sebut penjahat itu? Ayahnya?
"Tidak pa! Aku tau apa yang telah papa perbuat pada keluarga ini! Aku hanya akan membawa papa kepolisi untuk papa mengajukan diri sendiri!"
"Apa kau lebih membela bajingan itu? Aku menyesal telah membesarkanmu" katanya sambil melotot penuh kebencian.
"Aku tidak pernah minta untuk dilahirkan, papa. Walaupun ku tau kau papa'ku yang bejad, tapi aku tak pernah menyesali telah mempunyai papa sepertimu"
Lily merasa canggung karena berada diantara perdebatan seorang anak dan ayah ini.
"Kalau begitu, bunuh saja diriku!" Teriaknya membuat Lily meringis. Ngomong-ngomong siapa yang membawanya ke tempat ini? Jika polisi tahu, bisa-bisa ayahnya nanti di penjara. Pikirnya dengan mulai khawatir. Jika ia menutupi kejahatan ini, ia berarti sama saja dengan si penjahat yang mereka maksud.
"Mati begitu saja adalah hukuman yang paling ringan untuk dosa-dosa yang telah papa perbuat. Tenang saja pa, aku akan menjagamu dipenjara nanti"
Lily bingung, Austin ini jahat atau baik sebenarnya? Kenapa ia harus memasukan ayahnya ke penjara? Apa salahnya emang? Bukannya ia ke sini untuk menyelamatkan ayahnya dan melaporkan ayah Lily ke polisi? Ah iya, Lily ingat. Keluarganya yang sekarang kan keluarga mafia terkuat, mana mungkin bisa di laporkan ke polisi semudah itu.
"Um... Kak, aku.. Gak maksud ikut campur, tapi..."
"LILY!!"
"LO DIMANA !"
Terdengar suara teriakan dari atas ruang bawah itu. Mendengar itu Lily tiba-tiba menjadi panik sendiri.
"Itu... ITU SUARA KAK ZEVAN!" Katanya lalu langsung mencari pintu keluar yang lain.
"Kak Austin buruan pergi bawa papa kak Austin juga! Kak Zevan biar aku yang urus!" Titahnya dengan wajah panik. Austin terdiam, ada rasa mengganjal dipikirannya. Ia pun meraih tangan gadis itu ketika ia terlihat sedang memikirkan sesuatu.
"Lily, gue gak pernah menyangka lo akan sebodoh ini.... Atau lo emang sepolos yang gue kira" Dibarengi ucapan itu, Austin lantas menyuntikkan sesuatu pada lengannya. Bahkan Lily tak sempat untuk merasa terkejut.
"E-eh?!" Tanpa membuang banyak waktu, Lily langsung saja tumbang kepangkuannya.
"Kalo lo harus bersanding sama pria lain, lebih baik mati saja"
Di atas sana, Zevan telah mencurigai sesuatu. Ia melihat pintu rahasia itu terbuka lebar. Sebenarnya saat pertama kali masuk pun ia sudah merasa ada yang tidak beres. Bagaimana mungkin semua penjaganya tumbang dimana-mana. Walaupun mereka hanya pada pingsan.
Ada rasa hawatir saat ia tak mendapati gadis itu tak berada ditempatnya.
Dengan buru-buru ia pun segera memeriksakan seluruh ruangan demi ruangan. Hingga akhirnya, ia menemukan ruangan terakhir yang belum ia sentuh. Bawah tanah.
"Kalo aja gue gak nemuin dia juga disana, gue gak akan segan membunuh semua yang terlibat atas kejadian ini!" Gumamnya lalu mulai menuruni tangga dengan cepat.
•••••
"Cepat masuk!" Teriakan pelan seseorang dari dalam mobil pada dua orang yang tengah berlari dengan kepayahan.
"Kau tidak membawanya?" Tanya orang itu ketika mereka berdua telah masuk.
"Tidak"
"Mungkin memang sebaiknya jangan" Ia pun segera menjalankan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
"Seharusnya kau bunuh saja dia!" Sesal seorang laki-laki berumur itu dengan kesal.
"Tidak usah ikut campur hal ini pa"
"Kau tau, pemuda itu ingin membunuhku!"
"Lantas kenapa?"
"Mereka sama saja! Anak dari keluarga penjahat! Mereka semua berhak mati!"
"Seperti papa?"
Plak!
"DIAM! Kau berisik sekali!"
"Stop!" Kini orang yang tengah menyetir pun angkat suara. Telinganya tidak tahan bila terus-menerus harus mendengar perdebatan itu. Ia berhenti tiba-tiba dipinggir jalan yang cukup sepi. Lalu matanya menatap sepion depan, terlihat dua orang berbeda umur tengah saling memalingkan wajahnya kesal. Ia pun menghela nafas panjang.
"Papa, Austin. Seyra tau ini semua rumit! Tapi bisakah untuk tidak merunyamkan semua itu?!"
"Huh! Aku menyesal telah membesarkan kalian" Gumamnya yang terdengar oleh kedua anak itu. Namun mereka berdua memilih diam dan tak menghiraukan ucapan-ucapan menyakitkan lainya.
•••••
Disisi lain, di sebuah ruangan serba putih terbaring lah seorang gadis yang tak sadarkan diri. Tanganya berselang infus, mulutnya ditutupi oleh alat pembantu pernafasan. Disampingnya, terdapat seorang wanita paruh baya tengah menangis meratapi sang gadis yang kian tak kunjung sadarkan diri.
"Mama... Sudahlah... Mungkin ini sudah menjadi takdirnya"
Samar-samar, gadis yang tengah berbaring itu mendengar suara yang sangat familiar ditelinganya.
"Tidak, dia masih hidup! Mama tau itu!"
Mama? Bukankah itu... Suara mama?! Apakah aku... Telah kembali?! Itu artinya, aku pulang!
Tapi... Kenapa mereka menangis? Apakah karena aku masih menutup mataku? Akh kenapa mataku sulit terbuka?
"Ikhlaskan saja, kami sudah berusaha keras sejauh ini. Hanya ini yang bisa kami lakukan"
TIDAK! Lily belum mati, kan?! Mama! Mia!! Lily Masih hidup! Lily disini sama kalian! Gak! Jangan bawa Lily ketempat gelap! Lily emang gak terlalu takut kegelapan sih...Tapi... Lily... Takut... Sendirian...
Dan setelah itu, semuanya gelap. Lily mendapati dirinya disebuah ruangan hitam tak berujung. Seperti lubang yang tak berarah dan tak punya akhir.
••••••
"Lily! Buka mata lo! Lily!!"
Dengan panik, Zevan memeriksa denyut nadinya berkali-kali. Berharap ia hanya salah tanggap. Namun nihil, tak ada apapun yang berubah. Denyut nadinya, sudah tak berada ditempatnya lagi, ia berhenti. Zevan membisu, wajahnya memucat. Tanganya mencengkeram kuat lengan baju yang dikenakan oleh gadis yang berada dipangkuannya. Ia mencoba memberikan nafas buatan padanya, namun tetap nihil.
"Siapa...... SIAPA YANG BERANI MELAKUKAN SEMUA INI?!!!"
Teriaknya menggema di seluruh ruangan dirumahnya. Ia tak tahan. Seolah ada sesuatu yang mendorongnya untuk melakukan sesuatu. Tapi apa? Zevan tak mengerti. Ada perasaan rumit yang tak bisa ia jelaskan. Dan matanya pun menjawabnya. Ia menangis. Ia luruh dan rapuh saat itu juga. Kini, Lily telah pergi meninggalkannya ketempat jauh yang tak bisa ia gapai. Seperti yang ia harapkan dulu.
"Lily... Apa lo mau ninggalin gue? Mau gue susul?"
BERSAMBUNG