Naraya Pramaswari Dhanubrata, seorang CEO muda yang dikenal dingin dan perfeksionis, terbiasa hidup dalam kemewahan. Di usianya yang terbilang matang, ia tidak lagi benar-benar percaya pada cinta, apalagi hubungan rumit.
Segalanya berubah ketika ia bertemu Sagara, pemuda tampan berusia 24 tahun yang sederhana. Namun, penuh semangat hidup. Berbeda jauh dari dunia Naraya, Sagara menjalani berbagai pekerjaan demi bertahan hidup. Mulai dari montir, ojek online, hingga pekerja paruh waktu. Meski hidupnya keras, Sagara tetap hangat, tulus, dan pantang menyerah.
Pertemuan tak terduga mereka perlahan menyeret Naraya ke dalam dunia yang tak pernah ia bayangkan. Sagara yang gigih, tanpa sadar meruntuhkan dinding hati Naraya yang selama ini terkunci rapat.
Namun, perbedaan status, usia, dan prinsip hidup menjadi tantangan besar bagi keduanya. Belum lagi seseorang dari masa lalu Naraya yang kembali hadir.
Akankah cinta mereka mampu bertahan, atau justru menjadi luka yang tak terhindarkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon teteh lia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6.
Pintu mobil tertutup rapat.
Nara duduk di kursi kemudi mobil yang baru selesai di perbaiki, sementara Tiwi menempati kursi di sebelahnya. Perlahan mobil itu melaju keluar dari area bengkel. Sebelumnya, mereka lebih dulu menyelesaikan pembayaran perbaikan dan meninggalkan tip cukup besar untuk seluruh pegawai bengkel.
"Nona, kenal pemuda tadi?" tanya Tiwi akhirnya. Ia sudah tak mampu lagi membendung rasa penasarannya.
"Tidak," jawab Nara singkat. Matanya tetap fokus pada jalanan di depan.
"Tapi Anda terlihat cukup akrab dengannya."
Nara terdiam sesaat sebelum menjawab pelan. "Dia yang mengantarku ke kantor saat mobil ini mogok kemarin."
Tiwi langsung mengangguk paham. Pantas saja tadi mereka sempat berdebat soal upah.
"Pemuda tadi tampan juga ya, Nona," celetuk Tiwi sambil membayangkan wajah tampan Sagara. Meski tubuh pemuda itu berbalut pakaian kerja penuh noda oli, tapi tidak mengurangi kadar ketampanannya.
"Apalagi tadi waktu buka kap mobil ...," gumam Tiwi pelan. "Otot tangannya kelihatan banget."
Nara melirik datar ke arah asistennya.
Tiwi langsung berdehem kecil lalu pura-pura membetulkan posisi duduk. "Saya cuma berkomentar, Nona."
Nara tidak menanggapi.Tatapannya kembali fokus pada jalanan di depan.
Mobil melaju membelah jalan kota yang mulai padat menjelang siang. Pikirannya kembali di penuhi pekerjaan yang sempat tertunda karena kedatangannya ke bengkel tadi. Namun, setidaknya, kedatangannya ke bengkel bukan sepenuhnya membuang waktu.
Kini ia mendapat kepastian bahwa mobilnya tidak mogok karena kebetulan. Ada seseorang yang sengaja membuatnya bermasalah. Dan itu terjadi tepat sebelum rapat penting dimulai.
Jemari Nara mengetuk pelan setir mobilnya. Perlahan, rasa curiga mulai tumbuh semakin jelas. "Tiwi," panggilnya tanpa mengalihkan pandangan.
"Iya, Nona."
"Bagaimana tugas yang kuberikan kemarin?"
Tiwi langsung teringat sesuatu. Ia buru-buru membuka tablet di tangannya lalu memeriksa laporan yang baru dikirim beberapa menit lalu. "Saya sudah meminta orang untuk mengecek semua yang berkaitan dengan mobil Nona," jawabnya hati-hati. "Dan memang ada hal yang mencurigakan."
Tatapan Nara sedikit berubah. "Apa?"
"Orang terakhir yang berkaitan dengan mobil ini sebelum dipakai kemarin ternyata bukan pegawai mansion yang biasa memanaskan semua mobil, Nona."
Nara langsung menoleh singkat. "Lalu siapa?"
Tiwi menelan ludah kecil sebelum menjawab. "Seseorang yang baru bertugas satu hari sebelumnya."
Hening sesaat memenuhi mobil.
Nara kembali menatap jalan di depan. Namun, kali ini sorot matanya jauh lebih tajam. "Bagaimana dengan data orang itu?"
"Saya masih mencarinya," jawab Tiwi.
"Mencari?"
Tiwi mengangguk pelan. "Orang itu hanya bekerja setengah hari. Setelah itu, dia tiba-tiba meminta berhenti dengan alasan harus kembali ke desa."
Kening Nara perlahan berkerut.
"Bukankah ini terlalu kebetulan?" lanjut Tiwi pelan. "Apalagi montir tadi bilang kalau kerusakan mobil Nona kemungkinan memang disengaja."
Tatapan Nara berubah dingin. Jemarinya kembali mengetuk pelan setir. "Minta Pak Bowo untuk menyelidiki lebih lanjut," ucapnya tegas. "Tapi, pastikan tidak ada yang tahu kita sedang menyelidikinya."
Tiwi mengangguk "Baik, Nona."
Nara terdiam sejenak sebelum kembali melanjutkan ucapannya.
"Termasuk Oppa Seokjin dan Kakek," lanjutnya kemudian.
Mendengar nama Seokjin disebut, Tiwi langsung menoleh cepat. Ada banyak pertanyaan di kepalanya, tetapi ia menahannya saat melihat ekspresi Nara yang terlihat serius. "Baik, Nona," jawab Tiwi akhirnya.
Mobil kembali dipenuhi keheningan. Sementara itu, dibalik tatapan tenangnya, pikiran Nara terus dipenuhi satu pertanyaan. Siapa sebenarnya dalang dari semua itu? Dan apa motif dibaliknya?.
****
Di sisi lain.
Sepeninggal Nara, suasana bengkel mendadak jauh lebih hidup dari biasanya. Senyum lebar menghiasi wajah pegawai. Beberapa saat setelah Nara meninggalkan area bengkel dengan mobilnya, pemilik bengkel keluar sambil membawa setumpuk uang berwarna merah.
Uang itu sengaja dibagikan kepada seluruh pegawai bengkel. "Ini bonus tip dari pemilik mobil tadi," ucap pria bertubuh gempal itu saat Andi menanyakan maksud pembagian uang tersebut.
"Cair kita!" seru Andi dengan wajah sumringah. Ia langsung menyenggol bahu Sagara hingga pemuda itu sedikit bergeser.
"Makasih, Nak Aga," ujar salah satu montir senior sambil mengacungkan uang pemberian itu ke arah Sagara. Uang itu bisa menjadi penolong di tanggal tua seperti saat ini.
"Sering-sering aja bawa pelanggan kayak gitu ke sini," timpal montir lain yang langsung disambut gelak tawa.
Hari itu suasana bengkel terasa lebih ramai. Beberapa pegawai bahkan mulai bercanda soal ingin ikut menolong mobil mogok di jalan berharap mendapat pelanggan seperti Nara lagi.
Andi kembali melirik Sagara dari atas sampai bawah. Tatapannya jahil. "Punya wajah ganteng, emang nggak bisa bohong," godanya. "Nona tadi sampe lupa kalau Lu masih bau oli."
Gelak tawa kembali pecah.
Sagara hanya menggeleng pelan sambil tersenyum tipis. Ia kembali membersihkan tangan yang masih dipenuhi noda hitam.
Namun, ucapan Andi membuat bayangan wajah Nara kembali terlintas di kepalanya. Wanita itu memang berbeda dari pelanggan lain yang pernah datang ke bengkel itu.
Cantik, dingin, dan sulit ditebak. Yang lebih aneh, untuk pertama kalinya Sagara merasa penasaran pada seseorang yang bahkan baru dikenalnya dia hari.
****
Dua hari setelah kedatangan Nara ke bengkel, kehidupan kembali berjalan seperti biasa bagi Sagara.
Pagi sampai sore ia bekerja di bengkel. Tangannya sibuk membongkar mesin, mengganti oli, atau melayani pelanggan yang datang silih berganti. Namun, saat bengkel tutup dan tidak ada lembur, hidupnya belum benar-benar selesai.
Malam itu, jaket khas ojek online sudah melekat di tubuhnya. Helm tergantung di stang motor, sementara ponselnya terus menyala menunggu pesanan masuk. Lampu-lampu kota mulai ramai, jalanan dipenuhi kendaraan yang bergerak lambat.
Andi yang baru keluar dari bengkel langsung bersiul kecil. "Lu nggak cape hidup begini?"
Sagara sedang memasang helm saat menoleh santai. "Kalau nurutin cape, nggak bakal bikin kenyang."
"Tapi dari pagi udah nguli," balas Andi cepat.
"Masih kuat," jawab Sagara singkat.
Andi menggeleng heran. "Serius, Ga. Kadang gue mikir tenaga lu tuh nggak habis-habis."
Sagara hanya tertawa kecil, lalu naik ke motornya. Ponselnya berbunyi. Pesanan masuk.
Sagara langsung menerima order itu tanpa banyak melihat detail. "Gue jalan dulu!"
Motor melaju meninggalkan bengkel, membelah jalanan malam yang mulai padat. Sekitar lima belas menit kemudian, Sagara berhenti di depan sebuah restoran mewah di pusat kota. Lampu gedungnya terang, dipenuhi mobil mahal berjajar rapi di depan.
Sagara melepas helm sebentar sambil memastikan nama pelanggan di layar ponselnya.
Pratiwi.
Alisnya sedikit terangkat. "Kaya pernah denger nama ini," gumamnya pelan.
Belum sempat ia berpikir lebih jauh, pintu restoran terbuka. Seorang wanita keluar dari sana.
Nara keluar dari sana dengan mengenakan setelan hitam yang membuatnya tampak semakin dingin dan sulit disentuh. Rambut panjangnya tergerai rapi, sementara heels tinggi yang dipakainya berdenting pelan saat melangkah. Namun, langkah Nara berhenti begitu melihat wajah seseorang yang dikenalnya.
Nara yang penasaran mendekati Sagara yang tengah duduk di atas motornya. "Kamu ada di sini?"
**** bersambung dulu
Han Seokjin.