NovelToon NovelToon
Istri Tanpa Sentuhan Pewaris Adinata

Istri Tanpa Sentuhan Pewaris Adinata

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO
Popularitas:12.9k
Nilai: 5
Nama Author: najwa aini

Shafiya Elara Hanum, namanya. Ia tidak pernah menyangka hidupnya akan berakhir dalam sebuah pernikahan dengan pria yang tak pernah benar-benar menjadi suaminya.




Ia adalah putri seorang kiai.
Dibesarkan dengan kehormatan dan batasan.
Namun satu kesalahan yang tidak ia lakukan, telah merenggut segalanya. Pernikahannya batal. Nama baik keluarganya ikut hancur, dan ia pun terseret ke dalam ikatan dengan SAGARA ADINATA.
Pewaris tunggal keluarga Adinata.
Seorang pria yang dingin. Tegas. Dan tidak percaya pada pernikahan.




Mereka menikah tanpa cinta.
Tanpa keinginan. Tanpa sentuhan.
Namun satu hal mengikat mereka--Seorang anak yang tumbuh di rahim Shafiya…
anak yang bahkan tidak pernah mereka rencanakan.




Di balik hubungan yang datar dan penuh jarak, rahasia demi rahasia mulai terkuak.
Dan perlahan, batas yang mereka jaga mulai goyah.



Mampukah mereka bertahan dalam pernikahan yang bukan hanya sekedar kesepakatan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon najwa aini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9

"Nona." Shafiya baru selesai sholat asar ketika Winda mendekat. "Ada pesan dari dapur. Mulai hari ini, jika nona ingin makanan apapun, tinggal kirim catatan. Pihak dapur akan menyiapkan, apapun itu."

Winda mengatakan itu sambil membantu Shafiya melipat mukenna.

Shafiya menghela napas sejenak, sebelum mengangguk.

"Katanya itu akan jadi menu tambahan, di samping menu utama."

"Menu utama?"

"Iya." Winda mengangguk. "Ada daftar menu yang harus dikonsumsi nona tiap hari, dikirim langsung oleh nyonya Anjani."

Shafiya diam sejenak. "Segitunya ya." Ia bergumam lirih.

"Rumah ini memang dipenuhi aturan yang tidak boleh dilanggar, Nona. Dari dulu sudah begitu."

"Lalu." Shafiya bangkit, duduk di sofa panjang dekat jendela. Selain peraduan empuk dan mewah itu--sofa di dekat jendela menjadi tempat favorit Shafiya dalam kamar itu. "Kenapa sekarang ada peraturan yang dirubah?"

"Pasti perintah tuan," jawab Winda mantap. "Tak ada yang boleh mengganti atau merubah peraturan kecuali tuan. Bu Ratri itu hanya sekedar menjalankan saja. Kecuali jika ada ART yang terbukti melanggar dan tidak kompeten, bu Ratri berhak memberhentikan tanpa perlu memberitahu tuan."

"Mbak Winda sudah berapa tahun kerja di sini?"

"Lebih tiga tahun."

"Sudah sangat hafal dengan peraturan yang ada ya." Shafiya menatap perempuan yang setia mengikutinya kemana pun itu sambil tersenyum.

"Kunci tetap aman bekerja di sini, ya harus hafal dengan peraturannya," ujar Winda sambil tersenyum ringan. Seolah semua itu sama sekali bukan beban.

"Dulu. Rumah ini hanya dijadikan tempat beristirahat oleh tuan," lanjut Winda kemudian. "Tuan lebih sering tinggal di mansion. Tapi sejak menjadi pimpinan utama di perusahaan Adinata, tuan mulai lebih sering ada di sini."

"Oh jadi dia awalnya tinggal di mansion?"

"Ya. Tuan itu cucu kesayangan nyonya Anjani. Karena itu, banyak sepupunya yang tidak suka pada tuan." Winda semakin lancar bercerita. Dan Shafiya juga mendengarkan dengan penuh minat.

"Ya, wajar. Jika ada ketimpangan kasih sayang."

"Tapi kalau kata bu Ratri, itu bukan karena nyonya Anjani pilih kasih. Tapi karena tuan memang lebih menonjol dari pada sudara-saudaranya yang lain. Katanya, tiap kali ada uji kompetensi, di bidang apa pun, tuan selalu dapat nilai tertinggi. Karena itu, nyonya Anjani lebih memperhatikan tuan."

"Oh begitu." Shafiya mengangguk.

"Tapi--" Winda seperti baru teringat sesuatu. Pandangannya bergeser ke seluruh ruangan kamar seperti sedang mencari sesuatu.

"Ada apa, Mbak?"

"Kamar ini masih ada CCTVnya ya, Nona?"

"Mungkin sudah tidak ada."

Winda menarik napas lega. "Sebenarnya saya gak boleh bicara terlalu banyak tentang majikan. Itu salah satu aturan juga."

"Kenapa barusan mbak Winda cerita Sagara ke saya?" Shafiya tersenyum.

"Karena nona kan istrinya tuan. Jadi saya rasa gak papa nona tahu hal itu."

"Istri." Shafiya bergumam lirih.

Kata itu masih asing. Masih ada yang mengganjal. Seperti sesuatu... yang belum benar-benar menjadi miliknya.

Satu ketukan terdengar. Tegas tapi tidak keras. Winda menoleh sebentar lalu berjalan ke arah pintu. Membukanya. Ratri berdiri di sana.

"Nona Shafiya di dalam?"

"Iya."

Ratri masuk. Beberapa langkah berhenti. Mengangguk singkat ke arah Shafiya.

"Ada pesan dari tuan. Nona diminta bersiap. Dua puluh menit lagi, tuan sampai."

Shafiya tak langsung mengiyakan. Ia hanya menatap Ratri sejenak. Sebelum akhirnya mengangguk.

"Berarti, tuan jadi mengantar nona ke pesantren hari ini," kata Winda setelah Ratri keluar.

"Bukannya... jadwalnya sangat padat hari ini." Itu seperti pertanyaan pada diri sendiri.

"Tuan pasti mengusahakan untuk bisa mengantar, Anda." Winda maju dua langkah. Ia tampak lebih bersemangat dari pada Shafiya sendiri.

"Mari, Nona. Saya bantu bersiap."

Tepat dua puluh menit kemudian, Ratri dan Winda mengiring Shafiya ke teras depan. Bersamaan dengan itu mobil mewah warna hitam itu berhenti.

Ratri membukakan pintu untuk Shafiya.

Sagara ada di dalam. Masih dengan pakaian kerjanya. Rapi. Seperti biasa.

Namun tidak sepenuhnya sama.

Tatapannya tetap lurus pada layar di tangannya. Beberapa berkas terbuka.

Seolah perjalanan ini hanya jeda… bukan berhenti sepenuhnya dari rutinitas kerja.

Shafiya nampak ragu. Dan Sagara menangkap itu meski tanpa menoleh.

"Masuk."

Shafiya duduk di kursi sebelahnya. Pintu tertutup dan mobil berjalan. Kali ini melewati gerbang utama Adinata Residence.

Agam duduk di depan. Di samping supir. Sebagaimana Sagara--tatapannya juga masih fokus ke layar, dan berkas-berkas yang terbuka.

Shafiya menahan napas sejenak. Sebelum pertanyaan itu terucap.

"Kemana?"

"Pesantren." Sagara menjawab tanpa menoleh.

Shafiya menoleh. Baru di sana ia bisa melihat, karena posisi mereka yang cukup dekat. Warna wajah Sagara sedikit berbeda. Memang tidak mencolok. Tapi cukup untuk terlihat jika diperhatikan dengan seksama.

Shafiya menunggu beberapa saat, sebelum akhirnya bicara.

"Kamu belum istirahat."

Sagara tidak mengalihkan pandangan.

"Tidak perlu." Jawaban singkat seperti biasa.

Mobil melaju stabil.

Beberapa menit pertama… hening.

Sagara kembali pada berkas di tangannya.

“Update pabrik Jawa Timur," ucapnya tidak keras. Tidak pelan.

Agam di depan langsung merespons.

“Tim operasional sudah on site. Assessment awal selesai.”

“Kerusakan?”

“Sekitar empat puluh persen di area produksi utama. Tidak merambat ke gudang.”

Sagara mengangguk tipis.

“Asuransi?”

“Sudah diaktifkan. Tapi masih menunggu verifikasi lanjutan.”

Sagara menutup satu berkas itu dan membuka yang lain.

“Timeline pemulihan.”

“Estimasi sementara dua minggu untuk operasional parsial. Full recovery… tiga sampai empat minggu.”

Hening sejenak. Sagara menandai beberapa bagian.

“Percepat.”

Perintah tegas. Satu kata.

Agam tidak langsung menjawab.

“Perlu tambahan tim dan approval biaya.”

“Ajukan.”

Tanpa ragu. Tanpa berpikir panjang dulu.

“Dan--” Sagara berhenti sebentar.

“Pastikan tidak ada keterlambatan distribusi.”

“Siap.”

Di depan, Agam juga sibuk menandai beberapa. Rute jalan tak menjadi perhatiannya.

Beberapa detik berlalu.

“Meeting Singapura, bagaimana?"

“Sudah reschedule ke lusa. Pihak mereka konfirmasi ulang pagi tadi.”

Sagara mengangguk.

“Brief saya malam ini.”

“Baik.”

Percakapan selesai.

Singkat. Tepat.

Di kursi belakang, Shafiya tetap diam.

Namun kali ini… ia tidak hanya mendengar. Ia juga melihat. Bahwa bahkan di perjalanan seperti ini--Sagara tidak benar-benar pergi dari dunianya.

Dunia seorang pimpinan perusahaan Adinata.

Dan mungkin…

memang tidak akan pernah.

Beberapa detik berlalu.

Berkas di tangan Sagara masih terbuka.

Namun kali ini… tidak lagi bergerak. Ia diam. Lebih lama dari sebelumnya.

Hening.

Agam yang duduk di depan sempat melirik lewat kaca tengah.

Lalu kembali menatap lurus.

Sagara menyandarkan kepala sejenak.

Dan hanya sejenak. Sepasang Mata itu terpejam… tapi benar-benar tidur.

Jari di tangannya masih menggenggam berkas. Tapi tidak lagi membaca.

Shafiya melihat itu dengan jelas.

Tanpa berpindah posisi.

Dan warna wajah Sagara… semakin jelas berbeda.

Shafiya membiarkan pandangannya di sana cukup lama.

Ia tidak langsung bicara.

Menunggu beberapa detik.

Lalu tangannya bergerak pelan.

Botol air di sampingnya ia ambil.

Tutupnya dibuka, dan disodorkan. Tanpa mendekat. Hanya… cukup untuk dijangkau.

“Minum.”

Shafiya berkata pelan.

Sagara tidak langsung merespons.

Namun beberapa detik kemudian…

tangannya bergerak. Mengambil botol minuman itu.Tutup botol dibuka.

Satu teguk membasahi kerongkongannya.

Dan untuk beberapa waktu botol itu masih di tangannya. Ia tidak kembali pada berkasnya.

Saat itulah suara Shafiya terdengar pelan.

"Tidak harus sekarang. Ke pesantren."

Sagara menoleh. Diam.

"Jadwalmu padat. Dan kamu butuh istirahat." Shafiya melanjutkan sambil menatap wajah itu.

🥀🥀

Kakak semua maaf ya upnya telat.Lagi kurang sehat..dan utk hari ini satu bab dulu. Semoga besok sudah bisa rutin seperti biasa.

1
i_r cute
kyknya mulai ada cemburu tipis2 nih Sagara....
iqha_24
ayo dong sagara lebih peka dan lebih perhatian lagi ke shafiya
iqha_24
makin seru nii 👍
iqha_24
up lagi kak
Afsa
Komporin saja Pak Raven..aq seneng Kalo Saga cemburu😄
徐梦
🤣🤣🤣🤭
Eeeeee Panassss sagara awas lo cemburu 🤣
iqha_24
naah kan .. Sagara ga tenang
i_r cute
nunggu part shafiya cuekin Sagara, lama banget thor.....
iqha_24
nii sagara kapan peka nya yaa
Amalia Siswati
ya syafia bersikaplah seperti cermin,memantulkan.
Amalia Siswati
plot2 seperti ini nya mohon di kurangi dech thor,1 bab kebanyakan klimaknya bukan alur cerita intinya
Najwa Aini: Dan masukan dari kakak ini akan jadi bagian pertimbanganku..🌹🌹
total 2 replies
iqha_24
ayo Gam, panas2in aja si Sagara
iqha_24
lanjut
徐梦
Weeeeh agaknya ada yg cembukur ni ciee cieeee
Ayok mas Agam pelet trus ning cantik
Masih bnyak yg nunggu jandanya😍
Najwa Aini: Agam said: Siapppp
total 1 replies
徐梦
Semoga aja ada laki2 lain yg menunggu jandamu syifa thor buat sagara uring2n dong 🤭🤭🤭🤣
Najwa Aini: uring²an yang tetap elegan ya kak..
total 1 replies
Ayuwidia
Kisahnya sukses bikin baper. Bahasanya berbobot, nggak bertele-tele. Mencerminkan kecerdasan authornya. Karakter tokoh prianya bikin para pembaca gemes-gemes tapi cinta.

Semoga Sagara & Ning Shafiya sukses menaklukan retensi dari 20 bab sampai 100 bab, aamiin.

Semangat & semoga sukses, Ning Najwa ♥️
Ayuwidia: uhuk, nggak cocok Ning disematkan untukku yang minim ilmu agama, Kak.
total 2 replies
be83
Ceritanya sangat menarik
Semoga update nya lebih sering
Najwa Aini: Terima kasih Kak..
semoga updatenya konsisten ya
total 1 replies
Amalia Siswati
buat syafia yang dingin sekarang,biar dia mikir jika kehamilannya butuh perjuangan bersama..
Najwa Aini: Trims sarannya ya Kak..
aku tampung deh. nanti ku diskusikan dgn Shafiya
total 1 replies
Yus Marni
aku dukung syafiya kabur, gak akan berubah tu si saga kalau gak dikasih pelajaran🫢🫢
Najwa Aini: Kabur kemana kak??
total 1 replies
Afsa
Kalau aq yg JD Syafa aq kabur deh biar Saga tau Rasa.Kaku banget jadi cowok,mau anak doang..pdhal waktu hami istri itu ingin di peehaitiin dan manja tau...
Najwa Aini: Nah gitu kak..dikasih paham tuh Sagara
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!