Tania Kartika harus menelan pil pahit saat alat tes kehamilan menunjukkan dua garis merah yang cukup jelas. Ia hanya bisa memejamkan mata, mengingat malam panas sebulan yang lalu bersama Lingga Perdana, sang mantan terjadi tanpa pengaman. Sungguh Tania tak menyangka hanya sekali melanggar, langsung jadi.
Bagaimana nasib Tania sekarang? haruskah ia menghilangkan janin ini, apalagi Lingga sudah menjadi suami dari seorang model? Beginilah nasib percintaan yang kalah akan strata sosial.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SALING SERANG
Lingga jelas tak terima dipojokkan oleh keluarga dan namanya buruk akibat perbuatan yang tak pernah ia lakukan. Ia frustasi, menyuruh Calista untuk pulang dari kalimat perintah halus hingga kasar. "Sial, bangs*t tuh cewek!" protes Lingga sudah tak sabar bahkan membanting ponselnya.
Yovi hanya mengamati gerak-gerik sang adik, tak ada nasehat yang keluar, percuma juga. Pihak keluarga sedang tegangan tinggi. Para tante dan om mendesak papa untuk menindak lanjuti keberadaan Calista, tentu saja mereka ngotot mana mau harta keluarga jatuh ke tangan keluarga Calista.
"Papa juga kenapa pakai perjanjian dulu," omel Tante Ambar menyesal sang papa telah membuat perjanjian demi menutupi aibnya tapi merugikan kesejahteraan anak dan cucunya sekarang. Tentu saja mereka marah, selama ini mereka patuh akan aturan kakek Lingga, tapi ternyata beliau sendiri yang menggali kesengsaraan di kemudian hari.
Beruntung ada beberapa saudara yang mengikuti jejak Yovi, tak mau ambil harta kakek dan benar-benar merintis dari awal, sehingga harta mereka tak akan masuk ke perjanjian itu. Sedangkan kalangan tua, mayoritas hartanya terseret kalau keluarga Calista menuntut atas tindakan kekerasan Lingga.
"Gimana?" tanya Lingga pada seseorang via telepon.
"Nona Calista tidak ada di apartemen, maupun di rumah orang tuanya!" lapor orang kepercayaan Lingga. Panggilan telepon langsung dimatikan, keriuhan keluarga semakin ricuh, tak siap kalau malam ini menjadi malam terakhir mereka menyandang keluarga konglomerat.
Sedangkan Calista sendiri keluar dari kamar hotel sekitar pukul 2 dini hari, dia mengenakan masker. Badan ringkihnya dikuat-kuatkan karena sudah diusir oleh si bos. Karena cumbuan sebentar, berakibat fatal begini.
"Kamu di mana, Calista?" tanya Adit dalam sebuah panggilan. Calista sudah berada dalam mobil, dijemput oleh sang manajer, Cantika.
"Jangan temuin aku dulu, sekarang aku aman sama Cantika," jawab Calista dengan bibir bergetar, lalu mematikan ponselnya dan bersandar di jok mobil.
"Kita ke rumah sakit, visum!" ajak Cantika yang panik, melihat wajah dan bibir Calista sudah luka seperti ini, duh aset sang model bisa gawat kalau tak ada panggilan lagi. Namun, Calista menggeleng. Ia tak mau memperpanjang, apalagi dengan adanya bukti visum, ia tak mau melawan si bos, karena jelas kalah.
"Bawa aku ke apartemen kamu saja Tik," pinta Calista. Cantika berdecak sebal, selalu saja Calista mengabaikan keselamatannya. Cantika tahu, hidup Calista memang sangat dramatis. Punya papa plenger, hanya fokus pada uang saja. Punya suami akibat perjodohan papa dan kakek Lingga, dan terpaksa mencari jalan agar dia bisa menata finansial dengan menjadi wanita simpanan si bos pemilik rumah produksi.
Uang memang meluber tapi hati dia pasti kosong, Cantika menoleh pada sang model, tampak tidur nyenyak, mungkin mempersiapkan diri untuk menghadapi serangan dari Lingga dan si bos, karena ia tahu ini semua ulah si bos.
Calista termenung saat melihat ponselnya, Lingga dengan gagah berbicara di depan wartawan terkait framming yang mengarah padanya. Calista memejamkan mata saat Lingga mengatakan, "Malam itu saya tidak bersama Calista, dia mungkin sedang bermalam dengan si bos pemilik rumah produksi X, karena perlu kalian tahu mereka menjalin hubungan bahkan Calista menjadi simpanan si bos itu, karena istri si bos tidak bisa melayani kewajiban layaknya seorang istri. Jadi saya peringatkan sekali lagi jangan libatkan saya dalam KDRT ini, karena saya tidak bersama saat Calista malam itu. Silahkan konfirmasi pada agent Calista dan si bos itu," jawab Lingga tak takut. Ia harus tegas pada kasus ini, dan sudah saatnya ia memutus lingkaran perjanjian yang merugikan hidupnya itu.
Para wartawan masih mengejar Lingga saat masuk ke kantor, beruntung para sekuriti menghalangi tak lama rombongan pewarta pun bubar. Si bos langsung mengirim pesan pada Calista, karena ucapan Lingga tersebut sudah terunggah di berbagai platform media sosial, dan trending.
Silahkan klarifikasi, jangan sampai melibatkan aku. Sangkal ucapan Lingga, kalau tidak papamu masuk penjara saat ini juga.
Calista tertunduk frustasi, apa yang harus ia lakukan sekarang. Lingga tentu saja tak mungkin diam, dia punya uang yang bisa membereskan namanya, si bos juga sama. Sedangkan dirinya harus berpihak pada siapa. Kalau membersihkan nama Lingga, belum tentu pria itu akan membelanya, atau mungkin akan langsung menggugat cerai juga. Setidaknya kalau membersihkan nama si bos, sang papa aman.
Calista nekat menyalakan fitur live pada media sosialnya, tanpa pikir panjang dan pemikiran panjang. "Hai guys, maaf telah menyebabkan simpang siur tentang rumah tangga aku. Terimakasih sudah care sama aku, saat ini aku masih dalam kondisi tidak baik-baik saja. Aku sekarang berada di tempat yang aman dari suamiku, dan aku sudah mendengar sanggahan suami aku, miris banget, dan tak mungkin dia mengakui juga. Aku juga gak berniat mencari pembelaan, yang jelas dia masih suamiku, anggap saja aku salah pilih suami. Dan untuk soal bos pemilik rumah produksi X, kita hanya sebatas profesional. Mungkin karena suamiku bukan dari dunia hiburan, jadi mengangap hubungan profesionalku dengan beliau dianggap ada sesuatu oleh suamiku. Jadi please fokus pada aku dan suamiku saja, mungkin dalam waktu dekat aku akan mengambil langkah hukum, doain ya guys!" ucap Calista dengan senyum tipis sebelum pamit dari Live.
Lingga tersenyum sinis saat dikirimi link video live oleh Bang Yovi. Ia ikut melihat live itu, dan sempat menuliskan komentar.
Cewek setres emang lo Calista. Gue ladenin kalau lo mau ke jalur hukum.
Waduh, siapa nih yang salah.
Lingga sih menurutku.
Bisa jadi Calista, takut mungkin sama si bos.
Kalau aku sih iya, karena Lingga berani melawan juga.
Heh benar lagi. Kemungkinan si Calista kan bisa ada fair sama si bos ya. Sadar gak, kalau dia naik daun banget. Padahal nilai plusnya gak ada.
Cantik doang.
Seru juga nih lawannya sama-sama holang kaya.
"Jangan gegabah. Kebiasaan kamu loh, kalau ada masalah langsung emosi, gak sabaran banget!" omel Yovi.
"Abang. Abang gak tahu kalau Calista itu ular, sekeluarganya juga. Sinting gak!" Lingga emosi.
"Yang salah kakek kita, ngapain pakai perjanjian konyol seperti itu!" ceplos Yovi.
"Salah semua, dan aku gak mau hidup dalam kubangan pemikiran orang serakah, aku akan lawan. Sudah cukup aku melepas Tania sementara!"
"Mau balik ke Tania? Masih berminat sama mantan? Bekas orang katamu?" sindir Yovi.
"Ruwet! Hidup aku ruwet, papa juga gak punya taring buat melawan, sial memang!" Yovi tertawa melihat sang adik frustasi.
"Makanya, mending kaya abang, lepas dari ketiak kakek dan papa. Gak terlalu kaya tapi hidup tentram."
"Setelah masalah ini aku akan mengikuti jejak Abang, sudah muak hidup dalam genggaman perjanjian sialan itu!" ucap Lingga kesal.
buat calista jatuh sejatuh-jatuhnya bahkan untuk merangkak pun ga bisa thor,,, buat pak dokter carikan jodoh yg lain yg lbh baik dri tania toh ibunya pak dokter jg udh menjauh dri tania kasian klo harus dipaksakan berjodoh dgn pak dokter... sekian terima gajih
GO go Tania semangat