Bagaimana jadinya, jika seorang gadis terjebak dengan masalalu yang sudah lama ia kubur. Ya kisah ini dialami oleh Andini seorang gadis dewasa yang sehari-harinya sebagai penjaga kantin sekolah.
Andini memutuskan untuk tidak menikah karena dulu sempat gagal menjalin hubungan dengan seorang pria.
pada suatu ketika Andini dipertemukan dengan bocah kecil yang cukup aktif dan bisa dibilang nakal, semua guru yang ada sudah kawalahan, anehnya si bocah itu justru nurut dengan Andini?
Penasaran dengan kisah berikutnya. jangan lupa tetap pantengin terus hanya di Novel Toon
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumarhumah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30
Sore itu suasana di gang kecil tempat kontrakan Andin terasa tenang. Beberapa anak kecil masih bermain di depan rumah, sementara beberapa ibu duduk di teras sambil mengobrol.
Di dalam kontrakan kecilnya, Andin baru saja selesai merapikan barang-barangnya setelah pulang dari sekolah.
Tiba-tiba terdengar suara mobil berhenti di ujung gang. Andin sempat mengerutkan dahi. Jarang sekali ada mobil mewah masuk ke gang sempit seperti itu, kecuali Nathan.
"Ah, mau apa pria itu datang kemari," gumamnya pelan.
Namun beberapa menit kemudian terdengar ketukan keras di pintunya.
Tok. Tok. Tok.
Andin berjalan mendekat dan membuka pintu dan begitu pintu terbuka, tubuhnya langsung menegang.
Vivian berdiri di depan sana. Wanita paruh baya itu masih terlihat anggun dengan pakaian mahalnya, namun wajahnya penuh kemarahan yang tidak disembunyikan sama sekali.
Beberapa tetangga mulai melirik penasaran. Andin bersandar santai di kusen pintu.
“Wah…” gumamnya pelan. “Saya kira siapa.”
Tatapannya naik turun menilai wanita itu. “Ternyata Ibu Vivian," sahutnya kembali tanpa ada rasa takut.
Vivian menatapnya tajam, dan juga meremehkan. “Kamu masih berani bersikap santai seperti itu di depanku?” desisnya.
Andin tersenyum tipis. “Kenapa tidak?” balasnya tenang.
Vivian mendekat satu langkah. “Kamu pikir semuanya sudah selesai hanya karena Nathan tahu sedikit tentang masa lalu?” katanya dengan nada dingin.
Andin menyilangkan tangan di dada. “Bu Vivian,” ucapnya santai. “Sepertinya Ibu ini memang tidak ada kapoknya, ya.”
Vivian langsung mengeraskan rahangnya, seperti tidak terima dengan apa yang barusan diucapkan oleh perempuan itu.
Andin melanjutkan dengan gaya yang santai. “Padahal kedok Ibu sudah terbongkar.”
Beberapa ibu tetangga mulai saling melirik, bahkan bisikan demi bisikan sudah mulai terdengar.
“Anda bahkan sampai dua kali menyuruh orang memperlakukan saya di sekolah,” lanjut Andin.
“Dan itu juga sudah terbongkar.” Senyum Andin makin tipis. “Sekarang Ibu datang lagi ke sini…” ia menatap Vivian tajam. “…masih belum puas juga?”
Ucapan itu seperti menampar harga diri Vivian di depan orang-orang. Wajah wanita itu langsung memerah, bercampur dengan rasa malunya.
“Kamu!” bentaknya.
Tangannya langsung terangkat hendak menampar Andin. Namun Andin bahkan tidak mundur sedikit pun.
“Silakan,” ucapnya dingin. “Di sini juga ada banyak saksi.”
Kalimat itu membuat Vivian semakin kalap. “Kurang ajar!” teriaknya.
Ia melangkah cepat ingin mencengkeram Andin. Tapi karena terburu-buru dan emosi, tumit sepatunya terselip di sela paving yang tidak rata.
Krek!
“Akh!”
Tubuh Vivian tiba-tiba kehilangan keseimbangan. Wanita itu terpeleset keras.
Bruk!
Kepalanya terbentur sisi pot semen di dekat teras kontrakan. Beberapa tetangga langsung menjerit kaget.
“Ya Allah!”
“Bu!”
Tubuh Vivian tergeletak di tanah. Separuh wajahnya tiba-tiba terlihat kaku. Tangannya gemetar tak terkendali.
Andin yang sejak tadi berdiri di pintu langsung terdiam. Tatapannya berubah kaget.
“Bu…?” gumamnya.
Salah satu ibu tetangga langsung berkata panik. “Sepertinya stroke!”
Beberapa orang langsung berlari mendekat. Sementara Andin tetap berdiri beberapa detik, seolah masih mencerna apa yang baru saja terjadi.
Wanita yang selama ini begitu berkuasa dalam hidupnya… kini tergeletak lemah di depan kontrakan kecilnya.
Tak ada yang menyentuhnya ataupun yang melawannya. Namun karma seperti datang sendiri.
Andin akhirnya menunduk pelan. Wajahnya tidak menunjukkan kemenangan, hanya keheningan yang panjang.
☘️☘️☘️☘️☘️
Suara sirene ambulans akhirnya memecah suasana gang kecil itu.
Beberapa tetangga masih berdiri di sekitar tubuh Vivian yang terbaring di tanah. Wajah wanita paruh baya itu terlihat kaku, napasnya tersengal, sementara satu sisi tubuhnya hampir tidak bergerak.
Andin masih berdiri tapi posisinya sedikit menjauh dari depan pintu kontrakannya. Wajahnya pucat, tapi ia tetap berusaha tenang.
Tak lama kemudian, sebuah mobil hitam berhenti mendadak di ujung gang. Pintu mobil itu terbuka dengan keras. Nathan turun dengan wajah tegang.
Pria itu bahkan hampir berlari memasuki gang sempit itu, beberapa warga langsung memberi jalan ketika melihatnya.
Nathan
Salah satu tetangga menunjuk ke arah teras kontrakan Andin. Nathan langsung menoleh. Begitu melihat tubuh ibunya tergeletak di tanah, langkahnya terhenti seketika.
“Mami…?”
Suara Nathan terdengar hampir tidak percaya.
Ia segera berlari mendekat lalu berlutut di samping Vivian.
“Mami!” panggilnya lagi dengan suara lebih keras.
Namun Vivian hanya mengeluarkan suara lirih yang tidak jelas. Satu sisi wajahnya terlihat menurun.
Nathan langsung panik. “Apa yang terjadi?” tanyanya dengan suara tegang.
Beberapa warga saling berpandangan.
Salah satu ibu akhirnya menjawab pelan, “Tadi ibu itu datang ke sini, Nak…”
Ia melirik Andin sekilas sebelum melanjutkan.
“Tiba-tiba terpeleset dan jatuh. Kepalanya terbentur.”
Nathan langsung menoleh. Tatapannya berhenti pada Andin yang masih berdiri di depan pintu kontrakannya.
Beberapa detik mereka hanya saling menatap. Tatapan Nathan dipenuhi keterkejutan, emosi, dan sesuatu yang sulit dijelaskan.
Andin menelan napas pelan. “Aku tidak menyentuhnya,” ucapnya lebih dulu dengan suara tenang.
Nathan tidak langsung menjawab. Ia kembali menatap ibunya yang masih terbaring lemah.
Petugas sirene ambulans mulai mendekat. Dengan cepat mereka menghampiri tubuh Vivian yang dikerumuni warga.
“Minggir dulu, Pak!” kata salah satu petugas.
Nathan berdiri sedikit menjauh saat mereka mulai memeriksa Vivian.
“Diduga stroke,” kata salah satu petugas cepat.
Jantung Nathan terasa seperti dihantam sesuatu. Beberapa menit kemudian Vivian diangkat ke atas tandu.
Nathan ikut berjalan di sampingnya menuju ambulans. Namun sebelum masuk ke dalam mobil itu, langkah Nathan tiba-tiba berhenti.
Pria itu menoleh ke belakang. Tatapannya kembali jatuh pada Andin. Andin masih berdiri di tempat yang sama.
Perempuan itu terlihat tenang, tapi sorot matanya menyimpan begitu banyak hal yang tidak terucap.
Nathan menatapnya beberapa detik. Seolah ingin mengatakan sesuatu.Tapi akhirnya ia hanya menarik napas panjang. Lalu masuk ke dalam ambulans bersama ibunya.
Pintu ambulans ditutup. Sirene kembali meraung saat mobil itu melaju keluar dari gang kecil tersebut.
Andin tetap berdiri di depan kontrakannya. Menatap mobil itu sampai benar-benar menghilang dari pandangannya.
Angin sore berhembus pelan, setelah sekian lama, Andin merasa masa lalu benar-benar mulai runtuh dengan sendirinya, tanpa ada perlawanan sedikit pun.
Bersambung ..