NovelToon NovelToon
Membangun Kerajaan Yang Menentang Hukum Dunia

Membangun Kerajaan Yang Menentang Hukum Dunia

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Isekai / Action / Epik Petualangan
Popularitas:3.2k
Nilai: 5
Nama Author: Katsumi

Kelanjutan Dari Novel Pangeran Sampah Yang Menyembunyikan Kemampuannya.

Di dunia yang terpecah oleh kebencian antar ras, perdamaian hanyalah mimpi yang dianggap mustahil.

Ferisu—mantan pangeran yang diremehkan—kini bangkit sebagai Raja Kerajaan Asterism. Sebuah kerajaan baru yang berani menentang hukum dunia dengan satu gagasan gila: kesetaraan bagi semua ras.

Manusia, elf, beastmen, dwarf, dan ras lainnya hidup di bawah satu panji yang sama.

Namun dunia tidak tinggal diam. Ancaman datang dari segala arah. Pengkhianatan mengintai dari dalam. Dan perang besar yang pernah menghancurkan peradaban perlahan kembali menunjukkan tanda-tandanya.

Mampukah Ferisu mempertahankan mimpinya?
Ataukah Asterism akan menjadi percikan yang membakar dunia dalam perang yang lebih dahsyat?

Sebuah kisah tentang ambisi, persatuan, dan perjuangan melawan takdir dunia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Katsumi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 20 : Mereka Bukan Bandit

Pagi itu suasana di wilayah timur masih tampak tenang.

Di alun-alun kota, manusia dan beastman terlihat bekerja bersama seperti beberapa hari terakhir. Anak-anak berlari di antara tenda, para pedagang membuka lapak kecil, dan aroma sup hangat yang dimasak dari dapur umum masih tersisa di udara.

Semua itu tidak terjadi begitu saja.

Phino dan Lyra berdiri di dekat meja distribusi makanan, memeriksa daftar persediaan.

Phino menyilangkan tangan sambil mengamati karung-karung gandum yang tersisa.

"Ini aneh..." gumamnya pelan.

Lyra yang berdiri di sampingnya menoleh.

"Apa yang aneh?"

Phino menunjuk daftar yang ia pegang.

"Seharusnya konvoi makanan kedua sudah tiba sejak pagi."

Lyra mengerutkan kening.

"Yang dari desa utara?"

Phino mengangguk.

"Iya. Kalau dihitung dari jarak perjalanan... mereka sudah terlambat hampir dua jam."

Lyra terdiam sebentar.

"Kemungkinan mereka hanya terlambat?"

Phino menggeleng pelan.

"Konvoi itu dijaga oleh tiga regu pengawal. Mereka tidak mungkin terlambat tanpa kabar."

Suasana di sekitar mereka masih tampak normal. Namun Phino tahu, jika distribusi makanan gagal hari ini, ketenangan yang selama ini mereka bangun bisa runtuh dengan cepat.

Manusia dan beastman baru saja mulai saling percaya. Satu kesalahan kecil saja bisa memicu kembali ketegangan lama.

Lyra menghela napas panjang.

"Aku akan melaporkannya pada Noa-sama."

Phino mengangguk.

Phino masih berdiri di sana, menatap ke arah jalan utama yang mengarah keluar desa.

Matanya menyipit.

Dalam hatinya muncul firasat buruk.

"Jangan bilang ini disengaja..."

...----------------...

Sementara itu, di sebuah jalan hutan beberapa kilometer dari desa.

Sisa-sisa kereta konvoi terlihat berserakan di tanah. Karung gandum robek. Kotak kayu pecah. Beberapa roda kereta terbalik di sisi jalan.

Tidak ada suara manusia.

Tidak ada suara beastman.

Hanya suara angin yang berhembus melewati pepohonan.

Di antara bayangan hutan, beberapa sosok berdiri diam. Mereka mengenakan jubah hitam. Salah satu dari mereka menendang karung gandum yang sudah terbuka.

Butiran gandum jatuh berserakan ke tanah.

"Hmph. Jadi ini makanan yang mereka gunakan untuk membuat manusia dan beastman hidup damai."

Salah satu pria berjubah tertawa kecil.

"Kedamaian seperti itu memang menjijikkan."

Seorang pria lain berjalan mendekat.

"Perintah kita hanya menghancurkan konvoi."

"Ya, tapi hasilnya cukup menarik."

Ia menatap ke arah desa yang jauh di kejauhan.

"Begitu makanan mereka habis... mereka akan saling mencurigai lagi."

Pria itu tersenyum tipis.

"Tepat seperti yang diinginkan Duke."

Angin kembali berhembus melewati hutan. Butiran gandum yang jatuh ke tanah tertiup perlahan.

Dan tanpa mereka sadari…

Angin hutan berhembus pelan.

Di antara pepohonan tinggi, beberapa sosok bergerak cepat namun nyaris tanpa suara.

Mereka adalah tim penyelidik yang dikirim oleh Lyra.

Tiga beastman dan dua manusia.

Salah satu beastman berlutut di tanah, hidungnya mengendus perlahan.

Ia memiliki telinga serigala dan mata tajam.

"Baunya jelas…" gumamnya.

Salah satu prajurit manusia menatap sekeliling dengan waspada.

"Konvoi?"

Beastman itu menggeleng. "Bukan."

Ia menunjuk ke arah jalan tanah yang sedikit hancur.

"Ini bau darah… dan bau manusia."

Mereka saling bertukar pandang.

Kapten kecil tim itu—seorang beastman bertubuh tinggi dengan tanduk kecil di kepalanya—mengangkat tangan memberi isyarat.

"Maju perlahan."

Mereka berjalan lebih dalam mengikuti jalur konvoi. Tak butuh waktu lama sampai mereka melihatnya. Kereta yang hancur. Karung gandum berserakan. Kotak kayu pecah. Dan tanah yang dipenuhi bekas pertempuran.

Semua orang berhenti.

Ekspresi mereka langsung berubah.

"Sial," gumam salah satu prajurit manusia.

Beastman serigala kembali berlutut. Ia menyentuh tanah yang masih sedikit basah.

"Darahnya masih baru."

Kapten tim mengerutkan kening.

"Berarti serangan terjadi belum lama."

Ia melihat sekeliling.

"Ada mayat?"

Mereka mulai mencari.

Namun anehnya… Tidak ada satu pun tubuh yang ditemukan. Hanya bekas seret di tanah. Bekas kaki. Dan pecahan senjata.

Prajurit manusia itu menggenggam pedangnya lebih erat. "Kenapa tidak ada mayat?"

Beastman serigala berdiri perlahan. Wajahnya terlihat semakin serius. "Karena mereka dibawa."

"Dibawa?"

Ia menunjuk beberapa jejak kaki di tanah.

"Penyerangnya cukup banyak."

Ia menunduk lagi, mengendus udara.

Lalu matanya sedikit menyipit.

"Dan mereka bukan bandit biasa."

Kapten tim langsung menoleh.

"Maksudmu?"

Beastman itu menunjuk ke satu arah di tanah. Ada bekas sepatu yang berbeda. Lebih rapi. Lebih berat. Seperti sepatu militer.

"Bau besi dan minyak senjata."

Ia mengangkat wajahnya.

"Ini bukan jejak dari bandit, seperti jejak dari sepatu kesatria."

Semua orang langsung terdiam.

Jika ini kesatria… Berarti serangan ini bukan perampokan biasa.

Kapten tim mengepalkan tangan. "Kita harus segera melapor."

Namun tepat saat ia mengatakan itu—

CRACK

Suara ranting patah terdengar dari belakang mereka. Semua orang langsung menoleh. Dari balik pepohonan, beberapa sosok berjubah hitam perlahan muncul.

Satu…

dua…

lima…

delapan orang.

Mereka berjalan keluar dengan tenang, seperti sudah menunggu sejak tadi.

Pria yang berdiri paling depan tersenyum tipis.

"Ah… ternyata penyelidik sudah datang."

Prajurit manusia langsung mengangkat pedangnya.

"Sial… kita disergap!"

Kapten beastman menggeram.

"Kalian siapa?"

Pria berjubah itu tertawa kecil.

"Tidak penting."

Ia menoleh ke arah kereta konvoi yang hancur.

"Kalian sudah melihat sesuatu yang tidak seharusnya kalian lihat."

Tangannya perlahan terangkat.

"Jadi… maaf saja."

Dalam sekejap, aura sihir mulai muncul di sekitar para pria berjubah.

Api.

Angin.

Dan beberapa lingkaran sihir berwarna merah gelap.

Beastman serigala langsung berteriak.

"SEMUA BERSIAP!"

Pertempuran pecah seketika. Api meledak di antara pepohonan.

Salah satu prajurit manusia terlempar menghantam batang pohon.

Beastman bertanduk menerjang maju dengan kapak besar.

Namun jumlah mereka terlalu banyak.

Pria berjubah itu bahkan tidak bergerak dari tempatnya. Ia hanya menonton dengan santai.

"Sayang sekali."

Salah satu penyelidik jatuh ke tanah. Luka di dadanya cukup dalam. Napasnya mulai melemah.

Pria berjubah itu berjalan mendekat. "Kerja bagus datang sampai sini."

Ia mengangkat tangannya. Lingkaran sihir merah mulai terbentuk di telapak tangannya. "Sayangnya… kalian tidak akan pulang."

Namun tepat sebelum ia melepaskan sihir itu—

WHOOSH

Sebuah panah es melesat dari kejauhan.

CRASH!

Panah itu menghancurkan lingkaran sihir di tangannya.

Pria berjubah itu terkejut dan mundur satu langkah. Semua orang langsung menoleh ke arah hutan.

Dari balik pepohonan… seorang gadis perlahan berjalan keluar. Rambut panjang berwarna silver. Udara di sekitarnya terasa dingin. Dan lingkaran sihir transparan melayang di belakangnya.

Itu adalah roh kontraknya.

Gadis itu menatap para pria berjubah dengan ekspresi kesal.

"Sepertinya aku datang tepat waktu."

Kapten beastman terbelalak. "Erica-sama!?"

Erica menurunkan tangannya perlahan. Matanya dingin.

"Maaf terlambat."

Udara di sekelilingnya mulai membeku perlahan. Es menjalar di tanah. Dan senyumnya tipis namun tajam.

"Tapi sekarang…"

Lingkaran sihir roh kontraknya mulai bersinar. "Kalian tidak akan pergi kemana-mana."

Para pria berjubah langsung berubah tegang. Salah satu dari mereka berbisik pelan.

"Tunggu… gadis itu…"

Pria pemimpin mereka menyipitkan mata.

"Dia pengendali roh!?"

Untuk pertama kalinya, ekspresi santai mereka menghilang.

Sementara Erica perlahan mengaktifkan sihir esnya.

Es merambat pelan di tanah, menjalar dari kaki Erica seperti embun beku yang hidup. Udara hutan yang sebelumnya hangat berubah dingin dalam hitungan detik. Nafas para prajurit terlihat di udara.

Pria berjubah yang tadi santai kini menatap Erica dengan mata menyipit.

Di belakang Erica, lingkaran roh transparan berputar perlahan. Sosok roh yang memiliki bentuk seperti serigala, Fenrir, muncul dan berdiri di sisi Erica.

Erica memiringkan kepalanya sedikit. “Kalian cukup berisik,” katanya ringan. “Aku bisa mendengar ledakan sihir kalian dari cukup jauh.”

Kapten beastman masih terengah, namun wajahnya kini terlihat jauh lebih lega. “Erica-sama… kami tidak menyangka Anda—”

“Bicaranya nanti saja,” potong Erica santai.

Matanya kembali tertuju pada pria berjubah di depan.

“Kalian menyerang konvoi bantuan, menyerang penyelidik, dan mencoba membunuh mereka.”

Ia mengangkat satu tangan. Kabut es mulai berputar di sekitarnya. “Biasanya aku bukan orang yang suka ikut campur urusan politik.”

Senyumnya muncul tipis. “Tapi hari ini aku sedang dalam suasana hati yang buruk.”

Salah satu pria berjubah mendecih. “Jangan tertipu. Dia cuma satu orang.”

Lingkaran sihir merah muncul lagi di sekitar mereka.

Api mulai berkobar di telapak tangan beberapa orang.

“Serang.”

Perintah itu keluar pelan—namun cukup.

Tiga lingkaran sihir langsung menyala.

Bola api melesat.

WHOOSH!

Namun sebelum api itu mendekat—

CRACK!

Dinding es muncul dari tanah seperti tombak yang tumbuh tiba-tiba. Api menghantam dinding es dan meledak menjadi percikan kecil.

Erica bahkan tidak bergerak dari tempatnya.

Ia hanya menatap mereka dengan ekspresi datar.

“Serius?” gumamnya.

Salah satu pria berjubah mencoba menyerang dari samping. Ia bergerak cepat dengan belati di tangannya.

Namun begitu ia melompat—

SHRRT!

Es tiba-tiba mencengkeram tanah di bawah kakinya.

Kakinya terpeleset.

Detik berikutnya—

BAM!

Ia menghantam tanah keras. Salah satu beastman menatap dengan mata melebar.

“Dia bahkan tidak membaca mantra…”

Erica menghela napas kecil. “Fenrir tidak terlalu suka orang yang membuat keributan di hutan.”

Ia menjentikkan jarinya.

CRACK—CRACK—CRACK!

Puluhan tombak es muncul dari tanah dan melesat ke arah para pria berjubah.

Mereka langsung meloncat menghindar.

Namun satu orang terlambat.

SHRK!

Tombak es menembus bahunya dan memaku tubuhnya ke batang pohon.

Jeritannya memecah udara.

Ekspresi santai kelompok itu benar-benar hilang sekarang.

Pemimpin mereka menggertakkan gigi.

“Serang bersamaan!”

Delapan lingkaran sihir menyala sekaligus.

Api. Angin. Petir kecil.

Sihir ditembakkan bersamaan. Hutan seketika dipenuhi cahaya. Namun Erica hanya mengangkat tangannya perlahan.

“Freeze.” Suara itu lembut. Tapi saat kata itu keluar—

WHOOM!

Gelombang dingin menyapu area itu seperti badai.

Api padam.

Angin membeku di udara.

Bahkan tanah di sekitar mereka berubah putih.

Para pria berjubah berhenti bergerak.

Kaki mereka tertanam di es. Beberapa bahkan mulai menggigil.

Erica berjalan maju pelan. Sepatunya menginjak es yang retak halus.

CRK… CRK…

Ia berhenti beberapa langkah dari pemimpin mereka. “Kalian terlalu lemah untuk jadi bandit.”

Matanya menyipit sedikit.

“Dan terlalu terlatih untuk jadi rakyat biasa.”

Pemimpin itu tidak menjawab. Namun keringat mulai mengalir di pelipisnya.

Erica menatapnya lama. Lalu matanya bergerak ke arah sepatu mereka. Sepatu militer. Persis seperti yang ditemukan penyelidik tadi.

“Hm.”

Ia memiringkan kepalanya sedikit.

“Jadi benar.”

Salah satu pria berjubah mencoba melepaskan sihir lagi. Namun sebelum lingkaran sihirnya selesai—

CRASH!

Balok es jatuh dari atas pohon dan menghantamnya ke tanah.

Erica menghela napas lagi. “Berisik sekali…”

Kapten beastman berjalan mendekat sambil menahan luka di bahunya. “Erica-sama… mereka mungkin terkait dengan wilayah timur.”

Erica melirik konvoi yang hancur.

Karung gandum.

Kotak suplai.

Jejak pertempuran.

Dan mayat yang tidak ada.

Ia menyipitkan mata. “Mereka sengaja membawa korban pergi…”

Ia kembali menatap pemimpin mereka. “Kalian ingin cerita ini terlihat seperti apa?”

Pria itu tidak menjawab. Namun senyum tipis muncul di wajahnya.

Erica melihatnya. Dan itu cukup untuk membuatnya curiga.

“Menarik.” Ia menjentikkan jari lagi. Es mengikat tangan para pria berjubah itu lebih erat.

“Sepertinya Ferisu akan sangat ingin berbicara dengan kalian.”

Kapten beastman mengangguk. “Kita akan membawa mereka ke—”

Namun kalimatnya berhenti.

Pemimpin pria berjubah itu tertawa pelan. Meski tubuhnya membeku oleh es.

“Hahaha…”

Erica menatapnya tajam. “Apa yang lucu?”

Pria itu mengangkat wajahnya sedikit. “Sudah terlambat.”

Udara terasa semakin dingin. Erica tidak menyukai nada itu. “Apanya?”

Pria itu menatap ke arah desa yang terbakar. “Permainan sebenarnya… sudah dimulai.”

1
Frando Wijaya
next Thor 😃😆🤩
Frando Wijaya
Scorpio bs evolusi? hmm...gw gk Tau apapun ttg evolusi scorpio
Frando Wijaya
next Thor 😃😆🤩
Frando Wijaya
ah! jd kekuatan kna segel...tpi reliza sebut serangga... pasti dewa dewi ya? yare2 🙄
Frando Wijaya
btw next Thor 😃😆🤩
Frando Wijaya
kli ini kalajengki ya? bner2 deh...
Frando Wijaya
next Thor 😃😆🤩
Frando Wijaya
hmph 🙄....elf jg sama ternyata
Frando Wijaya
btw next Thor 😃😆🤩
Frando Wijaya: iya Thor
total 2 replies
Frando Wijaya
elf td....blg manusia pembawa mslh...tpi kenyataan elf jg sama aja
Frando Wijaya
ekhem! next Thor 😃😆🤩
Frando Wijaya
awal Dr konflik? gw punya firasat yg sgt buruk
Luthfi Afifzaidan
lanjutkan
Luthfi Afifzaidan
up
Luthfi Afifzaidan
lg
Frando Wijaya
btw next Thor 😃😆🤩
Frando Wijaya
boneka Bru? atau robot Bru??
Frando Wijaya
mata 1 raksasa itu apa sih???
K_P
😓
angin kelana
visual keren👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!