NovelToon NovelToon
Cinta Di Balik Kontrak Dosa Dan Pahala

Cinta Di Balik Kontrak Dosa Dan Pahala

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Nikah Kontrak / Kontras Takdir
Popularitas:9.3k
Nilai: 5
Nama Author: najwa aini

Shafiya tidak pernah membayangkan hidupnya akan diputuskan oleh orang-orang yang bahkan tidak mengenalnya.



Satu kejadian membawanya masuk ke lingkaran keluarga Adinata--sebuah dunia di mana keputusan tidak dibuat berdasarkan benar atau salah,
melainkan berdasarkan kepentingan.



Ia hamil. Tanpa suami.
Dan itu cukup untuk menjadikannya bagian dari permainan.



Sagara Deva Adinata tidak mencari cinta. Apalagi ikatan. Ia hanya butuh pewaris
agar posisinya tetap tak tergoyahkan.



Dan Shafiya… adalah variabel yang terlalu berharga untuk dilepaskan.






Di balik kesepakatan yang terlihat seperti solusi,
tersimpan kendali, tekanan, dan rahasia yang tidak pernah benar-benar dijelaskan.




Karena di dunia mereka,
yang dipertaruhkan bukan hanya perasaan--melainkan batas antara dosa… dan pahala.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon najwa aini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26. Pengadilan Butuh Fakta Bukan Cerita

Rencananya, Shafiya hendak menemui Sagara di ruang makan, ketika pembicaraan itu tertangkap dengan jelas di pendengaran.

“Semua data medisnya harus masuk malam ini.”

Langkah Shafiya terhenti mendengar suara Sagara itu.

“Lengkap. Tanpa celah.” Masih suara Sagara yang terdengar.

“Itu butuh waktu,” suara Raka terdengar menahan.

“Aku tidak punya waktu, Raka."

Hening sejenak.

“Sidang keluarga dimajukan. Besok pagi.”

Shafiya mengerutkan kening.

“Kalau ada yang kurang?” tanya Raka.

“Lengkapi.” perintah Sagara tegas.

“Kalau tidak bisa dilengkapi?”

Sagara tidak langsung menjawab.

“Buat.”

“Dan status anak itu?” Raka kembali bertanya.

“Itu anakku. Di semua dokumen."

Jawaban Sagara datar. Tanpa jeda.

Shafiya membeku di tempatnya.

“Terkait prosesnya,” lanjut Sagara, “lanjutkan penyelidikan.”

“Untuk apa melanjutkan penyelidikan tentang siapa anak itu, kalau keputusanmu sudah jelas, Sagara?"

“Bukan untukku," sahut Sagara cepat.

"Sudah aku bilang kemarin, itu untuk Elara."

Shafiya maju. "Kali ini saya tidak ingin terlibat." Tatapannya berpindah dari Sagara ke Raka.

"Dalam kebohongan."

"Kamu sudah ada di dalamnya."

Sagara berucap datar. Tak menampakkan keterkejutan.

Raka memilih diam.

Shafiya menggeleng. "Saya tidak ingin melanjutkan."

"Kamu tidak punya pilihan, Elara."

"Saya punya." Shafiya maju satu langkah.

"Saya yang berhak atas anak ini." Tatapannya tidak goyah. "Kamu boleh mengakuinya. Tapi tidak boleh mengklaimnya sebagai milikmu."

Jeda sejenak.

"Itu mengaburkan nasab. Dan itu dilarang."

Sagara menatapnya, tetap datar.

“Saya tidak sedang meminta izin.”

“Dan saya tidak sedang memberi persetujuan.” Shafiya menjawab sama kokohnya.

Sagara berdiri. Pelan. Tanpa terdengar suara kursi bergeser.

“persetujuanmu tidak diperlukan.”

Satu langkah ia mendekat.

"Saya sudah memutuskan."

Tatapannya lurus.

“Kamu bisa menolak. Tapi Itu tidak mengubah apa pun.”

"Baik." Shafiya menarik napas sejenak.

"Saya akan ceritakan yang sebenarnya." Itu bukan ancaman. Tapi tekad. "Besok, dalam sidang keluarga Adinata."

"Kamu berani?" Sagara menatapnya tajam.

"Saya tunggu." Jeda sejenak, tanpa menurunkan tatapan.

"Mungkin kamu belum tau. Pengadilan itu butuh fakta. Bukan cerita."

Shafiya terdiam. Tatapannya mulai goyah.

"Siapa yang akan mempercayaimu hamil tanpa disentuh laki-laki, Elara."

Ucapan Sagara menyentuh titik rapuh Shafiya paling dalam. Hatinya diserang perih. Kakinya goyah. Ia mundur satu langkah. Tak hanya itu, perutnya kemudian diserang nyeri. Datang mendadak. Kuat. Hampir tak tertahan.

Shafiya mundur hendak berlalu.

"Nona Shafiya." Raka menahan. Ia paham perubahan ekspresi Shafiya.

Raka berdiri. Mendekat. "Duduk dulu. Saya

Lihat."

Shafiya menggeleng. "Saya tidak apa-apa."

Sagara pun melihatnya. Wajah Shafiya yang tiba-tiba pucat. Ia mendekat.

Shafiya mengambil langkah. Namun, kekuatan itu seakan hilang. Tubuhnya limbung.

Sagara reflek menahan.

Shafiya ingin menolak bantuan itu. Tapi nyeri menyerang kian dalam. Napasnya bahkan memburu karena menahan.

Sagara mengangkat tubuh itu tanpa kata. Cepat. Dan membawanya keluar dari ruang makan.

"Periksa dia, Raka."

Raka mengikuti. Langkah mereka menuju ke ruang kerja Sagara.

Asisten membukakan pintu dengan cepat.

Sagara langsung meletakkan Shafiya di sofa.

“Periksa.”

Raka tidak banyak bicara.

Tangannya sudah bergerak.

Nadi. Tekanan. Reaksi nyeri.

“Tarik napas," perintahnya tanpa menekan.

Shafiya menurut.

Pelan. Tertahan.

Raka mengamati beberapa detik.

Lalu mundur setengah langkah.

“Tidak ada tanda bahaya.”

Sagara menatapnya.

“Lalu?"

“Nyeri dipicu kontraksi ringan.”

Hening sejenak.

“Biasanya muncul karena kelelahan… atau tekanan.”

Tatapan Raka beralih sebentar ke Sagara.

Singkat. Tapi cukup jelas.

“ Emosinya sedang tidak stabil.”

Shafiya memejamkan mata sejenak.

Napasnya masih belum sepenuhnya teratur.

“Dalam kondisi seperti ini,” lanjut Raka, “pasien butuh tenang. Bukan tekanan tambahan.”

Sagara diam. Ia tahu betul ketegangan barusan adalah penyumbang nyeri itu datang. Tatapannya berlabuh ke Shafiya. Sebentar.

"Dan sepertinya--" Raka menjeda sejenak ucapannya.

"Apa?"

"Anak itu bereaksi lebih cepat." Raka menatap Sagara.

Sagara tak bereaksi. Keterangan itu belum sepenuhnya sampai.

"Ia seperti tidak terima dengan pertengkaran ayah dan ibunya."

🥀🥀🥀

Hai kakak² tercinta.

Mohon maaf lahir dan batin ya Semuanya.

Segini dulu bab nya. Saya nyuri² waktu buat bisa up. Maaf banget...Udah beberapa hari gak hadir. Semoga ada waktu lagi nanti untuk lanjut..

1
Deuis Lina
Sagara mulai goyah karena perkataan safiya ada benarnya,
Ayuwidia
Mungkin dengan mendatangkan Shafiya, inilah cara Sagara mencari apa yang masih samar.
Ayuwidia
Betul sekali, Shafiya. Doa itu senjata, bahkan kedahsyatannya melebihi Sajam atau taktik. Tak ada yang tidak mungkin terjadi, jika Dia sudah berkehendak
Ayuwidia
Takdir yang membawa Shafiya ke dalam rengkuhan Sagara.

Alhamdulillah, final baca bab-bab yg tertinggal. Lanjut, Kak Naj. Sambil ngopi & nongkrong ☕
Ayuwidia
Di manapun, perebutan takhta itu mengerikan. Segala cara dihalalkan, bahkan bisa sampai saling melenyapkan.
Ayuwidia
Keputusan Ravendra yang terlalu terburu-buru saat ini, mungkin kelak akan menjadi bumerang, boom waktu yang akan meluluh lantakkan nya.

Keren, Kak Naj...
Ayuwidia
Bagussss, Sagara. Serang terus si Ravendra 😎
Ayuwidia
Nah, ini yang aku tunggu, Sagara 😍
Ayuwidia
Aku berharap, Sagara menampar Pandu dan Ravendra dengan ucapannya yang tenang, namun tajam menghujam.
Ayuwidia
Aku setuju dengan ucapan Raka. Jadi, jangan lagi bertengkar. Bicara dengan kata-kata yang adem, meski pasti sulit bagi Sagara yang kaku 😄
Ayuwidia
Aku berharap dan meyakini, janin yang dikandung Shafiya milik Sagara 😉
Deuis Lina
lanjut makin seru
Deuis Lina
lanjuut,,kenapa masih sepi padahal seru
Deuis Lina
lanjuut kak naj
Deuis Lina
sama2 kak mohon maaf lahir batin juga,,,
Deuis Lina
pasti tertukar ,,,
Afsa
apa mungkin suntikan sblm menikah/vaksin punya Shafiya tertukar dgn suntikan bayi tabungnya ya😃
Deuis Lina
nah kan itu benihnya Sagara d suntikan ke safiya
Deuis Lina
masih teka teki siapakah ayah bayi itu,,,
Ayuwidia
Nah ini, jangan2 benih Sagara justru disuntikan ke Shafiya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!