mengisahkan
Arsya Wiraguna,seorang arsitek sukses dengan masa lalu kelam ,
dan Klara asmara dengan seorang desainer periang yang membawa luka masa kecil
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KEONG_BALAP, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30: Generasi Penerus
Jakarta kembali diguyur hujan hampir setiap sore. Tapi di rumah Menteng, tidak ada yang berubah—hangat, ramai, dan penuh cinta. Dua tahun telah berlalu sejak kehadiran Kiki, dan keluarga ini semakin besar, semakin kuat.
Pagi itu, Rara—kini 11 tahun—duduk di kamarnya, menyelesaikan lukisan terbarunya. Ia sudah mengikuti kursus lukis selama setahun, dan bakatnya semakin terasah. Lukisannya kali ini berbeda: bukan pemandangan, bukan potret keluarga, tapi seorang wanita muda dengan rambut panjang, tersenyum lembut di bawah pohon beringin.
"Ma, lihat!" panggilnya.
Kalara masuk, menatap lukisan itu. "Wah, bagus. Ini siapa?"
"Ini Nenek Rarasati. Rara gambar dari foto yang dulu."
Kalara terharu. "Kamu gambar nenek?"
"Iya. Rara belum pernah lihat Nenek langsung, tapi Rara ingin kenal beliau lewat lukisan."
Kalara memeluk putrinya. "Nenek pasti bangga."
Di ruang keluarga, Melati—kini 7 tahun—sedang berlatih tari dengan diiringi musik dari ponsel. Ia sudah mengikuti sanggar tari setahun terakhir, dan gurunya mengatakan ia berbakat. Gerakannya semakin luwes, ekspresinya semakin matang.
"Asmara, lihat Kakak nari!" panggilnya pada adiknya.
Asmara—kini 3,5 tahun—berlari mendekat. Ia duduk bersila, menonton dengan serius. Setelah Melati selesai, ia bertepuk tangan.
"Kak, bagus! Asmara mau juga!"
"Mau belajar nari?"
"Mau! Tapi Asmara mau nari kayak Kakak, bukan kayak Kiki."
Kiki—kini 2 tahun—yang mendengar namanya disebut, langsung merangkak mendekat. "Kiki mau! Kiki mau!"
Semua tertawa. Kiki memang paling suka ikut-ikutan.
Di dapur, Lastri dan Nadia sibuk menyiapkan sarapan. Lastri semakin percaya diri dengan usaha kateringnya. Pesanan terus berdatangan, bahkan mulai dari luar kompleks. Tiga orang tetangga dibantunya untuk memasak dan mengantar.
"Nad, nanti siang ada pesanan nasi kotak 100. Bisa bantu?"
"Bisa, Tante. Nanti Kiki tidur siang, saya bantu."
Eyang Kusuma duduk di kursi dekat jendela dapur, menikmati secangkir teh. Usianya kini 82 tahun, tapi kesehatannya cukup baik. Ia masih bisa berjalan pelan, masih bisa bercerita, masih bisa menikmati setiap hari.
"Lastri, masakanmu wangi sekali," pujinya.
"Makasih, Tante. Ini resep turun-temurun, ditambah sedikit modifikasi."
"Eyang dulu juga suka masak. Tapi sekarang sudah tidak bisa."
"Tante, Tante bisa ngasih saran. Itu sudah membantu."
Eyang tersenyum. Lastri memang anak baik. Ia bersyukur keponakannya ini ada di dekatnya.
Arsya dan Raka duduk di beranda belakang, diskusi ringan tentang bisnis. Arsya semakin sukses dengan biro arsiteknya. Raka sudah membuka tiga cabang kafe, dan sedang mempertimbangkan cabang keempat.
"Lo pikir, buka cabang di Kelapa Gading?" tanya Raka.
"Bagus tuh. Daerah ramai, banyak anak muda."
"Iya, tapi sewa mahal."
"Ya namanya investasi. Hitung matang-matang."
Raka mengangguk. "Lo sendiri gimana? Ada proyek baru?"
"Ada, hotel di Ubud. Lagi proses desain."
"Wah, mantap."
Mereka menikmati kopi pagi. Hubungan kakak ipar ini semakin akrab, seperti saudara kandung.
Sore harinya, hujan turun deras. Anak-anak berkumpul di ruang keluarga. Rara membaca buku, Melati mewarnai, Asmara main balok, Kiki merangkak ke sana kemari.
Eyang Kusuma duduk di kursi malasnya, ditemani Lastri yang sedang menjahit. Sesekali Eyang bercerita tentang masa lalu, tentang Rarasati dan Asmara kecil.
"Dulu, waktu Rarasati kecil, dia juga suka main balok kayak Asmara," kenang Eyang. "Tapi baloknya dari kayu sungguhan, bukan plastik."
Asmara menoleh. "Nenek suka main balok?"
"Iya, Nak. Nenekmu suka sekali. Dia selalu bangun istana-istana."
Asmara tersenyum. "Asmara juga bangun istana. Ini!" Ia menunjukkan bangunan balok yang tidak beraturan.
Eyang tertawa. "Istana yang indah."
Kiki merangkak mendekati bangunan itu, lalu dengan satu gerakan tangan, ia merobohkannya.
"Kiki!" teriak Asmara. "Kenapa sih?"
Kiki tertawa, mengira itu permainan.
Asmara cemberut, tapi lalu ikut tertawa. "Ya udah, kita bangun lagi."
Mereka berdua mulai menyusun balok lagi. Kiki "membantu" dengan cara mengambil balok dan memberikannya pada Asmara. Kerja sama yang lucu.
Rara dan Melati meninggalkan kegiatan mereka, ikut menonton.
"Lucu banget mereka," kata Melati.
"Iya. Asmara jadi kakak yang baik."
"Kayak Rara?"
Rara tersenyum. "Iya, kayak Rara."
Mereka berpelukan.
Malam harinya, saat makan malam, Rara tiba-tiba berkata, "Ma, Ayah, Rara mau ngomong sesuatu."
Semua diam, menatap Rara.
"Rara ikut lomba lukis nasional bulan depan. Di Bali."
Kalara terkejut. "Bali? Lomba apa?"
"Lomba lukis anak-anak se-Indonesia. Rara dapat undangan dari guru les."
Raka bangga. "Wah, hebat! Kamu mau ikut?"
"Mau, Ayah. Tapi Rara agak takut."
"Takut kenapa?" tanya Arsya.
"Takut nggak menang. Takut nggak sebagus anak-anak lain."
Eyang Kusuma memanggil, "Sini, Nak."
Rara mendekat. Eyang memegang kedua tangannya.
"Dengar, Nak. Menang atau kalah itu bukan yang terpenting. Yang terpenting, kamu sudah berani mencoba. Kamu sudah melakukan yang terbaik. Nenekmu Rarasati dulu juga sering ikut lomba. Kadang menang, kadang kalah. Tapi dia tidak pernah berhenti melukis."
Rara menatap Eyang. "Beneran, Eyang?"
"Beneran. Dan lihat sekarang, kamu mewarisi bakatnya. Itu sudah lebih dari cukup."
Rara memeluk Eyang. "Makasih, Eyang."
Arsya menambahkan, "Om dan Tante Nad juga akan dukung kamu. Nanti kita semua ke Bali."
"Semua?" Rara terkejut.
"Iya. Liburan keluarga sekaligus nemenin Rara lomba."
Rara melompat senang. "Yess! Makasih, Om!"
Melati protes. "Melati ikut!"
Asmara ikut, "Asmara ikut!"
Kiki mengangkat tangan, "Kiki ikut!"
Semua tertawa. Liburan keluarga besar mulai direncanakan.
Seminggu kemudian, mereka berangkat ke Bali. Dua mobil penuh. Raka dan Kalara di mobil pertama dengan Rara, Melati, dan Asmara. Arsya di mobil kedua dengan Nadia, Kiki, Eyang Kusuma, dan Lastri.
Perjalanan darat ke Bali terasa panjang, tapi mereka menikmatinya. Berhenti di restoran, foto-foto di tempat wisata, dan tentu saja, nyanyi-nyanyi di mobil.
Asmara paling heboh. Ia tidak bisa diam, terus bertanya, "Udah sampai? Udah sampai?"
"Belum, Nak. Masih jauh."
"Kok jauh sih?"
"Karena Bali jauh."
Asmara menghela napas dramatis. "Capek."
Semua tertawa.
Kiki tidur sepanjang perjalanan. Ia paling mudah diurus—asalkan kenyang, ia tidur.
Eyang Kusuma menikmati perjalanan. "Dulu, waktu muda, Eyang ke Bali naik kapal. Sehari semalam. Sekarang cuma beberapa jam."
"Iya, Tante. Zaman sudah maju," sahut Lastri.
Mereka tiba di hotel sore harinya. Hotel di kawasan Sanur, dengan pemandangan pantai. Rara dan Melati langsung lari ke pantai meskipun belum ganti baju.
"Nanti dulu!" teriak Kalara. "Ganti baju dulu!"
Tapi mereka sudah hilang di kejauhan.
Asmara ikut ingin lari, tapi ditahan Raka. "Kamu sama Ayah dulu. Nanti kita nyusul."
Asmara cemberut, tapi menurut.
Kiki digendong Nadia, menatap laut dengan mata takjub. Ini pertama kalinya ia melihat laut.
"Ai... ai..." tunjuknya.
"Iya, Nak. Itu laut."
"Ai... besar."
"Besar sekali."
Mereka menikmati sore di pantai. Rara dan Melati bermain air, Asmara dibantu Raka membuat istana pasir, Kiki digendong Arsya berjalan di pinggir pantai. Eyang Kusuma duduk di kursi yang disediakan hotel, ditemani Lastri, menikmati angin laut.
"Ini indah," bisik Eyang. "Lihat mereka, Lastri. Cicit-cicitku bermain bahagia."
"Iya, Tante. Berkat Tante, mereka bisa seperti ini."
"Berkat kita semua. Berkat cinta."
Malam harinya, mereka makan malam di restoran seafood. Rara dan Melati paling lahap—mereka suka udang dan cumi. Asmara sibuk dengan ikannya, berantakan tapi senang. Kiki diberi bubur oleh Nadia.
"Besok lomba Rara," kata Kalara. "Kamu sudah siap?"
"Sudah, Ma. Rara sudah bawa semua peralatan."
"Jangan grogi, ya."
"Insya Allah."
Arsya menambahkan, "Ingat pesan Eyang. Menang kalah itu biasa. Yang penting kamu sudah berusaha."
Rara mengangguk. "Iya, Om."
Hari lomba tiba. Rara tampak tegang saat tiba di lokasi—sebuah gedung seni di pusat kota Denpasar. Puluhan anak seusianya berkumpul, masing-masing dengan peralatan lengkap.
"Kamu bisa, Nak," bisik Kalara. "Mama doain."
"Ayah juga doain," tambah Raka.
Rara menghela napas. "Rara masuk, ya."
Ia bergabung dengan peserta lain. Orang tua menunggu di luar.
Dua jam kemudian, Rara keluar dengan wajah lelah tapi puas.
"Gimana?" tanya Kalara.
"Lumayan. Rara gambar keluarga lagi. Tema 'Kebahagiaanku'."
"Kamu gambar apa?"
"Gambar kita semua di pantai kemarin. Eyang, Tante Lastri, semuanya."
Eyang tersenyum. "Pasti bagus."
Pengumuman pemenang dilakukan sore harinya. Rara duduk tegang di antara keluarganya. Satu per satu nama disebut. Juara harapan, juara ketiga, juara kedua...
Dan saat juara pertama disebut, nama itu adalah...
"Rarasati Asmara dari Jakarta!"
Rara tertegun. Ia tidak percaya.
"Rara!" teriak Melati. "Rara menang!"
Rara melompat, berlari ke panggung. Ia menerima piala dan piagam, matanya berkaca-kaca. Dari atas panggung, ia melihat keluarganya bertepuk tangan, menangis, tertawa.
"Ini untuk keluargaku," bisiknya ke mikrofon. "Kalian adalah kebahagiaanku."
Tepuk tangan makin riuh.
Malam harinya, mereka merayakan di hotel. Kue dipesan khusus, bertuliskan "Selamat Rara". Asmara dan Kiki paling senang karena boleh makan kue sepuasnya.
"Kak Rara hebat!" puji Asmara.
"Kakak hebat!" tiru Kiki.
Rara memeluk mereka berdua. "Makasih, Dek. Kalian juga hebat."
Eyang Kusuma memanggil Rara. "Sini, Nak."
Rara duduk di samping Eyang.
"Eyang bangga sama kamu. Nenekmu Rarasati pasti juga bangga."
"Makasih, Eyang."
"Eyang titip pesan, ya."
"Apa, Eyang?"
"Teruslah melukis. Tapi jangan lupa, yang paling penting bukan piala atau piagam. Yang paling penting adalah hatimu. Lukis dengan hati, seperti yang sudah kamu lakukan."
Rara mengangguk. "Rara janji, Eyang."
Malam itu, mereka duduk bersama hingga larut. Cerita tentang masa depan, tentang mimpi-mimpi. Rara ingin jadi pelukis terkenal. Melati ingin jadi penari. Asmara bingung, akhirnya bilang mau jadi "kakak yang baik". Kiki belum bisa bicara, tapi semua yakin ia akan jadi sesuatu yang hebat.
Dua hari kemudian, mereka kembali ke Jakarta. Perjalanan pulang terasa lebih cepat—mungkin karena semua bahagia. Rara memegang pialanya erat, sesekali menatapnya dengan senyum.
Sesampainya di rumah Menteng, mereka disambut Pak Willem yang sudah menunggu.
"Selamat, Rara!" sambutnya. "Saya dengar kamu juara!"
"Makasih, Pak Willem!"
Pak Willem membawa hadiah—satu set cat lukis profesional. "Ini untuk pelukis cilik kita."
Rara terharu. "Makasih, Pak. Rara sayang Pak Willem."
Pak Willem memeluknya. "Saya juga sayang kamu."
Malam harinya, mereka berkumpul di ruang keluarga. Foto-foto liburan dipajang, cerita-cerita dibagikan. Piala Rara diletakkan di rak paling atas, di samping foto Rarasati dan Asmara.
Eyang Kusuma menatap semua itu dengan puas. "Lihat, Lastri. Keluarga kita makin besar, makin bahagia."
"Iya, Tante. Berkat Tante juga."
"Berkat kita semua."
Asmara tiba-tiba bertanya, "Eyang, nanti kalau Asmara besar, Asmara jadi apa?"
Eyang tersenyum. "Kamu bisa jadi apa saja, Nak. Asal kamu baik hati, seperti sekarang."
Asmara mengangguk. "Asmara mau jadi kayak Eyang. Baik hati."
Eyang terharu. Ia memeluk cicitnya.
Kiki merangkak mendekat, ikut memeluk. Lalu Rara dan Melati ikut bergabung. Terbentuklah pelukan keluarga besar di ruang keluarga.
Arsya dan Nadia, Kalara dan Raka, Lastri dan Eyang, serta keempat anak—semua dalam satu pelukan.
Rumah Menteng bernyanyi.
Bernyanyi dengan suara cinta.
Bernyanyi dengan suara generasi penerus.
Bernyanyi dengan suara harapan yang tak pernah padam.
Selamanya.
Bersambung..