Seorang wanita yang hidup mewah pada masa 2030 dengan berbagai teknologi pintar berkembang pesat. Wanita itu adalah Ria yang dijuluki seoang pembisnis dan desainer terkenal. Banyak orang iri dengan dirinya. Di saat mendapatka penghargaan desainer terbaik terjadi sebuah kecelakaan menyebabka Ria tewas ditempat. Tapi saat dia bangun dia melihat lingkungan berbeda. Tepat di depan ada sebuah kalender lama pada tahun 1997 bulan agustus. Ria yang tidak percaya segera keluar dari ruangannya melihat pemandangan yang asing dan belum berkembang berbeda dengan dia lahir sebelumnya. Ria binggung menatap ke segala arah hingga datang ibunya bernama Ratri. Dia memanggil nama Valeria kenapa kamu diam saja sini bantu ibu memasak. Ria menoleh dengan wajah binggung hingga Ratri datang memukul kepala Valaria. Ria merasakan sakit tidak percaya kalau dia merasa sakit. Valaria bertanya ini dimana. Ratri binggung membawa Valaria ke dalam aku ibumu. Kamu ini lupa atau hanya tidak mau membantu saja. penasaran.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Herwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Fajar digerbang Hijau 20
Dua hari telah berlalu sejak badai keputusasaan menerjang rumah Paman Baskoro. Suasana desa masih diselimuti awan kecemasan, tetapi semangat untuk membantu Jaya tetap membara. Valaria, dengan tekad yang keras kepala, merasa tak cukup hanya menunggu.
"Aku harus berbuat sesuatu, Bu. Dua minggu itu terlalu cepat," katanya pada Ratri, ekspresi di wajahnya tegas, tanpa ada keraguan.
"Tapi Nak, mencari uang di waktu sesingkat ini... itu tidak mungkin," sahut Ratri, suaranya lemah.
Valaria tahu dia tidak bisa menghasilkan uang sebesar yang diminta para preman itu sendirian, tetapi setiap rupiah dari hasil mencari tanaman liar atau berburu di hutan akan sangat berarti.
Awalnya, Arjun melarang keras. "Valaria! Kau mau masuk hutan paling dalam? Itu terlalu berbahaya! Kita cari cara lain!"
"Tidak, ayah. Aku tahu hutan di sini. Aku bisa mencari akar-akaran langka atau buah yang bisa dijual di pasar kota. Aku harus! Aku tidak bisa melihat Ayah dan Ibu terus bersedih," balas Valaria, matanya memancarkan api semangat yang tak bisa dibantah.
Tiba-tiba, dari balik pintu, muncul Eko. Bocah lelaki itu, yang biasanya pemalu, kini berdiri tegak.
"Aku ikut, Kak Valaria!" seru Eko lantang. "Aku ikut. Biar aku bantu Kakak. Aku juga harus bantu Ayah dan kak Jaya."
Melihat keseriusan dan ketulusan di mata kedua remaja itu, hati Arjun melunak. Ia menatap Ratri, yang hanya mengangguk pelan, memahami bahwa menahan mereka hanya akan menambah beban emosi.
"Baiklah. Kalian boleh pergi. Tapi janji, hanya dua hari. Jangan masuk terlalu dalam, dan kalian harus saling menjaga," kata Arjun akhirnya, nadanya penuh kekhawatiran yang tersembunyi.
Pagi buta, ketika kabut tipis masih menyelimuti lembah, Valaria dan Eko sudah siap. Valaria mengenakan kemeja lusuh dan celana panjang tebal, sementara di punggungnya tergantung tas ransel bambu yang kokoh. Eko membawa tas serupa, sedikit lebih kecil, dengan sebilah parang kecil milik ayahnya diselipkan di pinggang.
"Siap, Eko?" tanya Valaria, berbisik.
Eko mengangguk mantap, wajahnya sedikit tegang namun penuh keberanian. "Siap, Kak!"
Mereka berdua berjalan kaki, melewati jalan setapak yang licin dan berkelok-kelok menuju tepian hutan yang lebat. Semakin dalam mereka melangkah, suara kehidupan desa semakin jauh, digantikan oleh simfoni alam: desingan serangga, kicauan burung yang tersembunyi di rimbunnya dedaunan, dan gemericik air sungai yang mengalir deras.
Hutan itu adalah labirin hijau yang sunyi. Bau lembab dari tanah gambut dan lumut menusuk hidung, bercampur dengan aroma manis bunga hutan yang misterius. Mereka mulai memunguti beberapa jenis tanaman yang dikenal Valaria.
Namun, hasilnya tidak memuaskan. Dalam setengah hari, tas bambu mereka baru terisi seperempatnya, dan sebagian besar adalah tanaman yang harganya tidak seberapa. Rasa lelah mulai menjalari langkah Valaria.
"Aduh, bagaimana ini, Eko? Kalau begini terus, kita tidak akan dapat apa-apa," keluh Valaria, menghela napas panjang.
Mereka memutuskan untuk beristirahat sebentar di bawah kanopi pohon beringin raksasa yang akarnya menjuntai seperti tirai. Saat itulah, setelah melanjutkan perjalanan sebentar lagi, Valaria memutuskan untuk mengambil risiko.
"Eko, kita akan masuk sedikit lebih dalam. Di sana, terkadang ada harta karun yang tidak semua orang tahu," kata Valaria, suaranya bergetar antara ketakutan dan harapan.
Mereka menyusup lebih jauh. Cahaya matahari semakin sulit menembus lebatnya pepohonan, menciptakan suasana remang-remang yang misterius. Tiba-tiba, langkah Valaria terhenti. Matanya terpaku pada sebuah pohon yang berdiri agak menyendiri di antara pepohonan besar lainnya.
Pohon itu, meskipun tidak setinggi pohon hutan lainnya, memiliki bentuk batang yang unik. Wajah Valaria yang tadinya pucat karena kelelahan, kini tiba-tiba bersinar. Senyum merekah di bibirnya senyum tulus pertama yang muncul sejak keributan dua hari lalu.
Ia menunjuk ke arah pohon itu, menjelaskan detailnya pada Eko. Batangnya kokoh, dengan cabang-cabang menyamping, seolah-olah sengaja dibiarkan melebar. Hal yang paling mencolok adalah sifat cauliflory pohon itu. Bunga-bunga kecil berwarna merah muda dan buah-buah lonjong yang menggantung langsung dari batang dan cabang-cabang tua, bukan dari ujung ranting.
Daunnya berbentuk tunggal, hijau tua, tetapi di beberapa ujung ranting, tampak daun muda berwarna cokelat kemerahan yang begitu kontras dengan hijaunya hutan. Dan yang paling penting: Buah.
Valaria menunjuk dengan tangan gemetar. "Lihat, Eko! Buahnya!"
Buah-buah itu berbentuk oval memanjang, dengan alur-alur yang jelas di kulitnya. Beberapa buah masih berwarna hijau, tetapi banyak yang sudah berubah warna. Ada yang kuning terang, ada yang merah pekat, bahkan ada yang jingga menyerupai emas.
Eko melihat wajah cerah kakaknya, bingung. "Kak Valaria, pohon apa itu? Kenapa Kakak senang sekali melihat pohon yang aneh itu?" tanyanya polos.
Valaria menoleh, matanya berkaca-kaca. Perasaan haru, kaget, dan harapan meluap menjadi satu.
"Eko, ini... ini adalah pohon harapan kita! Pohon cokelat! Lihat buah dan biji inilah yang nantinya diolah menjadi cokelat. Cokelat yang mahal itu!" Valaria mendekati pohon itu, mengusap batang kasar tersebut seolah itu adalah benda paling berharga di dunia.
Eko, yang mendengar kata 'cokelat', teringat pada barang yang membuat kakaknya terancam dipenjara. "Cokelat yang harganya... tujuh ribu per bungkus itu, Kak?"
"Ya, Eko! Walaupun cokelat yang kakakmu jaga itu cokelat impor yang sudah jadi, bahan dasarnya sama! Ini biji kakao! Kita bisa mengolahnya, atau setidaknya, kita jual bijinya. Ini bisa membantu!" Valaria berseru penuh semangat.
Tanpa membuang waktu, Valaria dan Eko segera memulai pekerjaan. Mereka memilih buah yang sudah matang yang berwarna kuning cerah dan merah jingga.
"Ingat Eko. Pemanenan harus hati-hati agar tidak merusak pohon," ujar Valaria, mengambil pisau kecil dari tasnya.
Mereka memotong tangkai buah dengan hati-hati. Suara gesekan pisau di kulit buah yang tebal terdengar minor di keheningan hutan. Setelah terkumpul cukup banyak, Valaria menjelaskan langkah selanjutnya.
"Sekarang, kita pecahkan buahnya!"
Mereka menggunakan kayu tebal dan parang kecil Eko untuk membelah kulit buah yang keras. Aroma asam manis langsung menyeruak. Di dalamnya, biji-biji berwarna ungu diselimuti oleh pulp putih yang lengket dan berasa manis.
Eko mencicipi sedikit pulp itu, matanya berbinar. "Manis sekali, Kak!"
"Jangan habiskan, Eko! Pulp ini yang akan difermentasi nanti," Valaria mengingatkan sambil tertawa kecil, rasa gembira membuat lelahnya sejenak hilang.
Mereka memisahkan biji-biji itu dan mengumpulkannya di atas sehelai daun pisang besar yang mereka temukan. Mereka menghabiskan sisa hari itu untuk memanen dan memecahkan buah yang mereka temukan. Totalnya, mereka berhasil mengumpulkan biji kakao yang cukup untuk memenuhi hampir penuh tas ransel bambu Valaria.
Sore menjelang, dan suasana hutan mulai terasa dingin dan semakin gelap. Suara burung hantu mulai terdengar.
"Hari sudah gelap, Eko. Kita harus kembali. Kita sudah dapat banyak. Sekarang, proses yang paling penting," kata Valaria, menatap tumpukan biji di depannya.
Malam itu, mereka berkemah di tepi hutan, tidak jauh dari desa. Mereka membuat api unggun kecil. Sementara Eko beristirahat, Valaria memulai tahapan Fermentasi yang krusial.
Ia menyusun biji-biji kakao yang masih terbungkus pulp di atas lapisan daun pisang. Aroma manis dari pulp itu menarik perhatian serangga malam, tetapi Valaria tak peduli. Ia membungkus tumpukan biji itu rapat-rapat dengan daun pisang lainnya, membentuk bungkusan besar.
"Ini harus ditutup rapat, Eko. Pulp yang manis ini akan difermentasi oleh mikroorganisme alami. Proses ini akan menghasilkan panas, dan inilah yang membuat cokelat memiliki rasa khasnya. Lima sampai delapan hari..." Valaria menjelaskan dengan suara pelan.
Eko mendengarkan dengan serius. "Lalu, apa yang kita lakukan besok, Kak?"
Valaria tersenyum lelah, tetapi matanya bersinar. "Besok kita kembali. Kita jual sedikit tanaman yang kita dapat hari ini di pasar, dan kita akan mulai membuat tempat untuk Pengeringan. Kita akan jemur biji-biji ini di bawah sinar matahari selama seminggu penuh."
Ia menatap bungkusan biji kakao di dekat api unggun. Bungkusan itu tidak hanya berisi biji; itu berisi harapan yang dipanen dari hutan yang sunyi. Harapan untuk melunasi hutang, harapan untuk membersihkan nama ayahnya, dan harapan untuk mengembalikan senyum di wajah keluarganya.
Valaria menutup matanya, membiarkan kehangatan api dan aroma tanah lembab menenangkan hatinya. Beratnya beban yang dipikulnya tidak sebanding dengan semangat yang baru ia temukan. Dengan biji kakao ini, mereka punya senjata baru. Mereka punya jalur baru menuju penyelesaian masalah yang mustahil.
"Tujuh ribu per bungkus? Jika kita berhasil mengolah ini, setidaknya kita bisa menunjukkan pada mereka bahwa kita tidak akan menyerah, Eko," bisiknya pada dirinya sendiri, sebelum tertidur lelap, mimpi-mimpi tentang biji cokelat yang mengering di bawah matahari mulai menghiasi malamnya. Tapi akan tepat waktu, lalu akan Valaria mendapatkan ide cadangan. Jika coklatnya tidak jadi?.