Ini Kisah Essa dan Alex, adik dari Sera dan Darren di novel Godaan Cinta Ibu Susu
~~
Tidak Pernah Menyangka, diusia matangnya Alex, akan menikahi gadis kecil yang selalu membuatnya kesal siapa lagi jika bukan adik ipar bosnya. Karena satu insiden memaksa mereka untuk menikah.
Vanessa tidak mau menikah diusia muda apalagi dengan laki-laki menyebalkan seperti Alex, tapi karena satu insiden memaksanya untuk menerima lamaran itu.
BAGAIMANA KISAH MEREKA YANG TIDAK PERNAH AKUR? AKANKAH BENIH-BENIH CINTA TUMBUH DIANTARANYA?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dini ratna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menginap di Rumah Mertua 2
"Akh!"
Jeritan Essa sampai terdengar ke lantai bawah, mengejutkan semua orang. Sera dan Darren hampir terlonjak begitupun Joko tapi tidak dengan Ane, yang tampak biasa saja. Ane, tetap fokus memasak tanpa memedulikan suara Essa.
"Suara apa itu? Sayang, kenapa dengan Essa?"
"Sudah diam saja," tegurnya kepada sang suami. "Jangan terlalu heboh, namanya juga pengantin baru. Jika ada yang berani masuk ke kamarnya awas saja," ancam Ane memelototi Joko.
Joko langsung diam ketika mendapat tatapan tajam dari istri. Pria itu kembali memasak. Sementara Sera dan Darren tetap diam. Sera melarang suaminya untuk bicara ketika ibunya marah. Hanya dengan gerakan satu telunjuk saja Darren sudah mengerti. Daripada harus ikut campur lebih baik Darren menikmati kue lapis buatan ibu mertuanya, tetapi hatinya tetap penasaran, matanya melirik ke atas mencoba mencari apa yang terjadi dengan Alex dan adik iparnya.
Darren pikir mereka mungkin bertengkar karena hampir setiap hari mereka selalu bertengkar.
Sementara di dalam kamar Alex, sudah pasrah dilempari beberapa barang oleh Essa. Hanya karena melihat tubuh polos istrinya.
Alex tidak sengaja melihatnya ketika Essa berbalik, membuka handuk di depan matanya dalam keadaan tubuh yang hanya mengenakan CD dan br4 hitam. Sontak Essa, langsung menutup kembali handuknya, wajahnya memerah padam, merasa malu didepan Alex.
"Essa, berhenti melempariku. Kamu hanya akan membuat kamarmu berantakan."
Sedetik Essa langsung terdiam. Netranya memindai sekeliling kamar yang nampak kacau. Alex, langsung membuka jasnya, menutupi tubuh polos Essa yang masih mengenakan handuk.
Essa sedikit memundurkan wajahnya ketika Alex mendekat.
"Siapa yang suruh kamu masuk ke kamarku?" Tidak ada kata Om lagi, ketika amarah nya sudah tak terkendali.
Alex membuang nafas kasar lalu berkata, "Ibumu. Ibu mu memintaku untuk mandi aku tidak tahu jika di dalam kamar ada kamu. Lagi pula Essa, kenapa kamu begitu takut padaku? Apa aku ini predator, aku suamimu yang tidak heran jika harus melihat tubuhmu."
Mata Essa langsung membulat, kedua tangannya sigap memeluk badannya. "Jangan macam-macam."
"Aneh juga, seorang suami dilarang macam-macam pada istrinya. Jika kamu tidak ingin aku macam-macam jangan membuka aurat di depanku." Sinis Alex, lalu masuk ke dalam kamar mandi.
Essa, mengumpat kesal. Matanya menatap menuruni sekujur tubuh, yang tampak polos. Segera Essa berjalan ke arah lemari mengambil beberapa atasan dan bawahan yang harus ia pakai sebelum Alex keluar.
Dan benar saja setelah memakai semuanya Alex, sudah keluar dari dalam kamar mandi. Pria itu kembali mengenakan setelan kantornya karena Alex, tidak membawa pakaian ganti.
Alex, tidak melirik sedikit pun kepada Essa yang kini sedang mengeringkan rambut dengan hairdryer nya. Tapi sepasang mata kecil itu mencuri pandang yang terus melirik pria tampan yang terlihat pada pantulan cerminnya, saking fokusnya menatap Alex, Essa tidak sadar jika rambutnya tersedot dan tergulung alat pengering itu.
"Ehh," jerit Essa ketika rambutnya terbawa begitu dalam. Alex yang sedang mengeringkan rambutnya pun terkejut, yang langsung menoleh.
"Om, jangan bengong bantu aku dong!"
Alex, berlari ke arah Essa, mencabut kabel hairdryer hingga alat pengering itu pun berhenti. Dengan pelan Alex, mengeluarkan rambut Essa yang terjebak.
"Akh!"
Saking kencangnya tarikan Alex, Essa mendongak. Netranya menatap dekat wajah tampan Alex, yang masih basah. Rambut acak-acakan menambah kesan menggoda, salivanya naik turun perlahan kala setetes air dari rambut Alex membasahi wajahnya.
Essa tidak bisa mengubah posisinya itu selagi Alex, masih mengeluarkan rambutnya. Namun, momen itu membuat aliran darah Essa seketika terhenti, ia terpana ritme jantungnya mendadak sangat cepat. Nafasnya naik turun dengan hembusan nafas yang saling menerpa.
"Lain kali hati-hati menggunakan ini," ujar Alex setelah melepas rambut-rambut itu dari dalam hairdryer. Matanya seketika membeku ketika bertemu pandang dengan Essa.
Keduanya hanya saling diam. Sebelum akhirnya Essa menarik tubuhnya untuk menjauh.
"Terima kasih," ucapnya demikian. Essa langsung menjauh dari meja riasnya, mengambil sisir untuk merapihkan rambutnya.
Alex, membuang nafas berat yang hendak kembali mengambil handuknya. Tiba-tiba langkahnya terhenti ketika Essa memanggil.
"Kenapa tidak sekalian mengeringkan rambutmu?" tanyanya demikian.
Alex, menoleh dalam diam lalu menatap hairdrayer yang ada di tangannya.
"Tidak perlu, aku bisa menggunakan handuk," jawabnya yang hendak melangkah, tapi langkahnya kembali terhenti karena Essa.
"Biar aku saja," ujar Essa membuat Alex menoleh yang menatapnya heran.
Essa, mendekat, mengambil alat pengering itu lalu mendorong Alex supaya duduk di meja riasnya. Alex, tak bergeming ia menurut saja, membiarkan Essa mengeringkan rambutnya.
Aneh rasanya, Essa mendadak peduli. Saking anehnya Alex, terus memperhatikan Essa pada bayangan cermin. Sedetik bibirnya melengkung menatap ekspresi sang istri.
"Sudah kering, sebentar tunggu dulu di sini." Katanya, yang berjalan ke arah lemari. Hanya dua menit Essa kembali membawa satu setel baju untuk Alex.
"Pakailah ini, ini bajuku yang paling besar pasti muat untukmu."
Alex, tidak banyak bertanya dia langsung mengambilnya dan memakainya.
Ya, detik itu juga Alex langsung membuka kemejanya di depan Essa. Essa langsung membola, seketika punggungnya berbalik menghindari pemandangan yang bisa memompa jantungnya cepat.
Alex, tersenyum miring ia sengaja melakukan itu di depan Essa.
"Sampai kapan Essa, sampai kapan kamu terus menghindar. Kamu harus terbiasa, lagi pula kamu tidak berdosa hanya melihat setengah tubuh t*l*nj*ngku."
"Tidak, aku tidak bisa."
Essa masih memunggungi Alex. Alex, yang sudah siap dengan t-shir panjangnya dan celana.
"Cukup besar." Kata Alex sambil mengibar-ngibar t-shirt oblongnya. "Ini punyamu atau punya mantan pacarmu?"
"Hah!"
Sedetik Essa berbalik, matanya membulat setelah mendengar penuturan kata dari Alex.
"Itu, punyaku memang kenapa? Dan itu memang paling besar, aku tidak suka berpakaian yang ketat. Lagi pula aku tidak pernah membawa pria masuk ke kamarku."
"Oh, berarti kamu pernah membawa pria ke rumahmu?"
"Tidak!"
"Jadi hanya aku?"
"Ya," tegas Essa spontan.
Senyum Alex melengkung, ia merasa senang karena ia satu-satunya pria yang melihat dan masuk langsung ke kamar Essa.
"Eh, jangan macam-macam," tegur Essa ketika langkah Alex semakin mendekat. Alex, terdiam kedua telapak tangannya dimasukkan ke dalam saku. Netranya menatap intens membuat orang yang ditatap menjadi gugup.
Alex, menghela pelan nafasnya. Tubuhnya sedikit tegak ketika aliran nafas naik turun.Ia masih menatap Essa, dengan tatapan yang berbeda dan penuh cinta. Sedetik langkahnya maju selangkah membuat punggung Essa beringsut mundur. Netranya menatap penuh hati-hati sebelum akhirnya Essa terbelalak saat sepasang tangan kekar itu menarik tubuhnya ke dalam pelukan hangat.
Essa terpaku, tubuhnya membeku.
"O ... Om."
"Diam." Suara Alex lembut tapi tegas. Essa yang hendak berontak pun akhirnya terdiam.
"Kamu melarangku untuk memelukmu, tapi kamu membiarkan laki-laki lain menggendongmu."
"Kapan ... siapa?"
"Kamu melupakan kejadian tadi pagi? Apa kamu berusaha menyembunyikan sesuatu dariku?"
Alex, melepaskan pelukannya. Menggenggam erat kedua pundak Essa, sambil menatap mata imut itu dengan dalam. Tubuh Essa yang sedikit pendek membuat Alex harus menunduk.
"Om, itu ... dia ..."
"Aku tidak mau dengar dan tidak mau tahu siapa nama lelaki itu. Tapi aku membenci perhatiannya kepadamu. Apa kamu punya hubungan khusus dengannya?"
"Tidak." Essa menggeleng.
"Bagus. Mulai saat ini aku tidak mau melihat pria manapun dekat denganmu."
"Tidak bisa begitu." Suara Essa sedikit nyolot. "Om melarangku tapi Om sendiri bersama mantan pacar Om itu. Om pikir itu adil bagiku."
"Apa kamu tidak melihat konferensi fers tadi? Kamu tidak mendengar yang aku katakan? Aku tidak mengatakan siapa istriku bukan berarti aku tidak akan memberitahukan semua orang siapa kamu."
"Maksudnya?"
"Aku bisa saja mengumumkan siapa istriku, kapanpun aku mau aku bisa mengatakannya."
"Tidak, jangan!"
"Kenapa?"
"Tidak, tidak. Sebelum aku lulus aku tidak mau ada orang yang tahu. Jika aku dikeluarkan dari sekolah kamu harus tanggungjawab."
"Hanya itu?" Alex, membungkuk menyetarakan wajahnya dengan Essa. Jarak mereka hanya beberapa inci, Essa sampai mencondongkan wajahnya ke belakang karena jarak Alex yang begitu dekat.
"Om, tidak biasanya seperti ini. Apa perlu sedekat ini. Bisakah kau menjauh sedikit."
"Tidak."
Mata Essa terbelalak seketika.
"Jika kau ingin aku menjauh maka tubuhmu yang harus mendekat."
"Hah!"
Seketika tubuh Essa pun tertarik. Dada keduanya saling menempel tidak menyisakan ruang. Jantung Essa berdegup tidak beraturan, nafasnya naik turun, tingkah Alex saat ini membuat tubuhnya meremang.
"O ... Om, aku tidak bisa bernafas."
"Om!" Essa, melotot ketika Alex, semakin mendekapnya erat.
"Mulai hari ini tidak ada larangan aku untuk menyentuhmu."
Essa semakin terbelalak.
"Apa itu artinya malam ini kita ...."
Senyum Alex mengembang dengan sempurna.
...----------------...
Double up ya hari ini, jangan kemana-mana 🥰
thour buat essa kuat gak mudah di tindas ma pelakor, buat jd essa wanita kuat.