SMA Pertiwi dan STM Rajawali bagaikan langit dan bumi yang dipaksa berdampingan. Hanya terpisah oleh satu tembok tinggi, Pertiwi adalah istana bagi putri-putri konglomerat yang dipimpin oleh Roseanna Vallerian, sang Ratu Es yang perfeksionis. Sementara di sebelahnya, Rajawali adalah medan perang bagi Fattah Maverick, legenda jalanan yang memimpin pasukannya dengan kepalan tangan dan loyalitas tanpa batas.
Selama tiga tahun, "Perjanjian Batas" menjaga gencatan senjata di antara mereka: Jangan sentuh wilayah kami, dan kami tidak akan menyentuh kalian.
Namun, kedamaian itu hancur dalam semalam. Serangkaian teror misterius menghantam kedua sekolah. Mobil-mobil mewah siswi Pertiwi dirusak dengan lambang Rajawali, dan markas Rajawali dibakar oleh sosok berseragam Pertiwi. Fitnah menyebar lebih cepat dari api. Tawuran pecah di perbatasan, dan kedua sekolah terancam ditutup permanen oleh Dinas Pendidikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SeraphinSky, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 3: INVASI KANTIN DAN MANGKUK BAKSO TERBANG
Pukul 12.00 WIB - Jam Istirahat
Tembok Belakang Sekolah (Sisi Rajawali)
Matahari tepat di atas kepala, membakar semangat (dan ubun-ubun) anak-anak STM Rajawali.
Di balik tembok pembatas yang penuh coretan mural abstrak, lima pentolan Vanguards sedang berkumpul dalam formasi lingkaran. Wajah mereka serius, seolah sedang merencanakan perampokan bank nasional. Padahal, target mereka cuma kantin sekolah sebelah.
"Oke, dengerin," kata Fattah Maverick, membuka peta sekolah Pertiwi yang digambar tangan di atas kertas bungkus nasi uduk. "Operasi hari ini sandinya: Makan Siang Gratis."
"Gratis dari mana, Bos?" tanya Harry Nareswara sambil menyetem gitarnya (yang entah kenapa dia bawa mau nyusup). "Emang mereka buka dapur umum?"
"Gratis dari harga diri kita yang kemaren diinjek-injek di minimarket," jawab Fattah dramatis. Dia menunjuk titik merah di peta. "Target utama: Kantin VIP Lantai 2. Kita masuk, kita bikin rusuh, kita bikin Tuan Putri dan dayang-dayangnya nggak nafsu makan. Paham?"
"Siap, Bos!" seru Ilham Mahendra paling semangat. Matanya berapi-api. "Gue mau bikin perhitungan sama si Cewek Headphone itu. Gue mau liat dia masih bisa bodo amat nggak kalau gue comot baksonya."
"Tapi Bos," sela Mohan Alveric cemas. "Gimana cara kita manjat? Temboknya tinggi, ada belingnya."
Fattah menyeringai. Dia menunjuk tumpukan meja bekas yang sudah disusun sedemikian rupa menjadi tangga darurat.
"Oliver udah ngitung sudut kemiringannya. Aman. Yang jadi masalah cuma satu..." Fattah menatap perut Mohan. "Mohan, lo manjat terakhir. Kalau lo jatoh, bisa gempa lokal."
Oliver Sagara membetulkan kacamatanya. "Probabilitas keberhasilan infiltrasi adalah 60%. 40%-nya gagal karena faktor X: Satpam gemuk yang suka tidur di pos belakang."
"Yaudah, gas! Gue udah laper!" Fattah naik duluan. Dengan gesit dia melompati kawat berduri yang sudah dipotong sedikit oleh Harry kemarin malam.
Satu per satu mereka melompat turun ke wilayah musuh. Mendarat di... taman bunga mawar.
KRAK.
"Aduh!" Harry mendarat di atas pot bunga anggrek. Pecah.
"Sstt! Diem bego!" desis Ilham. "Jangan ngerusak properti dulu sebelum ketahuan!"
Mohan mendarat paling akhir. GUBRAK! Tanah bergetar sedikit. Tapi untungnya, suasana sepi karena semua murid lagi di kantin.
"Aman," bisik Fattah. "Ayo, Guys. Saatnya kita kunjungan wisata."
Kantin VIP SMA Pertiwi
Suasana kantin sangat kondusif, sejuk, dan wangi vanilla. Ratusan siswi berseragam rapi sedang makan dengan anggun. Denting sendok garpu beradu pelan. Musik klasik instrumental mengalun dari speaker.
Di meja bundar paling tengah (Meja Kerajaan), geng The Royals sedang menikmati makan siang.
Roseanna Vallerian sedang memotong steak wagyu-nya dengan presisi bedah.
Aqeela Azalea sedang meniup-niup Zuppa Soup panas.
Raisa Azure makan salad buah dengan agresif (menusuk melon kayak nusuk musuh).
Naura Louviera makan sambil memantau CCTV lewat tablet.
Dan Lia?
Lia sedang menyedot Iced Thai Tea sambil nonton Drakor di HP-nya. Headphone Sony terpasang manis di telinga. Dunia luar? Apa itu dunia luar?
"Rose, gue curiga," kata Naura tiba-tiba, matanya menyipit ke tablet. "Ada sinyal panas tubuh yang nggak dikenal di sektor taman belakang. Ukurannya besar... kayak beruang."
"Beruang?" Roseanna mengernyit. "Mungkin cuma tukang kebun baru. Abaikan."
Baru saja Roseanna mau menyuap potongan daging ke mulutnya...
BRAKK!!
Pintu kantin yang terbuat dari kaca tebal didorong kasar hingga terbuka lebar.
Angin panas, bau oli, dan aura preman langsung menyerbu masuk, merusak AC dingin kantin.
Lima cowok dengan seragam berantakan, sepatu boots kotor, dan tampang sangar berdiri di ambang pintu.
Fattah Maverick berdiri paling depan, menyisir rambutnya ke belakang dengan gaya tengil.
"SELAMAT SIANG, WARGA SURGA!" teriak Fattah, suaranya menggelegar tanpa mic. "MAAF MENGGANGGU KETENANGAN NYAWA KALIAN! KAMI DARI DINAS KEBERSIHAN MAU INSPEKSI MAKANAN!"
Hening. Satu kantin melongo. Sendok garpu berhenti berdenting.
Roseanna menjatuhkan garpunya. Klontang.
"Mereka lagi," desis Roseanna. Urat di pelipisnya menonjol.
Harry langsung lari ke konter makanan. "Wih! Prasmanan! Bu, pesen soto ayam satu! Jangan pake ayam, ganti pake daging dinosaurus!"
Mohan matanya berbinar melihat display kue. "Itu donatnya warna-warni... lucu banget..."
Ilham? Mata Ilham langsung terkunci pada satu target. Cewek di meja tengah yang masih asyik nyedot Thai Tea tanpa sadar kalau kiamat kecil sedang terjadi.
Fattah berjalan santai mendekati meja Roseanna. Dia menarik kursi kosong di sebelah Roseanna, memutarnya, lalu duduk mengangkang menghadap sandaran kursi.
"Hai, Tuan Putri," sapa Fattah, mengambil garpu Roseanna yang jatuh. "Makan apa nih? Daging mentah? Serem amat selera lo."
"Keluar," kata Roseanna dingin, matanya menatap tajam. "Siapa yang izinin kalian masuk? Ini area steril."
"Steril apanya? Hati lo tuh steril, nggak ada perasaannya," Fattah menusuk sepotong daging di piring Roseanna, lalu memakannya tanpa dosa. "Hmm. Lumayan. Tapi kurang garem. Mahal doang menang gaya."
"ITU PUNYA SAYA!" bentak Roseanna. "Raisa! Panggil satpam!"
Raisa sudah berdiri, siap melempar mangkuk saladnya. "Berani lo makan punya Rose?! Gue jejelin wasabi mau lo?!"
Oliver menahan tangan Raisa dengan sopan. "Secara teknis, membuang makanan itu mubazir. Dan wasabi berbahaya jika terkena mata."
"Diem lo, Kutu Buku!" Raisa menepis tangan Oliver.
Di sisi lain meja, Aqeela menatap Harry yang datang membawa nampan penuh makanan (yang belum dibayar).
"Lho? Harry?" sapa Aqeela polos. "Kamu kok bisa masuk? Lewat cerobong asep?"
Harry nyengir, mulutnya belepotan saus. "Lewat pintu hati Neng Aqeela, tapi dikunci, jadi lewat jendela. Neng, ini sotonya kok nggak ada koya-nya? Kurang nendang."
"Itu bukan soto, Harry. Itu Bouillabaisse, sup ikan Prancis," jelas Aqeela sabar. "Mau aku beliin koya? Nanti aku suruh supir beli di pasar."
"Waduh, repot amat. Nggak usah Neng, senyum Neng aja udah cukup gurih."
Sementara itu, Perang Dunia Ketiga sedang terjadi di ujung meja.
Ilham berdiri tepat di samping Lia. Bayangannya menutupi layar HP Lia.
Lia masih nonton Drakor. Adegan ciuman. Dia senyum-senyum sendiri.
Ilham menarik napas panjang. Dia mencondongkan tubuhnya, lalu mengetuk-ngetuk meja tepat di depan hidung Lia.
TOK! TOK! TOK!
Lia tidak bergeming. Volume headphone-nya pasti full.
Ilham makin emosi. Dia mengambil sedotan dari gelas Thai Tea Lia, lalu menjepitnya biar nggak bisa disedot.
Lia menyedot. Kosong. Dia mengernyit, mengocok gelasnya. Masih ada isinya. Dia menyedot lagi. Macet.
Lia akhirnya mendongak dengan kesal.
Dan di sana, terpampang wajah Ilham yang menyeringai setan, tangannya memencet sedotan Lia.
Lia melepas headphone-nya dengan gerakan lambat (dan slow motion di mata Ilham). Dia menatap Ilham dengan tatapan: "Lo lagi? Serius?"
"Apa?" tanya Lia singkat, padat, menyebalkan.
"Nyenyenye apa!" Ilham meniru nada bicara Lia. "Lo nggak liat ada kerusuhan di sini? Lo nggak liat temen-temen lo lagi panik? Lo hidup di planet mana sih?!"
"Planet di mana cowok berisik kayak lo nggak ada," jawab Lia datar. Dia merebut sedotannya kembali. "Minggir. Lo ngehalangin cahaya."
"Cahaya?!" Ilham ketawa nggak percaya. "Gue dateng jauh-jauh manjat tembok berduri cuma buat denger lo bilang minggir?!"
"Siapa suruh dateng? Gue nggak ngundang," Lia kembali memasang headphone-nya.
Ctrek.
Kabel kesabaran Ilham putus total.
Tanpa peringatan, Ilham menarik headphone mahal Lia dari kepalanya.
Srett!
"BALIKIN!" teriak Lia, refleks berdiri. Wajahnya yang tadinya datar langsung berubah garang. "Itu barang mahal! Jangan dipegang tangan berminyak lo!"
"Bodo amat!" Ilham mengangkat headphone itu tinggi-tinggi. "Gue sandera ini barang sampe lo minta maaf karena udah nyuekin gue!"
"Minta maaf buat apaan?! Lo gila ya?!" Lia melompat-lompat berusaha menggapai headphone-nya (Ilham lebih tinggi).
"Bilang: 'Maaf Kak Ilham yang ganteng, Lia janji nggak bakal sombong lagi'," tuntut Ilham sambil cengar-cengir puas liat Lia panik.
"NAJIS MUGHALLAZAH!" teriak Lia.
Saking kesalnya, Lia mengambil gelas Thai Tea-nya yang masih setengah penuh.
"Makan nih ganteng!"
BYUURRR!
Lia menyiramkan Thai Tea lengket itu ke dada Ilham.
Cairan oranye membasahi kaos dalam hitam Ilham, merembes ke kemeja seragamnya. Dingin. Lengket. Manis.
Hening.
Fattah berhenti makan steak Roseanna.
Harry berhenti gombal.
Mohan berhenti ngiler liat donat.
Ilham menunduk, melihat dadanya yang basah. Dia menatap Lia.
Lia menatap balik, dadanya naik turun menahan emosi. "Sekarang balikin headphone gue atau gue siram air keras."
Ilham perlahan menyeka wajahnya yang kena cipratan sedikit. Dia tersenyum. Senyum psikopat.
"Oke," kata Ilham pelan. "Lo mau main basah-basahan? Ayo."
Ilham melihat mangkuk Zuppa Soup panas punya Aqeela di meja sebelah. Dia menyambarnya.
"ILHAM JANGAN!" teriak Aqeela dan Harry barengan.
"RASAIN LO!" Ilham mau melempar sup krim itu ke Lia.
Tapi Lia gesit. Dia menunduk.
SPLAT!
Sup kental itu terbang melewati kepala Lia dan mendarat telak di...
Wajah Naura.
Kacamata Naura langsung tertutup krim jamur.
"KYAAAAA!!" Naura menjerit histeris. "MATA GUE! GUE BUTA! GUE BUTA!"
"NAURA!" Roseanna langsung berdiri, mendorong meja hingga bergeser. "KALIAN KETERLALUAN!"
Fattah juga berdiri, sadar situasi udah nggak kondusif. "Waduh, salah sasaran. Ham, lo bego banget sih!"
"Dia yang nunduk, Bos!" bela Ilham panik.
"KEAMANAN! SECURITY!" teriak Roseanna pake toa masjid (nggak deng, pake suara dia yang melengking).
Pintu kantin terbuka lagi. Kali ini lima satpam berbadan tegap lari masuk membawa pentungan.
"Waduh, polisi tidur dateng," kata Harry. "Bos, kode merah!"
"VANGUARDS! CABUT!" perintah Fattah.
Fattah menyambar satu potong donat dari meja, lalu lari. "Makasih makanannya, Rose! Steak-nya alot!"
"BALIK SINI LO PENGECUT!" teriak Roseanna, melempar gelas kaca ke arah Fattah (tapi meleset).
Ilham melempar headphone Lia ke sofa (nggak dibawa kabur, takut dituduh maling beneran).
"Urusan kita belum kelar, Cewek Ular!" teriak Ilham ke Lia sebelum lari menyusul Fattah.
"PERGI SANA LO DASAR PREMAN PASAR!" balas Lia, mengambil tisu buat ngelap headphone-nya dengan panik. "Ya ampun baby Sony gue... kamu ternoda..."
Anak-anak Rajawali lari kocar-kacir dikejar satpam. Mereka melompati jendela kantin (karena pintu utama dijaga), mendarat di semak-semak, lalu lari menuju tembok belakang.
"Aduh! Pantat gue kena kaktus!" teriak Harry pas mendarat.
Mohan lari sambil bawa nampan berisi tiga donat. "Lumayan buat oleh-oleh Si Belang!"
Aftermath - Di Kantin
Kantin VIP kini mirip kapal pecah. Makanan tumpah, kursi terbalik, Naura nangis di kamar mandi dibantu Aqeela bersihin krim jamur.
Roseanna berdiri di tengah kekacauan itu. Tangannya mengepal sampai kukunya menancap di telapak tangan. Harga dirinya sebagai Ratu Pertiwi baru saja diobrak-abrik di markasnya sendiri.
"Rose..." panggil Raisa, napasnya memburu. "Kita bales nggak? Gue siap bakar bengkel mereka."
Roseanna menarik napas panjang, mencoba menenangkan detak jantungnya. Dia menatap sisa steak-nya yang dimakan Fattah.
"Nggak usah bakar," kata Roseanna dingin. "Itu terlalu barbar. Kita pake cara elegan."
"Gimana caranya?"
Roseanna tersenyum miring. Senyum yang sangat berbahaya.
"Naura, setelah lo cuci muka... hack akun Instagram sekolah mereka. Kita bikin malu mereka se-Jakarta Selatan. Dan Aqeela..."
"Iya Rose?" Aqeela muncul dengan wajah polos.
"Telpon Papah lo. Bilang gue butuh 'donasi' semen. Gue mau tembok pembatas itu ditinggiin dua meter lagi. Dan pasang kawat listrik."
"Siap, Bos!"
Di sudut lain, Lia duduk lemas di sofa. Dia menatap noda Thai Tea di karpet. Tiba-tiba, dia sadar sesuatu.
Jantungnya berdetak kencang bukan karena takut, tapi karena... adrenalin.
"Si Ilham itu..." gumam Lia pelan, menyentuh headphone-nya. "Nyebelin banget. Tapi... berani juga nyentuh barang gue."
Lia tersenyum tipis. Sangat tipis.
Perang ini mulai menarik.