NovelToon NovelToon
PEMBERONTAK PARA DEWA LAST SEASON

PEMBERONTAK PARA DEWA LAST SEASON

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Epik Petualangan / Perperangan
Popularitas:8.8k
Nilai: 5
Nama Author: Sang_Imajinasi

Seratus tahun telah berlalu sejak Shi Hao mengorbankan kultivasinya menggunakan Teknik Terlarang untuk menyelamatkan Alam Atas dari kehancuran Kaisar Langit. Di Alam Atas, kedamaian semu tercipta di bawah pimpinan Dewan Bersama (Raja Yan, Lei Zhen, Ao Zun).

Namun, di sebuah desa fana yang terpencil, Shi Hao hidup bahagia sebagai petani buta dan lumpuh bersama istri fananya (Gu Qing Yi yang menyembunyikan identitasnya). Kepompong fana Shi Hao perlahan-lahan menyehatkan jiwanya yang hancur, menanamkan pemahaman Dao Kemanusiaan yang belum pernah dicapai oleh Dewa mana pun.

Kedamaian itu hancur ketika Dinding Dimensi Alam Atas robek. Shen Yu, Dewa Iblis dari Semesta Sembilan Nether yang telah menaklukkan ribuan alam, akhirnya tiba bersama pasukan jenderalnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

CHAPTER 3

Dunia Fana – Perbatasan Desa Angin Lembut dan Desa Macan Tutul.

Setiap musim semi, sebelum masa tanam dimulai, ketegangan selalu memuncak di antara dua desa bertetangga ini. Masalahnya Hak guna Mata Air Jernih, satu-satunya sumber air irigasi yang tidak pernah kering di musim kemarau.

Tradisi leluhur menetapkan bahwa sengketa air ini diselesaikan dengan cara jantan: Turnamen Bela Diri Antar Desa. Tiga lawan tiga. Siapa yang masih berdiri di atas arena tanah liat, desanya lah yang menguasai air selama setahun penuh.

Tahun ini, awan mendung keputusasaan menyelimuti kubu Desa Angin Lembut.

"Kita tamat... sawah kita akan kering tahun ini," ratap Kepala Desa Gou, pria paruh baya yang perutnya sama buncitnya dengan anaknya, Gou Dan. Dia menggigit saputangannya dengan cemas.

Di seberang arena, Kepala Desa Macan Tutul sedang tertawa terbahak-bahak, memamerkan gigi emasnya.

Bukan tanpa alasan mereka sombong. Tahun ini, Desa Macan Tutul tidak mengirim pemuda desa biasa. Mereka menyewa seorang petarung bayaran dari kota. Pria itu bertelanjang dada, memperlihatkan otot yang mengkilap oleh minyak, dan memiliki codet mengerikan di wajahnya. Namanya Hu Si Tangan Besi.

"Hahaha! Kepala Desa Gou, menyerah sajalah!" ejek Kepala Desa Macan. "Tuan Hu ini adalah murid luar dari Sekte Tapak Besi! Dia bahkan sudah mengumpulkan setitik Qi sejati di pusarnya! Jangankan pemuda desa, seekor sapi pun bisa dia bunuh dengan satu pukulan!"

Bagi manusia fana, memiliki "setitik Qi sejati" (bahkan belum mencapai tahap Kondensasi Qi paling awal) sudah dianggap layaknya dewa perang.

Di kubu Desa Angin Lembut, dua perwakilan pertama mereka sudah tumbang. Paman Wang si pandai besi terkilir tangannya saat menangkis, dan seorang pemuda desa lainnya pingsan hanya karena terkena aura teriakan Hu.

Harapan terakhir kini berada di pundak Gou Dan.

Gou Dan melangkah ke arena dengan kaki bergetar hebat bak jeli. Dia menelan ludah melihat otot Hu Si Tangan Besi.

"M-Maju kau!" cicit Gou Dan, memasang kuda-kuda belalang sembah yang dia pelajari dari buku cerita murahan.

Hu mendengus meremehkan. Dia menghentakkan kakinya ke tanah, membuat debu mengepul.

"Singkirkan serangga ini dari pandanganku!"

Hu mengayunkan telapak tangannya bahkan tanpa menyentuh tubuh Gou Dan. Angin dari pukulan itu menyapu wajah Gou Dan.

"IBAAANG!!! (Ibu!!!)" teriak Gou Dan histeris, langsung melempar tubuhnya sendiri ke luar arena dan pura-pura pingsan dengan mulut berbusa agar tidak dipukuli lebih lanjut.

"Memalukan! Memalukan sekali!" Kakek Li memukul-mukul tanah dengan tongkatnya, menangis sedih. "Air kita... panen kita... semuanya hancur!"

Sementara drama keputusasaan melanda desa, di bawah sebuah pohon rindang tak jauh dari arena...

Shi Hao sedang duduk santai di atas tikar bambu, menikmati kacang rebus. Kain putih menutupi mata kirinya, dan kaki kanannya berselonjor nyaman. Di sebelahnya, Qing Yi dengan sabar mengupaskan kacang dan menyuapkannya ke mulut Shi Hao.

"Aaa..." Shi Hao membuka mulut, mengunyah kacang itu dengan senang. "Manis sekali. Oh ya, Istriku, kenapa di depan berisik sekali? Apa pertunjukan akrobatnya sudah selesai? Aku mendengar seseorang berteriak mencari ibunya."

Qing Yi menahan tawa. "Itu Tuan Muda Gou Dan, Suamiku. Sepertinya dia salah melakukan gerakan akrobat dan terjatuh."

Shi Hao mengangguk-angguk maklum. "Kasihan. Tubuhnya terlalu gemuk untuk melompat."

Di tengah ring, Hu Si Tangan Besi semakin arogan. Dia menepuk dadanya yang berotot.

"Siapa lagi?! Apa tidak ada laki-laki sejati di desa miskin ini?! Jika tidak ada yang berani maju, maka Mata Air Jernih adalah milik Desa Macan Tutul! Dan kalian semua harus membayar pajak jika ingin mengambil seember air!"

Hu dengan sengaja melepaskan sedikit Qi fana-nya, memukul tanah dengan telapak tangannya.

BAM!

Pukulan itu tidak merusak, tapi cukup kuat untuk menerbangkan debu dan kerikil tebal ke arah penonton dari Desa Angin Lembut.

Angin berdebu itu berhembus hingga ke bawah pohon tempat Shi Hao duduk.

Hatchi!

Shi Hao bersin. Debu masuk ke hidungnya, dan beberapa butir pasir jatuh ke dalam cangkir tehnya yang masih setengah penuh.

Shi Hao mengerutkan kening. Ketenangan paginya terganggu.

"Astaga, debunya tebal sekali," keluh Shi Hao sambil meraba-raba mencari tongkat bambunya. "Mereka bermain akrobat terlalu kasar. Tehku jadi kotor. Aku harus menyapu debu ini agar kau tidak batuk-batuk, Qing Yi."

"Suamiku, tidak usah, biar aku saja—" Qing Yi mencoba mencegah, tapi Shi Hao sudah berdiri dan berjalan tertatih-tatih menggunakan tongkatnya menembus kerumunan.

Warga desa otomatis menyingkir, memberi jalan bagi "A-Hao si pria buta yang malang".

Sebelum ada yang menyadari, Shi Hao sudah berdiri tepat di tengah arena tanah liat, berhadapan langsung dengan Hu Si Tangan Besi.

"Tunggu, tunggu sebentar, kawan-kawan," kata Shi Hao ramah, mengayunkan tangan kirinya di depan wajah, berusaha mengusir sisa debu. "Debunya terlalu tebal. Biarkan aku menyapunya sedikit."

Kepala Desa Macan Tutul ternganga, lalu tertawa terbahak-bahak. "Hahaha! Kepala Desa Gou, apa desamu sudah sangat putus asa sampai mengirim orang cacat dan buta ini?! Apa dia akan melawan Tuan Hu dengan tongkat lapuknya itu?"

Hu Si Tangan Besi merasa sangat terhina. Sebagai ahli bela diri, ditantang oleh orang buta adalah sebuah penghinaan besar. Urat di pelipisnya menonjol.

"Orang cacat bodoh! Kau mencari mati?!" raung Hu.

Hu tidak peduli lawannya buta. Dia memusatkan seluruh Qi sejati yang dibanggakannya ke tangan kanannya. Tangannya berubah warna menjadi sedikit kehitaman.

"Teknik Tapak Besi Penghancur Tulang!"

Hu melompat ke udara, mengayunkan tapaknya langsung ke arah kepala Shi Hao dengan niat membunuh yang nyata.

Warga Desa Angin Lembut menjerit. Kakek Li menutup matanya. Qing Yi di bawah pohon hanya menatap dengan mata setengah bosan, bahkan diam-diam menyeruput tehnya.

Shi Hao, yang telinganya mendengar angin pukulan itu, menghela napas.

"Wah, anginnya makin kencang. Debunya berputar ke arahku," gumam Shi Hao polos.

Dia mengangkat tongkat bambunya yang tipis dan lapuk. Niatnya murni hanya untuk "mengibas" debu di depannya agar tidak mengenai wajahnya.

Namun, di dalam tubuh fananya, saat ototnya bergerak memegang benda panjang, ingatan alam bawah sadar akan Teknik Tombak Asura Pembelah Bintang terpicu secara otomatis. Setetes Qi Kekacauan energi paling purba di alam semesta bocor sedikit dari Dantiannya, mengalir ke dalam tongkat bambu itu.

Tongkat bambu lapuk itu tiba-tiba berdengung dengan frekuensi yang tak terdengar oleh telinga fana.

Shi Hao mengayunkan tongkatnya dari kiri ke kanan. Sedikit pun tidak berniat mengenai tubuh Hu. Gerakannya seperti kakek tua yang menyapu dedaunan kering di halaman.

WUUUUUUSSSSH!

Bukan benturan senjata yang terjadi. Melainkan ledakan tekanan udara.

Ayunan tongkat Shi Hao mengkompresi udara di depannya menjadi badai topan bertekanan super tinggi yang melesat ke depan.

Hu Si Tangan Besi, yang sedang melayang di udara bersiap memukul, mendadak merasa seperti ditabrak oleh sebuah gunung raksasa yang transparan.

Tapak Besinya hancur berkeping-keping.

"BWAH!"

Hu memuntahkan seteguk darah. Sebelum dia menyadari apa yang terjadi, tubuhnya yang kekar itu sudah terlempar ke belakang dengan kecepatan tidak masuk akal.

WUSSS!

Hu terbang melewati kepala penduduk Desa Macan Tutul, melewati pohon beringin raksasa, dan terus melayang jauh... jauh sekali, hingga menabrak tebing batu di seberang sungai dengan bunyi DUAARRR! yang samar di kejauhan.

Tidak hanya Hu. Angin dari sapuan tongkat itu juga menghempaskan Kepala Desa Macan dan puluhan warganya hingga mereka terguling-guling ke tanah, mulut dan hidung mereka penuh debu, pakaian mereka robek tertiup angin puyuh.

Arena kini bersih. Tidak ada satu pun debu yang melayang di udara sekitar Shi Hao.

Hening.

Keheningan ini seratus kali lipat lebih canggung daripada insiden lemparan sandal tempo hari.

Matahari bersinar damai menyinari arena. Di tengahnya, Shi Hao berdiri santai, mengetuk-ngetukkan tongkat bambunya ke tanah untuk mengecek apakah permukaannya sudah rata.

"Nah, begini lebih baik," kata Shi Hao tersenyum puas. "Udaranya sudah bersih. Istriku, apa kau melihatnya? Debunya sudah hilang diterbangkan angin puyuh barusan."

Qing Yi segera berlari masuk ke arena. Dia harus melakukan pengendalian kerusakan secepat mungkin sebelum penduduk desa mengira suaminya adalah siluman tongkat.

"YA AMPUN!" teriak Qing Yi dengan nada berlebihan yang sangat tidak meyakinkan bagi ukuran seorang artis teater. "Angin puting beliung macam apa itu?! Untung saja suamiku memegang tongkatnya erat-erat sehingga dia tidak ikut terbang!"

Penduduk Desa Angin Lembut saling pandang. Kepala Desa Gou berkedip-kedip menatap tebing di seberang sungai tempat petarung bayaran itu menancap di batu.

"P-Puting beliung?" gumam Kepala Desa Gou.

"B-Benar!" Kakek Li yang pertama kali merespons, otaknya segera mencari logika yang paling masuk akal bagi manusia fana. "Dewa Angin! Dewa Angin tidak terima desa kita ditindas! Saat A-Hao maju, Dewa Angin meniupkan puting beliung untuk menghukum orang sombong itu!"

"Hidup Dewa Angin! Hidup A-Hao, Sang Pembawa Keberuntungan!" teriak warga desa, seketika mengubah rasa takut menjadi sorak sorai religius yang meriah.

Di kubu lawan, Kepala Desa Macan Tutul yang bajunya robek-robek, gemetar ketakutan melihat Shi Hao yang tersenyum buta namun terlihat mengerikan di matanya. Dia merangkak mundur.

"M-Mata air itu milik kalian! Milik kalian! K-Kami menyerah! Dewa telah mengutuk kami!" teriak Kepala Desa Macan, memimpin warganya berlari terbirit-birit meninggalkan desa, lupa membawa petarung sewaan mereka yang masih pingsan di tebing.

Turnamen selesai dalam satu ayunan tongkat.

Desa Angin Lembut berpesta hari itu. Mereka mengarak Shi Hao bagaikan pahlawan, meskipun Shi Hao sendiri bingung kenapa dia diberi banyak lauk daging babi hanya karena membantu "menyapu debu".

Sementara itu, di halaman belakang gubuk Shi Hao...

Hitam Satu, Hitam Dua, dan Hitam Tiga (tiga Anjing Neraka mengerikan itu) sedang berpelukan satu sama lain di pojok kandang ayam, gemetar ketakutan hingga mengompol.

Mereka baru saja merasakan fluktuasi Qi Kekacauan pembelah semesta dari jarak dekat. Di otak anjing iblis mereka, pria buta yang menggaruk perut mereka tiap pagi itu adalah sosok yang lebih menakutkan dari penguasa alam mana pun.

Qing Yi, yang melihat tingkah anjing-anjing itu dari jauh, hanya bisa tersenyum pahit sambil menyeka keringat di dahinya.

"Menjadi manusia biasa itu... ternyata sangat melelahkan."

1
yos helmi
🤣🤣🤣🤣
yos helmi
🙏🙏🙏🙏
yos helmi
👍👍👍👍👍
yos helmi
😄😄😄😄
yos helmi
💪💪💪💪
yos helmi
😍😍😍😍😍
yos helmi
🤣🤣🤣🤣🤣
saniscara patriawuha.
kasian berkali kali manggg wuuuu ini....
saniscara patriawuha.
sakit banget tuhhh rasaneee...
saniscara patriawuha.
sikattttttt lagiiii mangggg shiiiiii.....
saniscara patriawuha.
mantaffffff surataffff....
Hendra Saja
makin penasaran.....apa tidak bertemu dengan sang tiran Thor....
yos helmi
👍👍👍👍
yos helmi
😄😄😄😄
yos helmi
😍😍😍😍
yos helmi
💪💪💪💪
yos helmi
🤣🤣🤣🤣
yos helmi
🙏🙏🙏🙏
HINATA SHOYO
mantapp jiwa kerennn cuuyyyyy
HINATA SHOYO
kerenn poolĺll lanjutttt
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!