NovelToon NovelToon
Bukan Pengantin Pilihan Hati

Bukan Pengantin Pilihan Hati

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Perjodohan
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Anjay22

Bukan Pengantin Pilihan Hati

"Dua hati yang terikat wasiat, dua masa lalu yang belum usai. Sanggupkah pernikahan tanpa cinta ini bertahan?"

Dunia Naura runtuh seketika. Kecelakaan tragis yang merenggut nyawa sang ayah memaksanya mengubur mimpi indah bersama Rama, kekasihnya. Demi wasiat terakhir, Naura terpaksa menikah dengan Arka,pria asing pilihan sang ayah.

Luka Naura kian menganga saat mengetahui Arka pun sebenarnya sudah memiliki kekasih. Mereka hanyalah dua orang asing yang terjebak dalam sangkar pernikahan tanpa cinta.

Namun, hari-hari di bawah satu atap perlahan mengubah segalanya. Di balik ketampanannya, Arka ternyata sosok suami yang sangat sopan, bertanggung jawab, dan penuh perhatian. Kelembutan dan sikap penyayang Arka pelan-pelan mulai meruntuhkan dinding pertahanan hati Naura.

Saat benih-benih cinta tulus mulai tumbuh di antara mereka, akankah masa lalu merelakan mereka bahagia? Ataukah mereka akan selamanya menjadi pengantin yang salah?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anjay22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Batas Ahir sebuah Ambisi

Ketegangan di teras rumah minimalis itu mendadak mencapai titik didih tertinggi. Embusan angin sore yang membawa aroma tanah basah seolah berhenti bergerak, menyisakan atmosfer yang mencekam di antara tiga orang yang berdiri di sana.

Clarissa tertegun, tangannya yang semula melayang di udara perlahan turun dengan gemetar. Wajahnya yang dilapisi riasan tebal kini tampak pias saat sepasang mata elang Arka mengunci pergerakannya tanpa ampun.

Belum pernah selama dua tahun menjalin kedekatan, Clarissa melihat Arka menatapnya dengan kilat amarah sebuas ini.

Arka yang ia kenal adalah pria yang selalu dingin, terkendali, dan nyaris tidak pernah menunjukkan luapan emosi yang meledak-ledak di depan publik.

Namun sore ini, topeng kendali diri sang CEO muda itu tampak runtuh sepenuhnya, menyisakan sosok kepala keluarga yang siap menghancurkan siapa saja yang berani mengusik ketenangan wanitanya.

Di belakang punggung bidang Arka, Naura bisa merasakan bagaimana otot-otot tubuh suaminya menegang sempurna. Jantung Naura berdegup kencang, namun bukan lagi karena rasa takut pada Clarissa, melainkan karena rasa takjub melihat bagaimana Arka memosisikan dirinya sebagai perisai hidup yang begitu kokoh.

"Arka ... " suara Clarissa mencicit pelan, mencoba mengembalikan sisa-sisa keberaniannya. Ia memaksakan sebuah senyuman tipis yang tampak canggung.

"Kamu ... kenapa kamu menatapku seperti itu? Aku datang ke sini dengan niat baik, Arka. Aku hanya ingin meluruskan kesalahpahaman dengan ... dengan wanita ini."

"Niat baik?" Arka mengulang kalimat itu dengan nada suara yang sangat rendah, hampir menyerupai bisikan namun sarat akan sarkasme yang mematikan.

Ia melangkah satu tahap maju, membuat Clarissa secara refleks mundur selangkah karena merasa terintimidasi oleh aura dominan mantan kekasihnya. "Niat baik macam apa yang membuatmu berani menggedor pintu rumahku tanpa izin, melontarkan kalimat penghinaan pada istriku, dan mencoba melayangkan tanganmu di atas properti pribadiku?"

"Aku hanya emosi, Arka! Gadis ini ... dia memprovokasiku!" Clarissa mencoba membela diri, menunjuk ke arah Naura yang berada di balik punggung Arka dengan jari yang gemetar. "Dia bersikap sangat angkuh seolah-olah dia sudah memenangkan seluruh hidupmu. Padahal kita semua tahu, dia hanya wanita yang beruntung karena selembar kertas wasiat dari mendiang ayahnya! Mengapa kamu harus membelanya sampai sejauh ini, Arka? Kita sudah bersama selama dua tahun! Apakah semua kenangan kita tidak ada artinya dibandingkan dengan gadis udik ini?"

Mendengar jeritan frustrasi Clarissa, garis wajah Arka semakin mengeras, menyerupai pahatan batu karang yang dingin. Ia menatap Clarissa tanpa ada sedikit pun sisa-sisa kehangatan dari masa lalu mereka di matanya.

"Clarissa, dengarkan aku dengan sangat baik, karena aku tidak akan mengulangi perkataanku lagi," ucap Arka, setiap katanya diucapkan dengan lambat, jelas, dan penuh penekanan yang menusuk. "Hubungan kita sudah berakhir sejak hari di mana aku memutuskan untuk menerima wasiat almarhum pak Raharjo. Dan sejak hari itu pula, Naura adalah satu-satunya wanita yang memiliki hak penuh atas nama belakangku, rumah ini, dan seluruh hidupku."

Arka mengambil napas pendek, lalu melanjutkan dengan nada yang semakin menuntut. "Kamu selalu mengagungkan masa lalu dan kelas sosialmu. Tapi asal kamu tahu, Naura memiliki kehormatan dan martabat yang tidak akan pernah bisa kamu beli dengan seluruh kekayaan atau popularitasmu sebagai model. Dia tidak pernah memprovokasimu, kamulah yang datang ke sini membawa racun egomu yang terluka karena tidak bisa menerima kenyataan bahwa dunia ini tidak lagi berputar di sekelilingmu."

Air mata kemarahan dan rasa malu akhirnya menetes membasahi pipi Clarissa. Kalimat Arka tidak sekadar menolaknya, melainkan menghancurkan seluruh harga dirinya sebagai seorang wanita kelas atas yang biasa dipuja-puja.

"Arka, kamu kejam ..." isak Clarissa, meremas tas tangan mahalnya dengan erat. "Tante Sofia tidak akan pernah merestui hubungan kalian! Dia berada di pihakku!"

"Ibuku tidak memiliki hak suara di dalam rumah tanggaku," balas Arka instan, datar dan tanpa ragu sedikit pun. "Jika kamu mengira bisa menggunakan pengaruh ibuku untuk mengacaukan hidupku, kamu salah besar. Sore ini, aku memperingatkanmu untuk yang terakhir kalinya. Pergi dari rumah ini sekarang juga. Jika sampai besok pagi wajahmu masih terlihat di sekitar radius rumahku, atau jika kamu mencoba menghubungi Naura lagi dengan cara apa pun ... aku pastikan seluruh kontrak eksklusifmu dengan Pratama Group dan seluruh anak perusahaannya akan dibatalkan secara sepihak. Dan aku akan memastikan reputasimu di dunia modeling internasional berakhir dalam semalam. Kamu tahu betul aku memiliki kekuatan untuk melakukan itu, Clarissa."

Ancaman bisnis yang sangat nyata dari sang penguasa korporat itu seketika membungkam seluruh sisa perlawanan di dalam diri Clarissa. Ia tahu Arka tidak pernah menggertak sambal. Jika pria itu sudah mengeluarkan titah, maka hal itu akan terjadi dengan efisiensi yang mengerikan. Kehilangan Arka sebagai kekasih adalah tamparan bagi egonya, namun kehilangan karier internasionalnya adalah kehancuran total bagi hidupnya.

Dengan tubuh yang bergetar karena kombinasi rasa takut, marah, dan malu yang luar biasa, Clarissa mengenakan kembali kacamata hitamnya dengan tergesa-gesa untuk menyembunyikan wajahnya yang sembap.

Tanpa mengucapkan sepatah kata lagi, ia berbalik dan berjalan cepat meninggalkan teras rumah menuju mobilnya yang terparkir di luar pagar.

Suara deru mesin mobil Clarissa yang melaju kencang membelah keheningan kompleks tak lama kemudian menjadi tanda berakhirnya teror sore itu.

Setelah suasana di luar rumah benar-benar kembali sunyi, Arka tidak langsung berbalik. Ia memejamkan matanya sejenak, mengatur kembali napasnya yang sempat memburu akibat amarah yang tertahan.

Bahunya yang tegap perlahan melonggar. Setelah merasa emosinya sepenuhnya terkendali, barulah ia membalikkan tubuhnya untuk menghadap ke arah Naura.

"Kamu tidak apa-apa? Apakah dia sempat menyakitimu sebelum aku datang?" tanya Arka, suaranya mendadak berubah drastis, kembali menjadi lembut dan penuh dengan nada cemas yang tulus. Kedua tangannya yang besar terangkat, memegang kedua bahu Naura seraya matanya meneliti setiap inci wajah istrinya untuk memastikan tidak ada luka fisik sedikit pun.

Naura mendongak, menatap mata elang Arka yang kini dipenuhi oleh binar kehangatan yang kontras dengan apa yang ditunjukkannya pada Clarissa tadi.

Naura mengulas senyuman tipis, lalu menggelengkan kepalanya perlahan. Ia mengulurkan tangan kanan lentiknya, dengan lembut menyentuh lengan Arka yang berada di bahunya.

"Aku tidak apa-apa, Kak Arka. Kakak datang tepat waktu. Dia ... dia belum sempat menyentuhku," jawab Naura, suaranya terdengar begitu tenang dan stabil, sebuah hal yang sempat membuat Arka sedikit terkejut.

Pria itu mengira akan menemukan istrinya dalam kondisi menangis ketakutan seperti saat menghadapi Rama dulu.

Arka menghela napas lega yang panjang, seolah seluruh beban berat yang menghimpit dadanya sejak memacu mobil dari kantor tadi menguap begitu saja.

"Syukurlah. Maafkan aku, Naura. Masa laluku kembali mendatangkan bahaya dan ketidaknyamanan bagimu di rumah ini. Seharusnya aku bisa menyelesaikan urusanku dengan Clarissa lebih tegas sejak awal."

"Kak Arka tidak perlu menyalahkan diri sendiri," potong Naura lembut, matanya menatap suaminya dengan pancaran rasa percaya yang begitu dalam. "Masa lalu adalah sesuatu yang tidak bisa kita kendalikan kedatangannya. Tapi bagaimana cara Kakak berdiri di depanku tadi, bagaimana cara Kakak melindungiku ... itu membuatku sadar bahwa aku tidak perlu takut pada apa pun lagi di dunia ini, selama aku berada di samping Kak Arka."

Penuturan Naura yang begitu dewasa dan penuh penerimaan membuat sudut-sudut hati Arka yang selama ini beku mendadak meleleh sempurna. Luapan emosi yang asing namun sangat menyenangkan bergemuruh hebat di dalam dadanya.

Ia menatap bibir ranum Naura yang mengulas senyum, lalu beralih menatap sepasang mata indah istrinya yang memantulkan bayangan dirinya sendiri.

Tanpa mampu menahan dorongan instingnya lagi, Arka menarik tubuh Naura mendekat. Ia melingkarkan lengan kekarnya di pinggang ramping Naura, sementara tangan kanannya bergerak naik ke belakang kepala istrinya, menyusup di antara helai rambut panjang Naura yang halus.

Sebelum Naura sempat mencerna apa yang terjadi, Arka menundukkan kepalanya dan mendaratkan bibirnya di atas bibir Naura.

Naura terkesiap kecil, sepasang matanya melebar karena terkejut selama satu detik pertama. Sentuhan bibir Arka terasa begitu hangat, lembut, namun sarat akan intensitas emosi yang mendalam sebuah ciuman yang tidak hanya bermakna gairah fisik, melainkan sebuah proklamasi kepemilikan mutlak dan rasa sayang yang selama ini tersembunyi di balik kata-kata formalitas mereka.

Rasa terkejut Naura segera berganti dengan rasa hangat yang meluap-luap. Perlahan, ia memejamkan sepasang matanya, membiarkan dirinya tenggelam dalam keintiman manis yang diciptakan oleh suaminya. Kedua tangan lentik Naura bergerak naik, melingkar dengan ragu namun erat di sekeliling leher kokoh Arka, membalas kecupan pria itu dengan seluruh ketulusan cinta yang kini telah tumbuh seutuhnya di dalam hatinya.

Di bawah langit sore Jakarta yang mulai temaram oleh kepulangan sang surya, di teras rumah yang baru saja dilewati badai masa lalu, dua jiwa itu akhirnya mengunci takdir mereka dalam satu frekuensi yang utuh.

Batas akhir dari segala ambisi masa lalu telah resmi ditutup, digantikan oleh lembaran baru yang ditulis dengan tinta rasa percaya dan cinta yang tak lagi bisa digoyahkan oleh siapa pun.

1
Mutia Kim🍑
Gimana hancurnya Rama melihat kekasih hatinya menikah dengan pria lain. Padahal dia udah mau ngelamar lho😭
MayAyunda: ya ..namanya jodoh kita nggk tahu kak 😄
total 1 replies
Mutia Kim🍑
Dilema banget jadi Naura. Kalau berat, jangan pilih dua-duanya aja😭
MayAyunda: pilih salah satu aja kak😁
total 1 replies
falea sezi
kenapa g jujur
MayAyunda: belum waktunya kak 😁🫢
total 1 replies
~SasMaya ✧
suami idaman
MayAyunda: jadi pengen ya kak 😁😁
total 1 replies
~SasMaya ✧
sekalian nyindir ga sih 😂
MayAyunda: ha..ha ..bisa jadi
total 1 replies
~SasMaya ✧
apa keinget Rama 🫣
MayAyunda: he ..he
total 1 replies
~SasMaya ✧
berbunga-bunga pasti Naura 🤭
MayAyunda: sampai berkembang kak 😁😁
total 1 replies
~SasMaya ✧
ah.. kan manis banget arka ini
MayAyunda: semanis yang baca 😍😁😁
total 1 replies
~SasMaya ✧
frustasi kah Rama? sampe g sempet cukuran
MayAyunda: iya kak😁
total 1 replies
~SasMaya ✧
Araka sama Rama, sama-sama baik...
MayAyunda: terimkasih kak
total 1 replies
~SasMaya ✧
secara ga langsung Arka menghargai Naura
MayAyunda: betul kak
total 1 replies
~SasMaya ✧
lah... jadi kaya nikah kontrak ya
MayAyunda: iya 😁
total 1 replies
~SasMaya ✧
ahh... kasiannya Rama.
MayAyunda: he he
total 1 replies
~SasMaya ✧
lah... gimana sama Rama, kasian... keknya Rama juga baik.
MayAyunda: iya kak 😄
total 1 replies
~SasMaya ✧
sabar ya Naura, aku tahu rasanya /Whimper/
~SasMaya ✧
Naura udah ga punya ibu juga kah?
MayAyunda: iya sudah meninggal
total 1 replies
~SasMaya ✧
keknya papahnya tau sesuatu yang Naura ga tau, makanya di jodohin sama Arka.
MayAyunda: iya kak
total 1 replies
~SasMaya ✧
Naura pasti dilema banget ini
~SasMaya ✧
keluarga pasti ikut syok banget /Whimper/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!