NovelToon NovelToon
SETAHUN MENIKAH TANPA CINTA

SETAHUN MENIKAH TANPA CINTA

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Perjodohan / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: SenandikaMaret

Dijodohkan karena darah keraton yang mengalir dalam tubuh mereka, Raden Danendra Adipati dan Raden Ayu Kirana Ayodya menerima pernikahan tanpa protes. Satu tahun berlalu dalam ketenangan yang nyaris membosankan. Tidak ada pertengkaran, tidak ada pengkhianatan, bahkan tidak ada cinta. Mereka hidup layaknya dua orang asing yang kebetulan berbagi rumah dan nama belakang yang sama. Namun ketika keadaan memaksa mereka untuk saling mengenal lebih dekat, Kirana mulai menyadari bahwa di balik sikap dingin Danendra tersimpan perhatian yang tak pernah ia tunjukkan. Sementara Danendra perlahan memahami bahwa perempuan yang selama ini selalu berada di sisinya telah menjadi bagian paling penting dalam hidupnya. Di antara tradisi keluarga, tuntutan sebagai keturunan keraton, dan perasaan yang tumbuh terlambat, keduanya harus belajar bahwa cinta tidak selalu hadir sebelum pernikahan. Terkadang cinta justru datang setelah dua hati yang asing memilih untuk saling tinggal.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SenandikaMaret, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

RUMAH YANG TERLALU SUNYI

Pukul lima pagi, alarm di ponsel Kirana kembali berbunyi.

Ia meraba meja nakas dengan mata masih terpejam, lalu mematikan suara yang mengganggu tidurnya. Beberapa detik kemudian, perempuan itu membuka mata perlahan. Langit-langit kamar yang sama, lampu tidur yang sama, dan suasana yang sama seperti kemarin. Tidak ada yang berbeda.

Di sisi lain ranjang, Danendra sudah tidak ada.

Kirana menoleh ke arah jam dinding digital di atas meja kerja kecilnya. Baru pukul lima lewat dua pukul menit. Ia menghela napas kecil. Sudah pasti laki-laki itu sedang berolahraga di halaman belakang rumah mereka.

Danendra memang selalu begitu. Bangun jauh sebelum matahari terbit, berolahraga, mandi, lalu bersiap berangkat ke kantor. Sebuah rutinitas kaku yang nyaris tidak pernah bergeser semenit pun selama satu tahun terakhir.

Kirana bangkit dari tempat tidur dan merapikan selimut. Setelah mencuci muka di wastafel, ia berjalan perlahan menuju balkon kamar yang menghadap langsung ke arah taman. Udara pagi langsung menusuk kulitnya, terasa begitu sejuk sekaligus menyegarkan.

Dari lantai atas, ia bisa melihat Danendra sedang berlari mengelilingi lintasan paving di taman belakang rumah. Mengenakan kaus hitam polos dan celana olahraga sederhana, laki-laki itu bergerak dengan ritme yang sangat stabil. Langkah kakinya terdengar konstan di atas permukaan jalan.

Kirana memperhatikannya beberapa saat tanpa berkedip. Ada perasaan aneh yang mendadak menyelinap di benaknya. Mereka tinggal serumah, berbagi ranjang dan tidur di kamar yang sama setiap malam. Namun, terkadang ia merasa sedang melihat seseorang yang begitu jauh. Seolah-ofah ada sebuah dinding tak kasatmata namun sangat tebal yang memisahkan kehidupan mereka.

"Dingin ya, Nduk?"

Suara lembut Mbak Siti membuat Kirana sedikit terkejut dan langsung menoleh. Perempuan paruh baya itu rupanya sedang menyapu area balkon luar.

"Iya, Mbak," jawab Kirana ramah.

"Mau dibuatkan teh hangat untuk pagi ini?"

"Boleh, Mbak. Terima kasih ya."

Mbak Siti tersenyum hangat lalu berjalan turun kembali menuju area dapur. Sementara itu, Kirana kembali melemparkan pandangannya ke halaman bawah. Danendra tampak sudah berhenti berlari. Laki-laki itu kini berdiri di dekat gazebo, sedang berbicara mengenai sesuatu dengan Pak Darto, tukang kebun mereka. Sesekali suaminya itu menganggukkan kepala dan menyunggingkan senyum tipis yang tampak kasual.

Kirana memperhatikan interaksi itu dengan saksama. Ia tiba-tiba menyadari satu hal yang cukup miris. Selama satu tahun penuh menyandang status sebagai seorang istri, ia bahkan tidak tahu olahraga apa yang sebenarnya paling disukai oleh suaminya. Apakah berlari, bersepeda, atau mungkin berenang? Hal sedemikian sederhana, namun ia benar-benar buta akan jawabannya.

Sarapan pagi itu berlangsung persis seperti biasa. Danendra duduk tegak di kursi makan yang sama, sementara Kirana berada tepat di hadapannya. Mbak Siti mondar-mandir membawa beberapa wadah makanan hangat dari arah dapur.

"Jam berapa pulang hari ini, Mas?" tanya Kirana pelan sambil menuangkan teh hangat yang baru diseduh ke dalam cangkir suaminya.

"Mungkin agak malam," jawab Danendra singkat tanpa mengalihkan fokusnya dari iPad yang menampilkan grafik saham.

"Ada rapat penting?"

Danendra mengangguk perlahan. "Ada pembahasan proyek baru di luar kota."

"Oh." Kirana mengangguk pelan. "Oke."

Lalu, percakapan formal itu selesai begitu saja. Danendra kembali melanjutkan sarapan rotinya dengan tenang. Kirana juga melakukan hal yang sama, memotong telur mata sapi di piringnya dengan gerakan lambat.

Jika ada orang asing yang kebetulan melihat mereka saat ini, mungkin semuanya akan tampak sangat normal dan baik-baik saja. Tidak ada pertengkaran hebat, tidak ada ketegangan fisik yang kentara, ataupun wajah masam yang saling melempar permusuhan. Namun, setelah beberapa menit berlalu tanpa suara, Kirana baru menyadari sepenuhnya bahwa mereka telah kembali tenggelam dalam kebiasaan lama. Pola yang selalu berulang setiap hari.

Setelah suara mobil Danendra perlahan menghilang di ujung jalan, yang tersisa di rumah besar itu hanya bunyi detak jarum jam dinding dan dengung halus AC dari ruang tengah.

Kirana menghabiskan waktu paginya di dalam ruang kerja pribadi. Beberapa tumpukan dokumen penelitian kebudayaan Nusantara memenuhi meja kayunya yang besar. Sesekali ia membuka laptop untuk mengetik laporan, sesekali membaca buku referensi tua, lalu mencatat poin-poin penting di buku catatan kecilnya. Pekerjaan sebagai peneliti budaya itu setidaknya berhasil membuatnya tetap sibuk, namun sayangnya tidak cukup kuat untuk mengusir pikiran-pikiran yang mengganggu benaknya sejak semalam.

Menjelang siang hari, ia memutuskan pergi ke perpustakaan yayasan tempatnya bernaung. Beberapa rekan kerja menyapanya dengan ramah di koridor, bahkan beberapa di antaranya sempat mengajaknya untuk makan siang bersama di kedai seberang jalan. Hari itu berjalan dengan sangat linier dan biasa. Tetapi ketika sore menjelang dan ia melangkah kaki kembali ke dalam rumah, atmosfer dingin yang hampa kembali menyambutnya di balik pintu depan.

Rumah besar bergaya modern tropis yang mereka tempati ini memang sangat indah, bahkan terlalu indah. Lantai marmernya berkilau sempurna mencerminkan cahaya lampu, jendela-jendela kacanya besar menjulang tinggi, dan halaman sampingnya begitu luas berhias tanaman hijau. Semua aspek fisik bangunan ini terlihat sangat sempurna tanpa cela. Namun, terkadang Kirana merasa tempat ini lebih mirip seperti hotel mewah berkeamanan tinggi daripada sebuah rumah tinggal yang sesungguhnya. Sangat nyaman untuk ditempati, tetapi sama sekali tidak terasa hangat.

Malam hari pun tiba. Jarum jam dinding telah menunjukkan pukul delapan lewat tiga puluh menit ketika suara deru mobil Danendra akhirnya terdengar memasuki area garasi rumah.

Kirana yang sejak tadi sedang duduk membaca buku novel di sofa ruang keluarga langsung mengangkat kepalanya. Beberapa menit kemudian, sosok tinggi suaminya melangkah masuk melewati pintu penghubung.

"Kamu belum tidur?" tanya Danendra begitu mendapati istrinya masih terjaga di ruangan tengah.

Kirana menutup bukunya perlahan lalu meletakkannya di atas pangkuan. "Belum, Mas."

Danendra mengangguk pelan sembari melonggarkan ikatan dasinya. "Aku mandi dan membersihkan diri dulu kalau begitu."

"Oke."

Lalu, laki-laki itu berjalan dengan langkah tegap menuju lantai atas. Kirana menatap lekat-lekat punggung kokoh itu sampai sosok suaminya benar-benar menghilang di balik belokan tangga. Percakapan mereka malam ini lagi-lagi hanya terdiri dari beberapa patah kalimat formal yang sangat terbatas. Padahal, mereka tidak sedang terlibat pertengkaran, tidak sedang didera amarah, ataupun memiliki masalah besar yang mengganjal. Namun, memang hanya komunikasi tipis seperti itulah yang biasanya mewarnai hari-hari mereka.

Makan malam susulan berlangsung sekitar dua puluh menit kemudian di meja makan lantai bawah. Mereka kembali duduk berhadapan dalam posisi yang sama persis seperti momen sarapan tadi pagi. Suara denting sendok dan garpu yang sesekali beradu dengan piring porselen menjadi satu-satunya bunyi yang memecah kesunyian ruangan.

"Kata Mbak Siti, besok stok buah-buahan di kulkas sudah habis," ujar Kirana mencoba memancing obrolan.

Danendra mengangguk pelan setelah menelan makanannya. "Nanti biar aku minta Pak Budi untuk belanja ke supermarket besok pagi."

Kirana kembali mengangguk. "Oke."

Kirana meraih gelasnya untuk minum, namun ia baru menyadari bahwa isinya sudah benar-benar kosong. Belum sempat ia bergerak atau berdiri untuk mengambil teko, Danendra yang duduk di hadapannya lebih dulu mengulurkan tangan. Laki-laki itu meraih teko kaca di tengah meja, lalu mengisi gelas Kirana hingga hampir penuh.

Tidak ada penjelasan verbal. Tidak ada tatapan mata yang manis atau senyuman. Setelah meletakkan kembali teko tersebut ke posisi semula, Danendra kembali menyuap makanannya seolah tidak baru saja melakukan apa pun.

Kirana terpaku beberapa detik, menatap riak air yang perlahan menenang di dalam gelasnya. Perhatian kecil yang begitu efisien, namun sanggup meninggalkan rasa hangat yang ganjil di ulu hatinya.

Kirana menatap sisa lauk di atas piringnya dengan pandangan kosong. Entah kenapa, malam ini pikirannya justru kembali melayang pada memori percakapan hangat keluarga besar di rumah Eyang beberapa hari yang lalu.

Pasangan ideal.

Semua orang di luar sana dengan sangat mudah menyebut mereka sebagai representasi pasangan yang sempurna. Namun, benarkah penilaian kasat mata itu?

Setelah satu tahun menikah, Kirana tahu golongan darah Danendra, tahu ukuran kemejanya, bahkan tahu kopi apa yang selalu dipesan suaminya setiap pagi. Namun saat mencoba mengingat hal-hal yang lebih pribadi, pikirannya justru kosong.

Ia tidak tahu apa yang bisa membuat Danendra tertawa sampai perutnya sakit. Ia tidak tahu apa yang dilakukan laki-laki itu saat sedang sedih. Dan yang paling aneh, ia tidak tahu mimpi apa yang sebenarnya sedang dikejar oleh suaminya sendiri.

Kesadaran itu datang mengetuk benaknya dengan begitu perlahan, namun efeknya seketika membuat dada Kirana terasa luar biasa sesak.

"Mas," panggil Kirana tiba-tiba.

Danendra langsung mengangkat kepalanya dari piring, menatap mata Kirana dengan pandangan tenangnya yang intens. "Ya?"

Kirana sempat menahan napasnya selama beberapa detik. Di dalam kepalanya, sederet pertanyaan yang tadi berkecamuk mendadak berebut ingin meluncur keluar. Namun, melihat tatapan mata Danendra yang begitu lurus tanpa riak emosi, Kirana mendadak kehilangan seluruh keberaniannya. Ia merasa takut jika pertanyaan-pertanyaan itu justru terdengar konyol atau mengganggu batasan yang selama ini sengaja mereka jaga. Pada akhirnya, ia memilih untuk kembali mundur.

"Nggak jadi, Mas," ucap Kirana sembari memaksakan sebuah senyuman tipis yang tampak canggung.

Danendra menatapnya lurus selama beberapa detik, seolah sedang membaca sesuatu yang tersirat di wajah istrinya, sebelum akhirnya ia mengangguk pendek tanpa bertanya lebih jauh. "Oke." Laki-laki itu pun kembali melanjutkan makan malamnya dengan tenang.

Kirana menundukkan kepalanya, menyembunyikan senyum getir yang terbit di bibirnya.

Untuk pertama kalinya sejak menikah, Kirana menyadari bahwa orang yang paling asing dalam hidupnya bukanlah orang baru. Melainkan laki-laki yang setiap malam tidur di sampingnya.

1
Wawan
Satu kembang buatmu Thor 💪✍️
Wawan
Wow... Why? 😍💪✍️
SenandikaMaret: kinapa yaa kira-kiraa yuk terus pantengin kisah kirana 🤭🥰
total 1 replies
Wawan
Nah lo 😍
SenandikaMaret: hayolooo 🤣
total 1 replies
Wawan
kembang mawar buatmu Kirana ✍️
SenandikaMaret: 🌹🌹 mawar juga untukmu kak, dari kirana 🤭
total 1 replies
Wawan
🤭🤭🤭 .... ngapain aja selama ini?
SenandikaMaret: hanya kirana dan tuhan lah yang tau 🤣
total 1 replies
Wawan
Naaaah.... 🤭
SenandikaMaret: nah loh 🤭
total 1 replies
Wawan
mawar buatmu thor 💪✍️
SenandikaMaret: 🌹 makasih
total 1 replies
Wawan
Wow bahaya clue-nya sangat ✍️🤭
SenandikaMaret: bikin penasaran kan 🤭
total 1 replies
Wawan
Salam kenal untuk Kirana
SenandikaMaret: haloo salam kenal juga 😇 dan selamat berkelana di dunia kirana💫
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!