NovelToon NovelToon
Azalea Masuk Ke Raga Gadis Yang Malang

Azalea Masuk Ke Raga Gadis Yang Malang

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Transmigrasi / Teen
Popularitas:860
Nilai: 5
Nama Author: Jaena19

Azalea sangat menyukai novel, terkadang dia selalu ingin mengubah jalan cerita jika alur atau endingnya tidaks sesuai dengan ekspektasinya. Terkadang dia juga ingin masuk ke dunia novel supaya bisa merasakan pengalaman menjadi tokoh utama, apalagi jika tokoh utama yang di deskripsikan di kelilingi oleh pria-pria tampan. Dan keinginan Azalea menjadi kenyataan, seperti sebuah mimpi dia masuk ke dalam salah satu novel yang dia baca. Sayangnya tokoh yang dia perankan adalah gadis cantik yang malang. Akankah Azalea mampu menjalani kehidupan barunya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jaena19, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

3

Nayla Arabella.

Nama itu selalu terdengar seperti doa yang dijawab dengan sempurna. Lembut, elegan, dan berkelas persis seperti sosok yang melekat padanya. Gadis dengan mata hazel yang memantulkan cahaya seperti kaca mahal, rambut panjang yang selalu terawat, dan wajah yang seolah tidak pernah disentuh cela.

Banyak orang yang memandangnya dengan iri.

Banyak yang berbisik, menyebut hidupnya sebagai keberuntungan yang mutlak.

“Dia itu sempurna.”

“Cantik, pintar, kaya, keluarga lengkap.”

“Kurang apa lagi sih hidupnya?”

Semua mata tertuju padanya dengan kekaguman. Setiap langkah Nayla selalu menjadi pusat perhatian. Di koridor sekolah, di acara keluarga, bahkan di tempat umum semua orang mengenalnya.

Nayla Arabella.

Ratu dari keluarga Raharja.

Keluarga terpandang, kaya, dan penuh pengaruh.

Tidak ada kekurangan.

Hanya kesempurnaan.

Setidaknya, itu yang terlihat dari luar.

Namun, tidak ada yang benar-benar tahu.

Bahwa di balik semua itu—

Ada retakan.

Ada luka.

Dan ada kelelahan yang tidak pernah selesai.

---

Rumah besar yang berdiri megah dengan dominasi warna putih itu tampak seperti istana bagi siapa pun yang melihatnya. Pilar-pilar tinggi menjulang, jendela kaca besar memantulkan cahaya matahari, dan halaman luas yang selalu terawat rapi.

Semua terlihat sempurna.

Namun bagi Nayla—

Rumah itu bukan tempat pulang.

Rumah itu adalah neraka.

Lorong-lorong panjangnya terasa dingin, sunyi, dan menekan. Tidak ada kehangatan. Tidak ada tawa yang benar-benar tulus. Yang ada hanya aturan. Standar. Ekspektasi.

“Nayla harus begini.”

“Nayla tidak boleh begitu.”

“Kamu itu anak Raharja. Jaga sikapmu.”

Kalimat-kalimat itu terus menghantui.

Setiap hari.

Tanpa henti.

Ia dipaksa menjadi sempurna.

Bukan karena ia ingin.

Tapi karena ia tidak punya pilihan.

Kesalahan kecil pun terasa seperti dosa besar. Tatapan kecewa dari orang tuanya jauh lebih menyakitkan daripada bentakan. Karena di sana tidak ada kemarahan—hanya dingin.

Dan dingin itu… membunuh perlahan.

Nayla sudah terlalu lelah.

Lelah berpura-pura.

Lelah tersenyum.

Lelah menjadi seseorang yang bahkan tidak ia kenali.

---

“Cewek gila!”

Suara itu memecah keheningan malam.

Nayla refleks menutup telinga, tubuhnya sedikit bergetar. Suara petasan di luar rumah sebenarnya biasa saja, tapi baginya itu seperti pemicu mengembalikan semua ketakutan yang sudah tertanam dalam dirinya.

Dan di hadapannya—

Endra.

Kekasihnya.

Atau… mungkin lebih tepat disebut luka yang ia pilih untuk peluk.

Tatapan mata hitam Endra tajam, penuh emosi yang tidak stabil. Wajahnya tegang, rahangnya mengeras. Ia terlihat marah. Sangat marah.

Nayla tidak tahu apa yang salah kali ini.

Atau mungkin—

Ia sudah terlalu sering salah.

Endra tiba-tiba meraih pergelangan tangannya.

Kuat.

Terlalu kuat.

Nayla berjengit, rasa sakit langsung menjalar dari tangannya ke seluruh tubuh. Ia menggigit bibir bawahnya, mencoba menahan suara yang hampir keluar.

“Bilang kalau lo gak akan pulang sama cowok brengsek itu lagi!” bentak Endra.

Suara itu keras.

Dekat.

Menekan.

Nayla menunduk, napasnya tidak beraturan.

“M-maaf, Dra…” suaranya pelan, nyaris tidak terdengar.

“Gue nggak butuh permintaan maaf lo, Nayla!”

Cengkeraman itu semakin kuat.

Kuku Endra menekan kulitnya, meninggalkan rasa perih yang nyata.

Air mata mulai menggenang.

Namun kali ini, Nayla tidak mencoba menahannya.

Ia sudah terlalu lelah untuk pura-pura kuat.

Tangisnya jatuh begitu saja.

Diam.

Tanpa suara besar.

Tanpa drama.

Hanya air mata yang mengalir seperti kebiasaan.

Namun reaksi itu justru membuat Endra mendecih.

Ia membuang muka.

Seolah jijik.

“Endra… sakit…” bisik Nayla lirih.

Tidak ada jawaban.

Tidak ada belas kasihan.

“Gue lebih sakit, Nayla!” bentak Endra lagi, kali ini lebih keras.

Suara itu menghantam Nayla seperti tamparan.

Tubuhnya gemetar.

Tangisnya semakin kuat.

Namun Endra tetap tidak peduli.

“Endra… lepas…” mohon Nayla.

Alih-alih melepaskan dengan lembut, Endra justru mendorong tangannya dengan kasar.

Seolah membuang sesuatu yang tidak berharga.

Nayla terhuyung sedikit ke belakang.

Matanya membesar saat melihat pecahan kaca di lantai—gelas yang baru saja dilempar Endra.

Napasnya tercekat.

Jantungnya berdegup cepat.

“Lo cuma punya gue, Nayla…”

Suara itu berubah.

Lebih pelan.

Lebih dalam.

Namun justru terasa lebih menakutkan.

Nayla mendongak perlahan.

Menatap Endra.

“Ma-maaf… aku salah…” ucapnya lagi.

Ia tidak tahu apa yang salah.

Tapi ia tahu satu hal—

Ia harus meminta maaf.

Selalu begitu.

“Lo cewek gila, Nayla! Gak tau diri!”

Bentakan itu kembali.

Lebih tajam.

Lebih menyakitkan.

Endra melangkah maju.

Nayla mundur.

Satu langkah.

Dua langkah.

Tiga langkah.

Sampai—

Punggungnya menabrak dinding.

Tidak ada jalan lagi.

Endra mendekat.

Terlalu dekat.

Kedua tangannya menahan di sisi kepala Nayla, mengurungnya.

Tidak memberi ruang.

Tidak memberi kesempatan.

“Endra… jangan…” suara Nayla bergetar.

Ia menutup mata sesaat.

Berharap.

Berharap laki-laki di depannya sadar.

Berubah.

Kembali seperti dulu.

“Endra… kamu mau apa?” tanyanya pelan.

Namun tidak ada jawaban.

Hanya napas berat yang terasa di wajahnya.

Dan detik berikutnya—

Sesuatu berubah.

Perlahan.

Mata Endra yang tadinya penuh amarah… mulai berkaca-kaca.

Tangannya yang menahan dinding… turun.

Kepalanya menunduk.

“Nayla… maafin gue, Nay…”

Suara itu…

Berbeda.

Lemah.

Penuh penyesalan.

Nayla terdiam.

Seperti biasa—

Ia tidak pernah benar-benar mengerti Endra.

Satu saat ia menjadi sosok yang menakutkan.

Kasar.

Menyakitkan.

Namun di saat lain—

Ia berubah.

Menjadi seseorang yang rapuh.

Menyesal.

Memohon.

Dan di situlah kelemahan Nayla.

Ia tidak bisa membenci Endra sepenuhnya.

Karena di antara luka-luka itu—

Selalu ada momen di mana Endra terlihat membutuhkan dirinya.

Dan Nayla…

Tidak pernah bisa mengabaikan itu.

Endra terlalu penting baginya.

Dan mungkin—

Nayla terlalu berharga bagi Endra.

Atau setidaknya, itu yang selalu ia yakini.

---

Namun jauh di dalam dirinya—

Ada sesuatu yang berbeda.

Azalea.

Kesadaran lain yang kini hidup di dalam raga Nayla.

Azalea melihat semuanya.

Merasakan semuanya.

Tanpa bisa menghentikan.

Setiap hari, setiap detik, ia seperti penonton yang terjebak dalam tubuh orang lain.

Ia bisa merasakan sakit itu.

Cengkeraman di tangan.

Bentakan yang menusuk telinga.

Air mata yang jatuh tanpa henti.

Namun ia tidak bisa bergerak.

Tidak bisa melawan.

Tidak bisa mengubah apa pun.

“Kenapa dia tetap bertahan…” batin Azalea berteriak.

Ia tidak mengerti.

Ia tidak bisa menerima.

Baginya, ini bukan cinta.

Ini luka.

Ini racun.

Ini kehancuran yang perlahan membunuh.

Namun bagi Nayla—

Ini adalah sesuatu yang sulit dilepaskan.

Setiap kali Endra meminta maaf, Nayla akan luluh.

Setiap kali Endra terlihat rapuh, Nayla akan kembali.

Dan siklus itu terus berulang.

Tanpa akhir.

Tanpa perubahan.

Azalea merasa sesak.

Ia ingin berteriak.

Ingin memaksa Nayla pergi.

Ingin menghentikan semua ini.

Tapi—

Ia tidak punya kendali.

Ia hanya bisa merasakan.

Menjadi bagian dari rasa sakit itu.

Hari demi hari.

Dan perlahan—

Azalea mulai mengerti.

Bahwa menjadi Nayla Arabella bukanlah keberuntungan.

Bukan anugerah.

Melainkan—

Sebuah kutukan yang dibungkus dengan kesempurnaan.

Dan di balik mata hazel yang indah itu—

Tersembunyi kelelahan yang tidak pernah benar-benar terlihat oleh siapa pun.

1
Susi Nugroho
Lanjutannya di tunggu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!