Area dewasa❗
Demi menyelamatkan ayah angkatnya yang sakit keras, Zivanna Mahavira terpaksa menggantikan saudara kembarnya, Zivarra, yang kabur sebelum pernikahannya dengan anak sulung keluarga Sadewantara, Keenan Sadewantara.
Tanpa sepengetahuan Zivanna, Keenan ternyata sudah mengetahui sejak awal bahwa wanita yang menikah dengannya bukanlah Zivarra.
Mereka akan menjalani pernikahan selama enam bulan, sesuai kontrak yang diberikan Keenan di awal pernikahan. Selama itu, Zivanna harus mempertahankan kebohongannya demi keluarga dan ayah angkatnya.
Semakin lama hidup bersama, keduanya justru saling jatuh hati.
Sampai pada bulan kelima, semuanya berubah ketika Zivanna menolak hubungan suami istri dan akhirnya meminta maaf atas kebohongannya.
“Kamu pikir aku baru tahu siapa kamu? Aku sudah tahu sejak awal, Zivanna,” ucap Keenan dengan senyum miring.
Mata Zivanna langsung membesar. “A-apa?”
Keenan mengangkat dagu Zivanna. “Kalau kamu ingin aku maafkan, lakukanlah dengan tubuhmu.”
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutia Kim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Seperti bukan Zivarra
Zivanna mengangguk pelan, mengiyakan ajakan Keenan. Jantungnya sebenarnya sudah berdegup kencang sejak ia menginjakkan kaki rumah ini, dan semakin kencang lagi ketika bertemu langsung dengan Keenan.
Sebelum beranjak, tak sengaja ia bersitatap dengan Grace. Wanita paruh baya itu menatapnya tajam seakan-akan berkata, 'Jangan berkata macam-macam pada Keenan!'
Zivanna mengikuti Keenan menuju ke halaman belakang. Ia menundukkan kepalanya, tak berani menatap Keenan yang saat ini sedang menatapnya seolah-olah Zivanna akan dimangsa hidup-hidup oleh pria itu.
Keenan melihat Zivarra dari atas hingga ke bawah. Penampilan Zivarra malam ini sangat berbeda. Biasanya akan berpenampilan glamor dan berdandan tebal, namun gadis yang ada di hadapannya ini jauh berbeda, lebih sederhana dan natural.
“Apa tanah lebih menarik daripada orang yang ada di hadapan kamu?” celetuk Keenan sambil memasukkan satu tangannya ke dalam saku celana.
Zivanna tersentak dan menatap Keenan. “Mas, ingin bicara soal apa?”
Keenan menaikkan satu alisnya. “Mas?” ulangnya.
Beberapa kali bertemu dengan Zivarra, gadis itu tidak pernah memanggilnya dengan panggilan seperti itu.
Bahkan, suara Zivarra yang kini berada di hadapannya terdengar jauh lebih lembut, berbeda dengan Zivarra yang ia kenal sebagai gadis yang arogan dan angkuh.
“Ah, maksud aku, apa yang ingin kamu bicarakan, Keen?” ralat Zivanna semakin gugup. Ia berdoa dalam hati, berharap ada seseorang yang membawa Zivanna pergi dari sini.
Keenan menyipitkan matanya, seolah sedang memastikan sesuatu. Tak lama ia mengembuskan napas perlahan, lalu kembali menatap Zivarra.
“Apa kamu benar-benar setuju dengan pernikahan ini?” tanya Keenan.
Zivanna terdiam. Kalau bukan karena soal biaya operasi ayahnya, Zivanna tak mungkin menerima ini. Apalagi harus berkorban untuk saudara kembar dan ayah kandungnya yang menelantarkannya selama ini.
Zivanna akhirnya mengangguk. “Aku terima demi keluargaku.”
Keenan mendengus kecil. “Demi keluarga? Bukannya kamu sudah memiliki kekasih? Seharusnya kamu nggak perlu mengorbankan diri untuk menjadi tumbal para orang tua itu,” ucapnya sambil menatap ke depan, ke arah taman yang diterangi lampu-lampu taman.
Zivanna meremas ujung gaun yang ia kenakan, ini merupakan pertanyaan jebakan, membuatnya panik dan bingung ingin menjawab apa.
“Itu aku–”
“Permisi, Tuan, Nona,” potong seorang pelayan. Keenan dan Zivanna langsung menoleh ke arahnya.
“Ada apa?” tanya Keenan.
“Tuan dan Nona dipanggil untuk makan malam dan sudah ditunggu di ruang makan,” jawab pelayan itu sambil menundukkan kepalanya karena takut melihat raut wajah Keenan yang tidak mengenakkan, mungkin karena ia merasa telah mengganggu Keenan yang sedang mengobrol.
Keenan hanya mengangguk. Sementara itu, Zivanna bergegas berjalan cepat masuk ke dalam demi menghindari Keenan.
Melihat itu, Keenan hanya menggeleng. Lalu merogoh saku celananya untuk mengambil ponselnya. Ia mencari kontak Bara dan segera menghubunginya.
“Halo, Tuan. Ada yang bisa saya bantu?” ucap Bara setelah panggilan tersambung.
“Apa benar informasi yang kamu berikan soal Zivarra yang kabur dengan pacarnya itu?” tanya Keenan.
“Benar, Tuan. Kami tidak mungkin salah memberikan informasi. Memangnya ada yang salah dengan informasi itu, Tuan?” tanya Bara balik.
Keenan mengatakan bahwa ia melihat Zivarra di rumahnya datang bersama orang tua gadis itu.
Mendengar itu, tentu Bara terkejut karena ia dan anak buah Keenan yang lain melihat dengan mata kepala mereka sendiri Zivarra pergi ke bandara bersama kekasihnya.
“Kami tidak mungkin salah melihatnya Tuan,” sangkal Bara.
“Saya tahu. Saya yakin ada yang direncanakan dan dirahasiakan Samuel dan istrinya. Kamu cari tahu lebih dalam mengenai Samuel dan keluarganya, terutama Zivarra,” ucap Keenan memerintahkan Bara.
“Baik, Tuan. Saya akan melaporkannya segera.”
“Hmm,” jawab Keenan singkat, lalu mematikan panggilan tersebut. Ia menatap ke depan. Dalam hati, ia bertanya-tanya siapa sebenarnya Zivarra yang saat ini berada di rumahnya.
Keenan menghela napas kasar, kemudian berbalik dan melangkah masuk ke dalam rumah menuju ruang makan. Ia melihat semuanya belum mulai makan. Sepertinya mereka sedang menunggunya.
“Maaf, lama,” ucap Keenan seraya duduk di sebelah Zivarra.
“Tidak apa-apa. Ayo kita mulai makan,” ucap Richard, ayah Keenan.
Mereka mengangguk, lalu mengambil nasi dan lauk. Kemudian mulai menyantapnya.
Zivanna merasa tidak nyaman. Bagaimana tidak? Keenan duduk di sampingnya dan sedari tadi Rafael, saudara tiri Keenan, duduk di kursi tepat di hadapannya sambil menatapnya seolah-olah akan menelanjanginya.
Dan gerak-geriknya disadari oleh Keenan. Keenan menatap Zivarra dan Rafael secara bergantian. Ia pun berdehem, membuat semuanya melihat ke arahnya.
“Makanan ada di hadapan kamu, Rafael, bukan di wajah Zivarra,” sindir Keenan.
Semuanya terkekeh mendengar ucapan Keenan. Mereka mengira Keenan cemburu karena Rafael menatap Zivarra.
Sementara itu, Zivanna menundukkan kepala karena malu, sedangkan Rafael hanya mendengus kecil.
Mereka kembali fokus pada makanan masing-masing.
“Zivarra...” panggil Angelina.
Zivanna mengangkat kepalanya dan menatap Angelina. “Iya, Tan?”
“Makanannya kurang sesuai dengan selera kamu, ya?” tanya Angelina karena melihat Zivarra hanya memainkan makanannya.
Zivanna menggeleng. “Nggak kok, Tan. Makanannya enak banget,” balasnya sedikit panik. Terlebih lagi, orang-orang di meja makan melihat ke arahnya. Tatapan tajam kembali ia dapatkan dari Grace.
“Syukurlah. Tante kira kamu tidak suka,” ucap Angelina sambil tersenyum.
Zivanna hanya membalas dengan senyum kikuk dan mulai memakan makanannya perlahan. Entah kenapa, makanan itu jadi sulit untuk ditelannya.
...****************...
Setelah dari rumah keluarga Keenan dan mengganti gaunnya di rumah Samuel, Zivanna memilih langsung pulang. Bukan ke rumah, melainkan ke rumah sakit, dan ia diantar oleh sopir pribadi Samuel.
Di sepanjang perjalanan ia terdiam memikirkan bagaimana kehidupannya nanti jika ia sudah menikah dengan Keenan? Apakah ia akan tertekan atau malah sebaliknya? Apalagi mereka menikah karena perjodohan.
Dan bagaimana jika Keenan dan keluarganya tahu bahwa dirinya bukanlah Zivarra yang asli? Zivanna sangat yakin mereka pasti akan marah besar dan kecewa.
“Nona, kita sudah sampai,” ucap Teguh.
Zivanna tersentak dari lamunannya. “Ah iya. Terima kasih sudah mengantarkan saya.”
Teguh mengangguk. “Sama-sama, Nona.”
Zivanna keluar dari mobil dan berjalan masuk ke dalam gedung rumah sakit. Tak lupa, sebelum masuk ke ICCU, ia memakai baju pelindung dan masker.
Zivanna melihat Damian masih memejamkan mata dengan tubuh lemah di atas ranjang pesakitan. Banyak alat yang menempel pada tubuhnya membuat dada Zivanna terasa sesak.
“Yah... bertahan ya... Anna sudah menemukan cara untuk membiayai pengobatan Ayah. Anna berharap semoga Ayah bisa segera mendapatkan donor jantung,” ucap Zivanna lirih sambil memegang tangan rapuh Damian.
Suara dering ponsel Zivanna menggema. Ia mengambil dari kantong celananya. Di ponsel baru yang ia dapatkan dari Samuel itu, terpampang nama Grace di layar.
Dengan segera ia keluar dari ICCU untuk mengangkat telepon tersebut.
“Ya, Nyonya?” tanya Zivanna.
“Kenapa lama sekali kamu mengangkatnya? Kamu sengaja ya membuat saya menunggu lama?!” semprot Grace.
“Maaf, Nyonya. Tadi saya di ruang rawat Ayah saya, makanya saya lama mengangkatnya,” jelas Zivanna.
Terdengar suara dengusan Grace di seberang.
“Besok pagi kamu ke rumah saya karena Keenan akan menjemputmu untuk mengambil cincin nikah kalian!”
“Baik Nyonya,” jawab Zivanna seadanya.
“Ya sudah. Jangan sampai telat dan awas saja kalau kamu sampai bicara yang macam-macam ke Keenan! Ingat, nyawa Ayah kamu ada di tangan kami,” ancam Grace.
“Iya Nyonya, saya janji tidak akan bicara macam-macam ke Keenan,” ujar Zivanna dengan nada bergetar antara sedih dan marah karena ancaman Grace tadi.
“Bagus!” Grace langsung mematikan telepon tersebut tanpa menunggu Zivanna membalasnya.
Rahang Zivanna mengeras, giginya bergemeletuk. Bahkan ponsel yang ada di tangannya diremas dengan kuat.
“Kamu harus kuat Zivanna, demi Ayah!” ucapnya seolah menyemangati dirinya.
btw Keenan udah bucin akut ama lu. Noh lu di kamar mandi aja di samperin. Pasti mau jap jip jup di bwh shower😭😭🤣