Tiga tahun setelah perang besar melawan Abyss, dunia tak pernah benar-benar pulih.
Retakan neraka muncul di berbagai penjuru benua, memuntahkan monster, iblis, dan roh-roh jahat yang merasuki manusia.
Rowan Desmond, kesatria terkuat dari Kerajaan Aurelius telah menghabiskan tiga tahun memburu petaka yang tak kunjung berakhir.
Sampai suatu malam Rowan menangkap seorang pencuri bernama Cecilia Landon yang mencuri relik kuno milik kerajaan. Namun Cecilia menyimpan kemampuan besar, dimana ia dapat melihat roh, mendengar bisikan arwah, dan memurnikan kegelapan yang sangat dibutuhkan oleh Rowan.
Rowan akhirnya membuat sebuah perjanjian; Ia akan membantu Cecilia mengumpulkan relik-relik yang diburunya. Sebagai gantinya, Cecilia harus membantu Rowan menghadapi roh-roh yang mengancam seluruh benua.
Namun semakin jauh perjalanan mereka, semakin banyak rahasia yang terkuak, tentang Cecilia yang ternyata terkutuk.
Akankah mereka mampu menyelamatkan dunia atau justru kehilangan satu sama lain
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Archiemorarty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 35. SELAMAT TINGGAL, PAMAN
Tak ada seorang pun yang berbicara. Ruangan itu begitu sunyi hingga suara napas terdengar jelas. Semua orang masih berusaha menerima kenyataan yang ada di depan mata mereka.
Sosok yang berdiri di hadapan mereka memang Cecilia. Wajah, tubuh, suara, namun cara berdiri, tatapan mata itu, gerakan tubuh semuanya milik orang lain. Milik seseorang yang telah meninggal dua tahun lalu.
Milik Kapten Pasukan Khusus Ravens; Colton Normand.
Dan saat ini tatapan Colton tertuju hanya kepada satu orang; Rowan.
Pria itu berdiri membeku, matanya berkaca-kaca dengan bibir bergetar seolah seluruh pertahanan yang selama ini ia bangun runtuh dalam sekejap.
Dua tahun Rowan memendam semuanya sendirian, membawa rasa bersalah itu dan hidup bersama luka yang tidak pernah sembuh.
Dan sekarang orang yang selama ini menjadi sumber sesal Rowan itu berdiri tepat di depannya. Masih tersenyum seperti yang ia ingat dan memandang Rowan dengan hangat seperti dulu.
Colton perlahan berjalan mendekati Rowan, langkahnya tenang, santai, seakan tidak ada jarak dua tahun yang memisahkan mereka.
Rowan tidak bergerak bahkan ketika sosok itu kini berdiri tepat di hadapannya.
Mereka saling memandang sangat lama.
Lalu ...
BUGH
Sebuah tinju ringan mendarat di dada Rowan. Tidak keras, hanya sebuah pukulan kecil yang sangat familiar. Pukulan yang dulu selalu diberikan Colton setiap kali Rowan melakukan sesuatu yang bodoh.
"Sejak dulu kau memang bocah keras kepala. Kenapa kau menyalahkan dirimu sampai seperti itu, huh?" Suara itu terdengar lembut, namun penuh keakraban.
Mata Rowan langsung memerah mendengarnya.
Colton kembali menepuk dada Rowan dan berkata, "Kenapa kau menyalahkan dirimu atas kematianku padahal itu jelas bukan salahmu?"
Bibir Rowan bergetar. Ia menggigit bibir bawahnya kuat-kuat. Berusaha menahan sesuatu yang selama ini tidak pernah ia izinkan keluar; air mata.
Namun semakin ia mencoba menahannya semakin sakit rasanya.
Cecilia menghela napas panjang, lalu mengangkat kedua tangannya. Dan mulai memukuli pelan pipi Rowan.
Plak.
Plak.
Plak.
Persis seperti seorang Paman yang sedang memarahi keponakannya.
"Kenapa kau menyiksa dirimu sendiri selama dua tahun ini? Tanpa henti bahkan saat kau tidur," kata Cecilia atau tepatnya Colton.
Permaisuri sampai menutup mulutnya, karena kalimat itu terdengar sangat menyakitkan. Tidak menyangka kalau selama ini penyesalan Rowan berdampak seburuk itu.
"Tubuhmu saja besar tapi hatimu masih seperti anak kecil," ejek Colton dengan senyum lebar.
Rowan masih diam menahan diri.
Senyum di wajah Cecilia perlahan memudar.
"Kematianku bukan salahmu, Rowan," kata Colton. Kalimat itu diucapkan dengan sangat tegas. Tidak menyisakan ruang untuk dibantah.
Namun justru itulah yang membuat pertahanan Rowan runtuh semakin jauh. Karena selama dua tahun tak ada satu orang pun yang mampu meyakinkannya akan hal itu.
Tidak Kaisar.
Tidak Gareth.
Tidak Evan.
Tidak siapa pun.
Dan sekarang orang yang meninggal itu sendiri yang mengatakannya.
Rowan menunduk, bahu lebarnya bergetar. Tangannya mengepal begitu erat. Sampai akhirnya suara seraknya keluar.
"Tapi karena perintahku ..." Air mata mulai menggenang di mata Rowan. "... karena perintahku Paman meninggal dengan cara tragis. Jika saja aku tidak memerintahkanmu menyerang monster di depan Retakan Abyss itu ... kau tidak akan mati."
Ruangan kembali hening. Semua orang tahu kejadian itu. Hari yang mengubah hidup Rowan, hari yang membuat pria itu tidak pernah benar-benar tersenyum lagi.
Rowan menunduk semakin dalam.
"Padahal Gareth sudah memperingatkanku. Gareth bilang itu berbahaya. Tapi aku tidak mendengarkan. Aku hanya memikirkan strategi. Aku hanya memikirkan cara yang paling efektif agar kita menenangkan pertempuran. Dan aku justru mengirimmu menuju kematian," lanjut Rowan dengan suara menahan tangis.
Colton memandangnya lama. Tidak ada kemarahan atau kekecewaan. Hanya rasa sayang yang tidak pernah berubah untuk Rowan. Dia sudah mengenal Rowan sejak bocah itu bayi.
"Itu maksudku. Kau tidak pernah berniat membuatku mati. Kau hanya memikirkan seluruh pasukan. Kau memikirkan rakyat dan dampaknya jika monster itu lolos. Aku meninggal bukan karenamu. Bukan karena perintahmu. Aku meninggal karena memang itulah takdirku," kata Colton lebih serius dan tegas kali ini.
Semua orang terdiam mendengarkan. Karena tidak ada sedikit pun keraguan dalam suara itu.
"Aku seorang kesatria yang selalu pergi berperang dan bertempur. Aku tahu risikonya. Aku tahu kemungkinan terburuknya. Aku tahu suatu hari aku mungkin mati di medan perang. Dan ketika hari itu tiba...Aku tidak menyesal."
Rowan memandangi wajah Cecilia sekarang, mencari kebenaran kalau Colton tidak membencinya.
"Aku bangga mati sebagai kesatria, melindungi kerajaan ini dan menjaga orang-orang yang kucintai. Jadi kenapa justru kau yang menyesali kematianku? Kenapa kau yang menghukum dirimu sendiri?" kata Colton seraya memasang raut wajah sedih.
Rowan menggigit bibirnya. Namun rasa sakit itu tidak lagi mampu menahan air mata.
"Tapi tetap saja." Air mata mulai jatuh. "Aku komandannya. Aku yang memberi perintah. Dan karena perintahku kau meninggal."
Plak.
Sebuah tepukan mendarat di pipi Rowan seperti sebelumnya. Tidak keras, namun cukup membuat Rowan terdiam.
"Bocah bodoh. Kau benar-benar bodoh. Bocah yang suka berlari di lapangan latihan dan selalu membawa kabur pedangku atau bersembunyi di gudang senjata. Bocah yang selalu berpikir dirinya harus memikul semuanya sendiri. Kau tidak berubah sama sekali. Hatimu masih terlalu lembut, meski mulutnya setajam pedang," kata Colton dengan senyum di wajah.
Rowan tersenyum dalam tangisnya.
Lalu Colton berkata, "Menunduklah."
Rowan menurut. Perlahan ia merendahkan tubuhnya. Karena meski sekarang ia sudah jauh lebih tinggi di hadapan Colton Rowan tetaplah anak kecil yang sama.
Dan saat itulah Colton langsung menarik Rowan ke dalam pelukan.
Ruangan seakan berhenti bergerak.
Permaisuri langsung menutup mulutnya.
Aaron memalingkan wajah menahan haru begitu pula dengan Evan.
Bahkan Kaisar ikut mengembuskan napas panjang.
Karena mereka semua tahu pelukan itu sudah terlambat dua tahun.
Colton menepuk punggung Rowan. Tepukan keras khas seorang kesatria. Bukan tepukan lembut.
Namun justru itulah yang paling dirindukan Rowan.
Kemudian tangan itu mengacak rambutnya kasar.
"Berhentilah menyalahkan dirimu atas kematianku, Nak. Aku tidak pernah membencimu. Tidak pernah sama sekali tidak," kata Colton.
Tubuh Rowan langsung bergetar. Kalimat itu menghancurkan seluruh pertahanan terakhirnya. Air mata Rowan akhirnya jatuh tanpa bisa ditahan lagi. Itu adalah kalimat yang sangat ingin Rowan dengar sejak dua tahun lalu. Kalimat bahwa Colton tidak membenci Rowan.
"Kematianku adalah takdir. Bahkan tanpa perintahmu aku tetap akan mati di pertempuran itu. Kau tidak bisa mengubahnya. Kau tidak bisa menghentikannya. Kau hanya manusia bukan Dewa," kata Colton.
Rowan menangis seperti anak kecil..
Dan Colton tetap memeluknya dan berkata, "Teruslah maju. Jangan terjebak di masa lalu. Kau dikelilingi orang-orang yang menyayangimu jadi kau harus menjaga mereka. Kau harus hidup dan bahagia."
Suara Colton mulai bergetar untuk pertama kalinya. Karena ia juga menahan emosinya.
"Kau kesatria yang hebat. Kau luar biasa Kau sangat mirip dengan orang tua dan Pamanmu. Kau tumbuh menjadi pria yang hebat. Maaf tidak bisa mendampingimu lebih lama," kata Colton.
Dan saat itulah Rowan benar-benar runtuh. Pria yang selalu terlihat kuat dan ditakuti musuh. Kini menangis sejadi-jadinya sambil memeluk tubuh Cecilia erat. Menangis di bahu gadis itu untuk dua tahun rasa bersalah dan rasa kehilangan.
Colton hanya mengusap punggungnya perlahan.
Seperti seorang ayah.
Seperti seorang paman.
Seperti keluarga.
"Aku akan pergi ke tempat yang baru. Aku berharap di kehidupan berikutnya kita bisa bertemu lagi sebagai keluarga, Jaga dirimu baik-baik. Kau dimaafkan," kata Colton.
Air mata kembali mengalir dari mata Rowan. Rowan mengangguk tanpa mampu berkata apa-apa.
Mereka tetap seperti itu cukup lama.
Sampai akhirnya Rowan berhasil menenangkan dirinya.
Perlahan pelukan itu terlepas.
Colton memandang wajah Rowan.
BUGH
Sebuah tinju kecil kembali mendarat di dada Rowan.
"Kau masih cengeng seperti bocah," ejek Colton.
Rowan tertawa kecil. Di tengah sisa air matanya.
"Dan Paman masih menyebalkan," balas Rowan.
"Hah! Itu baru Rowan yang kukenal." Colton tertawa.
Kemudian Colton berbalik menuju Evan.
Sosok Duke Ravens itu langsung berdiri tegak secara refleks. Rasa hormat pada pria itu tidak pernah hilang karena Colton juga guru pedang Evan sejak kecil selain ayahnya.
Colton meletakkan tangan di dada, memberikan salam kesatria.
"Salam, Tuan Evan. Atau sekarang aku harus memanggil Anda Duke Ravens," kata Colton dengan senyum.
Evan tersenyum kecil.
Colton melanjutkan. "Sampaikan salamku pada kedua orang tuamu. Semoga keselamatan selalu menyertai keluarga Ravens."
"Terima kasih telah menjadi guru dan bagian keluarga Ravens, Tuan Colton," kata Evan dengan mata terlihat sedikit memerah.
Dan Colton hanya tersenyum. Kemudian ia menoleh ke Aaron.
"Ah, Duke Aaron. Sudah lama sekali." Colton tertawa.
"Benar. Pertemuan terakhir kita adalah di pemakamanmu," kata Aaron sendu.
Lalu senyum Colton melembut. "Sampaikan salamku pada Nona Elara dan juga si kembar. Sayang sekali aku tidak sempat mengucapkan selamat atas kelahiran mereka."
Mata Aaron sedikit membelalak. Karena bahkan setelah meninggal Colton tahu tentang si kembar, padahal di kembar lahir saat Colton telah tiada.
Aaron tersenyum hangat. "Tentu akan kusampaikan."
Lalu Colton berjalan menuju Kaisar dan Permaisuri. Colton memberi hormat formal khas kesatria kerajaan.
"Maaf, aku tidak bisa melindungi kerajaan ini lebih lama, Yang Mulia. Kuharap keselamatan dan kebahagiaan selalu menyertai Anda. Begitu pula Yang Mulia Putra Mahkota," ujar Colton lebih formal.
Kaisar tersenyum sendu. Tatapan Beliau dipenuhi rasa bangga.
"Colton, kau sudah lebih dari cukup melindungi kerajaan ini. Kau telah melindungi keluargaku dan telah memberikan seluruh hidupmu untuk Aurelius. Sudah saatnya kau beristirahat. Jangan khawatirkan apa pun lagi," kata Kaisar.
Permaisuri ikut tersenyum. Meski matanya berkaca-kaca.
"Terima kasih atas segala kerja kerasmu, Kapten Colton," ujar Permaisuri.
Colton tertawa kecil, lalu membungkuk hormat untuk yang terakhir kalinya.
Namun kemudian Ekspresinya berubah sedikit serius.
"Ada ucapan terakhir dariku, Yang Mulia," kata Colton.
Kaisar mengernyit.
Colton memandang mereka dan berkata, "Anda mungkin bisa bertanya kepada Nona Cecilia mengenai kondisi Putri Mahkota nanti."
Kaisar langsung menegang.
Permaisuri membelalak.
"Apa maksudmu?" tanya Kaisar.
Namun Colton hanya tersenyum. "Tanyakan saja pada Nona Cecilia. Dia akan memberikan jawabannya."
Tatapan Kaisar langsung berubah tajam. Karena kalimat itu jelas bukan sesuatu yang diucapkan tanpa alasan.
Namun sebelum Beliau sempat bertanya lagi...
Colton melanjutkan, "Waktuku sudah habis. Aku tidak akan sempat mengucapkan terima kasih pada Nona Cecilia. Tolong sampaikan terima kasihku karena dia sudah memberiku kesempatan untuk menyampaikan semua yang ingin kusampaikan. Khususnya pada Rowan."
Rowan kembali menunduk. Namun kali ini bukan karena kesedihan, melainkan rasa syukur.
Kemudian Colton mengucapkan sesuatu yang membuat seluruh ruangan membeku.
"Dan tolong Nona Cecilia. Seseorang dengan kemampuan jahat sedang mengincarnya," kata Colton.
Suasana langsung berubah tegang.
Dan Kaisar langsung mengangguk. "Aku mengerti."
Karena jika Colton yang mengatakannya maka mereka tidak bisa mengabaikannya.
Colton menatap Rowan dan berkata, "Selamat tinggal."
"Selamat tinggal, Paman," balas Rowan yang kini mengantar kepergian Colton kali ini dengan senyum bukan air mata atau penyesalan.
Colton mendongakkan kepalanya, seolah melihat sesuatu yang tidak dapat dilihat orang lain. Matanya mengikuti sesuatu jauh di atas sana.
Kemudian tubuh Cecilia mulai limbung seperti boneka yang kehilangan penyangganya.
"CECILIA!"
Rowan bergerak lebih cepat dari pada siapa pun. Ia langsung berlari menangkap tubuh gadis itu sebelum jatuh menghantam lantai.
Tubuh Cecilia terkulai lemah di pelukan Rowan, dan mengambil napas panjang dan sedikit gemetar.
Sosok Colton telah pergi.
Dan untuk pertama kalinya dalam dua tahun Rowan tidak lagi merasa dihantui penyesalan. Karena akhirnya ia telah mendengar sendiri kata-kata yang selama ini paling ingin ia dengar.
Bahwa Rowan telah dimaafkan. Dan kini sudah waktunya untuk melangkah maju.
serius,,, seperti nonton film kolosal,,, KEREN k Othor,,, lopiyu muachh /Kiss/