Niat hati ingin mengabulkan permintaan adiknya yang sedang sakit, Larasati malah terjebak dengan berondong yang banyak digilai kaum perempuan. Gadis yang biasa dipanggil Laras itu dengan keras menolak kehadiran Aditya, tapi bukan Aditya namanya jika menyerah begitu saja. Bagaimana keseruan kisah mereka? langsung baca aja guyss
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Typ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
3. Selesai kerja
"Cepat-cepat pindahan semua bunga ... Aduhh kok ada aja kejadian kek gini sih?" kesal Rani karena mobil kerjanya mogok. Dan sekarang kedua karyawannya sedang memindahkan bunga pesanan Aditya ke taksi yang sudah dirinya pesan secara online.
"Ini mobilnya parkir di pinggir jalan dulu enggak papa emang?" tanya Laras saat mereka selesai memindahkan semua bunga.
"Enggak papa neng, nanti saya minta tolong teman bengkel saya untuk nambal." bukan Rani yang menjawab, melainkan supir taksi.
"Alhamdulillah, bapak baik banget. Nanti saya kasih tips dua rebo." Kali ini Rani menimpali, suara gadis itu terdengar serius sampai tidak kentara jika sebenarnya sedang becanda. "Ayo pak, di gas." lanjutnya.
"Ah elah neng, buat parkir aja kurang itu."
"Itu udah baik pak, biasanya temen saya cuma ngasih do'a aja. Dia memang pelit Pak, gaji saya aja dikasihnya sesuai mood dia." Laras melirik Rani yang kini sedang sibuk memperbaiki pesanan yang acak-acakan karena dua karyawannya ikut di tinggal. Katanya mereka nyusul dengan taksi online lainnya.
"Aku ngikut kamu juga yang kerjanya seenaknya sendiri." seloroh Rani, matanya tidak berhenti fokus pada buket-buket itu.
Supir taksi melihat keadaan dua teman di belakangnya dengan spion dalam mobil. "Saya kira kalian berdua buka usaha barengan."
Rani melirik sejenak, gadis itu sudah dalam posisi yang benar dan nyaman. "Enggak Pak, saya enggak mau buka bisnis bareng dia. Temen saya males orangnya."
"Enggak usah nyindir." sinis Laras. Namun dalam hati tidak benar-benar tersinggung.
Si supir mengangguk-angguk paham. "Oalah hem. Susah itu kalo sudah malas, malah-malah bisa gulung tikar. Nengnya udah bener berarti buka bisnis mandiri."
Laras yang merasa obrolan Rani dan supir taksi tidak sesuai dengan kapasitas otaknya, memilih diam dan menyimak. Sesekali dirinya melihat keadaan di jalan lewat jendela. Beberapa kali juga membalas pesan dari adiknya yang mendadak rewel.
Tiket meet and greet yang seharusnya di bawa Laras ternyata malah tertinggal di rumah. Laras benar-benar lupa, sungguh gadis itu tidak bermaksud licik dengan tidak membawakan tanda tangan Aditya. Namun karena penolakan yang di berikan Laras beberapa waktu lalu, membuat Rara adiknya curiga jika Laras memang sengaja melakukannya.
Mereka terus berdebat lewat chat, dan akhirnya Rara mengutus tukang ojek langganannya untuk mengantar tiket serta album yang akan di tanda tangani Aditya. Laras mengiyakan dalam hati tanpa membalas pesan terakhir adiknya. Gadis itu sudah lelah berdebat dengan adik menyebalkannya.
Setelah menghabiskan 30 menit di jalan , akhirnya mereka sampai juga di hotel tempat meet and greet. Tidak banyak hal yang dilakukan ketika sampai tujuan. Keduanya hanya perlu bertemu dengan orang-orangnya Aditya untuk mengkonfirmasi pesanan. Sedangkan kedua karyawan Rani memindahkan buket.
Setelah sebelumnya menerima tiket dari tukang ojek utusan adiknya, Laras menyusul Rani karena memang gadis itu sebenarnya bingung hendak berbuat apa. Pekerjaannya sudah selesai, kedua karyawan Rani pun sudah kembali ke luar untuk menunggu di mobil.
"Nunggu apa lagi?" tanya Laras karena keduanya tak kunjung pergi.
"Nunggu bayaran lahh... Ya kali nunggu dijamu Aditya." jawab Rani. "Tidak ada alasan apapun untuk uang, bisnis is bisnis. Hahaha," lanjutnya berakhir dengan tawa hambar. Sebenarnya gadis itu cukup kecewa karena tidak bisa bertemu Aditya. Namun tidak apa, Rani paham jika Aditya pasti tengah sibuk menyiapkan acaranya. Lagipula dirinya sadar diri, tidak ada urusan apapun antara dirinya dan Aditya yang mengharuskan mereka bertemu.
Laras mengangguk paham. Tiga menit sembari melihat-lihat sekitar, akhirnya orangnya Aditya datang sembari membawa amplop karena menang Rani hanya mau menerima bayaran secara cash, akal-akalan agar bisa lebih lama berada satu tempat dengan Aditya, masih sedikit berharap.
"Bisa dihitung dulu," seorang gadis dengan gaya nyentrik berlaku sangat sopan. Senyum manis yang beberapa detik lalu terbit kini berganti dengan wajah serius. Menunggu Rani menghitung uang.
"Lebih 500 ini kak." Rani menyodorkan uang lebihan. Namun si gadis nyentrik menolak. Uang lebih itu amanat dari Aditya, sebagai tips karena telah menyiapkan pesanannya dengan baik dan cepat.
Senyum kuda terbit dari bibir Rani, gadis itu tidak bisa menyembunyikan perasaan senangnya. "Selain ganteng, Aditya ternyata baik juga." ungkapnya tanpa malu. "Tolong bilangin makasih ke Aditya ya, Kak." Rani meminta tolong.
Gadis nyentrik mengangguk."Baik."
"Besok aku traktir bakso urat." bisik Rani membuat Laras bahagia.
"Bakso isi telur keknya lebih enak." Laras balik berisik.
"Besok pesan dua." final Rani,
Keduanya lantas pamit setelah urusannya selesai. Suasana saat kembali semakin ramai karena fans Aditya. Rani dan Laras kagum pada mereka semua yang begitu bersemangat dan heboh.
Bahkan di depan hotel juga heboh, beberapa karangan bunga sebagai ucapan selamat serta standing idol dengan size manusia normal terpajang di pintu masuk. Aditya hanya menyewa ballroom namun seluruh bagian hotel terasa seperti markasnya. Entah amalan apa yang dilakukan cowok itu sehingga sangat beruntung.
Saat hendak memasuki mobil bersama dua karyawannya, Rani mendadak berteriak karena masih melihat Laras di sampingnya.
"HEH NGAPAIN IKUT PULANG?" suaranya menarik perhatian beberapa orang di lobby hotel. "kamu kan mau minta tanda tangan babang Adit!"
"Lupa," singkat Laras. Tanpa mengucap apapun lagi, dirinya pergi menuju Ballroom.
Rani menggelengkan kepala melihat Laras yang pelupa.
Lift berhenti tepat di lantai dua, Laras dengan terburu menuju ballroom. Menukar tiket untuk masuk. Setiap tiket yang masuk akan di ganti dengan mawar. "Mawar bikinan aku." batinnya saat menerima buket mawar.
Suasana di dalam cukup ramai, membuat Laras bingung. Dalam sejarah hidupnya, ini kali pertama Laras menghadiri event. Gadis itu tidak tahu harus duduk dimana, untung ada panitia yang mengarahkan. Dan sialnya, ternyata tiket yang Laras bawa merupakan tiket VIP. Dengan berat hati gadis itu duduk di kursi depan, cukup dekat dengan panggung.
Mendadak Laras ngantuk karena bosan dengan acaranya, kepalanya juga pegal karena harus sedikit mendongak saat melihat panggung. Duduk terlalu dekat itu tidak baik untuk kesehatan persendiannya. Lebih baik duduk di tengah atau belakang sekalian.
Tidak hanya itu, dinginnya AC juga menusuk epidermis kulit dan menyebabkan kantong kemihnya mendadak penuh. Tidak tahan dengan keadaan yang serba menyulitkan, Laras memilih pergi ke toilet, gadis itu memilih menunggu di toilet sembari membuang air.
"Entahlah kenapa orang-orang sangat antusias dengan acara seperti ini, lebih enak juga rebahan di rumah." gerutunya sembari membenarkan tatanan rambut.
Lewat pantulan kaca toilet, Laras menatap kulit wajahnya yang semakin berminyak. "Suhu dingin membuat wajahku berminyak, sangat menyebalkan!"
Sedetik kemudian, Laras berpikir jika apa yang dilakukannya hari ini harus mendapat imbalan yang setimpal. Adiknya harus membayar mahal karena tidak ada yang gratis di dunia ini!
Laras kembali masuk ke dalam bilik toilet, gadis itu duduk dipenutup kloset. Karena bingung harus melakukan apa? Bermain ponsel pun sudah bosan. Laras memilih tidur sejenak. Gadis itu juga tidak lupa memasang alarm agar tidak kebablasan.
"30 menit mungkin cukup untuk sampai pada sesi bertemu Aditya," ucapnya sangat yakin.
Setelah menyelami alam bawah sadarnya, Laras mungkin akan menyesal karena ternyata alarm 30 menit yang dinyalakan, ter-setting untuk tanggal di hari berikutnya. Entah apa yang dilihatnya sehingga membuat alarm di tanggal yang salah.