Kisah Princess Mahreen dan Collin Lange
Mahreen Al Khalifa putri bungsu Malik dan Milly Al Khalifa adalah putri Sheikh yang suka hidup bebas tanpa aturan istana hingga Malik harus memberikan Collin Lange sebagai bodyguardnya. Tanpa keluarga Al Khalifa tahu, Collin adalah agen MI6 yang menyamar masuk ke istana Al Khalifa untuk mencari buronan internasional yang bersembunyi di Bahrain. Mahreen dan Collin bagaikan air dan minyak hingga gadis itu tahu misi sebenarnya pria tersebut. Setelah Collin menyelesaikan misinya, dia kembali ke Inggris namun Mahreen bertekad untuk mendapatkan bodyguardnya yang ternyata agen rahasia itu kembali ke dalam pelukannya.
Generasi Delapan Klan Pratomo
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hana Reeves, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Nasi Padang
Mahreen menatap sebal ke Collin dan merasa pengawalnya kali ini bukan tipe yang 'yes princess' ke dirinya. Collin hanya menatap dingin ke Mahreen. Mata abu-abunya seolah menunjukkan bahwa dia tidak akan tunduk ke Mahreen.
Gadis itu mendengus kasar lalu berbalik meninggalkan Collin. Pria itu tersenyum smirk.
"Sebaiknya anda mandi, Princess. Untuk ukuran princess, anda agak sedikit ... bau," ucap Collin membuat Mahreen menghentikan langkahnya.
Reflek dia mencium ketiaknya yang tidak terlalu bau tapi Mahreen memang butuh mandi! Gadis itu mengangkat dagunya dan berjalan lagi ke dalam kamarnya. Tak lama suara pintu dibanting keras pun terdengar.
Collin menghela napas panjang. Sungguh dirinya harus benar-benar sabar menghadapi Mahreen. Kenneth, team leader yang juga sahabatnya, sudah memberikan warning padanya tentang Mahreen.
"Berhati-hatilah dan sabar seluas samudera sama adikku satu itu. Dia seperti hal adik perempuan aku lainnya, susah diatur dan seenaknya sendiri. Apalagi dia seorang princess dan anak bungsu pula! Mantannya ada banyak di Belanda. Adikku lainnya, Princess Vava, sudah capek nasehati dia," ucap Kenneth Ferguson saat memberikan tugas pada Collin.
Saat itu Collin merasa bahwa Mahreen tidak seburuk yang diceritakan oleh Kenneth. Tapi dia salah sangat besar! Mahreen lebih parah dari Kayleen, adik Kenneth yang menjadi desainer.
"Kenapa kamu berbeda sekali dari Kayleen sih? Kayleen itu kalem dan sangat dewasa ... Oh aku lupa, kamu masih delapan belas tahun!" gumam Collin.
Pria itu pun memilih keluar untuk mengambil tas dan kopernya. Collin juga sudah menghapalkan nomor kode smart door apartemen Mahreen jadi tidak ada masalah jika dia masuk nanti.
***
Sementara itu di kamarnya, Mahreen memilih mandi agar badannya segar dan wangi kembali. Setelah merasakan segar, Mahreen segera membuka iPadnya dan menghubungi Malik. Mahreen ingin pengawalnya yang lama, Khoirunnisa, kembali mengawal dirinya.
"Sudah sampai rumah?" tanya Malik tanpa basa basi saat melihat wajah putrinya yang sudah tampak segar.
"Abi, kembalikan Nissa ke Leiden! Aku tidak mau dikawal oleh Brit itu!" pinta Mahreen ke Malik.
"Tidak," jawab Malik tegas.
"Tidak?" Mahreen melongo. "Abiiiii!"
"Tidak ada Abiiii ya Mahreen! Abi sudah cukup sabar menghadapi kenakalan kamu! Terlepas alasan kamu membela diri, membela teman kamu, tetap Abi memberikan Collin sebagai pengawal kamu!" hardik Malik.
"Umi pasti akan setuju kalau Nissa kembali mengawal aku kan?" eyel Mahreen.
"Tidak, Mahreen. Untuk kali ini, Umi kamu tidak akan membela kamu! Sekarang kamu pilih. Collin tetap di sana atau semua uang jajan kamu, Abi hold? Kalau kamu mau uang, kerja!" ancam Malik.
Mahreen melongo. Biasanya yang kena hold tabungan adalah kakaknya, Maximilian. Tapi sekarang, dia pun mau kena?
"Gimana Mahreen?" tanya Malik.
Mahreen hanya mengangguk. "Baiklah Abi."
***
Collin memesan makan siang dari sebuah restauran halal Leiden. Dia tahu Mahreen seorang muslim seperti halnya Kenneth dan Kayleen. Collin sebenarnya ada rasa dengan Kayleen namun sayangnya, Kayleen hanya menganggapnya sebagai kakak.
"Andaikan saja kamu bisa sekalem Kayleen, Princess." Collin menatap ke arah pintu kamar Mahreen.
Suara bel terdengar dan Collin tahu itu pasti pengantar makanan. Dia berjalan ke depan pintu dan melihat dari layar intercomnya.
"Pesanan makanan atas nama Collin Lange?" tanya petugas pengantar yang masih muda itu.
"Benar."
"Ini pesanan anda." Pemuda tersebut memberikan bingkisan makanan ke Collin dan dia memberikan tip sepuluh euro. Pemuda itu mengucapkan terima kasih dan Collin pun masuk ke dalam flat.
Bersamaan waktunya dengan Mahreen keluar dari kamar dengan wajah cemberut. Collin melihat dengan wajah dingin dan dia tahu, pasti Mahreen ribut dengan ayahnya.
"Makan siang dulu Princess," ucap Collin berusaha mencairkan suasana.
"Makan saja sendiri! Aku tidak lapar!" jawab Mahreen ketus.
Namun yang terjadi berikutnya membuat keduanya saling berpandangan. Perut Mahreen berbunyi keras pertanda dia lapar.
Collin tersenyum. "Cacing di perut anda sepertinya menjadi pemberontak. Dia ... atau mereka sedang kelaparan," sindir Collin.
Mahreen menyipitkan mata hijaunya. Mata yang diwarisi dari Milly dan Alea itu tampak sebal. Collin meletakkan bungkusan makan siang mereka di atas meja makan.
"Akan aku siapkan, Princess." Collin mulai mengambil piring dan membuka kotak-kotak makanan.
Mahreen lalu menuju lemari yang menyimpan gelas-gelas dan membuka lemari es nya. Dia mengambil kotak es jeruk dan menuangkan ke dua gelas. Mahreen juga mengambil dua botol air mineral dingin dan meletakkan di atas meja makan.
Collin hanya melirik kesibukan Mahreen yang merupakan keturunan darah biru sebiru-birunya. Ayah Mahreen, Malik Al Khalifa adalah Sheikh Bahrain sementara ibunya, Milly Bradford adalah keturunan Emir Dubai Al Jordan dan klan Pratomo yang masih ada keturunan keraton Yogyakarta dan kerajaan Belanda. Mahreen juga ada darah Hamilton, salah satu keluarga tua di Amerika Serikat yang memiliki bisnis retail dan mall. Selain itu, neneknya, Victoria Carrington yang menikah dengan Mamoru Bradford, masih sepupu Raja Henry, ayah Raja Louis.
Jadi tidaklah heran jika Mahreen sering seenaknya. Ada banyak darah biru disana dan sama-sama powerful! - batin Collin.
"Kamu beli apa itu?" tanya Mahreen sambil duduk di kursi makan.
"Makanan halal yang jelas."
Mahreen melongo saat melihat apa yang dibeli Collin. "Nasi padang?"
"Iya. Aku diberitahukan oleh Paman Mustafa bahwa kamu sangat suka nasi Padang." Collin menyerahkan nasi Padang dengan rendang dan ayam goreng ke Mahreen.
Perut Mahreen pun berbunyi lagi saat mencium aroma rendang. Kali ini dia tertawa kecil.
"Memang kelemahan aku sih ini," kekeh Mahreen sambil berdiri dan berjalan ke wastafel untuk cuci tangan.
"Anda ngapain?" tanya Collin.
"Makan lah!" Mahreen pun duduk kembali dan mulai makan dengan tangan.
Collin terkejut. Kenapa sama saja dengan Kenneth dan Kayleen?
"Nasi Padang itu paling nikmat kalau makan dengan tangan. Coba saja," senyum Mahreen. "Serius itu."
Collin pun ke wastafel dan mencuci tangannya. Dia duduk di depan Mahreen dan meniru cara gadis itu makan. Dia menatap Mahreen dan terkejut karena memang seenak itu makan nasi Padang dengan tangan.
"Enak kan?" senyum Mahreen.
Collin mengangguk. "Aku baru kali ini makan nasi Padang dengan tangan."
"Sama saja dengan kamu makan hamburger, hotdog atau ayam goreng. Justru makan pakai tangan itu meningkatkan kesehatan pencernaan karena saat tangan menyentuh makanan, saraf di ujung jari mengirim sinyal ke otak bahwa makanan akan segera masuk. Otak kemudian memerintahkan perut untuk melepaskan enzim pemcernaan dan cairan asam lambung lebih awal. Jadi sistem pencernaan lebih siap memproses makanan yang masuk," terang Mahreen. "Tapi paling penting, meningkatkan kenikmatan makan."
Collin tersenyum. "Ternyata pengetahuan anda boleh juga ya Princess."
"Jangan ngomong aneh-aneh yang bisa membuat mood makan aku berantakan, Lange! Kamu akan kewalahan jika aku cranky!"
***
Yuhuuuuu up malam yaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu
#eh