Empat hati terjebak dalam satu takdir yang kejam.
Satyaka dan Damira harus merelakan orang yang mereka cintai, Azzura dan Nayaka, terikat dalam pernikahan perjodohan. Sebagai pelipur lara, tercipta “Janji Satu Bulan”—sebuah kesepakatan untuk berpisah setelah satu bulan dan kembali pada cinta masing-masing.
Namun di balik pernikahan itu, luka justru semakin dalam. Nayaka yang dipenuhi rasa bersalah berubah dingin dan menyakiti Azzura, sementara Azzura diam-diam menghadapi kondisi aneh dalam tubuhnya. Tanpa mereka ketahui, keluarga mereka telah merancang rencana licik yang mengikat mereka lebih jauh dari sekadar janji.
Ketika rahasia mulai terungkap dan sebuah kehidupan baru tumbuh di antara kebohongan, “Janji Satu Bulan” tak lagi sesederhana yang mereka bayangkan.
Akankah mereka kembali pada cinta awal, atau justru terjebak selamanya dalam takdir yang dipaksakan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dinna Wullan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DIA BUKAN NAMAKU
Mobil melaju membelah jalanan kota yang mulai padat, namun suasana di dalam kabin terasa lebih hampa daripada ruang kosong. Nayaka sesekali melirik Mira, mencoba mencari celah untuk memulai percakapan, namun Mira hanya menatap keluar jendela, melihat barisan pohon yang berlalu dengan pandangan kosong.
"Aku bakal berjuang, Mir. Kali ini beda," ucap Nayaka memecah keheningan. Suaranya terdengar berusaha meyakinkan, namun di telinga Mira, itu hanyalah rekaman usang yang diputar berulang-ulang selama sepuluh tahun.
Mira tidak menoleh. Ia hanya tersenyum tipis—sebuah senyum yang lebih menyakitkan daripada tangisan.
"Kamu mending nggak usah ngomong, Nay. Aku udah tahu plotnya," sahut Mira datar. "Aku sudah hafal di luar kepala. Nanti sesampainya di sana, kamu bakal ajak aku masuk, ibumu bakal kasih wajah dingin, kamu bakal diam seribu bahasa, dan akhirnya aku bakal pulang dengan perasaan yang lebih hancur dari sebelumnya."
Nayaka menggenggam kemudi lebih erat. "Mir, aku nggak seburuk itu—"
"Kamu nggak buruk, Nay. Kamu cuma pengecut," potong Mira cepat, kali ini ia menoleh dan menatap mata Nayaka. "Makanya aku bilang, kamu tinggal siap-siap aja buat nggak ke rumahku lagi. Mas Danang nggak main-main sama ucapannya. Dan aku... aku juga sudah sampai di titik jenuh untuk sekadar berharap."
Nayaka terdiam. Kalimat Mira bukan lagi sebuah ancaman, melainkan sebuah pengumuman perpisahan yang sudah ditandatangani. Ia ingin membantah, tapi setiap kali ia mengingat wajah ayahnya yang keras, lidahnya mendadak kelu.
"Kita lihat nanti di sana," gumam Nayaka lemah.
"Bukan 'kita lihat nanti', Nay," koreksi Mira sambil kembali menatap jalanan di depan. "Tapi 'kita lihat kamu'. Karena hari ini bukan lagi soal seberapa besar aku mencintai kamu, tapi seberapa besar kamu menghargai sepuluh tahun yang sudah aku buang cuma buat nunggu kamu jadi laki-laki."
Mobil terus melaju menuju rumah megah keluarga Nayaka, tempat di mana sebuah kejutan pahit bernama Azzura sudah menunggu di balik pintu besar itu.
Pemandangan di depan mereka membuat jantung Mira seolah berhenti berdetak. Di sofa beludru itu, seorang gadis dengan pakaian yang sangat anggun dan hijab yang senada dengan gayanya sedang duduk dengan tenang. Penampilannya begitu sempurna, bahkan sekilas, ia memiliki selera yang mirip dengan Mira, namun dengan kesan yang jauh lebih mewah.
Nayaka tertegun. Ia tidak mengenali siapa gadis itu. Begitu pula Mira, yang seketika merasakan firasat buruk menjalar di tengkuknya.
"Eh, Naka sudah datang? Sama Damira juga. Sini, masuk," ucap Ibu Nayaka dengan nada suara yang luar biasa ramah—keramahan yang justru terasa sangat janggal dan berbahaya.
Mira dan Nayaka saling berpandangan dalam diam. "Ada apa ini?" batin mereka serempak. Tidak biasanya Ibu Nayaka bersikap semanis ini saat ada Mira di sana.
Namun, harapan Mira bahwa situasi akan membaik langsung hancur berkeping-keping. Begitu mereka duduk, keberadaan Mira seolah-olah lenyap. Ibu Nayaka tidak sedikit pun menanyakan kabar Mira, apalagi mengajaknya mengobrol. Perhatian wanita itu sepenuhnya tertumpu pada gadis di hadapan mereka.
"Nay, kenalin," ucap Ibunya dengan binar mata bangga, "ini Azzura, anak Tante Lusi yang mau Mama jodohin sama kamu itu. Cantik ya? Dia baru saja lulus dari London."
Kalimat itu meluncur begitu saja, tanpa beban, tepat di depan wajah Mira yang masih menggenggam tangan Nayaka. Ruangan itu mendadak sunyi. Genggaman tangan Nayaka di jemari Mira melonggar karena terkejut, dan saat itulah Mira merasa dunianya benar-benar runtuh.
Azzura, yang juga mengenakan hijab dengan gaya sangat modis, tersenyum manis ke arah Nayaka. Ia seolah-olah tidak menyadari kehadiran wanita lain yang sedang duduk di samping pria itu.
"Hai, Nayaka. Akhirnya kita ketemu ya," ucap Azzura lembut, suaranya sangat tenang dan berkelas.
Mira menarik napas pendek, dadanya terasa sesak luar biasa. Ia menoleh ke arah Nayaka, menanti pria itu bersuara, menanti pria itu membela harga dirinya yang baru saja diinjak-injak dengan halus oleh ibunya. Namun, Nayaka hanya terpaku dengan mulut setengah terbuka.
Bayangan wajah Mas Danang yang keras dan janji sepuluh tahun yang sia-sia langsung berputar di kepala Mira. Ternyata, plotnya jauh lebih menyakitkan: ibunda Nayaka sengaja mencari gadis yang "setipe" dengan Mira agar Nayaka bisa berpaling dengan lebih mudah.
Suasana di ruangan itu seketika menjadi dingin dan mencekam. Nayaka, yang selama ini dicap sebagai pengecut oleh Danang, mencoba mengumpulkan sisa-sisa keberaniannya. Ia mengeratkan genggaman tangannya pada Mira, meskipun tangannya sendiri gemetar.
"Ma... Naka bawa Mira ke sini untuk bahas soal lamaran yang sering Naka bahas sebelumnya," ucap Nayaka, suaranya sedikit parau namun tegas.
Sejenak, ada keheningan yang menyesakkan. Ibu Nayaka meletakkan cangkir tehnya perlahan ke atas piring porselen, menimbulkan bunyi denting yang tajam—seperti lonceng peringatan bagi Mira.
"Ya, bahas saja," sahut sang Ibu dengan nada santai, seolah pembicaraan ini sama sekali tidak berat. Ia menoleh ke arah Azzura sambil tersenyum lebar, lalu kembali menatap Nayaka dengan sorot mata yang tak terbantahkan. "Tapi bahasnya untuk Azzura, jangan dia."
Kalimat itu bagaikan tamparan keras yang mendarat tepat di wajah Mira. Pihak keluarga Nayaka bahkan tidak mau lagi menggunakan nama Mira; mereka hanya menyebutnya dengan kata "dia", seolah Mira adalah benda asing yang tak sengaja terbawa masuk.
Mira merasakan tangannya yang digenggam Nayaka perlahan-lahan mulai mendingin. Ia menoleh ke arah Nayaka, menanti reaksi pria itu. Namun, di sampingnya, Nayaka kembali mematung. Keberanian yang baru saja ia tunjukkan seolah menguap begitu saja di hadapan titah sang Ibu.
Azzura, yang duduk dengan anggun di seberang mereka, hanya menunduk malu-malu, seolah-olah ia adalah pemeran utama dalam drama perjodohan ini, sementara Mira hanyalah penonton yang tak diinginkan.
"Ma, tapi Naka dan Mira sudah sepuluh tahun—"
"Sepuluh tahun itu waktu yang cukup untuk sadar kalau kalian memang tidak cocok, Nayaka," potong sang Ibu cepat, suaranya kini menajam. "Mama sudah siapkan yang terbaik. Azzura punya latar belakang yang jelas, pendidikan yang setara, dan yang paling penting... keluarga kita sudah setuju."
Mira menarik napas panjang, mencoba menahan air mata yang sudah menggenang di pelupuk matanya. Ia teringat wajah Mas Danang yang keras pagi tadi. Ia teringat suara ayahnya yang lembut namun penuh luka.
Plotnya memang sudah selesai, batin Mira.
Ia perlahan menarik tangannya dari genggaman Nayaka. Kali ini, ia tidak menunggu Nayaka untuk melepaskannya. Ia yang melepaskan pria itu.
"Nay," bisik Mira, suaranya kini tenang namun sangat tipis. "Cukup. Jangan dilanjutkan lagi."
Mira berdiri, menatap Ibu Nayaka dengan sisa-sisa harga diri yang ia miliki. Ia tidak lagi peduli dengan aturan sopan santun yang selama ini ia jaga demi mendapatkan restu.
"Terima kasih atas tehnya, Tante," ucap Mira singkat.
Ia berbalik, tidak ingin menunggu izin dari siapa pun. Di kepalanya hanya ada satu tujuan: pulang. Karena ia tahu, di depan pagar rumahnya, Mas Danang sedang menunggu dengan janji yang harus segera ditepati.