NovelToon NovelToon
Suamiku (Bukan) Orang Gila

Suamiku (Bukan) Orang Gila

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta setelah menikah / Peran wanita dan peran pria sama-sama hebat
Popularitas:11.4k
Nilai: 5
Nama Author: Miss_Dew

Fradella Gauta terpaksa menikah dengan Dayaksa Herlos, Tuan Muda keluarga Herlos yang dikenal sebagai orang gila setelah kematian ayah dan ibunya akibat kecelakaan. Ratu Mayesa, kakak tirinya yang merupakan tunangan Dayaksa (Aksa) merebut tunangannya Fradella, Adryan Juardi karena tidak mau berakhir menjadi mayat. Tak banyak yang tahu Fradella (Della) dirawat di rumah sakit jiwa selama lima tahun setelah ayahnya menikahi ibu Ratu. Kini Della harus tinggal dan bertahan di "Rumah Sakit Jiwa" yang lain.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss_Dew, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

THREE

Limosin hitam yang membawa Fradella Gauta atau kini seharusnya disebut Fradella Herlos, berhenti dengan decitan halus di depan gerbang raksasa kediaman keluarga Herlos. Supir keluarga Gauta bahkan tidak sudi turun untuk membukakan pintu bagi Della, ia seolah-olah sedang mengantarkan tumbal ke sarang monster dan ingin segera melarikan diri sebelum monster itu terbangun. Della keluar dari mobil dengan gaun putihnya yang sudah sedikit kusam terkena debu, namun dagunya terangkat tinggi. Matanya yang dulu redup kini berkilat dengan determinasi yang menyeramkan.

Halaman luas kediaman Herlos sudah dipenuhi dengan dekorasi mewah, namun suasana di sana terasa mencekam. Zacky Wijaya, sekretaris pribadi keluarga Herlos yang dikenal efisien namun dingin, sudah menunggu di depan pintu utama bersama barisan pelayan. Wajahnya kaku saat melihat Della datang sendirian, tanpa pengawalan satu pun dari keluarga Gauta.

"Selamat datang, Nona Fradella," ucap Zacky dengan nada datar, membungkuk formal. "Saya Zacky Wijaya. Atas nama keluarga Herlos, saya memohon maaf yang sebesar-besarnya. Tuan Muda Dayaksa sedang... tidak sehat hari ini. Gangguan sarafnya kembali kambuh secara mendadak. Oleh karena itu, Tuan Besar Jerry memerintahkan saya untuk mewakili Tuan Muda dalam upacara pernikahan dan penandatanganan akta."

Della berhenti melangkah. Ia menatap Zacky dengan tatapan yang membuat pria itu sedikit bergidik. Lim tahun di Rumah Sakit Jiwa bukan hanya menghancurkan kewarasannya, tetapi juga membunuh rasa takutnya. "Perwakilan?" Della terkekeh, suara tawanya terdengar kering dan menusuk. "Kau pikir aku ini barang yang bisa dibarter dengan tanda tangan orang lain? Aku dijual oleh ayahku untuk menjadi istri seorang Tuan Muda Herlos, bukan untuk menjadi pajangan di samping seorang pesuruh."

Zacky tersentak. Informasi yang ia terima, Della adalah gadis yang lembut, lemah dan mudah ditindas. "Nona, ini demi keselamatan Anda. Tuan Muda Aksa sedang dalam kondisi sangat berbahaya. Dia bisa mencabik siapa saja yang mendekatinya. Bahkan Anda bisa kehilangan nyawa."

"Minggir," perintah Della singkat. Ia tidak mempedulikan peringatan itu. Ia menerobos barisan pelayan dan masuk ke dalam aula utama. Langkah kakinya yang beralaskan sepatu hak tinggi berbunyi nyaring di atas lantai marmer yang mengkilap. Ia melihat para tamu undangan yang berbisik-bisik, menatapnya dengan rasa kasihan sekaligus jijik.

Saat Della hendak menaiki tangga menuju lantai dua tempat kamar pribadi Aksa berada, seorang pria tua dengan tongkat berkepala singa muncul. Jerry Herlos, kakek Aksa. Wajahnya penuh kerutan namun matanya masih memancarkan otoritas yang kuat.

"Berhenti di sana, Nak," ujar Jerry. "Aksa bukan manusia saat ini. Dia tidak akan mengenalimu. Jika kau naik ke sana, aku tidak menjamin kau bisa turun dalam keadaan masih bernapas."

Della menatap Jerry tepat di matanya. Tidak ada gemetar di tubuhnya. "Tuan Besar Jerry, mohon maaf atas kelancangan saya. Anda membeli saya dengan mahar yang sangat besar karena Anda tahu keluarga saya tidak akan peduli jika saya mati. Tapi saya ke sini bukan untuk mati. Saya ke sini untuk mengambil posisi saya. Jika Aksa adalah monster, maka saya adalah Ratu Monster. Saya jauh lebih gila dari apa yang orang katakan tentang cucu Anda."

Jerry terdiam, mengamati keberanian yang tidak lazim pada gadis muda ini. "Kau yakin? Dia bisa mematahkan lehermu hanya dengan satu tangan."

"Biarkan saya masuk. Dan saya jamin, upacara ini akan dilakukan oleh Dayaksa Herlos sendiri, bukan perwakilan," tegas Della. Jerry akhirnya mengangguk pelan, memberi isyarat kepada Zacky untuk membukakan pintu kamar di atas. "Zacky, awasi dari balik pintu. Jika Aksa benar-benar hilang kendali, lakukan apa saja untuk memisahkan mereka."

...*** ***

...

Zacky membuka kunci pintu kamar besar di ujung lorong dengan tangan gemetar. Begitu pintu terbuka sedikit, Della langsung masuk dan menutupnya rapat, mengabaikan peringatan terakhir Zacky. Kamar itu sangat luas, namun gelap gulita. Tirai-tirai beludru hitam menutupi seluruh jendela, hanya menyisakan sedikit celah cahaya bulan yang pucat. Bau obat-obatan dan aroma maskulin yang tajam memenuhi ruangan.

Di sudut kamar, di samping jendela yang sedikit terbuka, Della melihat sesosok pria duduk di lantai. Dayaksa Herlos. Ia hanya mengenakan kemeja putih yang kancing atasnya terbuka, menatap kosong ke arah halaman bawah. Rambutnya berantakan, dan auranya begitu dingin sehingga suhu di kamar itu terasa drop beberapa derajat.

Della melangkah mendekat. "Tuan Muda Dayaksa Herlos?" panggilnya lembut namun tegas.

Aksa tidak menjawab dengan kata-kata. Secepat kilat, pria itu bangkit dan menerjang. Dalam hitungan detik, punggung Della sudah menghantam dinding dengan keras. Tangan besar Aksa melingkar di leher Della, mencekiknya dengan kekuatan yang luar biasa. Mata Aksa merah, tidak ada cahaya kesadaran di sana hanya kemarahan.

"SIAPA KAU?! BERANINYA MASUK KE RUANGANKU!" teriak Aksa, suaranya menggelegar seperti raungan binatang buas. "APA KAU JUGA INGIN MENYERETKU KE NERAKA?! KATAKAN!"

Della terbatuk-batuk, wajahnya mulai memucat karena kekurangan oksigen. Ia mencengkeram tangan Aksa, berusaha menariknya, namun tangan itu seperti besi panas yang mengunci tenggorokannya. "Lepas... kan..." lirih Della. Namun Aksa justru semakin menguatkan cengkeramannya, mendekatkan wajahnya ke wajah Della hingga hidung mereka bersentuhan.

"Kau cantik," desis Aksa dengan nada gila. "Tapi kecantikanmu akan terlihat lebih indah jika kau sudah menjadi mayat. Aku akan memberimu makan kepada anjing-anjingku di bawah!"

Di ambang kesadaran, Della tidak menyerah. Tangannya merogoh saku gaunnya yang dalam. Selama lima tahun di RSJ, ia belajar satu hal, jangan pernah pergi tanpa perlindungan. Ia mengeluarkan sebuah alat setruman listrik portabel yang ia curi dari perawat sebelum meninggalkan RSJ. Dengan sisa tenaganya, ia menekan alat itu ke pinggang Aksa dan menyalakannya.

BZZZZTTTTT!

Aksa menjerit kesakitan, tubuhnya yang kekar kejang seketika. Tegangan listrik itu membuat sarafnya lumpuh sesaat. Ia melepaskan leher Della dan jatuh tersungkur, tertelungkup di atas karpet mahal. Della jatuh terduduk, menghirup udara sebanyak-banyaknya sambil memegangi lehernya yang memar merah.

Namun, Della tidak membiarkan Aksa pulih. Ia segera bangkit, dan dengan gerakan yang sangat mendominasi, ia mengangkat kaki kanannya dan menginjak punggung Aksa yang sedang berusaha merangkak bangun. Tumit sepatunya menekan tepat di antara tulang belikat pria itu.

"Dengarkan aku, Monster Tampan," desis Della, suaranya kini dingin seperti es. "Aku sudah menghadapi ribuan setan di Rumah Sakit Jiwa. Kau pikir kau menakutkan? Bagiku, kau hanyalah anak kecil yang sedang merengek."

Aksa mengerang, mencoba membalikkan tubuhnya, namun Della menekan lebih keras. "SERAHKAN DIRIMU! TUNDUK PADAKU HARI INI!" teriak Della.

"Dalam mimpimu, jalang!" Aksa mengumpat, wajahnya yang tampan terlihat mengerikan karena amarah. "Aku akan membunuhmu! Aku akan merobek kulitmu!"

Della justru tertawa. Tawa yang sangat jernih namun terdengar sangat sinting. "Hahaha! Benar-benar seperti orang gila. Kau tahu, Aksa? Di mataku, kau sangat lucu. Kau bilang aku jalang? Baiklah. Tapi setidaknya jalang ini yang sekarang menginjak harga dirimu."

Aksa terdiam sejenak, terkejut mendengar tawa Della. Ia menoleh sedikit, menatap wajah Della yang diterangi cahaya bulan. "Kau... kau benar-benar tidak waras. Kau lebih gila dariku."

"Memang," jawab Della sambil menekan alat setrumnya lagi di depan mata Aksa hingga mengeluarkan percikan api biru. "Jadi, sebagai sesama orang gila, jangan saling menghina. Hari ini kau harus patuh. Pakai jasmu, sisir rambutmu, dan turun bersamaku. Lakukan upacara pernikahan itu di depan kakekmu."

"Aku tidak mau. Aku tidak sudi! Aku tidak akan menikah dengan siapa pun!" seru Aksa.

BZZTT!

Della menyetrum lengan Aksa lagi. Pria itu mengerang keras, tubuhnya gemetar hebat.

"Masih ingin menolak?" tanya Della dengan senyum manis yang mematikan. "Aku punya banyak waktu untuk bermain dengan alat ini di seluruh bagian tubuhmu."

Aksa menatap alat itu dengan ngeri. Ego dan kegilaannya mulai terkikis oleh rasa sakit fisik yang nyata. Ia merasa tertekan oleh dominasi gadis ini. "Cukup... berhenti... kau gadis kasar dan gila."

"Menghadapi pria sepertimu tidak bisa dengan cara lembut, Sayang," bisik Della. Ia melepaskan injakannya dan membantu Aksa duduk, namun tetap menodongkan alat setrum itu ke arah dada Aksa. "Jadi, apa kau akan menurut?"

Aksa menunduk, napasnya memburu. Ia menatap Della dengan tatapan yang kini bukan lagi kemarahan, melainkan campuran antara kebencian dan rasa penasaran. "Apa maumu? Jika kau ingin hartaku, ambillah, lalu pergi dari sini."

"Aku tidak butuh hartamu. Aku butuh statusmu sebagai suamiku untuk menghancurkan sesuatu yang besar," jawab Della. "Ayo, kita lakukan upacara pernikahan."

"Tidak," ujar Aksa lagi, kali ini lebih tenang namun tetap keras kepala.

Della menghela napas. Ia mematikan alat setrumnya dan meletakkannya di lantai. Ia mendekat, merangkak di depan Aksa hingga wajah mereka hanya berjarak beberapa sentimeter. Aksa menegang, tangannya mengepal siap memukul, namun ia terpaku oleh tatapan mata Della yang tiba-tiba berubah menjadi sangat intens.

Tanpa peringatan, Della menarik tengkuk Aksa dan menyatukan bibir mereka. Ia menyetrum bibir Aksa bukan dengan alat listrik, melainkan dengan ciuman yang sangat dalam dan menuntut. Aksa mematung. Seluruh tubuhnya tegang seperti dialiri ribuan voltase listrik yang berbeda. Ia tidak pernah disentuh seperti ini. Kehangatan bibir Della terasa asing namun meledak-ledak di dalam otaknya yang kacau.

Della melepaskan ciumannya setelah beberapa saat, menatap Aksa yang masih terdiam dengan mata membelalak. Della terkekeh kecil, menyeka bibirnya dengan ibu jari. "Lihat? Pria mana pun pasti sangat suka jika dicium, bahkan monster sepertimu sekalipun."

Aksa tersadar dan langsung mendorong Della menjauh, wajahnya merah padam. "KAU! KAU BENAR-BENAR GILA DAN MESUM! BERANINYA KAU..."

"Gadis gila dan mesum ini adalah calon istrimu," potong Della dengan suara rendah yang menenangkan. Ia mengulurkan tangannya, menyentuh lembut kedua pipi Aksa. Anehnya, Aksa tidak menepis. Sentuhan itu terasa dingin namun membawa ketenangan yang luar biasa pada badai saraf di kepalanya. "Tenanglah, Tuan Muda Aksa. Aku tidak akan menyakitimu jika kau patuh padaku. Aku akan menjagamu dari semua orang yang menganggapmu sampah."

Entah karena ciuman itu atau karena kata-kata Della yang merasuk ke relung jiwanya yang kesepian, Aksa perlahan melonggarkan kepalan tangannya. Ia menatap Della dengan mata yang mulai sayu. "Kau... kau menjanjikan hadiah jika aku patuh?"

Della tersenyum penuh kemenangan. Ia mengambil jas pengantin yang tergeletak di tempat tidur dan memakaikannya ke bahu Aksa. Ia kemudian mengambil sisir dan merapikan rambut pria itu dengan penuh kasih sayang, seolah-olah ia sedang mendandani boneka kesayangannya. "Tentu. Hadiahnya adalah aku akan tetap bersamamu di kamar ini setiap malam, memastikan tidak ada satu pun pelayan atau kakekmu yang berani mengusikmu."

Della berbisik di telinga Aksa, "Tuan Muda Aksa sangat tampan. Jangan biarkan orang-orang di bawah melihatmu dalam keadaan hancur. Tunjukkan pada mereka bahwa kau adalah penguasa, dan aku adalah ratumu."

Aksa menatap pantulan dirinya di cermin besar. Di belakangnya berdiri Della yang memegang pundaknya, memberikan aura dominasi yang tak terbantahkan. Pria dingin itu akhirnya menghela napas panjang, sebuah tanda menyerah yang langka. "Baiklah, Gadis Gila. Mari kita mainkan sandiwara ini."

Della menggandeng tangan Aksa yang dingin, menuntunnya keluar dari kamar yang gelap itu. Zacky dan Jerry yang menunggu di luar lorong terperangah saat melihat pintu terbuka. Mereka melihat Dayaksa Herlos berjalan dengan tegak, mengenakan jas lengkap, meski wajahnya tetap datar tanpa ekspresi. Di sampingnya, Della tersenyum manis, seolah-olah ia baru saja menghabiskan waktu minum teh yang menyenangkan.

Lantai aula utama kediaman Herlos yang tadinya penuh bisikan kini mendadak sunyi senyap saat pasangan itu menuruni tangga. Semua orang terpana melihat sang monster berhasil dijinakkan oleh seorang gadis yang mereka anggap sampah dari keluarga Gauta. Upacara pernikahan pun dilakukan dengan lancar. Saat Aksa mengucapkan janji sucinya dengan suara bariton yang berat, Della menatapnya dengan kilat mata yang berkata, Sekarang, kau adalah milikku.

1
☘𝓡𝓳✹⃝⃝⃝s̊S𝕭𝖚𝖓𝕬𝖗𝖘𝕯☀️💞
pasti ada sesuatu dengan obat Aska 👀
Kau harus kuatt Aska jgn sampai terpengaruh
𝐂𝐄𝐑𝐈𝐓𝐀 𝐊𝐈𝐓𝐀🍉
aduh jangan kambuh sekarang 😳🥺
𝐂𝐄𝐑𝐈𝐓𝐀 𝐊𝐈𝐓𝐀🍉
ciiih ngeselin lu sampah 🤢🤮
𝐂𝐄𝐑𝐈𝐓𝐀 𝐊𝐈𝐓𝐀🍉
mantabs
ˢ⍣⃟ₛ 𝐓𝐞𝐬𝐚🤎GD ❥␠⃝ ͭ🍁
waduh jangan sampai Aksa gak fokus lagi karena hasil presentasi kedua belah pihak akan ditentukan saat ini antara presentasi Aksa dan Emily tolong jangan kambuh Sa
🏵️Aყυԃιƚα✾ 🔆🔅
Zacky memang tangan kanan yg bisa dipercaya & diandalkan
🏵️Aყυԃιƚα✾ 🔆🔅
😭😭 di hati Della, Aksa menang Voting
🏵️Aყυԃιƚα✾ 🔆🔅
😒 monyeet satu ini benar2 tidak tahu malu, dr awal memang sdh tidak waras si Ardyan 😏
🏵️Aყυԃιƚα✾ 🔆🔅
iya Zacky benar bisa jadi Aksa sedang banyak pikiran jadinya ke mode silent
ˢ⍣⃟ₛ 𝐓𝐞𝐬𝐚🤎GD ❥␠⃝ ͭ🍁
malu gak tuh luuu Adryan Juardi gak mungkin Della mau sama kau lagi huuuu bersama Aksa dia diratukan disayangi sedemikian rupa jadi ga butuh pria munafik kek luuu😏🤨
El Zèphyr
Aksa emang gila, tapi dia punya sisi pintar yang gak orang lain ounya
El Zèphyr
Oh astagaa manusia satu ini bucin sekaliehh
El Zèphyr
Aksa Masi bisa mikir kok kalo hal beginian
El Zèphyr
Tatapan yang mengerikan itu muncul guys
El Zèphyr
Aksaa kau jadi bucin + nurut gitu si sama Della.
Lucu deh kalian berdua
El Zèphyr
noh kan noh kannn liattt
El Zèphyr
ihhh bucin aku mau jugak 😽
El Zèphyr
Emang ya, penyesalan selalu datang di akhir
El Zèphyr
ngeri banget kebayang sama aku 😭😭😭
El Zèphyr
Della, sesekali coba bergantung sama orang lain deh.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!