Judul: Napas Terakhir Lumina
Dunia Aethelgard yang damai terusik saat Anya, sebuah entitas mekanis "cacat" dengan perasaan, jatuh ke pelukan keluarga Sena dan Elara. Dianggap saudara oleh Alisha, Anya mulai memahami arti jiwa. Namun, masa lalu Anya sebagai aset eksperimen antar dimensi memicu perang besar. Demi menyelamatkan keluarga yang memberinya cinta, Anya harus bertransformasi menjadi Lumina dan memberikan napas terakhirnya untuk menyegel kehancuran. Apakah pengorbanannya akan membebaskan dunia organik selamanya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Panqeran Sipit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 3: Warisan Yang Terbangun
Sena masih berusaha mengatur napasnya yang terasa panas, seolah-olah ia baru saja menelan bara api. Di dalam gua di balik tirai air terjun itu, udara terasa lembap namun menyesakkan. Cahaya biru yang merambat di pembuluh darah lengannya berpendar redup dan terang mengikuti detak jantungnya yang liar. Di depannya, Elara berdiri mematung. Wanita itu menatap kristal di tangannya dengan tatapan yang sulit diartikan—sebuah campuran antara kerinduan mendalam pada masa lalu dan ketakutan hebat akan masa depan.
"Kita tidak punya banyak waktu," ujar Elara tiba-tiba. Suaranya tidak lagi sedingin sebelumnya. Ada nada urgensi yang membuat bulu kuduk Sena berdiri. "Kau telah menyentuh jantung hutan, Sena. Tapi kau belum mengikatnya. Kekuatan itu adalah entitas liar. Tanpa ritual pengikatan, ia akan membakarmu dari dalam hingga kau menjadi abu, dan makhluk-makhluk bayangan tadi... mereka tidak akan berhenti sampai mereka menelan cahaya yang ada di nadimu."
"Ritual?" Sena melangkah mendekat, meski setiap sendinya terasa gemetar seolah tulang-tulangnya terbuat dari kaca yang hampir pecah. "Apa yang harus kulakukan? Aku bahkan tidak tahu kekuatan apa ini."
"Bukan kau yang melakukannya sendiri. Tapi kita," jawab Elara pelan. Ia perlahan membuka lilitan kain kusam di pergelangan tangan kirinya. Di sana, sebuah tanda kuno berbentuk sulur perak mulai berpendar terang. "Selama bertahun-tahun aku bersembunyi dalam bayang-bayang karena aku takut pada beban ini. Aku adalah keturunan terakhir dari garis penjaga yang gagal melindungi hutan ini di masa lalu. Tapi melihatmu... melihat bagaimana hutan ini memilihmu saat ia sedang sekarat, aku tidak bisa lagi menutup mata dan berpura-pura tidak terjadi apa-apa."
Mereka melangkah menuju tengah gua, tempat sebuah altar batu berdiri tegak namun penuh retakan dimakan usia. Altar itu seolah sedang menunggu kehadiran mereka selama ratusan tahun. Elara menginstruksikan Sena untuk meletakkan kedua telapak tangannya di atas permukaan batu yang dingin, sementara ia memegang sisi lainnya, mengunci pandangan mereka dalam satu frekuensi yang sama.
"Pejamkan matamu, Sena. Jangan dengarkan suara air terjun. Jangan dengarkan ketakutanmu. Ucapkan apa yang kau dengar dari bisikan hutan. Jangan gunakan kata-katamu yang dangkal, gunakan suaranya," bisik Elara dengan nada yang menghipnotis.
Sena memejamkan mata. Awalnya hanya ada kegelapan, namun perlahan suara-suara aneh mulai memenuhi kepalanya. Bukan suara manusia, melainkan suara gesekan daun, aliran air di akar terdalam, dan rintihan bumi yang terluka. Saat ia mulai menggumamkan bahasa kuno yang belum pernah ia pelajari, udara di dalam gua mendadak berubah menjadi sedingin es. Kristal di tangan Elara terangkat ke udara, memancarkan gelombang energi yang menyatukan jiwa mereka dengan altar tersebut.
Namun, keheningan sakral itu pecah dengan kasar.
Suara jeritan melengking, tajam seperti kuku yang mencakar logam, bergema dari balik tirai air terjun. Bayangan hitam yang tadi menyerang Sena di kolam kini muncul kembali dalam jumlah yang jauh lebih besar. Mereka merayap di dinding gua seperti tinta busuk yang tumpah, menyerap cahaya biru yang terpancar dari tubuh Sena.
"Selesaikan ritualnya! Jangan lepaskan tanganmu!" teriak Elara. Wanita itu kini berdiri tegak, tubuhnya diselimuti aura perak yang menyilaukan. Ia mengangkat tangannya, menciptakan penghalang transparan yang menahan serbuan makhluk-makhluk bayangan yang mencoba merangsek masuk ke area altar.
Sena merasakan panas di dadanya mencapai titik puncak. Rasanya seperti ada naga yang mencoba mendobrak keluar dari tulang rusuknya. Alih-alih melawan, ia mengikuti instruksi Elara; ia menyerah. Ia membiarkan rasa panas itu mengalir ke seluruh sarafnya, menyatu dengan getaran bumi di bawah altar.
“Lumina... Protege...” Sena membisikkan kata terakhir.
BOOM!
Sebuah ledakan cahaya biru langit dan perak meledak dari titik altar, menyapu seluruh ruangan gua. Gelombang energi itu begitu murni hingga makhluk-makhluk bayangan itu lenyap seketika, menguap menjadi asap putih sebelum sempat berteriak. Keheningan kembali meraja, hanya menyisakan aroma ozon dan tanah basah.
Elara terduduk lemas, napasnya tersengal-sengal, namun matanya kini benar-benar jernih. "Sudah selesai. Kekuatan itu sekarang adalah bagian darimu. Kita... kita adalah penjaganya sekarang."
Sena melihat tangannya. Cahaya biru itu kini tidak lagi liar, melainkan mengalir tenang di bawah kulitnya seperti sungai yang damai. Namun, kelegaan itu hanya bertahan sekejap. Angin pegunungan membawa aroma yang sangat ia benci masuk ke dalam gua: aroma kayu terbakar, jelaga pekat, dan jerit ketakutan yang terbawa angin dari kejauhan.
"Desa," bisik Sena. Wajahnya seketika pucat pasi.
Tanpa berkata-kata lagi, mereka berdua berlari keluar. Kekuatan baru ini membuat tubuh Sena terasa seringan kapas namun sekuat baja. Ia mampu melompat dari satu tebing ke tebing lain dengan kecepatan yang tidak masuk akal, seolah pepohonan di sekitarnya membengkok untuk memberinya jalan pintas. Elara mengikuti di belakangnya dengan kelincahan seorang pemburu.
Namun, saat mereka mencapai puncak bukit terakhir yang menghadap ke arah desa mereka, langkah Sena terhenti mendadak.
Hatinya hancur berkeping-keping.
Dari ketinggian itu, ia melihat pemandangan neraka. Asap hitam membumbung tinggi dari atap-atap rumah jerami yang selama ini menjadi tempat berteduh warga. Di bawah sana, para prajurit kerajaan berbaju besi merah gelap bergerak seperti gerombolan semut api yang haus darah. Mereka menjarah, menghancurkan, dan mengikat penduduk desa yang tak berdaya.
Mata Sena tertuju pada satu titik di tengah alun-alun desa. Ia melihat seorang prajurit sedang menyeret paksa seorang pria tua—ia mengenali pria itu, dia adalah ayah dari anak kecil yang tadi ia bantu carikan obatnya. Pria tua itu memohon-mohon, namun sang prajurit justru mengangkat cambuknya.
Amarah yang dingin, lebih dingin dari es di puncak gunung, menyelimuti seluruh keberadaan Sena. Ia tidak lagi merasa takut. Rasa panas di nadinya kini berubah menjadi tekad yang membara. Ia menoleh ke arah Elara, yang matanya juga menyala karena amarah.
"Bantu aku melindungi mereka," ucap Sena singkat namun penuh penekanan.
Elara mengangguk mantap, tangannya mulai membentuk segel energi. "Aku akan menutup pergerakan mereka dengan kabut hutan. Mereka tidak akan tahu dari mana serangan berasal. Kau, Sena... jadilah badai yang akan mereka takuti seumur hidup mereka."
Sena melompat turun dari atas bukit setinggi sepuluh meter. Ia mendarat dengan dentuman keras tepat di tengah desa, menciptakan gelombang kejut yang menerbangkan debu dan abu. Ia tidak lagi bersembunyi di balik bayang-bayang hutan.
Seorang prajurit kerajaan yang sedang mengayunkan cambuknya seketika terhenti. Ia melihat seorang pemuda berdiri di hadapannya dengan tatapan mata yang tidak lagi manusiawi—sepasang mata yang berpendar biru terang secerah kilat. Sebelum prajurit itu sempat mengeluarkan satu kata pun, Sena menghentakkan kakinya ke tanah.
Bumi berguncang.
Akar-akar raksasa yang sekeras besi mencuat dari bawah tanah, melilit kaki-kaki para prajurit kerajaan dengan kekuatan luar biasa, membanting mereka ke dinding atau menarik mereka ke dalam tanah.
"Siapa kau?!" teriak sang Komandan dari atas kudanya yang meringkik ketakutan. Komandan itu menghunuskan pedangnya, namun tangannya gemetar.
"Aku adalah suara dari hutan yang kau sakiti. Dan hari ini, Lumina menuntut balas," jawab Sena. Suaranya tidak lagi terdengar seperti pemuda biasa; suaranya menggelegar, bergema bersamaan dengan angin badai yang tiba-tiba berputar di sekeliling desa, membawa daun-daun tajam yang siap menyayat siapa pun yang menghalangi.
Penduduk desa yang tadinya meringkuk ketakutan mulai mengangkat kepala mereka. Di tengah kabut tebal yang tiba-tiba menyelimuti desa—uluran tangan perlindungan Elara—mereka melihat sosok pembela.
"Lawan!" teriak seorang petani sambil meraih cangkulnya, semangatnya bangkit melihat keajaiban di depan mata. "Sena kembali! Lumina tidak akan menyerah pada penindas!"
Maka dimulailah pertempuran itu. Bukan lagi sekadar pelarian, tapi sebuah perlawanan. Di bawah pimpinan sang Penjaga yang baru terbangun, penduduk desa mulai bergerak maju. Baja-baja kerajaan yang dingin kini harus berhadapan dengan murka alam yang telah lama tertidur dan kini bangun dengan dendam yang membara.
jangan lupa mampir jg ya🙏😍😍😍😍😍
semoga sampai tamat 🙏
mampir juga ketempat saya kak.