NovelToon NovelToon
Tiba-tiba Berubah ( Transmigrasi)

Tiba-tiba Berubah ( Transmigrasi)

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Fantasi / Transmigrasi
Popularitas:8.9k
Nilai: 5
Nama Author: RAYAS

"What? Masa gue mati cuma gara-gara keselek air minum sih? Nggak estetik banget!"
Itu umpatan terakhir Arcelia sebelum jiwanya "nyasar" ke tubuh Alzena—seorang istri pajangan yang hidupnya lebih tragis dari drama sabun. Alzena yang asli mati karena menyerah, tapi Arcelia yang baru bangun dengan satu prinsip: Siapa yang nyenggol, bakal kena hack sampai ke akar.

Tak ada lagi Alzena yang penurut. Arcelia menggunakan otak hacker-nya untuk membongkar borok keluarga Halim dan membuat Shania kena mental. Sementara Keano, suami dingin yang biasanya menganggapnya sampah, mulai dibuat pusing tujuh keliling karena istrinya berubah jadi singa betina yang tak lagi memuja dirinya.

Game baru dimulai. Arcelia tidak datang untuk minta maaf, dia datang untuk berkuasa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RAYAS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 3: SELAMAT DATANG DI NERAKA

Kepulangan Alzena dari rumah sakit tidak disambut dengan karangan bunga atau pelukan hangat. Hanya ada sebuah mobil hitam mewah yang terparkir di lobi, dengan Evan yang berdiri kaku di samping pintu penumpang. Keano? Pria itu tentu saja sudah berangkat ke kantornya sejak fajar menyingsing. Baginya, menjemput istri yang baru saja mencoba bunuh diri bukanlah prioritas yang masuk dalam agenda harian.

"Nyonya, silakan," ujar Evan sambil membukakan pintu.

Arcelia, yang kini mengenakan kemeja sutra putih dan celana bahan yang tampak sedikit kebesaran di tubuh kurusnya, masuk ke dalam mobil tanpa sepatah kata pun. Ia mengenakan kacamata hitam besar, menyembunyikan tatapan matanya yang tajam dan waspada.

Sepanjang perjalanan menuju mansion Winchester, Arcelia hanya diam menatap keluar jendela. New Ardent adalah kota yang sibuk, penuh dengan gedung pencakar langit dan layar-layar digital raksasa. Ia memperhatikan infrastruktur kota itu dengan mata seorang teknisi. Ia mencatat dalam hati letak-letak kamera pengawas dan titik-titik distribusi jaringan yang ia lewati.

"Sudah berapa lama saya tinggal di rumah itu, Van?" tanya Arcelia tiba-tiba.

Evan sedikit terlonjak di kursi depan. "Anda sudah menikah dengan Tuan Keano selama dua tahun, Nyonya. Dan Anda sudah tinggal di kediaman utama sejak hari pertama pernikahan."

"Dua tahun, ya?" Arcelia menyeringai tipis di balik kacamatanya. "Dua tahun hidup sebagai hantu. Alzena, lo bener-bener sabar banget jadi orang."

Mobil akhirnya memasuki kawasan perumahan elit di distrik Calveron Heights. Gerbang besi raksasa terbuka otomatis, menampakkan sebuah mansion megah bergaya minimalis modern yang dikelilingi taman luas. Namun, bagi Arcelia, tempat ini tidak terasa seperti rumah. Aura dinginnya bahkan lebih menusuk daripada bangsal rumah sakit.

Begitu ia melangkah masuk ke aula utama, beberapa pelayan berbaris menyambut. Namun, Arcelia bisa merasakan atmosfer yang tidak enak. Beberapa pelayan saling berbisik, sementara yang lain menatapnya dengan tatapan meremehkan yang nyaris tidak disembunyikan.

"Wah, Nyonya sudah pulang," suara cempreng seorang wanita memecah kesunyian.

Seorang wanita paruh baya dengan seragam kepala pelayan melangkah maju. Namanya Bi Ratna. Di memori Alzena, wanita inilah yang paling sering mempersulit hidupnya—mulai dari sengaja memberikan makanan yang sudah dingin, hingga melaporkan hal-hal yang tidak benar kepada Keano untuk membuat posisi Alzena semakin buruk.

"Saya kira Nyonya akan betah di rumah sakit. Mengingat Nyonya sangat suka mencari perhatian dengan cara... tragis seperti itu," ujar Bi Ratna dengan nada sinis yang dibungkus senyum palsu.

Arcelia berhenti melangkah. Ia melepaskan kacamata hitamnya pelan-pelan, menatap Bi Ratna dengan tatapan yang sangat dingin hingga wanita itu terdiam sesaat.

"Namanya Bi Ratna, kan?" tanya Arcelia, suaranya pelan tapi sangat jelas.

"Ya, tentu saja. Anda mendadak amnesia juga setelah minum obat itu?" Bi Ratna tertawa kecil, diikuti oleh beberapa pelayan junior di belakangnya.

Arcelia tidak marah. Ia justru tersenyum miring. Ia melangkah mendekat, mengikis jarak hingga Bi Ratna harus mendongak untuk menatapnya.

"Gue nggak amnesia, Bi. Gue cuma lagi mikir... berapa banyak uang yang udah lo tilep dari anggaran dapur selama dua tahun ini?"

Wajah Bi Ratna mendadak pucat pasi. "A-apa maksud Nyonya? Bicara yang sopan! Saya sudah bekerja di keluarga Winchester bahkan sebelum Anda masuk ke sini!"

"Sopan?" Arcelia tertawa kecil, suara tawanya terdengar menyeramkan. "Gue sopan sama orang yang punya harga diri. Tapi sama parasit yang hobi makan uang majikan sambil nge-bully istri majikannya? Gue rasa sopan santun itu barang mewah yang nggak layak lo dapetin."

"Nyonya memfitnah saya! Saya akan laporkan ini pada Tuan Keano!" seru Bi Ratna dengan suara gemetar.

"Laporin aja," sahut Arcelia santai. Ia merogoh saku celananya, mengeluarkan ponsel yang dipinjamnya dari Evan. "Tapi sebelum lo lapor, mending lo liat ini dulu."

Arcelia menunjukkan layar ponselnya. Di sana terdapat sebuah diagram aliran dana yang sangat rumit, lengkap dengan tanggal dan jam transaksi. Itu adalah hasil kerja Arcelia selama satu jam di rumah sakit tadi. Ia berhasil masuk ke sistem manajemen keuangan rumah tangga mansion Winchester.

"Lo pikir gue nggak tahu lo punya dua rekening rahasia? Lo sering mark-up harga belanja bulanan dan masukin selisihnya ke rekening keponakan lo di desa. Totalnya... wah, lumayan ya. Bisa buat beli mobil baru dalam dua tahun."

Seluruh pelayan di aula itu ternganga. Bi Ratna nyaris jatuh terduduk. Ia tidak menyangka Alzena yang biasanya hanya bisa menangis saat dipojokkan, kini bisa memegang rahasia paling gelapnya hanya dalam hitungan detik setelah menginjakkan kaki di rumah.

"Mulai detik ini, lo bukan lagi kepala pelayan di sini," ujar Arcelia dengan nada final. "Beresin barang-barang lo dalam sepuluh menit. Kalau masih ada di sini setelah itu, gue bakal kirim semua data ini ke polisi. Dan percaya sama gue, sel penjara itu jauh lebih nggak estetik daripada kamar rumah sakit."

"Nyonya... tolong... saya..." Bi Ratna mulai menangis, mencoba meraih tangan Arcelia, tapi Arcelia menghindar dengan jijik.

"Evan," panggil Arcelia.

Evan, yang sejak tadi menonton dengan mulut sedikit terbuka, langsung sigap. "Ya, Nyonya?"

"Pastikan wanita ini keluar dari sini. Dan tolong panggilkan semua pelayan ke ruang tengah. Gue mau bikin aturan baru di rumah ini."

Sepuluh menit kemudian, Arcelia duduk di sofa kulit yang besar di ruang tengah. Di depannya, belasan pelayan berdiri dengan kepala menunduk. Tidak ada lagi bisik-bisik. Tidak ada lagi tatapan meremehkan. Yang ada hanyalah ketakutan dan kebingungan.

"Denger ya," Arcelia memulai, suaranya terdengar sangat berwibawa. "Gue tahu selama ini kalian anggep gue apa. Keset? Boneka? Atau cuma pajangan yang nggak berguna? Mulai hari ini, buang semua pikiran itu ke tempat sampah."

Ia berdiri, berjalan perlahan mengitari barisan pelayan itu.

"Gue nggak minta kalian sayang sama gue. Gue juga nggak minta kalian hormat berlebihan. Gue cuma butuh satu hal: Kerja yang bener sesuai gaji kalian. Jangan ada yang berani masuk ke kamar gue tanpa izin, jangan ada yang berani nyentuh laptop gue, dan yang paling penting... jangan ada yang berani ngadu hal-hal sampah ke suami gue."

Ia berhenti tepat di depan seorang pelayan muda yang dulu pernah sengaja menumpahkan teh ke kaki Alzena. Pelayan itu gemetar hebat.

"Kalau gue denger ada satu aja gosip miring tentang gue keluar dari rumah ini, atau ada yang berani main di belakang gue... nasib kalian bakal lebih buruk dari Bi Ratna. Paham?"

"P-paham, Nyonya," sahut mereka serempak.

"Bagus. Sekarang bubar. Gue mau istirahat."

Setelah semua pelayan pergi, Arcelia mengembuskan napas panjang. Ia menjatuhkan dirinya kembali ke sofa, memijat keningnya yang mulai berdenyut lagi. Tubuh ini benar-benar ringkih. Hanya untuk melakukan konfrontasi singkat saja jantungnya sudah berdegup kencang karena kelelahan fisik.

Ia menatap sekeliling ruangan yang sunyi itu. Mansion ini sangat besar, tapi terasa sangat kosong. Ia bangkit dan berjalan menuju kamar utama yang terletak di lantai dua. Begitu masuk, ia disambut oleh interior kamar yang elegan namun dingin. Tidak ada foto pernikahan di dinding. Tidak ada barang-barang yang menunjukkan bahwa ini adalah kamar sepasang suami-istri yang saling mencintai. Hanya ada dua tempat tidur yang terpisah cukup jauh—atau lebih tepatnya, sebuah sofa panjang yang biasa digunakan Alzena untuk tidur jika Keano memutuskan untuk pulang ke rumah.

"Jadi selama ini lo tidur di sofa, Zen?" gumam Arcelia miris. "Suami lo bener-bener keterlaluan."

Arcelia berjalan menuju meja rias yang penuh dengan kosmetik mahal yang nyaris tidak pernah disentuh. Ia menatap wajahnya di cermin. Cantik, tapi pucat. Ia meraih sebuah sisir, mencoba merapikan rambutnya yang agak kusut.

Tiba-tiba, pandangannya tertuju pada sebuah laci kecil yang terkunci di pojok meja rias. Di memori Alzena, laci itu adalah tempat ia menyimpan barang-barang yang paling berharga baginya.

Arcelia mencoba menarik laci itu, tapi terkunci. Tanpa ragu, ia mengambil sebuah penjepit rambut logam, memasukkannya ke lubang kunci, dan dengan beberapa gerakan ahli—click—laci itu terbuka.

Di dalamnya hanya ada sebuah kotak kayu kecil. Arcelia membukanya dengan rasa ingin tahu yang besar. Isinya bukan perhiasan mahal atau berlian. Isinya adalah sebuah pita rambut merah yang sudah usang dan sebuah sketsa tangan yang sudah mulai menguning.

Sketsa itu menggambarkan dua orang anak kecil yang sedang berpegangan tangan di bawah pohon besar. Di bawah sketsa itu ada tulisan tangan yang miring-miring: "Kakak Alzena dan Adik... kita selamanya."

Bagian nama adiknya tampak terhapus oleh bekas tetesan air mata yang sudah lama kering.

Seketika, rasa sakit yang luar biasa menghantam dada Arcelia. Jantungnya berdenyut kencang, dan sebuah kilasan ingatan yang sangat tajam muncul di kepalanya.

Suara tawa di sebuah taman. Aroma permen kapas. Dan perasaan aman saat tangan kecilnya menggenggam tangan yang lebih besar.

"Kenapa... kenapa gue ngerasa kenal sama pita ini?" bisik Arcelia. Air mata mengalir di pipinya tanpa bisa ia tahan. Ia tidak mengerti kenapa perasaan sedih ini begitu nyata, seolah-olah pita itu adalah bagian dari dirinya yang hilang.

Ia merogoh sakunya, mengeluarkan ponsel lagi. Ia ingin mencari tahu tentang taman bermain yang ada di berita lama yang ia baca di rumah sakit tadi. Namun, sebelum ia sempat mengetik, pintu kamar terbuka.

Keano berdiri di sana. Pria itu tampak terkejut melihat Alzena yang sedang menangis sambil memegang pita merah usang di tangannya.

"Sedang apa kau?" suara Keano terdengar tajam, memecah suasana melankolis di kamar itu.

Arcelia dengan cepat menghapus air matanya, berubah kembali menjadi sosok yang dingin dan defensif. Ia memasukkan pita itu kembali ke kotak dan menutup lacinya dengan kasar.

"Bukan urusan lo," sahut Arcelia pendek. Ia berdiri, menatap Keano dengan tatapan menantang. "Bukannya lo harusnya lagi kerja? Kenapa pulang jam segini? Mau liat gue udah mati atau belum?"

Keano menyipitkan matanya. Ia melangkah masuk, aura dominasinya memenuhi ruangan. "Evan melapor bahwa kau memecat kepala pelayanku. Kau pikir kau punya otoritas untuk melakukan itu tanpa seizinku?"

Arcelia berjalan mendekati Keano, tidak menunjukkan rasa takut sedikit pun. "Otoritas? Gue adalah istri sah lo, Keano. Kalau ada parasit di rumah ini yang ngerugiin keuangan suami gue, gue punya hak buat bersihin itu. Kecuali... lo emang lebih suka dipelihara sama pencuri daripada sama istri sendiri?"

Keano terdiam. Ia menatap Alzena dengan tatapan yang sulit dijelaskan. Ada amarah, tapi ada juga rasa takjub yang tersembunyi. Istrinya yang dulu hanya bisa menunduk dan gemetar jika ia bicara keras, kini berani melawannya dengan argumen yang masuk akal.

"Kau berubah," gumam Keano pelan.

"Semua orang bakal berubah kalau mereka udah pernah liat pintu kematian, Keano," jawab Arcelia miring. "Sekarang, mending lo keluar. Gue mau mandi dan gue nggak mau ada orang asing di kamar gue."

"Orang asing?" Keano mendengus sinis. "Aku suamimu, jika kau lupa."

"Suami di atas kertas doang nggak dihitung," sahut Arcelia sambil berjalan menuju kamar mandi tanpa menoleh lagi. "Tutup pintunya pas lo keluar. Gue sensitif sama debu."

Keano berdiri terpaku di tengah kamar. Ia menatap meja rias tempat Alzena tadi duduk. Untuk sesaat, ia teringat pada sosok penyelamatnya yang dulu juga selalu bersikap sombong dan tidak mau kalah.

"Siapa kau sebenarnya, Alzena?" bisiknya pada kehampaan.

Di balik pintu kamar mandi, Arcelia bersandar pada tembok, mencoba menenangkan jantungnya yang berdegup kencang. Ia memegang dadanya yang masih terasa nyeri. Bukan karena sakit fisik, tapi karena pita merah itu.

"Siapa gue... dan siapa anak kecil di sketsa itu?"

Rahasia itu mulai memanggilnya, dan Arcelia tahu, perjalanannya di rumah ini baru saja dimulai. Ia tidak hanya akan menghadapi keluarga Winchester dan Halim, tapi ia juga harus menghadapi kebenaran tentang siapa dirinya yang sebenarnya.

...****************...

TBC

1
Nessa
visulnya 👍🏻👍🏻👍🏻
Nessa
wiiihhh badass
Noey Aprilia
Hai kk....
aku udh mmpir....crtanya seru mskpn pnuh misteri,tp ga sbar krna pnsran....
d tnggu up'ny kk....smnggttt.....😘😘😘
partini
Nemu lagi novel macam ini i like
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!