NovelToon NovelToon
RATU GEMUK MILIK RAJA BURUK RUPA

RATU GEMUK MILIK RAJA BURUK RUPA

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Transmigrasi / Sistem
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Tanya Balik

masih up, cuma jarang!


Morline terlempar ke dalam novel sebagai istri gemuk sang antagonis, kehidupannya seharusnya berhenti di sana namun dia tak hidup mengenaskan sebagai karakter figuran. Morline harus bangkit, mengubah hidupnya lebih baik lagi dan lebih baik lagi.


Cedric kini mulai menyadari bahwa gadis gemuk yang selama ini dia anggap remeh ternyata memiliki rahasia yang luar biasa. perlahan dan tanpa Cedric sadari dia mulai terjerat dalam rencananya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tanya Balik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

03

Ffd

...

Gerald terkejut saat prajurit itu mengatakan bahwa di depannya adalah putri mahkota yang sering mereka dengar namanya karena gosip dan berita yang beredar.

Nama Morline, sudah di kenal saat raja, yaitu Cedric dirumorkan lebih memilih mengejar putri Annellise dari kerajaan lain, di banding menerima pernikahannya bersama Morline Moralles si gadis gemuk.

Sejak saat ini, baik dari kalangan rakyat biasa dan kalangan bangsawan sering membicarakan putri mahkota yang gemuk ini. Para wanita ataupun pria banyak menggunjing soal tubuhnya yang tidak proporsional dan tak enak di pandang.

Mereka cenderung menyalahkan Morline karena bertubuh gemuk alih-alih Cedric yang tidak setia dan mengejar wanita lain secara terang-terangan.

Dan saat ini, gadis yang sering mereka gosipkan berdiri telat di depan mereka dengan dagu terangkat dan tatapan mata yang teguh.

Gerald hampir tidak bisa mempercayai apa yang sedang terjadi, dia nyaris tak percaya jika Putri dari keluarga bangsawan sederhana yang menikah dengan raja, kini berdiri didepannya setelah apa yang terjadi padanya di masalalu.

"Maafkan saya, tak mengenali yang mulia putri."

"Tidak masalah, anda tak harus mengenalku. Lagi pula aku datang untuk berdiskusi soal kericuhan dan mengkonfirmasi apakah yang aku dengar sebuah kebenaran atau hanya cerita yang dimodifikasi."

Gerald mengangguk, kalau itu tujuan Morline maka dengan senang hati dia akan bicara sesuai apa yang terjadi. Tak akan melebih-lebihkan sebuah cerita hanya untuk simpati, Gerald bukan orang seperti itu.

"Paman."

"Yuhan? Kenapa kau kesini? Seharusnya kau tetap di rumah."

"Aku mendengar jika kereta kerajaan datang...." Pemuda bernama Yuhan itu menatap Morline, tanpa sengaja tatapan mereka bertemu. Yuhan dengan cepat menghindar dan menunduk karena tahu bahwa Morline seorang bangsawan dari pakaian yang dia kenakan.

Bagi rakyat jelata sepertinya, menatap seorang bangsawan terlebih dia adalah seorang perempuan, akan ditajutuhi hukuaman berat. Pernah dia mendengar seorang pria menatap seorang nyonya bangsawan lalu 3 hari kemudian dia dieksekusi, Yuhan tentu tak mau hal seperti itu terjadi padanya.

Yuhan? Apakah dia target misi? Aku kira dia seorang pria? Dia tak beda jauh dari usiaku.

Morline mencoba mengingat nama Yuhan dalam novel. Tidak banyak disebut soal nama itu, hanya dua atau tiga paragraf tentangnya. Yuhan sebenarnya anak korban kericuhan yang juga temannya Gerald. Karena ayahnya meninggal, tak ada yang bisa menghidupi Yuhan dan keluarganya hingga anak itu tak bisa sekolah karena terkendala biaya.

Gerald, yang berperan sebagai ayah pengganti kekeuh ingin Yuhan sekolah meski harus Gerald yang menanggung semua biaya, tak ingin membebani Gerald, Yuhan kabur dari kota Sentra untuk mendapatkan pekerjaan. Namun 3 tahun kemudian, Yuhan di kabarkan meninggal dunia karena dipukuli, menurut cerita dia menjadi pencuri untuk menghidupi keluarganya. Sayangnya dia tertangkap dan dipukuli sampai mati oleh warga sekitar.

Itulah kenapa Gerald sangat berambisi menuntut keadilan pada Juandar. Namun pada akhirnya keadilan itu tak bisa tercapai dan justru nyawanya lah yang menjadi korban atas ketidakadilan yang terjadi.

Morline menghela nafas, jelas harus mengubah akhir mereka berdua. "Maaf yang mulia putri, kami akan menyediakan tempat untuk berdiskusi bersama."

Morline mengangguk dan membiarkan mereka menyiapkan tempat, sementara dia meminta para kesatria yang pelayan yang dia bawa untuk tidak mengintimidasi rakyat dengan keberadaan mereka dan meminta mereka bersikap ramah pada rakyat yang berada di luar, menjalin hubungan agar rakyat merasa diri mereka di perhatikan dan penting.

Jamuan disediakan di atas meja untuk Morline. Ada ayam panggang utuh, roti yang mengembang terlihat masih hangat dan berbagai minuman. Mungkin hidangan ini terlihat sederhana baginya, tapi bagi rakyat justru mereka harus merelakan simpanan uang mereka untuk menjamu seorang bangsawan.

"Tidak usah banyak-banyak, suguh kami semampu kalian saja." Morline mengehentikan orang yang hendak pergi ke dapur untuk kesekian kalinya. Dia mengambil keranjang kentang rebus, mengambilnya satu dan menggigitnya. "Bagikan ini pada yang lain." Perintahnya pada Nina, pelayan yang dia bawa.

Pelayan itu membagikan kentang rebus pada para kesatria, dan mereka dengan senang hati memakannya.

Morline menatap mereka dengan senyuman, lalu berkata. "Nikmati jamuan yang disediakan." Katanya pada para kesatria.

Gerald dan Yuhan serta orang-orang di sana menatap Morline dengan pandangan yang berbeda.

Di mata mereka, bangsawan adalah orang suci yang tak ingin menginjak tanah meski memakai sepatu. Bahkan untuk bersentuhan dengan mereka saja, bangsawan itu merasa jijik dan najis seakan mereka bukanlah makhluk yang sama.

Anggapan mereka jika bangsawan itu selalu sombong, semena-mena dan kasar, tidak bisa mereka lihat pada Morline. Gadis itu bersikap sopan, sangat sopan pada mereka dan menghargai mereka. Dia tahu bahwa makanan ini disiapkan dengan kerelaan hati mereka, dia tahu bahwa kehidupan rakyat dan bangsawan beda.

Yuhan menatap Morline, tatapannya meneliti sesuatu dalam diri Morline.

"Baiklah, ayo kita berdiskusi. Yang aku tahu kericuhan di picu oleh tuan Juandar yang menaikkan pajak, ada yang bilang tuan Juandar telah membunuh orang, dan warga setempat menuntut keadilan di rumahnya. Apa itu benar?"

"Tidak sepenuhnya salah, tapi bukan berarti benar. Kami, warga yang di dominasi pedagang dan petani merasa keberatan atas kenaikan pajak dan upeti yang dilakukan tuan Juandar. Kami sudah tak mampu lagi untuk memenuhi itu jadi kami sepakat mendemo di depan kediaman hanya untuk meminta kelonggaran.

Saat kericuhan terjadi, tuan Juandar memerintahkan prajurit sewaan untuk mencegah kami. Prajurit itu bergerak dengan kasar dan brutal hingga memakan korban jiwa...." Gerald berhenti cerita, dia menunduk dan menekan kedua alisnya.

Yuhan menoleh dan wajahnya berubah seperti mendung yang tiba-tiba datang.

.

"Teman saya....Yusra....dan Berto meninggal dunia gara-gara mereka. Di depan mata kepala saya, prajurit itu menusuk jantungku Yusra, lalu Berto kepalanya hancur gara-gara dilempari batu oleh mereka. Beberapa pendemo juga mengalami luka-luka. Kami hanya meminta keadilan untuk itu, bukan membuat kericuhan tanpa alasan. Tolong yang mulia putri bantu kami."

"Aku tentu akan membantu kalian, tapi aku bukanlah orang yang paling berkuasa. Ada raja yang berada di atasku. Meski aku berteriak tuan Juandar salah, jika raja menganggapnya tak bersalah maka keadilan itu tak akan bisa kalian dapatkan."

Gerald dan Yuhan merasa lemas. Harapan mereka seolah dipatahkan begitu saja. Air mata Yuhan menggenang, ayahnya mati dengan tidak adil. Dia hanya ingin memperjuangkan hak untuk ayahnya dan orang-orang. Namun seakan keinginan sederhana itu sangat sulit di capai.

"Tapi bukan berarti keadilan tak bisa ditegakkan. Kalian hanya perlu berusaha sekuat tenaga. Aku akan membantu. Pertama kita harus bisa membuktikan bahwa tuan Juandar bersalah agar yang mulia raja percaya dan tuan Juandar tak bisa membantah lagi. Kedua, aku akan membujuk yang mulia raja agar membuat undang-undang kesejahteraan petani dan pedagang. Itu ide yang solusi yang cukup bagus'kan?"

"Itu seperti yang aku pikirkan. Petani di beri fasilitas bertani agar para petani sejahtera." Yuhan tanpa sadar menjadi antusias ketika Morline menyebutkan undang-undang kesejahteraan petani.

Morline tersenyum menatap pemuda itu, "coba kau jelaskan."

Yuhan ragu sejenak, dia menatap Gerald. Teman ayahnya yang juga dia anggap ayah sendiri. Melihat keteguhan di mata Gerald, Yuhan menjadi yakin. "Pertama, pemerintah memberikan fasilitas petani berupa pupuk murah, lahan dan bibit dengan itu para petani akan sejahtera."

"Satu pertanyaan dariku, jika ada petani  besar yang sengaja memonopoli fasilitas murah yang diberikan oleh perintah apa yang akan kamu lakukan?" Morline sengaja memancing dengan pertanyaan kritis.

"Aku...." Yuhan terdiam dan berpikir. Jika ada petani curang dan memonopoli fasilitas itu apa yang akan terjadi? tentu saja itu akan merugikan petani kecil dan fasilitas yang telah diberikan oleh pemerintah terasa tak berguna bagi mereka. Namun, itu bukanlah jawaban dari pertanyaan yang diberikan. "Aku akan melakukan.... menegur petani yang melakukan monopoli."

Morline mengangguk, "memang ada benarnya. Namun jawabannya kurang bijak. Jika statusmu adalah petani kecil itu, maka percuma, jika kau adalah petani besar yang setara, dia justru akan mengajakmu mengikutinya dan tak akan berhenti mencari keuntungan. Satu-satunya yang bisa menghentikannya adalah otoritas tertinggi, tapi sudah ada banyak petani yang di rugikan. Seharusnya kau sebagai otoritas tertinggi bisa mencegah itu terjadi."

Intinya jika kau pemimpin baik, seharusnya tidak ada kegirangan yang terjadi.

Yuhan mengulang kalimat itu, dan memikirkan untuk beberapa saat. Setelah menyambungkan dengan hal-hal yang dia telah ketahui, Yuhan mendapatkan kesimpulan dari apa yang dia pikirkan. "Apakah maksud anda adalah harus ada yang mengawasi agar hal seperti itu tidak terjadi?"

"Benar. Dan saat ini belum ada hal atau kebijakan seperti itu. Bayangkan jika di masa depan setiap departemen memiliki pengawasan yang jujur, teguh dan penuh integritas. Negara ini bukan hanya akan menjadi lebih baik, tapi sangat baik. Yuhan apa kau sekolah?"

Yuhan menggeleng dengan wajah sedih. "Tidak."

Mendengar jawaban Yuhan, Gerald bereaksi. "Yang mulia, izin bicara. Yuhan berhenti sekolah karena tak bisa membiayai sekolahnya. Saya sudah mendorong untuk kembali sekolah, tapi dia tidak mau."

"Saya tidak mau menjadi beban paman Gerald."

"Kalau begitu datanglah ke sekolah 7 hari lagi, aku akan menitipkan sesuatu pada kepala sekolah, kau ambilkan itu, ya."

"Apa itu yang mulia putri?"

"Kau akan tau nanti. Lebih baik kita cepat mencari bukti untuk aku bawa ke raja."

"Baik"

────୨ৎ────

Setelah pulang dari kota Sentra, Morline membersihkan diri dan meminum segelas air jernih dari pelayan lalu pergi menemui Cedric yang telah selesai rapat dengan para pejabat.

Meski dalam kepalanya, Morline masih mempertanyakan apa yang Cedric pakai untuk menutupi wajahnya ketika bertemu banyak orang?

Kali ini, Cedric tak mengizinkan dirinya masuk meski Joseph memohon untuknya. Morline idak ingin memperpanjang masalah jadi dia bersedia hanya bicara lewat depan pintu asal Cedric mendengarkannya dengan seksama.

"Aku telah menemukan bukti bahwa Tuan Juandar bersalah atas menaikkan pajak ilegal, dan telah melakukan pelanggaran berat karena atas komandonya, para prajurit membunuh warga sipil. Bukti-bukti sudah kami catat dalam bentuk dokumen resmi, kami telah meminta beberapa pihak berwenang memberikan stempel mereka untuk dokumen ini.

Jadi jika anda benar-benar akan menuntut tuan Juandar, anda tidak perlu lagi direpotkan dengan hal seperti penyelidikan. Saya akan meletakkannya dokumen ini di depan kamar anda." Morline meletakkan sekumpulan kertas yang dicatat dengan mesin ketik telah diberi stempel pihak berwenang di depan pintu dengan perlahan.

"Apa yang mulia ingin bertanya sesuatu?"

"Bagaimana respon rakyat?"

Morline tersenyum ketika mendapat pertanyaan ini, seolah secara tak langsung dia mengatakan jika dia peduli pada rakyatnya. "Mereka koperatif, bisa di ajak kerjasama dengan kami. Yang saya senangi adalah, mereka ternyata masih menyimpan kepercayaan pada anda yang mulia. Mereka masih memiliki harapan pada anda untuk negara ini. Mereka bahkan berdoa, agar anda bisa bertemu mereka secara langsung.

"Saya juga bertemu dengan Yuhan, seorang anak laki-laki berusia 16 tahun yang berhenti sekolah karena kendala biaya, tapi dia cerdas. Di usianya, dia sudah memikirkan kebijakan-kebijakan untuk para petani, kami berdiskusi. Dan saya berniat memberinya beasiswa agar kecerdasannya tak terbuang sia-sia."

"Beasiswa?"

"Program yang biaya sekolah ditanggung pemerintah, oleh pajak negara atau pendapatan negara lainnya." Morline menjelaskan dengan sabar, karena di jaman ini memang tidak ada program semacam itu.

"Apa yang mulia ingin bertanya lagi?"

"Tidak."

"Kalau begitu saya pamit undur diri." Morline berbalik dan melangkah pergi, tapi saat dia mencapai belokan, dia berbelok ke kiri dan merapatkan tubuhnya ke dinding. Posisinya mirip seperti cicak dengan kedua tangan terentang.

Dia menjulurkan lehernya perlahan dan diam-diam mengintip apakah Cedric akan keluar mengambil dukumen itu tanpa menggunakan jubah?. Sejujurnya, Morline cukup penasaran seberapa parah tingkat luka bakar yang dia dapat setelah pertarungan dengan Aleron.

Saat pintu terdengar di buka, Morline menegang. Dengan punggung miring dan kepala menjulur ke depan.Dia tak sadar jika posisinya terlihat aneh, seperti anomali di dinding.

Saat Cedric keluar, wajahnya yang tegang berubah datar. Dia kecewa melihat Cedric justru keluar dengan jubah yang menutupi seluruh tubuhnya.

"Putri mahkota anda sedang apa?"

Morline terlonjak hingga hampir jatuh terduduk, dia memegang dadanya untuk menekan jantung yang nyaris melompat dari tempatnya. Morline menatap Marnin yang tiba-tiba muncul entah dari mana dan mengagetkannya.

"Kau mengagetkanku!" Dia berbisik kesal.

Marnin mengerutkan alisnya menatap mulut Morline yang bergerak tapi tak bersuara. "Ya, putri?"

Morline tidak menghiraukan jika Marnin tak mendengarnya. Yang dia pedulikan adalah apakah Cedric tahu kalau dia ada di sini dan mengintipnya? Ketika dia akan kembali mengintip untuk memastikan, untuk kedua kalinya Morline di buat kaget karena pria itu sudah di depan matanya.

Morline tanpa sadar mundur satu langkah. Pria tinggi dengan jubah gelap itu benar-benar menakutinya. Jika dia punya jantung lemah, sudah pasti Morline pingsan ketakutan.

Mendapati dirinya tertangkap basah, Morline tersenyum lebar seperti kuda. Tangannya menggaruk kepala lalu merapihkan pakaian dan akhirnya diam menunduk dengan kedua tangan menyatu di depan.

Marnin di sebelahnya, melihat Morline bertingkah aneh dengan tatapan penuh tanya. Matanya menatap dua orang yang berdiri di depan, mencoba menganalisis situasi.

"Kau sedang apa di sini?"

Morline mengangkat kepalanya, dia bukan orang yang menyembunyikan kesalahan jika sudah ketahuan. "Yang mulia jangan berusaha membuatku semakin malu, aku sudah tertangkap basah."

"Ya, memang."

Wajah Morline langsung memerah semerah kepiting baru di rebus, masih menguap dan panas. Namun dia berusaha menebalkan muda dan berdiri tegak seolah tak terjadi apa-apa.

Marnin yang menonton mulai menyadari sesuatu, bibirnya tersenyum karena melihat wajah Morline yang mengingatkannya pada tomat, makanan kesukaan Joseph.

"Sudahlah, saya mau pergi kalau begitu." Untuk menghindari situasi yang membuatnya tak nyaman, Morline buru-buru kabur dari sana dengan langkah lebar, hampir berlari.

────୨ৎ────

Sebuah tangan yang terdapat luka bakar di bagian kelingking hingga sepertiga punggung tangannya, meraih dokumen yang tergelatak di meja. Dia berjalan mendekati jendela, membuka sedikit kain tebal yang tergantung itu untuk mendapatkan sedikit cahaya bulan yang terang malam ini.

Samar-samar, goresan tinta itu terlihat. Tubuhnya condong kedepan untuk membaca bagian demi bagian.

Cedric telah membaca dokumen yang Morline berikan. Benar kata gadis itu, sudah ada stempel beberapa menteri, diantaranya menteri perdagangan dan pertanian, lalu menteri hukum yang paling bertanggungjawab jawab atas dokumen ini.

Setelah membaca semuanya, Cedric menarik kembali kain tebal itu untuk menghalau cahaya bulan masuk dan membuat ruangan kembali dipenuhi kegelapan.

Dalam kegelapan itu, kaki Cedric melangkah dengan pasti. Dia menjatuhkan diri di kasur dan meletakkan dokumen di sebelahnya.

Cedric menyentuh wajahnya, telapak tangannya merasakan sebuah permukaan kasar dengan tekstur timbul yang memanjang. Sudah 3 bulan dan dia belum bisa menyembuhkan luka ini. Jika keadaannya terus seperti ini apa yang akan terjadi pada dirinya jika semua orang tahu?

Cedric tidak ingin orang-orang menatapnya dengan luka di wajahnya. Dia ingin wajahnya yang dulu kembali, ketampanan yang dia banggakan kembali dan Cedric bisa merasakan lagi bagaimana orang memuji penampilannya. Namun, jika kondisinya seperti ini apakah dia masih bisa mendapatkan pujian itu?

Ini semua gara-gara Aleron, dialah yang membuat wajahnya seperti ini. Seharusnya yang menjadi jelek adalah pria itu bukan dirinya.

Cedric mencengkram tangannya lalu memukul kasur hingga terdengar sesuatu yang patah.

☆☆☆☆☆☆

Cedric memerintahkan prajurit kerajaan menangkap Juandar di kediamannya, tidak hanya itu, mereka juga menangkap prajurit sewaan yang telah melakukan kekerasan pada warga sipil.

Esok harinya, Juandar ditangkap di kediamannya pada hari 7 di jam satu pagi, dan langsung dibawa ke alun-alun ibu kota bersama para prajurit bawahannya yang juga ikut ditangkap atas kesalahan kekerasan pada warga sipil. Ada 6 prajurit yang di tangkap, 3 diantaranya akan di hukum mati bersama Juandar.

Warga berkumpul di alun-alun ibu kota, tapi seorang prajurit istana mengumumkan peraturan baru bahwa hanya di umur tertentu saja yang bisa menyaksikan hukuman ini. Diantaranya; laki-laki di atas 17 tahun boleh menyaksikan hukuman gantung. Laki-laki di atas 21 tahun boleh menyaksikan hukuman penggal, dan laki-laki di atas 15 tahun boleh menyaksikan hukuman cambuk.

Dan bagi perempuan, boleh menyaksikan hukuman gantung di atas umur 18 tahun. Hukuman penggal di atas 23 tahun, dan hukuman cambuk di atas 16 tahun.

Hukum baru diberlakukan untuk menghindari rasa takut, rasa cemas dan trauma pada anak kecil.

Maka dari itu, para prajurit istana tidak memperbolehkan orang-orang di bawah umur untuk menyaksikan hukuman yang akan di lakukan. Dan untuk mencegah orang-orang mengintip, mereka mengganti tempat penghukuman diruangan tertutup.

Sementara ini, hanya ruangan aula di bangunan tak terpakai. Rencananya, bangunan itu akan di ubah menjadi stadium khusus hukuman bagi para pelaku kriminal.

Cedric menatap permintaan yang di tulis langsung oleh Morline, gadis itu meminta jika peraturan lama di ubah menjadi peraturan baru yang dia tulis. Adapun dia menyebutkan alasannya menginginkan peraturan di ubah, dan Cedric sendiri tidak merasa keberatan dan diam-diam mendukung.

Namun dari mana dia bisa memikirkan ide itu? Menurut Cedric, Morline hanyalah wanita bangsawan yang tak memiliki pengetahuan seperti itu mengingat dia adalah wanita yang di pilih ratu terdahulu. Tentunya, Morline tidak memiliki bakat dan kepintaran seperti itu.

Jadi kenapa dia bisa memikirkan ide seperti ini?

1
Uthie
Wahhh... ternyata Edy baik juga 😍👍👍
Uthie
Selalu setiap menanti kelanjutannya kembali 👍👍👍👍😍
Uthie
ditunggu Lagii 👍👍👍
kiu kiu
lanjut thor..jgn terlalu lama updatenya...
kiu kiu
kpn upnya thor
Tanya Balik
guys aku nulis tiap bab-nya minimal 2000 kata, banyak lho itu. Jadi maklum aja ya lama up-nya. 🙏🙏😄
kiu kiu
morline sangat baik terhadap karel.suatu saat karel akan tumbuh besar dan akan menjadi pelindung utk morlin...cerita ini mengisahkan kasih sayang ibu dan anak.tp berbeda dg apa yg di alami morline.yg sudah menganggapnya keluarga.
Uthie
lagiiii 🤩🔥🔥
kiu kiu
jgn terlalu lama updatenya thor...ak penasaran dg gadis gemuk ini.apa yg akan dia lakukan di daerah targus itu. apa lagi eddy selalu mengawasi.
Uthie
Ditunggu lagiiii 🔥🔥🔥
Uthie
Lanjutttt lagiii...
setia menunggu up berikut nya 😁👍
kiu kiu
lanjut thor...updatenya jgn jarang jarang.
Uthie
Di tunggu lagiii aksi nyata dari Ratu Morline 😍👍

lanjuuttttt lagiiii 💪💞
kiu kiu
masih update nggk thor...
Tanya Balik: masih, tapi up-nya memang jarang2 di tunggu aja ya😄🙏
total 1 replies
Uthie
Wahhhh.... lagi seru-serunya baca soal Morline... malah udahan aja 🤩🤩

Jangan lama-lama up nya lagiiii yaaa Thor 😘🤗🙏
Uthie
Morline ratu yg baik 👍👍😇
Uthie
Sukkkaaa ceritanya 👍👍👍👍👍
Uthie
Sukkkkaaa ceritanya 👍👍👍👍👍👍
lanjut lagiiii 👍👍👍😍
Uthie
Wahhh... ada yg kesengsem sama Morline 😂👍
Uthie
seruuu 👍😏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!