NovelToon NovelToon
Dicari! Staf Admin Untuk Raja Iblis

Dicari! Staf Admin Untuk Raja Iblis

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Fantasi
Popularitas:335
Nilai: 5
Nama Author: Ichigatsu

Avara hanya staf administrasi biasa di perusahaan finance yang terbiasa bekerja lembur.
Pada satu hari seperti biasa dia lembur seorang diri, lelah dan mengantuk. Saat terbangun, bukannya berada di kantor, dia justru bertransmigrasi ke dunia iblis. Menjadi satu-satunya sosok manusia di sana, Avara harus dicurigai dan hampir mendapat hukuman mati. Namun berkat kemampuannya mengolah data, dia berhasil selamat!
Kini hari-harinya disibukkan oleh pekerjaan administrasi di istana iblis, dan semata-mata bekerja untuk Raja Iblis Fulqentius yang terkenal keji, dingin, dan misterius.
Bisakah Avara bertahan hidup di dunia yang sama sekali asing baginya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ichigatsu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

26 - Demi Efisiensi

Akhir-akhir ini Fulqentius selalu menjumpai Australe selagi Avara menghadap padanya. Dia selengket anak kucing pada induknyaーterutama dengan mata besarnya yang sedikit berkaca-kaca. Sang raja tidak tahu-menahu apa fungsi iblis muda itu ikut, tapi dia diam saja seolah melihatnya sebagai punuk yang tumbuh di punggung Avara.

Selama Avara bicara, iblis itu akan curi-curi pandang pada Fulqentius, seolah yakin sang raja tidak menaruh perhatian padanya.

Fulqentius memang tidak memedulikannya, tapi dengan keberadaannya yang menempel erat di belakang Avara, mau tak mau ekor matanya juga pasti akan menangkap sosoknya.

ーdi titik ini, Fulqentius mulai ingin mencekik iblis muda itu.

"Demikian yang dapat saya sampaikan, Your Majesty," tutup Avara.

Fulqentius menatap dokumen yang diserahkan Avara, berusaha memutus keinginan tiba-tibanya. Dicermatinya tulisan yang tertoreh di sana, sekedar melarikan pandangannya dari Avara yang bahkan tidak tampak keberatan ditempeli hingga sedemikian rupa.

Tunggu. Kenapa dirinya begitu kesal dengan kenyataan itu?

"Melalui kesempatan ini, saya juga ingin memperlihatkan pada Australe tentang apa yang biasa saya laporkan pada Anda. Saya sudah mengajarinya dasar-dasar administrasi yang saya laksanakan selama ini di istana, dan apapun hal penting terkait sistem yang sampai sekarang masih terus dikembangkan. Saya harap Anda tidak keberatan jika Australe akan sering bersama saya saat menemui Anda, agar dia belajar pula tentang bagaimana cara yang baik dalam melapor."

Diam-diam Fulqentius menghela napas. Jadi ini tidak akan hanya sekali.

"Kau tidak keberatan?"

Avara mengerjap, tidak paham.

Fulqentius berdeham. "Maksudku, pekerjaanmu tidak terkendala?"

Avara diam sejenak sebelum menjawab, "Saya memang harus beradaptasi, dan awalnya itu sempat membebani saya. Tapi semakin lama saya semakin menikmatinya. Lagipula ini demi kemajuan kerajaan. Jika program-program sudah selesai diimplementasikan, saya siap untuk mengajari para iblis lain."

Maka kemungkinan besar akan ada lebih banyak tawa Avara yang disebabkan orang lain. Sang raja iblis tidak menyukainya.

ーkenapa?

Fulqentius memikirkannya saat Avara mohon untuk undur diri. Dia tetap diam bahkan saat dua orang itu sudah lenyap dari pandangannya.

Bahkan saat Oriole mengambil alih percakapan terkait topik lain, Fulqentius tetap bergeming, seolah tak mendengar apapun.

...****************...

Dengan kaki mirip milik anak rusa yang baru lahir, Australe berjalan lemah keluar dari ruang kerja Fulqentius. Tungkai-tungkainya gemetar, dan ujung-ujung jemarinya dingin.

Itu adalah kali pertama dia bertemu sedekat dan selama itu dengan raja iblis, membuatnya merasa menjadi iblis muda paling beruntung tahun itu. Australe masih merasakan seberapa gugup dirinya tadi, tapi juga merasa luar biasa senang dan terhormat bisa menjumpai langsung sang raja yang dia kagumi. Australe berharap dia tidak ketahuan sudah menatap Fulqentius diam-diamーbahkan nyaris memelototinyaー pun berharap perasaan bahagianya tidak terlalu kentara tampak pada mata dan sikap tubuhnya.

"Kau baik-baik saja?"

Avara menatapnya cemas.

Australe berhenti melangkah dan bersandar di dinding tak jauh dari pintu ruang kerja Fulqentius yang sudah lama tertutup. Tangannya terlipat di dada.

"Jantungku berdebar, Kak."

Avara mengernyit. "Tentu saja dia berdebar."

"Ma-maksudku, aku degdegan."

Dengan oh tanpa suara, Avara tertawa pendek. "Terlalu takut atau terlalu kagum?"

Australe menarik napas, menahannya selama mungkin, lalu mengusirnya dengan sekali dorong. "Dua-duanya." Dia melirik Avara dari ekor matanya. "Aku nggak bisa membayangkan gimana perasaan Kak Admin setiap menghadap His Majesty selama ini."

Avara mengangkat bahu. Dia ingat bagaimana gemetar dirinya saat tiba di sini dan segera berhadapan dengan sang raja iblis, seberapa takut dan gugup dirinya saat menyadari bahwa seluruh makhluk di sekelilingnya bukanlah manusia.

Namun perlakuan Fulqentius yang tidak membeda-bedakannya dengan para iblis lain begitu menolongnya. Avara tahu bahwa hanya kinerja dan pengabdian yang menjadi indikator penilaian bagi sang raja dalam bersikap terhadap seseorang. Itu sudah cukup untuk menghapus banyak rasa takutnya.

"Kau masih perlu terbiasa," ujar Avara.

Mereka berlalu kembali ke ruang arsip bersama percakapan tentang kesan-kesan berhadapan dengan Fulqentius dan luapan perasaan Australe.

...****************...

Setelah sekitar tiga minggu Australe dipindah tugaskan ke istana dan bekerja di ruang arsip bersama Avara, dengan masih banyak kesalahan yang dia perbuat dan lebih banyak lagi tawa si gadis yang dia ciptakan, sebuah mandat turun.

Oriole menyampaikan pesan dari Fulqentius yang memerintahkannya untuk melakukan pekerjaan lapangan; mengecek pelaksanaan arsip jiwa nasional di sebuah kotaーyang agak jauh dari ibukota. Australe akan sendiri saja, menjalani tugas pertamanya setelah melalui training yang bahkan bagi Avara belum selesai dia berikan.

Avara nyaris memprotes jika Australe tidak menghadapinya dengan pandangan positif bahwa berarti sang raja sudah mempercayainya untuk mengerjakan sebuah pekerjaan pentingーterutama bagi seorang pegawai baru. Australe sangat bersemangat untuk memulai pekerjaan 'sungguhan'-nya.

"Apakah saya boleh mendampinginya selama dia bekerja di kota itu?" Avara sedikit mendesak. Dia tidak bisa membayangkan Australe sendirian di satu tempat dengan satu tanggung jawab besar.

Oriole menggeleng. "Perintah His Majesty hanya untuk si iblis baru. Kau harus menuntaskan pekerjaanmu di sini."

Itu benar, jadi Avara tidak bisa lagi membantah. Dia tidak mungkin diijinkan seenaknya bertindak apalagi dengan proyek-proyek belum rampung yang masih menunggu. Lagipula bersikeras ingin mendampingi Australe justru akan merendahkan diri iblis muda itu, pun seolah tidak mempercayai kemampuannya.

Tapi Avara masih mengkhawatirkannya..

"Aku akan baik-baik saja, Kak," tukas Australe. "Ini kesempatanku untuk banyak belajar. Aku tidak sabar ingin berguna bagi kerajaan."

Avara sedikit memandangnya sangsi, terlebih mengingat kesalahan-kesalahan yang dia perbuat selama ini, tapi lantas memutuskan untuk percaya. Mungkin Australe benar.

ーsetidaknya itu sebelum mereka tahu pekerjaan seperti apa yang menunggu Australe ke depannya.

...****************...

Fulqentius menghirup teh sorenya pelan-pelan. Sebuah berkas terbuka di mejanya. Ada potret wajah Australe yang diambil dengan kristal sihir dan sepotong gambar peta daerah, berikut rincian pekerjaan yang dilimpahkan pada si iblis muda.

Fulqentius membacanya setelah berulang kali melakukan hal yang sama. Matanya yang tajam dan dingin terus-menerus menatap Australe yang selalu tersenyum, begitu tekun seolah mencari saklar untuk mematikan senyum itu. Sejujurnya dia tidak ingin membatasi diri dengan anggapan bahwa seorang iblis harusnya tampil lebih keji, tapi pembawaan alamiah mereka membuatnya percaya bahwa hal itulah yang benar. Sang raja selalu merasa asing pada iblis manapun yang tersenyum sedemikian rupa, terutama yang lugu dan cerah.

Fulqentius tidak membencinya. Dia hanya.. merasa kalah.

ーdan itu lebih buruk.

Ada beberapa lembar berkas lain dengan potongan gambar peta daerah lain, Fulqentius meraihnya dan menumpuknya bersama berkas milik Australe.

Dia kembali meyakinkan diri. Ini demi efisiensi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!