Selena selalu tahu bahwa dia berbeda. Sejak kecil, ia bisa merasakan sesuatu yang mengalir dalam darahnya, sesuatu yang lebih dari sekadar kekuatan seorang werewolf biasa. Namun, hidupnya berubah drastis ketika sebuah serangan brutal menghancurkan kawanan tempatnya dibesarkan.
Ditemani oleh Joan, seorang Alpha misterius yang menyimpan rahasia kelam, serta Riven, seorang pejuang yang setia tetapi penuh teka-teki, Selena harus menghadapi kenyataan pahit bahwa ada seorang pengkhianat di antara mereka. Seseorang yang menginginkannya untuk tujuan yang jauh lebih berbahaya.
Saat rahasia asal-usulnya mulai terkuak, Selena mendapati dirinya terjebak di antara dua pilihan, menerima kegelapan yang mengintainya atau bertarung demi cahaya yang hampir padam. Dengan dunia yang berada di ambang kehancuran dan hatinya yang terombang-ambing di antara kepercayaan dan pengkhianatan, Selena harus memilih.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miarosa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3
Marcus meringis puas. “Kamu lebih lemah dari yang kuduga.”
Joan tidak menjawab. Ia hanya menatap Marcus dengan mata yang penuh amarah dan saat itu sesuatu berubah. Bulu hitam mulai muncul di kulitnya dan matanya yang keemasan semakin bersinar. Udara di ruangan itu bergetar seolah merespons kekuatan yang sekarang mulai bangkit dari dalam tubuhnya.
Marcus tampak sedikit terkejut, tetapi itu tidak menghentikannya. Ia kembali menyerang dan lebih brutal dari sebelumnya.
Joan menangkis dengan kekuatan yang lebih besar kali ini, lalu dengan cepat meninju Marcus hingga pria itu terdorong ke belakang dan menabrak rak buku Selena hingga berantakan.
Selena tersentak. Ini bukan perkelahian biasa, ini pertarungan antara predator.
Marcus menggeram, tetapi sebelum ia bisa bangkit kembali, Joan sudah menekan lengan bawahnya ke leher pria itu dan menahannya ke lantai.
“Aku mungkin lemah, tapi aku masih Alpha," geram Joan dan suaranya lebih dalam dari sebelumnya.
Marcus mencoba memberontak, tetapi tekanan dari tubuh Joan terlalu kuat. Ia terengah-engah dan matanya yang merah mulai kehilangan sinarnya.
Selena hampir berpikir pertarungan ini sudah selesai. Namun tiba-tiba, Marcus menyeringai.
“Apa kamu lupa, Joan? Aku tidak datang sendirian," bisiknya pelan.
Mata Selena melebar. Sebelum ia sempat memperingatkan Joan, suara kaca pecah terdengar dari jendela belakang rumah, lalu tiga sosok lain masuk ke dalam rumah.
Joan menggeram dan segera mundur dari Marcus untuk menghadapi ancaman baru.
Selena menahan napas. Mereka semua terlihat seperti Marcus memiliki tubuh kekar dan mata merah menyala dengan cakar tajam yang keluar dari jari-jari mereka.
“Kamu tidak bisa melawan kami semua dalam kondisi seperti ini,” kata salah satu dari mereka.
Marcus bangkit perlahan dan menepuk bajunya yang berdebu. “Sudah kubilang, Joan. Ini akhir bagimu.”
Selena bisa merasakan bagaimana situasi ini berbalik. Joan sudah terluka dan sekarang ia dikepung oleh empat lawan yang semuanya tampak lebih bugar daripada dirinya.
Joan berdiri tegak, meskipun bahunya naik turun karena kelelahan.
Selena harus melakukan sesuatu. Ia tahu, ia bukan petarung, tetapi ia juga tidak bisa hanya berdiri dan menonton Joan dibantai, lalu matanya menangkap sesuatu di meja samping, sebuah pisau dapur yang ia gunakan untuk memotong buah tadi siang dan tanpa berpikir panjang, ia meraihnya.
Marcus dan yang lainnya tidak memperhatikannya, mereka hanya fokus pada Joan.
Dengan keberanian yang entah datang dari mana, Selena bergerak. Ia berlari ke arah Marcus dan menusukkan pisau ke bahunya sekuat tenaga. Marcus meraung dan matanya melebar karena terkejut.
“Aghh! Bajingan!”
Joan tidak membuang waktu. Begitu Marcus lengah, ia bergerak cepat dan menghantam wajah Marcus dengan pukulan keras hingga pria itu jatuh tersungkur dan yang lainnya langsung bereaksi, tetapi sekarang Joan punya sedikit keuntungan.
Sementara mereka teralihkan, Joan menoleh ke Selena. “Lari!”
“Tapi ...."
“Sekarang!”
Selena tahu ia tidak bisa melawan para manusia serigala ini dan tetap di sini hanya akan menjadi beban bagi Joan. Dengan hati yang berat, ia berbalik dan berlari keluar rumah, menembus kegelapan malam. Namun saat ia berpikir bahwa ia aman, sesuatu menabraknya dari samping. Tubuhnya terhempas ke tanah dan napasnya terenggut.
Saat ia menoleh, seorang manusia serigala lain menatapnya dengan mata merah menyala. Ia bukan bagian dari kelompok yang tadi.
Seseorang yang lebih besar dan lebih berbahaya. Selena ingin berteriak, ingin melawan, tetapi tubuhnya terasa kaku.
Cengkeraman pria itu di lengannya begitu kuat hingga ia yakin akan meninggalkan memar. Nafasnya berbau tanah basah dan darah yang membuat bulu kuduknya meremang.
"Jangan coba-coba melawan, gadis kecil! Sekarang kau milik kami," bisik suara berat di telinganya.
Sebelum Selena bisa bereaksi, sesuatu menghantam kepalanya dari belakang.
Rasa sakit yang menusuk menyebar dari tengkuknya dan pandangannya mulai berputar. Dalam detik-detik terakhir sebelum kesadarannya menghilang, ia bisa mendengar suara Joan meraung dari kejauhan, suara yang dipenuhi amarah dan ketakutan.
Kegelapan, itulah yang pertama kali disadari Selena ketika ia mulai sadar kembali. Rasa sakit berdenyut di kepalanya, membuatnya sulit berpikir jernih. Seluruh tubuhnya terasa kaku dan ketika ia mencoba bergerak, sesuatu yang dingin dan kasar menahan pergelangan tangannya yang sudah diborgol.
Kesadarannya pulih sedikit demi sedikit dan ia mulai merasakan dinginnya ruangan di sekitarnya. Bau lembab bercampur tanah basah menyeruak ke dalam hidungnya, menciptakan suasana yang membuat bulu kuduknya meremang. Ia berada di suatu tempat yang asing dan ia sedang dikurung.
Selena memaksakan matanya untuk terbuka sepenuhnya. Pandangannya masih buram, tetapi ia bisa melihat bahwa ia berada di dalam ruangan berbatu yang remang-remang. Cahaya lilin berkedip lemah di sudut ruangan yang menyorot dinding kasar yang sepertinya terbuat dari batu alam.
Suara langkah kaki terdengar di kejauhan dan bergema di sepanjang lorong sempit di luar ruangan. Panik mulai merayapi pikirannya. Bagaimana ia bisa sampai di sini?
Terakhir yang ia ingat adalah seorang pria dengan mata merah menyala yang membisikkan ancaman di telinganya, lalu gelap.
Selena menegang teringat dengan Joan. Apakah Joan selamat? Apakah ia tahu bahwa dirinya diculik? Sebelum ia bisa memikirkan jawabannya, suara derit pintu besi yang berat mengisi ruangan. Seorang pria masuk.
Selena langsung mengenali sosok itu. Luka di bahunya masih segar akibat tikaman Selena, tetapi ia tampak tidak terlalu terganggu. Ia menyeringai ke arahnya dan matanya memancarkan rasa puas yang mengerikan.
"Kamu akhirnya bangun dan cukup merepotkan, gadis kecil."
Selena mencoba menarik tangannya, tetapi borgol besi yang menahannya tidak bergerak sedikit pun.
"Apa yang kamu inginkan?" desisnya.
Marcus mendekat dan mencondongkan tubuhnya ke arahnya.
"Aku?" katanya dengan nada bermain-main. "Aku tidak menginginkan apa pun darimu, manusia, tapi bosku."
Ia tertawa kecil, lalu melangkah ke samping seolah memberi jalan. Dari balik pintu, seseorang melangkah masuk. Selena menahan napasnya.
Pria itu lebih tinggi dari Marcus dengan tubuh yang lebih ramping tetapi berbahaya. Rambutnya hitam legam, jatuh sedikit berantakan di sekitar wajahnya yang tajam. Matanya bukan merah menyala seperti Marcus, tetapi emas pekat, lebih gelap daripada milik Joan.
Namun yang membuat Selena merinding adalah auranya.
Pria ini bukan sekadar manusia serigala biasa. Ia pemimpin, Alpha sejati, dan tatapan matanya seolah menelanjangi Selena, menilainya seperti seorang pemburu yang menilai mangsanya.
Marcus membungkuk hormat di sampingnya.
"Alpha Lucian, seperti yang kuperintahkan. Aku membawanya kepadamu."
Nama itu menggema di kepala Selena, membawa firasat buruk yang menghantam jantungnya. Alpha Lucian menyipitkan mata dan mengamati Selena dengan tatapan penuh minat.
"Luar biasa. Aku tidak menyangka Joan akan mempertaruhkan nyawanya demi seorang manusia," gumamnya.