NovelToon NovelToon
Teratai Di Atas Abu

Teratai Di Atas Abu

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Mengubah Takdir / Akademi Sihir
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: wiwi

Teratai Di Atas Abu

Setelah Klan Teratai Suci dihancurkan oleh Menara Darah Hitam, Lian Hua menjadi satu-satunya yang selamat dari malam penuh darah itu. Dengan meridian rusak dan bakat yang dianggap rendah, ia tumbuh di tengah hinaan dunia persilatan.

Namun di balik liontin teratai peninggalan klannya, tersembunyi kekuatan kuno yang mampu mengguncang dunia kultivasi.

Di antara dendam, pengkhianatan, dan perang antar sekte, Lian Hua menapaki jalan kultivasi demi mengungkap kebenaran kehancuran klannya—dan membalas semua darah yang telah tertumpah.

Karena bahkan di atas abu kehancuran… teratai tetap bisa mekar kembali.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wiwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 30

Teratai Di Atas Abu

Bab 30 — Kota Para Kultivator

Perjalanan memakan waktu sepuluh hari penuh. Rombongan Sekte Gunung Awan Putih berjalan menempuh jalan pegunungan dan lembah luas, hingga akhirnya, di ujung jalan raya yang lebar dan rata, pemandangan menakjubkan terhampar di depan mata.

Di atas sebuah dataran tinggi yang menjulang kokoh, berdiri Kota Langit Utara. Dinding pertahanannya dibangun dari batu giok putih yang berkilauan diterpa matahari, tingginya seratus tombak, menjulang seolah menopang langit. Gerbang utamanya selebar lima puluh langkah, dihiasi ukiran naga dan burung legendaris yang nampak hidup. Di atas gerbang, tertulis empat kata besar berwarna emas: Kota Para Kultivator.

Ini adalah pusat perdagangan, pertemuan, dan kekuasaan terbesar di wilayah utara. Di sini berkumpul pedagang dari segala penjuru, pendekar yang sedang berkelana, murid-murid sekte besar, hingga pertapa yang mencari ilmu tinggi. Udara di sini tebal berisi energi spiritual, jauh lebih pekat dibandingkan tempat lain, membuat siapa saja yang bernapas terasa segar dan tenaganya berputar lebih lancar.

Begitu melangkah masuk ke dalam kota, Lian Hua merasa matanya seolah tak cukup untuk melihat segalanya. Jalanannya lebar dan bersih, dipenuhi orang-orang yang mengenakan pakaian beraneka warna, bertanda lambang sekte atau aliran masing-masing. Di kiri kanan berdiri gedung-gedung megah bertingkat banyak, toko-toko yang memajang senjata berkilauan, ramuan obat beraroma harum, hingga pusaka kuno yang disimpan di balik kaca bening. Suara riuh rendah percakapan, tawar-menawar, dan langkah kaki berpadu menjadi satu irama hidup yang tak pernah tidur.

Di sini, kekuatan bukan lagi hal yang disembunyikan. Lian Hua melihat murid Sekte Pedang Langit yang berjalan dengan pedang tergantung di pinggang, aura tajam menyelimuti tubuhnya. Ia juga melihat pengikut Sekte Guntur Hitam yang berwajah keras, tenaga kasar bergetar di setiap langkahnya. Di sudut jalan, sekelompok orang berpakaian indah dari Istana Awan Putih berjalan beriringan, hawa dingin dan agung memancar dari tubuh mereka.

"Di kota ini, tak ada orang yang lemah," ujar Tetua Bai berjalan di sampingnya, suaranya rendah namun jelas. "Setiap orang yang engkau lihat, sekecil apa pun penampilan mereka, bisa jadi adalah pendekar yang kekuatannya melebihi dugaan. Jangan memandang rendah siapa pun, dan jangan lengah sedetik pun. Di sini, bahaya bisa datang dari arah mana saja."

Lian Hua mengangguk pelan, matanya tetap waspada namun tenang. Ia merasakan tekanan berat yang menyelimuti seluruh kota. Di sini ada ratusan, bahkan ribuan pendekar dengan kekuatan di atas rata-rata. Banyak dari mereka yang tenaganya jauh lebih pekat dan dalam dibandingkan apa yang pernah ia temui di sekte sendiri.

Namun di tengah keramaian dan hiruk-pikuk itu, di tengah beragam aura yang bertabrakan, tiba-tiba sesuatu menusuk hati Lian Hua.

Jantungnya berdenyut kencang. Darah di tubuhnya seolah berhenti mengalir sekejap, lalu mendidih hebat.

Di tengah kerumunan orang di ujung jalan utama, di antara gerobak dagang dan pendekar yang lewat, ada satu sosok yang berdiri diam di pinggir jalan. Sosok itu mengenakan jubah abu-abu biasa, wajahnya tertutup topi lebar, seolah pedagang biasa atau pengelana tak dikenal.

Namun hawa yang memancar dari tubuh orang itu...

Lian Hua mengenalnya dengan sangat baik. Ia merasakannya di malam pembantaian klan. Ia merasakannya saat di Hutan Kabut Roh. Ia merasakannya saat berhadapan dengan pembunuh di atas atap sekte dulu.

Dingin, kering, jahat, dan pekat — aura khas Menara Darah Hitam.

Bukan hanya itu. Di balik hawa jahat itu, ada sesuatu yang lebih dalam, sesuatu yang membuat seluruh bulu kuduknya berdiri tegak. Ada getaran halus yang beresonansi langsung dengan liontin giok di dadanya, seolah dua kutub magnet yang saling tarik-menarik namun juga saling tolak-menolak dengan hebat.

Orang itu tak bergerak. Ia hanya berdiri diam, seolah menunggu, seolah mengamati. Namun pandangannya, meski tak terlihat jelas dari balik topi lebar itu, Lian Hua bisa merasakannya dengan nyata. Pandangan itu tertuju tepat ke arahnya, menembus kerumunan, menembus jarak puluhan langkah, menembus daging dan tulang, langsung menuju ke dada kiri tempat pusaka warisan teratai tergantung.

Itu bukan sekadar pengintai biasa. Kekuatan orang itu jauh melebihi pembunuh yang dikalahkannya dulu. Tenaganya tersembunyi rapat, dalam, dan mengerikan, seolah samudra kegelapan yang tak berdasar, diam namun siap menelan siapa saja yang mendekat.

Lian Hua menghentikan langkahnya seketika. Napasnya tertahan. Tangan kanannya perlahan menggenggam erat ujung jubah di dada, tempat liontin itu berada. Keringat dingin mulai mengucur di punggungnya.

Dia ada di sini... batinnya bergemuruh, amarah dan kewaspadaan bercampur jadi satu. Di kota yang penuh orang ini, di tengah keramaian ini... musuhku sudah ada di sini, menungguku datang.

Saat ia berniat melangkah mendekat untuk memastikan, sosok berjubah abu-abu itu perlahan berbalik badan, menyusup masuk ke gang sempit di samping gedung tinggi, dan lenyap begitu saja di balik bayangan, seolah melebur dengan udara. Namun jejak auranya masih tertinggal, masih terasa menusuk, seolah bisikan halus yang bergema di telinga Lian Hua:

Akhirnya engkau datang... Pewaris Teratai.

"Lian Hua? Ada apa?" tanya Tetua Bai yang menyadari perubahan drastis pada muridnya. Wajah pemuda itu pucat, matanya tajam menatap ke arah gang kosong itu, dan seluruh tubuhnya tegang penuh siaga.

Lian Hua perlahan menoleh, menatap gurunya dengan mata yang makin dalam dan serius. Ia tak bisa sembarangan bicara di tempat ramai ini, tapi hatinya kini sudah tahu pasti.

Bahaya yang dibayangkan selama ini, kini sudah ada di hadapan mata. Di Kota Langit Utara ini, di tengah kemegahan dan hiruk-pikuknya, musuh bebuyutannya sudah bersembunyi di balik bayangan, mengawasi, menunggu, dan merencanakan sesuatu yang jauh lebih besar dan lebih mengerikan dari sebelumnya.

"Tak ada apa-apa, Guru," jawab Lian Hua pelan, namun suaranya bergetar tertahan. "Hanya... aku merasa, tempat ini jauh lebih berbahaya daripada yang kita duga."

Ia kembali menatap ke arah gang sempit yang sudah kosong itu. Di sana, di kota yang penuh emas dan energi ini, perang sesungguhnya baru saja dimulai. Dan sosok yang baru dilihatnya tadi... hanyalah permulaan dari kekuatan gelap yang kini telah mengincar nyawanya sepenuhnya.

1
Devilgirl
Thor, kebanyakan bahasa modern ya..suara cempreng bisa diganti Suara yang melengking tajam karena vibesnya wuxia lho
Devilgirl: udah bagus,cuma kata yang modern ganti ke versi kuno biar lebih bagus gitu
total 2 replies
Devilgirl
Thor ,kalau bikin genre wuxia kata kompleks bangunan gak sesuai...bisa diganti tempat sekte Qing Yun berada...kompleks bangunan terlihat modern ,kak
wiwi: terimakasih🤭
total 3 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!