Kisah seorang istri yang selalu direndahkan dan dimanfaatkan oleh keluarga suami nya hanya karena dia bukan berasal dari keluarga terpandang yang kaya.....Nasibnya begitu miris bahkan selalu dibandingkan dengan istri adik suaminya sendiri yang dianggap dari keluarga terhormat oleh sang mertua.....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hafit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Memanfaatkan
Tania hanya bisa pasrah melihat gelang milik nya sudah berada ditangan Sindi, gadis itu begitu sumringah.
"Mbak, gelang nya bagus banget. Tuh lihat, cantik kan ditangan aku?" Ucap Sindi sembari terus memperhatikan gelang itu dengan mata berbinar.
"Aku pinjam dulu ya Mbak,...." Gadis itu melenggang pergi setelah mendapatkan apa yang dia mau.
Tania ikut menyusul Sindi.
"Sindi, nanti gelang nya setelah kamu pakai, tolong kembalikan sama Mbak ya," Pinta Tania.
Mata Sindi seketika melotot, senyum yang tadi mengembang dibibir nya seketika berubah kecut.
"Baru juga dipakai Mbak, pelit banget sih kamu, lagian ini gelang beli nya pakai uang Mas Raka, jadi suka-suka aku lah mau kembalikan apa nggak. Aku yakin Mas Raka tidak akan keberatan kalau gelang ini aku ambil." Ujar Sindi tidak tau diri.
"Sindi, kamu boleh ambil apapun punya Mbak, tapi jangan gelang ini ya. Itu hadiah dari Mas Raka untuk Mbak." Tania sebenarnya sudah sangat kesal menghadapi sikap keras kepala adik ipar nya itu.
Sindi sama sekali tidak peduli, ucapan Tania bahkan sama sekali tidak dihiraukan nya.
"Sindi, Tania, ngapain kalian di depan kamar ibu?" Wanita paruh baya itu tiba-tiba keluar dari kamar saat mendengar suara Sindi dari luar.
"Menantu ibu nih, pelit...." Gerutu Sindi lagi.
"Memang nya kenapa sih?" Dinda masih belum mengerti permasalahan nya.
"Sindi mau pinjam gelang ini Bu, tapi Mbak Tania nggak mau kasih."
"Sindi, Mbak nggak ngomong gitu. Maksud Mbak____
"Udah lah Tania, kamu ngalah aja sama Sindi. Kasih buat Sindi gelang nya, kamu juga nggak pernah pakai kan?" Sela Dinda membela Sindi anak gadis nya tanpa mau mendengar kan Tania menyelesaikan ucapan nya dulu.
"Nah, tuh dengar apa kata ibu." Ucap Sindi penuh kemenangan.
"Tapi Bu..." Tania masih keberatan, bukan kali ini saja ia harus melepaskan barang berharga milik nya kepada Sindi, bahkan barang apapun yang menurut mereka bagus akan mereka ambil semua nya dengan dalih meminjam.
"Tapi apa? Sudah berani melawan ibu sekarang?" Dinda menatap tajam menantu nya itu.
Membuat Tania hanya bisa pasrah dan kembali merelakan barang nya.
"Assalamualaikum...."
terdengar suara orang mengucap salam dari arah depan. Dan Tania tidak asing sama suara itu.
Ya, itu Raka suami nya.
"Waalaikumsalam, Mas." Sebuah senyum terbit dibibir Tania begitu melihat suami nya sudah pulang.
"Awas saja kalau Mbak ngadu yang macam-macam sama Mas Raka." Ancam Sindi berbisik ditelinga Tania.
"Tumben jam segini kamu sudah pulang?" Tanya Dinda sembari menerima tangan Raka yang menyalami nya.
"Mas." Tania ikut menyalami suami nya dengan lembut.
"Dek, kamu sakit? Kok pucat gitu muka nya?" Tanya Raka memperhatikan wajah istri nya yang terlihat lelah dan juga sedikit pucat. Apalagi tadi dia sempat melihat Tania berdiri antara adik dan ibu nya.
Karena Raka tau betul kalau adik serta ibu nya tidak pernah suka sama Tania istri nya.
"Gimana nggak pucat Mas, lipstik aja Mbak Tania nggak pernah pakai, Seharus nya Mbak Tania bisa jaga penampilan saat suami pulang kerja. Minimal mandi dulu kek, pakai baju yang bagus, biar Mas Raka berselera sama Mbak." Ucap Sindi terkesan merendahkan, membuat Tania merasa minder, tangan nya meremas ujung daster yang dikenakannya.
"Benar kata Sindi, seharus nya kalau suami pulang kerja itu kamu harus sudah wangi dan rapi Tania. Gak boleh dekil kayak gitu, lagian seharian kan kamu dirumah terus gak kemana-mana juga. Masak, gak sempat buat dandan sedikit buat suami kamu." Timpal Dinda ikut memojokkan Tania.
Apa?
Dirumah aja katanya, bahkan Tania makan aja gak sempat. Tenaga Tania di kuras habis oleh satu keluarga itu.
"Bu, sudah....Mungkin Tania capek, belum sempat mandi, lagian hari ini Raka juga Pulang nya terlalu cepat. Udah ya, Raka mau ke kamar dulu." Raka menggandeng istri nya masuk ke kamar.
Sindi dan Dinda berdecak kesal melihat Raka yang selalu membela Tania.
"Nyebelin banget Mas Raka itu, istri jel*k kayak gitu aja dibela."
"Gak tau tuh Mas kamu, udah kena pel*t kali sama si Tania itu."
"Tapi ngomong-ngomong bagus juga gelang nya itu, kayak nya kalau ibu yang pakai cocok juga." Dinda hendak memegang gelang ditangan Sindi dengan mata berbinar.
"Enak saja ibu, ini punya Sindi sekarang." Elak Sindi sebelum Dinda sempat mengambil gelang itu.
"Pelit amat kamu sama ibu sendiri. Lagian, ibu cuma mau liat aja bukan mau ambil Sindi. Tapi, apa si Tania nggak akan ngadu yang macam-macam sama Raka nantinya? Gimana kalau Raka marah sama kita?" Cemas Dinda.
Mendengar perkataan ibu nya, Sindi juga ikutan cemas.
"Nggak mungkin dia berani Bu. Biar nanti Sindi yang ngomong langsung sama Mas Raka, bilang aja kalau Mbak Tania sendiri yang kasih gelang ini buat aku."
"Pinter anak ibu." Puji Dinda atas kelic1kan anak nya.
"Oh ya bu, gimana kalau besok kita pergi ke mall? Mau gak? Kita ajak Mbak Farah juga, besok kan Mbak Farah libur, kita healing sejenak lah. Udah lama juga kan kita gak pergi bertiga lagi." Ajak Sindi penuh semangat .
"Boleh juga, tapi jangan bilang sama Raka. Nanti, dia nyuruh istrinya ikut lagi."
"Tapi, kalau kita gak bilang sama Mas Raka, kita dapat uang dari mana belanja nya? Kan semua uang dipegang sama Mas Raka, apa ibu punya uang?" Tanya Sindi, membuat Dinda buru-buru menggeleng.
"Gak lah, ibu mana punya uang," Jawab nya dengan cepat.
Ya jelas lah, mana mau Dinda mengeluarkan uang simpanan nya, yang jelas dia akan menguras Raka lagi besok.
"Terus gimana dong?" Sindi terlihat berpikir sejenak.
"Kalau gitu, nggak apa-apa kita ajak aja Mbak Tania." Ucap nya lagi.
"Gak, nggak, ibu nggak mau kalau dia ikut, yang ada kita bisa malu kalau bawa dia ke Mall. Nanti kalau orang lihat disangka nya kita bawa gemb*l lagi. Bukan nya belanja malah di usir kita di sana."
Baginya Tania sangat lah tidak pantas berada diantara mereka, padahal bukan salah Tania yang selalu berpenampilan buruk. Hanya saja mereka tidak pernah memberi jeda buat Tania merawat diri nya sendiri.
"Maksud Sindi, kita bawa Mbak Tania bukan mau ajak dia jalan-jalan Bu. Tapi kita manfaatin aja dia, ya anggap lah dia pembantu gratisan yang bisa kita suruh-suruh, lumayan kan kita gak harus capek-capek menenteng belanjaan kita. Gimana?" Ide lic*k Sindi membuat Dinda tersenyum bangga.
"Benar juga, kenapa ibu nggak kepikiran ya. Pinter kamu?" Puji Dinda membanggakan ke lic*kan putri nya lagi.
Mereka tertawa cekikikan sembari membayang bisa mengerjai Tania lagi.